top of page

Hasil pencarian

9807 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • “Aku Ingin Dengar Permintaan Maaf”

    PEMENANG hadiah Nobel Perdamaian Timor Leste Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo selama bertahun-tahun melakukan pelecehan seksual terhadap banyak remaja laki-laki, seperti terbukti dari beberapa kesaksian. “Kita harus berbicara tentang ini dan meneriakkannya dengan lantang ke dunia luar”. Pada suatu hari Minggu pagi. Paulo berdiri di antara sekian banyak umat Katolik lain yang dengan penuh perhatian mengikuti misa yang diunjukkan oleh Uskup Belo di sebuah taman dekat kediamannya di Dili, ibu kota Timor Leste. Sesudah misa Monseigneur Belo mendekati Paulo yang waktu itu masih remaja, berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun. “Ia minta saya ikut ke kediaman beliau,” kata Paulo (42 tahun), yang demi privasi dan keamanannya sendiri serta keluarganya harus tetap anonim, karena itu diberi nama samaran. Undangan itu adalah kehormatan. “Saya senang sekali,” kata Paulo. Sebagai Uskup, Carlos Felipe Ximenes Belo bukan hanya pimpinan tertinggi gereja Katolik Timor Leste, tapi juga pahlawan nasional dan mercusuar tempat orang bertumpu harapan. Dia tampil membela tanah airnya yang begitu menderita akibat pendudukan berdarah-darah yang dilakukan Indonesia dari 1975 sampai 1999, menuntut penghargaan hak-hak asasi manusia dan hak untuk menentukan nasib sendiri. Tanpa menduga apa-apa, senja itu Paulo mendatangi kediaman Uskup yang terletak di jalan pantai Dili dengan pemandangan laut yang luar biasa indah. Malam harinya Belo mengajaknya masuk kamar tidur. “Bapak Uskup melepas celanaku, mulai menggerayangi aku dan melakukan seks oral (mulut) padaku,” kata Paulo. Bingung dan kaget, remaja belasan tahun ini tertidur. Begitu bangun “ia memberiku uang,” Paulo ingat kejadiannya. “Pagi itu aku lari kencang-kencang. Sedikit takut. Merasa sangat aneh.” Paulo merasa malu, sampai akhirnya dia sadar, “Ini bukan salahku. Dia minta aku datang. Dia seorang rohaniwan, seorang Uskup. Ia memberi kami makan, dan berbicara ramah dengan aku. Ia menyalahgunakan keadaan.” Paulo berlanjut, “Aku kira ini memuakkan. Aku tidak mau lagi ke sana.” Paulo tidak memberi tahu siapa-siapa tentang pelecehan seksual yang hanya sekali dialaminya itu. Tapi pengalaman Roberto (45) lain lagi. Dia juga harus anonim sehingga memperoleh nama samaran. Baik Paulo maupun Roberto kelak akan berangkat keluar negeri untuk membangun kehidupan di sana. Suasana kampung halaman Roberto gembira, di sana tengah berlangsung pesta gereja. Orang-orang bersukaria karena Uskup datang. Sementara Roberto menonton pertunjukan sandiwara dan mendengar musik, mata Belo menyorotinya. Bapak Uskup meminta remaja berusia sekitar 14 tahun itu untuk ikut masuk biara. Ketika dia tiba malam sudah larut, terlalu larut untuk pulang. Bapak Uskup mengajak Roberto masuk kamar penginapan, dia begitu mengantuk sehingga langsung tertidur. Tiba-tiba dia terbangun. “Bapak Uskup memperkosa aku malam itu dan melakukan pelecehan seksual,” kata Roberto. “Pagi-pagi sekali dia minta aku pergi. Aku takut karena hari masih gelap. Jadi aku harus tunggu terang sebelum bisa pulang. Dia juga meninggalkan uang untuk aku. Itu dilakukannya supaya aku tutup mulut. Dan juga untuk memastikan bahwa aku akan kembali.” Uang yang diterima terasa banyak untuk seorang remaja belasan tahun, yang sudah kehilangan banyak anggota keluarga akibat pendudukan Indonesia. Waktu itu kemungkinan sebanyak 183.000 orang Timor Leste tewas akibat kelaparan, sakit, kelelahan dan kekerasan. Pada kunjungan berikut ke kota kecil itu, Uskup Belo mengirim orang untuk menjemput Roberto. Belo memanfaatkan perasaannya. “Aku merasa diakui, dipilih, dikasihi dan diistimewakan,” kata Roberto. “Sampai akhirnya aku sadar Bapak Uskup sebenarnya tidak begitu tertarik padaku, dia hanya mementingkan diri sendiri. Waktu itu uang penting bagiku. Kami sangat butuh uang.” Ketika Roberto pindah, pelecehan seksual itu juga pindah ke kediaman Uskup di Dili. Dilihatnya beberapa anak yatim piatu yang besar di kediaman Uskup dan juga anak laki-laki lain yang seperti dia juga dipanggil. Baik Roberto maupun Paulo berkisah bahwa ada orang yang bertugas menjemput remaja dengan mobil untuk dibawa ke kediaman Uskup Belo. “Bapak Uskup menyalahgunakan kedudukan tingginya terhadap anak remaja yang hidup dalam kemiskinan berat,” kata Paulo. “Dia tahu anak-anak ini tidak punya uang. Jadi kalau dia mengundangmu, maka kamu datang, dan dia