Hasil pencarian
9807 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ujung Riwayat Kurt Cobain
KURT Cobain bukan hanya rockstar. Pentolan band grunge Nirvana itu sudah jadi ikon Generasi X (Gen X). Walau kehidupannya ironis di mana dirinya mati muda pada 5 April 1994, Cobain bersama Nirvana turut memengaruhi para musisi alternative rock sekaligus memperluas cakrawala musik rock mainstream hingga jadi salah satu yang paling dikenang pemuda-pemuda yang tumbuh pada 1990-an. Jalan hidup Cobain memang penuh ironi. Suami musisi Courtney Love itu sudah lama bersentuhan dengan narkoba. Pada September 1991, tak lama setelah Nirvana mengeluarkan album keduanya yang meledak di pasaran, Nevermind, Cobain makin kecanduan heroin. Cobain mengaku menjadikan penggunaan heroin sebagai kebiasaan untuk “mengobati” perutnya yang sakit secara mandiri. “Itu memang pilihan saya. Inilah yang yang menyelamatkan saya dari kepala saya yang mau meledak. Saya harus melakukan sesuatu untuk menghentikan rasa sakit ini. Mulanya saya mencoba heroin selama tiga hari berturut-turut dan saya tak lagi merasakan nyeri pada perut saya,” kata Cobain, dikutip jurnalis musik Michael Azerrad dalam biografi Come As You Are: The Story of Nirvana.
- Pesona Sadum Angkola
ULOS tak hanya monopoli budaya Batak Toba di Tapanuli Utara. Saudaranya di sebelah selatan, juga punya kain tenun serupa yang punya ciri khas. Abit, demikian masyarakat Batak di Tapanuli Selatan menyebut wastranya. Salah satu abit yang paling ikonik adalah abit godang yang disebut juga Sadum Angkola. “Jadi, abit godang atau Sadum Angkola itu kita mau highlight karena orang sering melihat Sadum Angkola tapi mereka nggak tahu itu dari Batak Angkola. Jadi, orang kalau misalnya tahu ulos, dia sebenarnya identiknya melihat Sadum Angkola ini,” kata Kerri Na Basaria Panjaitan kepada Historia.ID, di sela-sela pertunjukan busana bertajuk “RAYA” di Tobatenun Studio & Gallery, Jakarta, (11/2). Dalam pertunjukan itu, keindahan abit godang ditampilkan dari beberapa karya desainer. Masyarakat Tapanuli Selatan sendiri mayoritas beragama Islam dengan subetnis Batak Angkola dan Batak Mandailing. Oleh karena itu, pertunjukan wastra ini, sambung Kerri, dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan dan ibadah puasa.
- Gowa Masuk Islam
PERMUSUHAN antara Gowa dengan Bone sudah ada ketika Gowa dipimpin oleh Karaeng Tunipalangga dan Karaeng Tunibatta. Kedua raja Gowa itu bersaudara. Beberapa kali Tunipalangga menyerang Bone dan berkali-kali itu pula Bone gagal dihancurkan. Setelah gagal berperang di Bone, Tunipalangga pulang dan meninggal dunia. Saudaranya, Karaeng Tunibatta, lalu menggantikannya sebagai raja. Tunibatta, raja Gowa ke-11, namun hanya sekitar 40 hari berkuasa karena gugur dalam perang di Gowa. Kajao Laliddong, penasehat dari Raja Bone La Tenrirawe Bongkannge, menyarankan agar jenazah Raja Tunibatta dikembalikan ke ibukota Gowa dengan upacara penuh kebesaran. Raja Bone pun berkenan melaksanakan nasihat mulia itu. Maka diutusnya pembesar Bone macam Arung Teko, Arung Berru, Arung Lamoncong, dan Arung Sanrego untuk mengantar jenazah Karaeng Tunibatta ke Gowa.
