top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Hari Tua Seorang Mata-mata

    FURQAN Lubis ingat betul masa ketika screening yang dijalankan pemerintah Orde Baru menghentikan jalannya menjadi dosen. Dia tak tahu apa yang membuatnya tak lulus. Alih-alih memberi tahu, si petugas malah berpesan: “Kamu jangan mencontoh orang tuamu, ya.” Penasaran, Furqan menceritakan pengalaman itu kepada ayahnya. Zulkifli Lubis, ayahnya, menjawab singkat: “Itu kan orang yang tidak mengerti perjuangan.” Zulkifli Lubis tak pernah menceritakan kiprahnya dalam politik dan militer kepada anak-anaknya. Meski punya peran penting di kancah politik nasional pada 1950-an, dia menutupinya rapat-rapat. Pekerjaan dan keluarga adalah dua hal yang terpisah baginya. Anak-anaknya pun akhirnya tak ambil pusing. “Justru yang lebih tahu orang lain daripada anaknya sendiri,” ujar Furqan, anak keenam Zulkifli Lubis. Pergantian kekuasaan membuat Lubis seolah jadi orang asing. Konstelasi politik yang baru terasa kabur baginya. Sejak paruh pertama 1960-an, dia mendekam di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta. Rezim Sukarno, yang menjebloskannya ke penjara, berada di ambang kehancuran. Sukarno sendiri menjadi tahanan rumah, dengan akses sangat terbatas. Lubis, yang dibebaskan dari tahanan pada 1966, pun tak beroleh izin dari militer untuk menjenguknya.

  • Ketika Jepang Tertipu Mata-mata Palsu

    AKSI spionase Jepang di Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II tidak selalu berhasil. Dalam sebuah peristiwa, Jepang justru dengan mudah diperdaya oleh mata-mata gadungan yang berujung pada penangkapan sejumlah spion Jepang di Amerika. Peristiwa ini terjadi pada medio awal tahun 1941. Menurut Terry Crowdy dalam The Enemy Within: A History of Espionage, pada Mei 1941, FBI melaporkan telah menemukan kegiatan spionase seorang perwira Jepang bernama Itaru Tachibana. Sejak tahun 1939, Tachibana beroperasi sebagai pemilik klub malam dengan nama samaran Mr. Yamamoto, memata-matai peningkatan teknologi Angkatan Laut AS dan memimpin jaringan mata-mata terbesar di Pesisir Barat.

  • Kisah Putri Bangsawan India Jadi Mata-mata Inggris (Bagian II)

    SETELAH mendapat pengarahan lengkap, Noor Inayat Khan, putri bangsawan India, bersama agen wanita lainnya diterbangkan ke Prancis pada Juni 1943. Setibanya di sana, wanita bernama sandi Madeleine itu bergegas menuju Paris, di mana dia melakukan kontak dengan Garry, yang sirkuitnya diberi nama Cinema –kemudian diubah menjadi Phono– karena mirip bintang film Gary Cooper. Tak butuh waktu lama, Noor mulai menjalankan tugasnya. Menurut Peter Jacobs dalam Setting France Ablaze: The SOE in France During WWII, pada saat itu pesawat radio nirkabel Noor belum tiba –dia baru akan menerima perangkatnya sendiri beberapa minggu kemudian– sehingga dia bertemu dengan Gilbert Norman, perwira Angkatan Darat Inggris yang bertugas sebagai Eksekutif Operasi Khusus di Prancis selama Perang Dunia II. Pesawat radio Norman disembunyikan di Institut Pertanian di Grignon yang berada di pinggiran barat Paris. Dengan menggunakan perangkat radio milik Norman, Noor dapat melakukan transmisi pertamanya. “Transmisi itu terjadi hanya tiga hari setelah penempatannya dan merupakan respons tercepat dari operator radio setelah tiba di lapangan,” tulis Jacobs.