memberimu uang. Tapi sementara itu kamu jadi korban. Begitulah cara dia melakukannya.” Adalah tidak mungkin untuk berbicara tentang apa yang terjadi dalam kamar tidur Uskup Belo. “Kami takut untuk membicarakannya. Kami takut untuk menyebarkan informasi ini. Seperti aku sendiri, takut bicara tentang pengalaman burukku dengan Uskup Belo,” kata Paulo. Gereja sangat dihormati oleh penduduk Timor Leste, juga sebagai lembaga yang membantu dan menyediakan perlindungan. “Kalau sampai keluar tuduhan terhadap Uskup Belo, maka itu akan sangat merusak negara dan merongrong perjuangan kemerdekaan,” kata Roberto. Sampai sekarang orang tetap merasa sulit untuk secara terbuka berbicara tentang tuduhan delik susila yang dilakukan Uskup Belo, karena takut kena stigmatisasi, pengucilan, ancaman dan kekerasan. Paulo ingin melupakan dan mengubur ingatannya tentang pelecehan seksual. Tapi ketika bertemu seorang gadis cantik, pengalaman itu muncul kembali. “Sudah kuduga ini negatif. Apa yang dilakukan Bapak Uskup terhadap kami tidak baik”. Dari penelitian mingguan Belanda, De Groene Amsterdammer terungkap bahwa Belo telah melecehkan lebih banyak lagi korban. De Groene Amsterdammer berbicara dengan 20 orang tentang kasus ini: pejabat tinggi, pejabat pemerintah, politisi, aktivis LSM, kalangan gereja dan profesional lain. Lebih dari separuh kenal salah seorang korban, sementara yang lain tahu tentang kasus ini dan banyak yang sudah membicarakannya di tempat kerja. De Groene juga berbicara dengan korban lain yang tidak ingin mengungkap pengalamannya pada media. Baik Paulo maupun Roberto kenal orang-orang yang senasib dengan mereka. “Saya tahu beberapa keponakan. Saya tahu beberapa teman,” kata Paulo. “Mereka pergi ke rumahnya, hanya untuk minta uang.” Pelecehan ini berlangsung dalam periode lama. Tuduhan pelecehan yang dilancarkan Paulo dan Roberto berlangsung pada dekade 1990-an. Menurut penelitian kami, Belo sudah melakukan pelecehan terhadap pemuda remaja sebelum diangkat sebagai Uskup, waktu dia pada awal dekade 1980-an, di desa Fatumaca, memimpin lembaga pendidikan Salesian, Don Bosco (SDB), Kongregasi rohaniwan Katolik tempat Belo menginduk. Pada waktu itu, Uskup Agung Dili yang baru dilantik, Virgílio do Carmo da Silva belajar pada seminari kecil lembaga ini, seperti bisa dilihat dari beberapa artikel daring yang antara lain ditulis oleh Uskup Belo sendiri. *** Penelitian Penelitian ini bermula pada awal tahun 2002, tatkala seorang pria Timor Leste bertutur bahwa temannya mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh Uskup Belo. Ia sangat mengkhawatirkan adiknya, yang setiap minggu mendatangi kediaman Uskup, dan minta ibunya supaya tidak mengizinkan adik pergi lagi. Pada akhir November 2002, tiba-tiba Uskup Belo mengundurkan diri. Sejak saat itu desas-desus tentang dugaan pelecehan seksual membengkak menjadi semacam rahasia umum yang besar. Beberapa wartawan berupaya mengungkap kasus ini. Tetapi Uskup Belo itu “terlalu besar untuk bisa gagal”. Tatkala pada bulan Februari 2019 untuk pertama kali situs berita Tempo Timor mengungkap kasus bekas pastor Amerika Richard Daschbach, muncullah sekelumit kesempatan. Sejak saat itu De Groene melakukan penelitian terhadap kasus Belo, dan berbicara dengan 20 orang tentang kasus ini: pejabat tinggi, pejabat pemerintah, politisi, aktivis LSM, kalangan gereja dan profesional lain. Lebih dari separuh kenal salah seorang korban, sementara yang lain tahu tentang kasus ini dan banyak yang sudah membicarakannya di tempat kerja. De Groene juga berbicara dengan banyak korban lain. *** Carlos Felipe Ximenes Belo (74 tahun) dilahirkan pada tanggal 3 Februari 1948 dalam sebuah keluarga yang taat beragama di dukuh Wailacama, Timor Leste yang waktu itu disebut Timor Portugis, karena masih merupakan wilayah jajahan Portugal.[1] Ketika mencapai usia tiga tahun, ayahnya meninggal dunia. Kehidupan seluruh rakyat wilayah ini dililit kesulitan dan dalam kemiskinan parah. Waktu masih kanak-kanak, Belo sudah harus membantu mengolah tanah. Dia harus berjalan selama tiga jam untuk memperoleh beras dari satu keluarga. Sebagai anak laki-laki, Belo suka bermain sebagai pastor. Pada suatu hari ia memasang kulit jeruk di kepalanya, menggunakan tongkat sebagai tongkat gembala rohani dan memerintahkan para keponakan laki-laki dan perempuan untuk menciumi tangan “Uskup”. Demikian penulis Amerika Arnold S. Kohen mencatat dalam biografi penuh pujaan berjudul From the Place of Dead: The Epic Struggle of Bishop Belo of East Timor (1999). Belo masuk sekolah Katolik dan seminari. Sebagai ketua kelas dia bersikap tegas kepada sesama pelajar. Dia bisa jenaka, senang berdebat, teater, sepak bola, lagu-lagu romantis dan The Beatles. Pada 1968, dia berangkat ke Portugal untuk melanjutkan pendidikan, dan pada April 1974 menjadi saksi Revolusi Anyelir yang mengakhiri kekuasaan diktator Salazar serta kolonialisme Portugal. Dia kembali pulang ke Timor Leste dan pada tanggal 6 Oktober 1974 bergabung dalam Kongregasi Salesian Don Bosco (SDB) serta mengajar di Fatumaca. Ketika setahun kemudian Indonesia menginvasi Timor Leste pada akhir 1975, Belo baru tiba di Macau. Pada 1980, dia ditahbiskan menjadi imam. Tatkala kembali ke tanah airnya pada 1981, Belo sangat terkejut mendapati begitu besarnya ketakutan, kemiskinan, dan kekerasan perang. Tentara Indonesia menggunakan rakyat –termasuk saudara-saudara, paman, dan keponakan Belo– sebagai benteng manusia dalam operasi militer, demikian tulis Kohen. Belo pergi ke Fatumaca untuk mengurus para Novis dan setahun kemudian menjadi pimpinan seminari. Pada 1983, Paus menunjuk Belo yang waktu itu berusia 35 tahun untuk menjadi pimpinan gereja Timor Leste. Pada 1988, dia diangkat menjadi Uskup. Ini adalah kedudukan yang sangat berat. Banyak orang dalam keadaan putus asa mengetuk pintu kediaman Uskup untuk berkabar bagaimana tentara Indonesia menggerebek rumah mereka, mengambil orang-orang, menyiksa dan membunuh mereka. Belo dipanggil untuk menjadi penengah kalau tentara dan intel-intel Indonesia yang kejam mengamuk terhadap warga. Pada tanggal 12 November 1991 Belo mendengar tembakan senjata mesin. Tentara Indonesia melepas tembakan terhadap demonstran di makam Santa Cruz, Dili. Banyak pemuda tewas. Ratusan orang melarikan diri ke kediaman Uskup Belo. Ketika mendatangi makam Santa Cruz, dia saksikan sendiri korban bersimbah darah dengan tubuh berlubang ditembus peluru. Akhirnya Belo boleh masuk ke rumah sakit militer. Dia kenali banyak orang yang sebelumnya sudah diantarnya pulang, tetapi kemudian ditangkap dan disiksa dengan berat. Waktu itu Paulo masih terlalu muda, tetapi begitu mencapai usia lima belas tahun, ia mulai ikut berdemonstrasi. Hidup mereka tidak teratur dan berbahaya, banyak teman Paulo tewas terbunuh. Dalam sebuah serangan Paulo sendiri luka parah dan kehilangan teman terdekatnya. Pada 1996 Belo dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian, bersama aktivis dan diplomat José Ramos-Horta yang sekarang terpilih lagi sebagai presiden Timor Leste. Keduanya mendapat penghargaan karena upaya mereka untuk “mengakhiri konflik di Timor Leste dengan damai dan adil”.[2] Pada tanggal 30 Agustus 1999 akhirnya berlangsung referendum di Timor Leste. Walaupun diselenggarakan oleh PBB, Indonesia berupaya merongrong prosesnya dengan kekerasan brutal. 78,5% warga memilih kemerdekaan. Tanpa kenal ampun Indonesia melakukan balas dendam. Tentara dan intel Indonesia bersama milisi anti kemerdekaan Timor Leste merusak rumah, bangunan, dan infrastruktur. Mereka melakukan penjarahan, pembunuhan dan mendeportasi seperempat warga. Dalam letusan kekerasan yang terorganisir itu, sekitar 5000 orang mengungsi ke dalam kediaman uskup Belo. Pada tanggal 6 September 1999 kalangan milisi melancarkan serangan dan membakar kediaman Uskup.[3] Belo meninggalkan domba-domba gembalaannya. Semula dengan helikopter Indonesia, kemudian pasukan Australia menerbangkannya ke Darwin. Pada Oktober 1999 dia pulang ke Dili.[4] [5] Di tengah-tengah kerusakan total itu, seorang saksi berkata bahwa pelecehan seksual terus berlanjut. Pemerintah peralihan PBB berkuasa dari 1999 sampai 2002 di Timor Leste merdeka. Ada upaya untuk mengungkap pelecehan seksual yang dilakukan Belo. Tetapi dikhawatirkan akan muncul aksi pembalasan, dan ada anggapan bahwa dalam tahap begitu awal, negara muda ini tidak akan mampu menghadapi skandal yang akan begitu merusak. Orang membayar sangat mahal kemerdekaan yang mereka capai. Paulo sangat menderita trauma dan mengidap serangan panik. “Banyak hal terjadi serempak. Perang dan Uskup. Aku melampaui periode-periode gelap,” katanya. *** Mendadak sontak Uskup Belo mengundurkan diri sebagai pemimpin gereja Katolik. Pada tanggal 26 November 2002, Paus melepasnya dari semua tugas. Pemenang hadiah Nobel ini mengidap “baik keletihan fisik maupun mental”.[6] Pada Januari 2003, dia meninggalkan Timor Leste, resminya untuk menjalani pemulihan di Portugal.