- Tragedi Jago Kuntau Tangerang di Masa Revolusi
DI BILANGAN Kresek, Tangerang tempo dulu, hiduplah seorang ahli bela diri bernama Encek Oh Yan. Tak diketahui apa marga Encek Oh Yan, sebagaimana lazimnya orang Tionghoa. Yang terang, Encek Oh Yan begitu disegani di tengah masyarakat Tionghoa Tangerang semasa pendudukan Jepang. Encek Oh Yan merupakan seorang jago kuntau, yang memadukan kungfu dengan silat. Dalam Melacak Jejak Kungfu Tradisional Indonesia yang ditulis Alex Cheung, Charly Huang, dan Erwin Tan disebutkan, Encek Oh Yan memiliki keahlian bertarung yang luar biasa. Dari berbagai tuturan para sesepuh silat di daerah Kresek, kemahiran kuntau Encek Oh Yan mengutamakan kecepatan dan ilmu ringan tubuh. Dengan teknik itu, Encek Oh Yan tak kesulitan menghadapi lawannya meskipun mereka bersenjata. Begitulah tentara Jepang kerap kerepotan meringkus Encek Oh Yan. “Diketahui Encek Oh Yan juga pernah bekerjasama dengan beberapa warga pribumi yang ahli pencak silat tradisional dalam bergerilya melawan Jepang,” catat Alex Cheung, dkk.
- Lika-liku Robert Duvall
SUDAH aktif di dunia peran sejak 1950-an namun baru bersinar dua dekade kemudian, nama Robert Duvall melejit lewat film-film yang jadi magnum opus sineas legendaris Francis Ford Coppola seperti The Godfather (1972) dan Apocalypse Now (1979). Sang aktor baru saja berpulang di usia 95 tahun. Hingga berita ini dimuat, tak disebutkan penyebab kematian aktor kawakan kelahiran San Diego, California, Amerika Serikat (AS) pada 5 Januari 1931 itu. Istri keempatnya, Luciana Pedraza, mengumumkan Duvall wafat di kediamannya di Middleburg, Virginia, pada Minggu (15/2/2026). Coppola tentu jadi salah satu yang paling berduka. Melalui akun Instragram-nya, @francisfordcoppola, Coppola Senin (16/2/2026) lalu mengunggah sebuah foto dirinya dan Duvall dalam latar behind the scene film The Godfather dengan caption ucapan duka cita mendalam.
- Sisi Lain Jeffrey Epstein
ADA banyak nama besar yang “terseret” dalam jutaan lembar “Epstein Files” yang –diambil dari nama Jeffrey Edward Epstein– dirilis Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada 30 Januari 2026 lalu. Selain nama Presiden AS Donald Trump dan mantan Presiden Bill Clinton, ada pula nama Elon Musk, Bill Gates, Pangeran Andrew, (Inggris), eks-Perdana Menteri Israel Ehud Barak, hingga bankir Ariane de Rothschild. Epstein si predator seks mulanya seorang konsultan keuangan. Ia kemudian jadi investor dengan jejaring di mana-mana, mulai dari kalangan bos investasi hingga kontraktor pertahanan. Pada 2008, Epstein dipidana atas kasus prostitusi anak di bawah umur. Pun pada Juli 2019, ia didakwa kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, rudapaksa berantai, hingga perdagangan seks. Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Epstein yang beberapa kali lolos dari lubang jarum, akhirnya tumbang. Pasalnya dalam beberapa kasus keuangan ia juga berulang kali bermasalah.
- Pangeran Andrew di Lingkaran Jeffrey Epstein
TEPAT di hari ulang tahunnya yang ke-66 pada Kamis (19/2/2026) pagi, Andrew Mountbatten-Windsor alias eks-Pangeran Andrew ditangkap polisi. Adik Raja Charles III itu dijemput paksa dan dibawa aparat Kepolisian Thames Valley dari Cottage Wood Farm, bekas kediaman ayahnya, Pangeran Philip, di Perkebunan Sandringham, Norfolk, Inggris. Mengutip Daily Mail, Kamis (19/2/2026), Kepolisian Thames Valley sebelumnya menyebutkan tengah menjalani investigasi tuduhan perdagangan seks di bawah umur dari Amerika Serikat (AS) ke Inggris oleh predator seks Jeffrey Epstein yang melibatkan eks-Pangeran Andrew. Andrew kemudian ditangkap atas dugaan pelanggaran jabatan publik dengan ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup. “Hari ini kami menangkap seorang pria berusia 60-an tahun dari Norfolk dalam kasus dugaan pelanggaran pejabat publik. Untuk saat ini tersangka dalam penahanan kepolisian,” sebut juru bicara kepolisian yang tak disebutkan namanya.