  • Kisah Putri Bangsawan India Jadi Mata-mata Inggris (Bagian I)

    “WANITA itu sangat pemberani. Dia benar-benar sangat pemberani. Yang paling mengesankan adalah dia memilih untuk meninggalkan Inggris, tempat tinggalnya, dan kembali ke Prancis –tempat dia dibesarkan– untuk berperang melawan Nazi bersama kami, dan untuk kami”. Wanita itu adalah Noor Inayat Khan, operator nirkabel wanita pertama yang disusupkan Inggris ke Prancis pada masa Perang Dunia II. Selain keberaniannya, ketenangan dan keteguhan hatinya saat tertangkap Nazi, membuat musuhnya terkesan. Wanita kelahiran Moskow, Rusia pada 1914 itu keturunan sultan pejuang. Dari garis ayah, Noor adalah cicit dari Tipu Sultan yang berjuluk Harimau dari Mysore, penguasa muslim terakhir di India bagian selatan pada abad ke-18. Sementara ayahnya, Hazrat Inayat Khan dikenal sebagai musisi dan mistikus.

  • Sutan Sjahrir Memodali Chairil Anwar Jualan Barang Bekas

    KAMP interniran Salemba menjadi salah satu tempat interniran bagi warga Belanda di Jakarta semasa pendudukan Jepang. Salah satu penghuni kamp ialah seorang wanita Belanda penghuni rumah di Van Brenweg 19 (kini Jalan Latuharhary), Menteng, Jakarta Pusat. Ketika sang nyonya dalam interniran, rumahnya disewakan kepada Sutan Sjahrir. “Rumah itu juga memiliki garasi, tempat Chairil Anwar seharusnya tinggal. Namun, pemilik Belanda itu menyimpan dua peti kayu besar (yang digunakan untuk pengiriman) di dalam garasi dan peti-peti itu terlalu berat untuk dipindahkan. Lagi pula, tidak ada ruang di dalam rumah untuk menaruhnya,” tutur Des Alwi dalam memoarnya, Friend and Exiles: A Memoir of the Nutmeg and the Indonesian Nationalist Movement. Di rumah kawasan elite itu, Sjahrir tak tinggal sendirian. Sjahrir memboyong serta Des Alwi dan Lily, anak-anak angkatnya semasa pengasingan di Banda Neira. Turut menumpang pula keponakan Sjahrir, Chairil Anwar bersama ibunya, Saleha. Sepupu jauh Sjahrir itu tak lama tinggal di sana. Saleha kemudian membuka usaha warung nasi di Jatinegara, namun karena kurang berhasil lantas pulang kembali ke Medan. Des Alwi menggambarkan suasana di rumah Sjahrir yang cukup nyaman itu. Salah satu sisinya menghadap ke Sungai Ciliwung dan jalur kereta api Manggarai-Tanah Abang di sisi lainnya. Hanya kereta sesekali melintas yang mengganggu ketenangan. Nyonya Belanda pemilik rumah, entah bagaimana, berhasil keluar dari kamp sebulan sekali untuk mengutip uang sewa rumahnya sebesar 60 gulden. Biaya sewa itu terbilang murah apalagi rumahnya sudah dilengkapi perabotan. Saban kali ketemu, nyonya rumah dan Sjahrir selalu akrab bercengkerama. Sjahrir berjanji akan menjaga dengan baik rumah dan perabotannya seperti miliknya sendiri. Namun, Sjahrir ternyata tongpes alias kantong kempes. Dia tak punya kerjaan tetap karena menolak bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang. Sjahrir hanya beroleh sedikit sangu dari kawan-kawan seperjuangannya. Menurut Lily, putri angkat Sjahrir kepada penulis biografi Sjahrir, Rudolf Mrazek, Sjahrir melatih anak-anak angkatnya untuk hidup sederhana. Sjahrir juga mengajari mereka agar mandiri, termasuk membekali dengan keterampilan seperti mengetik untuk dapat melamar pekerjaan. “Oom Sjahrir tidak memiliki