[7] Setelah pembicaraan dengan perfect (pimpinan) bekas Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa dan kepala Kongregasi Salesian, Belo memangku jabatan baru, demikian menurutnya dalam wawancara dengan UCA News. Mulai Juni 2004, dia menjadi “pastor pembantu” di Maputo, ibu kota Mozambik. “Saya turun dari atas ke bawah,” kata Belo kepada sebuah kantor berita Katolik dengan berita-berita Asia. Mengapa seorang Uskup yang begitu ambisius dan terkenal di seluruh dunia menerima posisi yang begitu rendah? Memperhatikan tuduhan terhadapnya, ucapannya mengenai pekerjaannya di Maputo cukup meresahkan juga: “Saya melakukan kerja pastoral dengan mengajar katekismus kepada anak-anak, melakukan retret dengan kaum muda”. Belo tidak lagi menetap di Timor Leste, tetapi hanya datang berkunjung. Kunjungan terakhir ke Timor Leste dilakukannya pada akhir tahun 2018, di sekitar Natal dan tahun baru. Beberapa tahun belakangan mulai tampak retak pada citra gereja yang selalu tanpa noda. Pada Februari 2019, situs berita Timor Leste, Tempo Timor, untuk pertama kali mengungkap kasus pelecehan seksual seorang pastor. Tahta Suci Vatikan menyatakan bahwa misionaris Amerika Richard Daschbach bersalah dan memecatnya sebagai pastor, tetapi diam tentang keputusan ini. Pada 21 Desember 2021, pengadilan Timor Leste menjatuhkan vonis 12 tahun penjara terhadap Daschbach karena melakukan pelecehan seksual terhadap gadis-gadis penghuni pusat penampungan yang dipimpinnya. Sebelum itu, pada 2015, seorang bruder divonis 10 tahun penjara karena melakukan pelecehan seksual terhadap remaja-remaja penghuni pusat penampungan di distrik Ermera, tetapi vonis ini tidak muncul dalam pemberitaan. Masih ada banyak kasus lain. De Groene berbicara dengan mereka yang mendakwa empat orang pastor di Timor Leste. Muncul kekhawatiran besar terhadap pastor Inggris Patrick Smythe yang awal tahun ini di Inggris divonis bersalah atas delik susila terhadap anak-anak, karena ternyata dia pernah datang ke Timor Leste dalam periode 10 tahun dan selama itu anak-anak menginap bersamanya di kamar hotel.[8] Beberapa sumber mengatakan bahwa otoritas gereja telah menerapkan pembatasan untuk bepergian terhadap Uskup Belo. Belo yang menetap di Portugal, tidak boleh melawat ke Timor Leste atas inisiatif sendiri, untuk itu dia harus terlebih dahulu minta izin Roma. Pembatasan perjalanan ini dibenarkan oleh ketua Konferensi Uskup-Uskup Timor Leste. “Dia harus minta izin Vatikan dulu untuk memastikan apakah dia memperoleh izin atau tidak,” ujar Uskup Norberto do Amaral dalam sebuah wawancara pada September 2019. Dia menyatakan tidak tahu alasannya. “Tentang mengapa dia tidak boleh datang ke sini, tolong tanyakan langsung pada Vatikan” karena “masalah Uskup-Uskup”, bukan wewenang gereja setempat, “melainkan wewenang Vatikan”. Pembatasan perjalanan seperti ini adalah langkah yang menurut hukum kanon bisa dikenakan selama berlangsung proses pidana dalam rangka melindungi korban, kasus penyidikan, dan terdakwa.[9] Gereja bisa juga menerapkan pembatasan setelah dijatuhkan vonis.[10] Sumber-sumber memastikan bahwa Uskup Belo masih belum boleh melakukan perjalanan secara bebas. Dia juga tidak hadir pada instalasi besar beberapa orang Kardinal baru Agustus lalu di Roma, termasuk Uskup Agung Timor Leste Kardinal Virgílio do Carmo da Silva. De Groene meminta reaksi gereja Katolik terhadap tuduhan pelecehan seksual. Tahta Suci, lembaga-lembaga yang bertanggung jawab seperti Dicastery bagi Doktrin Kepercayaan (DDF), Kardinal Virgílio do Carmo da Silva di Dili dan kepala Kongregasi Salesian tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan memilih untuk bungkam. Uskup Belo mengangkat telepon sebentar, tapi segera meletakkannya kembali. Paulo ingin agar bungkam tentang pelecehan seksual yang antara lain mengorbankan dirinya segera diakhiri. “Ini harus kita bicarakan dan dengan lantang kita serukan kepada dunia,” katanya. Roberto mengungkap kisahnya karena dia ingin membuka jalan sehingga korban lain juga bisa berbicara. “Yang aku inginkan adalah permintaan maaf Uskup Belo dan gereja. Aku ingin mereka akui penderitaan yang aku dan korban lain alami, sehingga kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan ini tidak akan terjadi lagi”.* Identitas para korban disimpan oleh redaksi De Groene Amsterdammer. Dengan izin penulis, artikel ini diterjemahkan oleh Joss Wibisono dari versi asli bahasa Belanda berjudul “Wat ik wil zijn excuses” yang dimuat dalam mingguan De Groene Amsterdammer No. 39 Tahun 146, edisi 29 September 2022, halaman 16–19. Artikel ini juga terbit di situs groene.nl.