- Kho Tjoen Gwan dari Jago Kungfu ke Pendekar Pena
PEMERINTAH kolonial Hindia Belanda pernah dibikin jengkel oleh seorang wartawan Tionghoa bernama Kho Tjoen Gwan. Ketika Belanda ketar-ketir menghadapi Perang Dunia I, dia meledek kebijakan pemerintah kolonial tentang wajib militer bagi penduduk bumiputra. Kritik itu dituangkan lewat puisi panjang berjudul Boekoe Sair Indie-Weerbaar (Buku Syair Pertahanan Hindia) pada 1916. Akibat ulahnya tersebut, Khoe Tjoen Gwan dipenjara selama tiga bulan. Namun, penjara tak cukup ampuh untuk membungkamnya. Selain memiliki kesadaran sebagai anak jajahan, boleh jadi dia bernyali besar karena memiliki kemampuan bela diri kungfu. Kho Tjoen Gwan lahir pada permulaan abad 19, diperkirakan tahun 1900, dari keluarga miskin Tionghoa di Brebes, Jawa Tengah. Pada usia sepuluh tahun, dia merantau ke Batavia. Dia memulai peruntungannya sebagai pesuruh di suratkabar Perniagaan, koran peranakan Tionghoa berbahasa Melayu.
- Serba-serbi Manfaat Kurma
BUAH kurma umumnya dikonsumsi masyarakat muslim selama Ramadan untuk berbuka puasa karena dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Buah manis kaya nutrisi ini disebut sebagai salah satu makanan paling sehat di dunia. Sebab, kurma tidak hanya mengandung gula, tetapi juga memiliki kandungan lain seperti mineral, vitamin, antioksidan, hingga serat yang baik bagi pencernaan. Keragaman varietas, spesies, dan jenis buah kurma, baik lembut, setengah kering, maupun kering, memberikan konsumen banyak pilihan untuk mengonsumsinya. K.M. Farag mencatat dalam “Date Palm: A Wealth of Healthy Food”, termuat di Encyclopedia of Food and Health, kurma telah menjadi makanan pokok di banyak wilayah di dunia, terutama di zona kering dunia lama dan menjadi bagian dari konsumsi makanan sepanjang tahun. Bahkan, di dunia baru dan Eropa, buah kurma menarik perhatian masyarakat dan ahli gizi karena kandungan glukosa dan fruktosa yang tinggi. Dilaporkan bahwa satu pon kurma atau sekitar 453 gram buah manis itu dapat memberikan tubuh manusia 5,33 kl energi fisiologis. Sebuah studi perbandingan dilakukan untuk menunjukkan kandungan buah kurma dengan empat jenis makanan, yaitu susu sapi, daging, madu, dan jus jeruk. Hasilnya, kandungan protein dalam kurma sangat dekat dengan susu sapi, tetapi lebih tinggi daripada protein dalam madu atau jus jeruk segar. Sementara itu, buah kurma unggul dibandingkan keempat jenis makanan lain dalam kandungan kalium. Kalsium dalam kurma juga tiga kali lebih tinggi daripada kalsium dalam daging sapi, dan lima belas kali lebih tinggi daripada kalsium dalam madu. Sedangkan jika dibandingkan dengan susu sapi, kurma memiliki sekitar setengah kandungan kalsium.
- Cerita di Balik Nama Kurma
DI BULAN Ramadan, kurma bukan sekadar buah yang dikonsumsi untuk berbuka puasa, tetapi juga menjadi ikon untuk menyambut bulan suci yang penuh berkah. Di luar manfaatnya yang banyak, kurma juga memiliki cerita panjang terkait sejarah budidaya buah manis kaya nutrisi ini. Bahkan, dari namanya pun terselip cerita menarik yang menggambarkan bagaimana buah tersebut membentuk sejarah peradaban dunia. Berbeda dengan Indonesia yang mengenal buah manis ini dengan sebutan kurma, dalam bahasa Inggris kurma dikenal dengan nama dates. Sejarawan kuliner Nawal Nasrallah mencatat dalam Dates: A Global History, di masa lalu pohon kurma disebut dengan nama dactylifera yang merupakan gabungan dari kata dactylus (kurma) –dalam bahasa Yunani, dactylos– dan fero (menghasilkan). “Secara harfiah, kata Yunani dactylus berarti ‘jari’, dan nama tersebut diterapkan pada buah kurma yang berbentuk lonjong... Dalam Book of Dreams Artemidorus, seorang pria yang menderita penyakit di perutnya berdoa kepada dewa untuk disembuhkan. Dalam mimpinya, ia melihat dirinya berada di kuil dewa penyembuhan. Dewa itu memegang jari-jari tangan kanan pria itu dan meminta dia untuk memakannya. Begitu pria itu bangun, ia memakan lima kurma, dan sembuh. Artemidorus menjelaskan bahwa pohon kurma disebut jari,” tulis Nasrallah.