penghasilan, karena, entah mengapa, dia selalu berkeliling daerah, jauh dari rumah. Kemudian kami tahu bahwa kepergian ini terkait dengan gerakan bawah tanah,” kata Lily dikutip Mrazek dalam Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia. Chairil Anwar yang lebih dulu punya akal untuk mencari cuan lewat jual beli barang bekas. Dia punya ide membeli sepeda, radio, kulkas, peralatan makan hingga barang pecah belah dari keluarga Belanda, lalu menjualnya kepada orang-orang Indonesia. Saat itu, banyak warga Belanda dan Indo-Belanda yang terimpit ekonomi akibat tekanan pendudukan Jepang. Untuk itu, Chairil minta pinjaman uang kepada Sjahrir. Sjahrir bersedia memodali asalkan Des Alwi dilibatkan karena sama-sama menganggur. “Dengan lima puluh gulden, Chairil dan saya pergi dari rumah ke rumah di antara keluarga-keluarga Belanda dan Eurasia yang kehilangan suami dan ayah, yang semua prianya berada di penjara. Kami membeli sepeda seharga tiga puluh lima gulden dari seorang wanita Belanda yang suaminya ditahan di kamp penjara Jepang,” terang Des Alwi. “Dua hari kemudian kami menjualnya seharga tiga puluh tujuh gulden kepada Amir Hamzah Siregar, seorang pengacara muda teman Paman Rir. Chairil membeli buku-buku seri Multatuli, dan saya mengambil untung dari lampu dan dinamo yang telah kami lepas dari sepeda.” Jual-beli barang bekas itu perlahan menjadi usaha nirlaba semata-mata untuk membantu Sjahrir mendapatkan barang-barang yang dibutuhkannya. Mulai dari tabung radio dan suku cadang yang tidak terdaftar, dinamo listrik kecil, pistol, buku, mesin tik, pita, alat tulis, dan kabel. Alat-alat itu berguna bagi Sjahrir untuk menyokong perjuangannya di bawah tanah. Salah satunya adalah radio yang digunakan Sjahrir untuk memantau kabar kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Des Alwi menuturkan, dirinya dan Chairil membeli radio Philips dari wanita Indo seharga 125 gulden. Sjahrir membayarnya dan memeriksa radio tersebut. Saat itu, mendengarkan siaran radio dari negara-negara Sekutu secara sembunyi-sembunyi bisa dipenjara bahkan dipancung oleh dinas polisi rahasia Jepang, Kempeitai. “Ia menemukan bahwa radio tersebut, meskipun terdaftar dan disegel oleh Jepang, dapat diubah ke gelombang pendek tanpa merusak segel dengan menekan kenop dengan hati-hati,” kenang Des Alwi. Sjahrir memereteli radio tersebut agar bisa mengudara tanpa melepas segelnya. Pengeras suaranya dilepas, dibungkus dengan kain batik, lalu disembunyikan di balik pakaian di dalam lemari. Dalam biografi Chairil yang ditulis Hasan Aspahani, kata “batik” menjadi kode Sjahrir kepada Des Alwi dan Chairil agar segera menyiapkan radio perangkat rahasia tersebut, jika ingin mendengarkan siaran, dengan sebuah headphone. Bahkan, Des Alwi pernah memberanikan diri membawa radio yang selalu dibungkus kain batik itu melewati pos serdadu Jepang di ujung jalan. Supaya tidak mencurigakan, dia membawanya naik delman di siang bolong. Ini adalah radio bersejarah dan mestinya tersimpan di museum perjuangan. “Karena radio itu dibeli Sjahrir untuk memantau perkembangan situasi dunia,” tandas Hasan. “Sadar atau tidak, peran kecil yang dilakukan Chairil [dan Des Alwi] itu, amat besar artinya bagi pergerakan kemerdekaan.”*