  • 15 Mei 1940: Para Pemuda Indonesia yang Melawan Nazi

    HARI ini, 15 Mei 1940, pemerintah Belanda secara resmi menyerah kepada Nazi-Jerman. Keputusan tersebut diambil setelah pihak Belanda pesimis memenangkan pertempuran melawan pasukan Jerman dan menghindari korban sipil lebih banyak. Lima hari sebelumnya, pasukan Jerman memulai serangannya terhadap kota pelabuhan Rotterdam. Begawan ekonomi Indonesia Soemitro Djojohadikusumo ingat betul hari ketika serangan Jerman itu dimulai. Saat itu dia sedang menggarap disertasi di kamar kosnya. Tak berapa lama kemudian, pesawat-pesawat Luftwaffe Jerman membombardir kota. Bukan hanya kamar kos beserta isinya yang hancur berantakan akibat pemboman itu, nyawa Soemitro juga nyaris melayang. Menurut Richard Overy dalam The Bombing War: Europe, 1939-1945, “Prioritas Jerman adalah merebut bandara-bandara Belanda dan titik-titik kunci komunikasi, yang secara umum tercapai, meski dengan bayaran tinggi.”

  • Para Jenderal Nirbaya

    PERISTIWA Gerakan 30 September (G30S) 1965 menjerumuskan sejumlah jenderal ke dalam tahanan. Alasan penahanan mereka bermacam-macam. Mulai dari tuduhan terlibat dalam G30S hingga diidentifikasi sebagai loyalis Presiden Sukarno. Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya di Pondok Gede Jakarta Timur, dipersiapkan untuk mengamankan para jenderal yang dicurigai itu. Gelombang penahanan dimulai sejak 1966. Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) memberi kuasa bagi Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) merangkap Panglima Kopkamtib Jenderal Soeharto untuk menangkapi orang-orang terindikasi G30S. Oei Tjoe Tat, salah satu menteri negara yang ditangkap dan ditahan di Nirbaya, dalam memoarnya mengenang sejumlah perwira tinggi yang juga pernah masuk dalam tahanan Nirbaya. Dari Angkatan Darat adalah: Mayjen Moersjid (Deputi I Menpangad), Mayjen Pranoto Reksosamudro (Asisten III Menpangad), Mayjen Soedirgo (Komandan POM ABRI), Brigjen A.M. Soetardhio (Menteri/Jaksa Agung), Mayjen Rukman (Panglima Komando Wilayah Indonesia Timur), Mayjen S. Suadi (Gubernur Lemhanas), Brigjen Sabur (Komandan Tjakrabirawa), Brigjen Shaifuddin (Panglima Kodam Bali), Brigjen Soenarjo (Wakil Jaksa Agung). Selain itu, sejumlah perwira tinggi dari Angkatan Udara, Laut, dan Kepolisian juga turut jadi penghuni Nirbaya. Beberapa nama yang cukup popular seperti Laksamana Madya Omar Dani (Menteri/Panglima Angkatan Udara) dan Brigjen (Pol.) Soetarto (Kepala Staf Badan Pusat Intelijen).

  • Benshi, Suara di Balik Film Bisu Jepang

    ORANG-orang berdatangan ke salah satu bioskop terbesar di Jepang pada 1920-an. Mereka ramai-ramai mencari tempat duduk paling nyaman di dalam bioskop. Namun, alih-alih menonton film asing yang ditayangkan pihak bioskop, para penonton justru hadir untuk menyaksikan benshi. Benshi merupakan orang-orang yang memberikan narasi suara pada film bisu, baik film produksi dalam negeri maupun luar negeri. Sejarawan Giannalberto Bendazzi menulis dalam Animation: A World History Volume 1 bahwa sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman menonton film bisu, benshi berperan sebagai narator dengan menyediakan “komponen verbal” yang menjadi hiburan bagi penonton hingga munculnya film bersuara tahun 1930-an. “Benshi adalah bagian penting dari penayangan film, dan dianggap sebagai salah satu alasan mengapa film bersuara membutuhkan waktu yang lama untuk berkembang di Jepang dibandingkan dengan negara lain di dunia,” tulis Bendazzi.

  • Selamat Jalan Emon, Si Anak Manja

    “Mas Boy…,” teriak Emon dengan gerak-gerik kemayu dalam film Catatan Si Boy (1987) . Nama Didi Petet melambung setelah memerankan Emon, yang oleh banyak orang disebut sebagai peran bencong. Padahal, Didi berulang kali menyatakan bahwa peran Emon bukanlah banci. “Didi Petet memerankan tokoh Emon, si anak manja (bukan bencong seperti dugaan sementara orang) sangat berhasil,” tulis majalah Pertiwi, 1989. Selain Didi, aktor yang juga memainkan peran sebagai gay adalah Ucok Hasyim Batubara (Cok Simbara) dalam Terang Bulan di Tengah Hari (1987) dan Mathias Muchus dalam Istana Kecantikan (1988). Namun, Mathias memerankan Nicko yang digambarkan sebagai lelaki tulen, tidak klemar-klemer seperti bencong. Film ini dianggap sebagai film Indonesia pertama yang bertema homoseksualitas. Berkat perannya ini, Mathias terpilih sebagai aktor terbaik dalam Piala Citra Festival Film Indonesia 1988, sedangkan Didi terpilih sebagai pemeran pembantu pria terbaik lewat film Cinta Anak Zaman.

  • Riwayat Tangan Kanan Ali Moertopo

    SEBUAH cuitan bersambung atas nama @abirekso mengungkap siapa sosok ayah Johannes Suryo Prabowo. Sebagaimana umum diketahui, Suryo Prabowo merupakan politisi loyalis Prabowo Subianto yang belakangan getol menggugat hasil pemilu dalam laman media sosialnya. Sebelum menggeluti dunia politik, Suryo Prabowo adalah seorang militer yang pernah menduduki sejumlah posisi penting. Jabatan terakhirnya Kepala Staf Umum TNI (2011-2012) dan pensiun dengan pangkat letnan jenderal. Menurut @abirekso, karier militer Suryo Prabowo tak lepas dari peran sang ayah, Rakimin Ngaeran, perwira asal Madura yang merupakan tangan kanan sang master intel Ali Moertopo. Ngaeran banyak terlibat dalam serangkaian operasi khusus intelijen. Beberapa diantaranya seperti penyusupan rahasia ke pejabat tinggi Malaysia dan menjalin penggalangan Darul Islam (DI) untuk menghantam PKI. Pada 1965, Ngaeran disebut mengepalai badan intelijen cikal bakal Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).