- Membendung Invasi Mongol di Palestina
KOTA-KOTA yang terbakar hingga jutaan nyawa manusia penduduknya melayang lazim jadi buntut invasi bangsa Mongol. Kendati di masa jayanya bangsa Mongol sampai punya wilayah kekuasaan dari pesisir Pasifik di timur hingga dekat gerbang kota Wina di barat, terdapat pula kisah serangan-serangan Mongol yang kandas. Salah satunya di Palestina. Jauh sebelum Raden Wijaya sang pendiri Majapahit membantai pasukan Mongol di Jawa (1293) dan para samurai Jepang mengusir invasi Mongol (1274-1281) serta dicegahnya invasi Mongol ke India oleh Kesultanan Delhi (1221-1327), bangsa Mongol lebih dulu merasakan getir kekalahan dari Kesultanan Mamluk (1260). Kekalahan Mongol di tanah Palestina itu disebut-sebut sebagai kekalahan menentukan dan permanen pertama Mongol karena sekaligus membendung invasi Mongol menuju kawasan Afrika Utara dan Eropa melalui Mediterania. Pasukan Mongol kocar-kacir setelah meladeni perlawanan alot Kesultanan Mamluk yang dipimpin Sultan Sayf ad-Din Qutuz dan jenderalnya, Baybars al-Bunduqdari, di Pertempuran Ain Jalut pada 3 September 1260. Ketika itu masih di bulan puasa, tepatnya tanggal 26 Ramadan 658 Hijriah. Beberapa sumber lain menyebut pertempurannya terjadi pada 6 September 1260/25 Ramadan Hijriah.
- Kala Dubes Amerika Nyaris Digebuk Jenderal Moersjid
PADA 1968, Duta Besar Amerika Serikat Marshall Green bersiap-siap mengakhiri tugasnya di Indonesia. Tugas baru menantinya sebagai asisten Menteri Luar Negeri AS urusan Asia Timur dan Pasifik. Untuk itulah Green sering wara-wiri ke Filipina, yang menjadi salah satu negara sekutu Amerika di kawasan Asia-Pasifik. Suatu ketika di Manila International Airport, kira-kira bulan Oktober atau November 1969, Green bersua dengan Mayor Jenderal TNI Moersjid, duta besar Indonesia untuk Filipina, di sebuah jamuan. Green tentu mengenal Moersjid. Setidak-tidaknya Green tahu bahwa Moersjid sebelumnya seorang pejabat tinggi di Markas Besar Angkatan Darat. Semasa Green awal bertugas di Indonesia tahun 1965, Moersjid menjabat sebagai Deputi I Menteri/Panglima Angkatan Darat. Dengan kata lain, Moersjid adalah wakil Jenderal Ahmad Yani yang membidangi urusan operasi dan intelijen. Dalam pertemuan itu, Green melakukan provokasi. Dalam bahasa Inggris dia bertanya kepada Moersjid, “Bagaimana kabar Si Bung? (How’s the Bung doing?). “Si Bung” yang dimaksud adalah Presiden Sukarno yang sudah lengser dari kekuasaan. Kedudukan Sukarno kian melemah setelah Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Pada 1968, Sukarno sudah diberhentikan MPRS sebagai presiden dan digantikan oleh Jenderal Soeharto. Pada 1969, Sukarno bahkan harus menjalani masa-masa tahanan rumah di Wisma Yaso.





