  • Arsitek Kesultanan Banten

    DUA pucuk surat tulisan tangan Kyai Ngabehi Cakradana tersimpan di Kopenhagen. Di muka amplop salah satunya bertahun 1671-1672, ditambahkan catatan dalam bahasa Denmark: "Cinabij Sabandorz hos sultanen til Bandtam" artinya "syahbandar kota Pecinan untuk sultan Banten." Dari kata-kata itu diketahui bahwa Cakradana adalah syahbandar kerajaan sekaligus pemimpin masyarakat Tionghoa. Ternyata tak hanya itu. Dia juga dikenal sebagai arsitek permukiman dan pertahanan Banten. Tak diketahui pasti tempat dan tanggal lahir Cakradana, tapi kemungkinan dia lahir sebelum tahun 1630. Dia keturunan Tionghoa dan menyandang nama Tantseko. Mengawali karier sebagai pandai besi, dia kemudian diangkat menjadi syahbandar dan kepala bea cukai di bawah syahbandar utama, Kaytsu. Diduga, kedudukan sosial Cakradana naik berkat Kaytsu. Cakradana menggantikan Kaytsu, yang wafat pada 1674, sebagai syahbandar utama pada 23 Februari 1677 dengan gelar Kyai Ngabehi Cakradana. Dia meninggalkan agama lamanya dan memeluk Islam. Sebuah sumber Inggris tahun 1666 menyebut Cakradana "orang yang paling disukai sultan." Pedagang Prancis di Banten, Jean-Baptiste de Guilhen, tak ragu menulis: "Jelas bahwa dia adalah anak emas raja."

  • Hukuman Kejam dari Sultan

    PADA 28 September 1571, kegaduhan terjadi di Kesultanan Aceh. Sultan Alau’ddin Ri’ayat Syah al-Kahar, yang berkuasa sejak 1539, baru saja wafat. Sultan ini sangat dihormati rakyatnya karena berhasil melindungi Aceh dari serangan Portugis dan menyusun Undang-Undang Dasar Negara, Dustur Negara. Sepeninggalnya, tahta sultan dijabat oleh putranya, Ali Ri’ayat Syah. Pada masanya, timbul benih-benih perpecahan di kalangan keluarga kesultanan. Puncaknya terjadi setelah sultan ini wafat pada 1579. Konflik berdarah pun tak terhindarkan. Ini membawa Aceh ke dalam situasi tanpa hukum. Beberapa sultan kemudian mencoba mengembalikan hukum. Sepanjang 1579, Aceh mengalami tiga kali pergantian sultan. Seorang anak berumur empat tahun, putra Ali Ri’ayat Syah, sempat memimpin Aceh meski tak lama. Dia terbunuh akibat konflik perebutan tahta. Penggantinya adalah Raja Seri Alam, putra Alau’ddin Ri’ayat Syah al-Kahar sekaligus adik Ali Ri’ayat Syah. Dia datang ke Aceh dari Pariaman (Sumatra Barat) menuntut penobatan dirinya sebagai sultan. Tuntutannya dipenuhi, tapi hanya bertakhta dua bulan. Kekejaman dan perangainya yang jahat memicu pemberontakan rakyat yang digalang sebagian keluarga kesultanan. Dia tewas. Sultan penggantinya, Zainal ‘Abidin, memiliki riwayat yang sama: kejam dan kemudian tewas di tangan rakyat.

  • Mula Indonesia Mengutang pada IMF

    BRETTON Woods, desa kecil di lereng Mount Washington, negara bagian New Hampshire, Amerika Serikat, menjadi destinasi turis yang ingin menikmati keindahan alam. Desa ini bersejarah karena menjadi tempat konferensi keuangan internasional pada 22 Juli 1944. Konferensi yang dihelat Perserikatan Bangsa-Bangsa ini dihadiri perwakilan dari 45 negara. Tujuan konferensi untuk memulihkan ekonomi dunia pascaperang dan menyepakati hal-hal yang dapat mengurangi mengurangi kebijakan perdagangan, pembayaran, dan nilai tukar, yang berdampak menghambat perdagangan. Konferensi menyepakati berdirinya dua lembaga internasional: IMF (International Monetary Fund atau Dana Moneter Internasional) dan IBRD (International Bank for Reconstruction and Development atau Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan) bagian dari World Bank Group. Pada akhir 1945, 35 negara yang dianggap founding fathers, menandatangani anggaran dasar IMF. Setelah melalui persiapan, termasuk ratifikasi di DPR/Kongres masing-masing negara anggota, akhirnya IMF dinyatakan berdiri dan beroperasi pada 1 Maret 1947.