  • Eksperimen Penjara Berujung Malapetaka (Bagian II)

    DARI kantor polisi, para mahasiswa yang berperan sebagai narapidana, dengan mata tertutup, dibawa ke penjara tiruan di rubanah Jordan Hall, Universitas Stanford. Mereka digeledah, ditelanjangi, dan disemprot gas antikuman, yang sebenarnya gas deodoran biasa. Setiap tahanan menerima seragam jubah dengan nomor di dada dan dikenakan tanpa pakaian dalam. Mereka memakai kaus kaki nilon di kepala seolah-olah telah dicukur. Mereka juga dirantai di pergelangan kaki kanan siang dan malam. Di hari pertama eksperimen, para tahanan dilarang menyebut atau dipanggil dengan nama. Identitas mereka hanyalah nomor. “Nomor identifikasi, seragam, dan topi konyol dari kaus kaki itu dimaksudkan untuk membuat para tahanan merasa tidak berdaya dan anonim,” tulis Thibault Le Texier dalam Investigating the Stanford Prison Experiment: History of a Lie. Para mahasiswa yang bertugas sebagai penjaga penjara juga mulai memainkan peran mereka. Sipir-sipir tiruan itu dibagi menjadi beberapa kelompok kecil berjumlah tiga orang dalam tiga shift. Petugas pertama berjaga dari pukul 10 pagi hingga 6 sore; petugas kedua dari pukul 6 sore hingga 2 pagi; dan petugas ketiga dari pukul 2 pagi hingga 10 pagi. Mahasiswa yang bertugas sebagai sipir penjara dalam eksperimen penjara Stanford. (Wikimedia Commons). Para petugas penjara memakai seragam militer berwarna khaki, membawa tongkat dan peluit, serta memakai kacamata hitam tak tembus pandang dari luar untuk menyembunyikan mata dan emosi serta menghindari kontak dengan narapidana. Pemimpin ekserimen, Philip Zimbardo berperan sebagai direktur penjara, sedangkan tim peneliti lain, David Jaffe sebagai kepala penjaga dan dua mahasiswa doktoral, Curt Banks dan Craig Haney sebagai konselor psikologis, tetapi bertindak sebagai tangan kanan Zimbardo dan Jaffe. “Para penjaga tidak diberi instruksi atau pelatihan khusus tentang cara menjadi penjaga. Mereka bebas, dalam batas-batas tertentu, melakukan apa pun yang mereka anggap perlu guna menjaga ketertiban di penjara dan mendapatkan rasa hormat dari narapidana. Para penjaga membuat aturan sendiri yang mereka terapkan di bawah pengawasan kepala penjara David Jaffe,” tulis Le Texier. Pada hari pertama eksperimen, para narapidana kehilangan identitas pribadi dan kesewenang-wenang kepada mereka mengakibatkan sindrom pasivitas (menerima saja), ketergantungan, dan perubahan kondisi mental dan psikologis yang memicu putus asa dan depresi. Di lain pihak, para penjaga mengalami peningkatan signifikan dalam kekuasaan sosial, status, dan identifikasi kelompok, yang membuat mereka merasa puas dalam memainkan perannya. Dampak penelitian tak terduga kembali muncul di hari-hari berikutnya. Pada hari kedua, sikap otoriter petugas penjara memicu perlawanan para narapidana. Setelah dipaksa apel pada pukul 2.30 pagi, beberapa tahanan memberontak. Pemberontakan itu tidak hanya mengejutkan para peneliti tetapi juga petugas penjara. Para tahanan melepas kaus kaki di kepala mereka, merobek nomor identitas, dan membarikade diri di dalam sel. Kondisi ini membuat tiga penjaga yang sedang libur dipanggil untuk membantu menangani keadaan. Sementara itu, petugas shift malam secara sukarela tetap bertugas untuk membantu meredam kerusuhan. Untuk mengendalikan keadaan, petugas penjara menyemprotkan pemadam api lalu memberikan hukuman. Reto U. Schneider mencatat dalam The Mad Science Book, tahanan yang dianggap sebagai pemimpin pemberontakan dikurung di “The Hole”, kotak gelap di ujung koridor yang dirombak menjadi sel isolasi. Sedangkan narapidana yang tidak terlibat pemberontakan diberi perlakuan istimewa di sel khusus dan mendapat makanan lebih baik. Tak lama setelah itu, tanpa peringatan atau penjelasan, penjaga penjara memasukkan kedua kelompok narapidana ke dalam sel yang sama. Hal ini membingungkan para narapidana dan membuat mereka saling curiga. Mereka tidak pernah lagi memberontak sebagai kelompok. Para mahasiswa yang berperan sebagai narapidana dalam eksperimen penjara Stanford. (Wikimedia Commons). Penjaga penjara kemudian memberlakukan aturan-aturan yang tidak masuk akal, mendisiplinkan para narapidana secara sewenang-wenang, dan memberikan tugas-tugas yang tidak berguna. “Mereka dipaksa memindahkan peti dari satu ruangan ke ruangan lain lalu kembali lagi, membersihkan toilet dengan tangan kosong, atau mencabut duri dari selimut mereka selama berjam-jam, setelah para penjaga menyeret selimut-selimut itu ke area semak berduri. Mereka juga diperintahkan untuk mengejek sesama narapidana atau melecehkan mereka,” tulis Schneider. Petugas penjara juga memaksa tahanan melakukan push-up sembari tahanan lain duduk di atasnya. Hak tidur para tahanan dicabut. Mereka kerap dibangunkan pukul 2.30 pagi untuk apel. Mereka juga dipaksa menggunakan ember plastik sebagai toilet di malam hari ketika kamar mandi tidak boleh diakses setelah melewati jam yang telah ditentukan. Batas antara eksperimen dan kenyataan mulai kabur, baik bagi narapidana maupun penjaga penjara. Semakin lama eksperimen berlangsung, semakin sering penjaga penjara diingatkan bahwa kekerasan fisik dilarang. Kekuasaan yang diberikan mengubah mahasiswa yang semula anti-kekerasan atau pasifis, menjadi penjaga penjara yang sadis. Termasuk Zimbardo yang tanpa disadarinya semakin terbawa perannya sebagai direktur penjara. Ketika sejumlah tahanan berencana kabur, Zimbardo menghubungi kepolisian Palo Alto untuk meminta bantuan. Ia ingin memindahkan narapidana ke penjara kota lama tetapi ditolak. Dia marah besar dan menganggap kepolisian tidak dapat diajak bekerjasama dalam pengendalian narapidana. Mahasiswa yang berperan sebagai narapidana dalam eksperimen penjara Stanford berbicara dengan Philip Zimbardo yang berperan sebagai direktur penjara. (Wikimedia Commons). Menurut F. Neil Brady dan Jeanne M. Logsdon dalam “Zimbardo’s ‘Stanford Prison Experiment’ and the Relevance of Social Psychology for Teaching Business Ethics,” termuat di Journal of Business Ethics, Vol. 7, No. 9 (September, 1988), apa yang terjadi di penjara tiruan itu selama eksperimen berlangsung sangat dramatis dan tak terduga oleh para peneliti. Dalam waktu kurang dari 36 jam, salah satu narapidana menunjukkan tanda-tanda gangguan psikosomatik yang parah dan harus dibebaskan lebih awal. Beberapa hari berikutnya empat narapidana lain mengalami gejala psikologis parah juga dibebaskan lebih awal. Sementara para penjaga bersikap agresif, kasar, dan menikmati penggunaan kekuasaan, seringkali mengambil tugas tambahan tanpa bayaran ekstra. Kondisi tak terduga itu dirasakan para orang tua mahasiswa ketika mengunjungi mereka di penjara. Beberapa orang tua terkejut melihat kondisi para narapidana yang lesu, sehingga meminta kepala penjara untuk memberikan kondisi yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Pada hari keempat, Zimbardo membentuk dewan pembebasan bersyarat agar para tahanan dapat mengajukan permohonan pembebasan dini. Hampir semua tahanan bersedia mengabaikan imbalan $15 per hari agar dibebaskan. Namun, para tahanan dikembalikan ke sel masing-masing untuk mempertimbangkan permohonan mereka. Meskipun mereka bisa menghentikan partisipasinya, mereka tak melakukannya karena persepsi mereka soal realitas telah berubah, dan mereka tak lagi memandang penahanan sebagai eksperimen. Brady dan Logsdon menulis, para peneliti menyimpulkan bahwa eksperimen penjara menunjukkan individu-individu normal atau rata-rata dengan cepat menyesuaikan diri dengan peran-peran yang didasarkan pada perbedaan ekstrem dalam kekuasaan dan ketergantungan, serta menunjukkan perilaku patologis dan antisosial yang mendukung hipotesis situasional. Pada hari kelima eksperimen, psikolog Christina Maslach, kekasih Zimbardo, mengunjungi penjara. Ia setuju mewawancarai para narapidana keesokan harinya. Namun, ketika dia datang ke tempat para peneliti memantau keadaan di penjara melalui kamera, dia menyaksikan peristiwa yang membuatnya mual dan marah besar kepada Zimbardo yang kelak menjadi suaminya. Perdebatan terjadi hingga akhirnya Zimbardo menyadari bahwa semua orang yang terlibat dalam eksperimen telah menyerap aspek-aspek merusak dari kehidupan penjara. “Dirancang untuk dua minggu, eksperimen dihentikan di hari keenam. Sebagian besar petugas penjara kecewa, sementara narapidana yang tersisa gembira...Hanya enam hari penjara tiruan ditutup karena bagi sebagian besar peserta, batas antara kenyataan dan peran yang mereka mainkan sudah tak jelas lagi...Terjadi perubahan dramatis pada perilaku, pemikiran, dan perasaan mereka. Dalam waktu kurang dari seminggu, pengalaman di penjara itu menghapus pembelajaran seumur hidup; nilai-nilai kemanusiaan ditangguhkan, konsep diri ditantang, dan sisi paling buruk, serta patologis, dari sifat manusia muncul ke permukaan,” tulis Brady dan Logsdon.*