  • Menyapu Dien Bien Phu

    JENDERAL Vo Nguyen Giap begitu bersemangat. Di persinggahan tepi Sungai Da, dia merasakan kondisi moril para prajuritnya, dan juga rakyat, amat tinggi. Meski harus menempuh medan berat dan perjalanan masih jauh, dia tak mendengar sedikit pun keluhan. Mereka semua bulat tekad berperang untuk mengusir imperialis Prancis. Kejadian yang berlangsung sekitar Oktober 1953 itu meninggalkan kesan mendalam dalam benak Giap. Dia menuliskannya dalam memoar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Letjen TNI (Purn.) M. Munir dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2017. Dien Bien Phu, yang dikelilingi lembah dan perbukitan, adalah tujuan mereka. Ia merupakan tempat paling strategis di Indochina barat-laut, memiliki akses menuju Laos di barat dan Tiongkok di utara. Di sana pulalah Prancis membangun basis pertahanannya.

  • Tan Malaka Tak Pernah Menguap Ketika Ngobrol

    DI INDONESIA, nama Tan Malaka masih di-blacklist bahkan hingga kini, 71 tahun setelah wafatnya. Penyitaan salah satu buku karyanya, Merdeka 100 Persen, dari tangan mahasiswa usai berdemonstrasi di Banten beberapa waktu lalu merupakan buktinya. Nama Tan justru dihormati di Belanda, negeri yang kolonialismenya dia lawan sejak muda hingga akhir hayatnya. Nama Tan digunakan untuk menamakan sebuah jalan di Amsterdam. “Tahun yang lalu di Amsterdam ada rumah-rumah yang baru dan nama-nama jalan yang baru. Dan di sana sudah disebut Tan Malaka, seperti nama jalan. Ini istimewa dan ini lebih cepat daripada di Indonesia,” kata sejarawan Harry A. Poeze, yang 40 tahun lebih meneliti Tan, dalam Dialog Sejarah bertajuk “Indonesia Dalam Mimpi Tan Malaka” di kanal Youtube Historia, Jumat, 16 Oktober 2020.

  • Julisa Rastafari dari Manila ke Manila

    SORE itu, 5 September 2019, di salah satu bidang lapangan basket Gelora Bung Karno. Seolah tak mau kalah dari keriuhan sekitar arena yang dikeluarkan suporter timnas Indonesia jelang pertandingan Indonesia kontra Malaysia, Julisa Rastafari acap mengeluarkan suara lantangnya. Urat di tenggorokannya berulangkali menegang kala ia memberi instruksi lewat teriakan. Maklum, arahannya harus terdengar para anak asuhnya. Gaya melatih Julisa memang keras. Seringkali omelan dengan kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Sesekali tangannya tampak “gatal” seperti ingin menampar. Namun, semua itu cair ketika anak-anak asuhnya bisa mempraktikkan arahannya dengan benar, yang diikuti tos atau sekadar acungan jempol. Pun begitu, tak sekali pun terlihat orangtua anak-anak didiknya naik pitam atas gayanya melatih pasukan putri U-14 Indonesia Muda (IM). Sebaliknya, laku-laku Julisa justru beberapakali mengundang tawa kecil beberapa aparat keamanan di pinggir lapangan.

  • Arief Amin Dua Kali Turun Pangkat

    PERANG Dunia II membuat banyak pemuda jadi tentara. Kondisi “abnormal” akibat perang itu menghentikan banyak roda kehidupan dan menyisakan hanya sedikit pilihan. Tentara adalah hal paling mungkin dimasuki. Itulah jalan kehidupan yang dipilih pemuda kelahiran Padang, 27 Mei 1925 bernama Arief Amin. Waktu zaman pendudukan Jepang, Arief menjadi bintara dalam tentara sukarela bentukan Jepang di Sumatra yang disebut Gyugun. Dari periode singkat pendudukan Jepang itu, dia pernah menjadi wakil komandan seksi Gyugun di Gadut, Bukittinggi. Sewaktu revolusi kemerdekaan Indonesia pecah, Arief ikut terjun dengan terus menjadi tentara. Arief memulainya dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) hingga berubah jadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan terakhir Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di sinilah dia mulai menjadi perwira, dengan pangkat awal Letnan Dua. Mula-mula di Kompi II, Batalyon I, Resimen III, sebagai komandan seksi II.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page