  • Modifikasi Cuaca Tanpa Pawang Hujan

    PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Jakarta memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga hari ini, Selasa (27/1/2026). Tujuannya untuk terus menekan potensi curah hujan tinggi yang bisa berdampak pada banjir atau bencana hidrometeorologi lain di Jakarta dan sekitarnya. OMC itu dilakoni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, TNI Angkatan Udara, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan metode cloud seeding atau penyemaian awan. Simpelnya, OMC dijalankan oleh tiga kali penerbangan menggunakan pesawat yang akan menaburkan garam dan zat kapur ke awan untuk mengurangi curah hujan. “OMC di Jakarta ini merupakan bagian dari upaya penanganan siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, OMC juga telah dilaksanakan pada 13-19 Januari 2026 dengan menyemai 21,4 ton NaCL dan 7,4 ton CaO pada total 31 sorti,” terang Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto dalam rilis BMKG di laman resminya.

  • Ilmuwan Perang Dunia II dalam Pengembangan AI

    SAAT ini banyak orang memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI) untuk banyak hal, mulai dari mencari lokasi, mengatur keuangan, membantu menyelesaikan pekerjaan hingga sarana untuk edukasi. Namun, lebih dari delapan dekade lalu gagasan pengembangan kecerdasan buatan dianggap sebagai hal yang sulit, jika tidak bisa dibilang mustahil. Ilmuwan yang berperan dalam pengembangan kecerdasan buatan adalah Alan Mathison Turing. Ia dikenal sebagai ilmuwan yang membantu Sekutu memenangkan Perang Dunia II. Kriptografer di Sekolah Kode dan Sandi Pemerintah Inggris di Bletchley Park itu berpandangan bahwa sebuah mesin komputasi abstrak yang terdiri dari memori tak terbatas dan pemindai yang bergerak bolak-balik melalui memori, simbol, dan mampu membaca apa yang ditemukan serta menulis simbol-simbol tambahan mungkin akan tercipta. Pria kelahiran London, 23 Juni 1912 itu mengembangkan gagasannya mengenai sebuah mesin universal sejak tahun 1930-an sebelum Perang Dunia II. “Saat ini, mungkin sudah menjadi hal yang lumrah bahwa komputer dapat menggantikan mesin lain, baik untuk pencatatan, fotograf, desain grafis, telepon, surat menyurat, atau musik, melalui perangkat lunak yang tepat yang diciptakan dan dijalankan... Namun, universalitas seperti itu belum terlihat seperti hal yang mungkin bagi siapa pun di tahun 1930-an... untuk menjadi komputer serbaguna, komputer harus memungkinkan penyimpanan dan penguraian program,” tulis matematikawan Inggris, Andrew Hodges dalam Alan Turing: The Enigma.

  • Berjudi di Pacuan Anjing

    GELANGGANG Pacuan Kuda Pulo Mas bukan satu-satunya tempatberjudi di Jakarta pada 1970-an. Tempat lain yang tak kalah populer adalah arena pacuan anjing di Senayan. Kendati menjadi tempat favorit para penjudi, tak sedikit pula pengunjung yang datang sekadar mencari hiburan. Dalam Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage Volume 2 terbitan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta disebutkan, pacuan anjing juga dikenal dengan nama toto greyhound. Nama itu mengacu pada jenis anjing yang dipertandingkan dalam balapan adu cepat lari. Terdapat enam ekor anjing yang ditandingkan dalam setiap satu putaran. Para penonton yang tertarik bertaruh dapat memilih berdasarkan nomor punggung si anjing. Arena balap anjing ini dibuka pada 1973 di masa Gubernur Ali Sadikin. Sebagaimana disebut dalam Gemerlapnya Meja Judi Menjelang Pelarangan Tahun 1981 terbitan Pusat Data dan Analisa Tempo, di masa awal kemunculannya, toto greyhound –yang menyertakan enam ekor anjing untuk mengejar bola-bola bernomor– dikelola oleh PT Citadel. “Dari toto greyhound ini kas DKI menerima Rp3 milyar setahun,” tulis Tempo.

  • Pajak Judi Masa Kompeni

    JUDI online tengah menjadi sorotan, terlebih beberapa waktu lalu ramai diberitakan seorang wakil rakyat diduga bermain judi slot sewaktu rapat. Perkembangan teknologi yang pesatberdampak pada menjamurnya situs-situs judi online yang membuat banyak orang kecanduan. Judi telah dimainkan sejak zaman kuno. Kendati merugikan dan melanggar norma agamanamun judi tak pernah sepi. Pada masa VOC, penduduk Batavia khususnya Tionghoa, kerap menghabiskan waktunya untuk berjudi. Arsiparis Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menulisrumah judi sudah dibuka sejak tahun 1620. “Izin membuka rumah judi diberikan kepada seorang Kapitan Cina,” tulis Mona. Pada awal abad ke-18, tujuan bermain judi adalah kawasan Ji Lak Keng yang berarti “dua puluh enam bangunan”. Di wilayah yang kini menjadi bagian dari Jalan Perniagaan Barat itu berdiri rumah-rumah judi, madat, dan bordil mewah. Menurut Windoro Adi dalam Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi, lantai bawah rumah umumnya digunakan untuk mengisap madat dan berjudi, sementara lantai atas dimanfaatkan untuk prostitusi. Namun, ada pula yang menjadikan kedua lantai rumah untuk prostitusi.

  • Virus Nipah yang Bikin Resah

    SEJUMLAH bandara internasional di Asia tengah siaga, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Para penumpang yang berasal dari mancanegara diwajibkan mengikuti protokol kesehatan, termasuk screening atau pemeriksaan kesehatan ketat sebagai langkah antisipasi masuknya virus Nipah (Henipavirus nipahense/NiV). Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI, Kamis (29/1/2026), virus Nipah kembali terdeteksi dan kian meresahkan setelah laporan dua kasus di India pada 12 Januari 2026 lalu. Tiga suspek lain terdeteksi di West Bengal, di mana salah satunya punya riwayat merawat kasus pertama yang masih kritis. Meski hingga kini belum terdapat satu kasus pun di Indonesia, kita tetap mesti waspada. Virus Nipah sendiri adalah semacam virus zoonosis yang terbawa hewan, seperti babi (Sus domesticus) dan kelelawar buah (Pteropus), yang bisa menular ke manusia. Penularannya bisa secara kontak langsung atau melalui sekresi hewan yang terinfeksi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page