Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Wali Kota Padang Berpulang di Bulan Ramadan
HARI itu, Minggu, 19 Juli 1947, memasuki awal puasa Ramadan. Wali Kota Padang Bagindo Aziz Chan dan istri, Zaura Usman, dalam perjalanan menuju Padang Panjang. Sekitar pukul enam sore, mereka disetop tentara Belanda di jembatan Ulak Karang. Komandan tentara Belanda, Letnan Kolonel J.C.C. van Erp memberi tahu Aziz Chan bahwa ada lagi aksi ekstremis, sebutan pihak Belanda kepada pejuang Indonesia, yang melakukan kekacauan di wilayah Belanda. Dia mengajak Aziz Chan untuk melihat tempat kejadian. Aziz Chan lalu naik mobil tentara Belanda itu menuju ke Lapai, Padang Luar Kota. Itulah hari terakhir bagi Aziz Chan. Tentara Belanda kemudian memberi tahu istrinya bahwa Aziz Chan ditembak ekstremis di Lapai. “Ketika Zaura Usman menjenguk suaminya di RST (Rumah Sakit Tentara) Ganting, ternyata dia sudah meninggal dengan kepalanya rusak,” kata Joeir Moehamad dalam Memoar Seorang Sosialis.
- Sunan Kuning dan Geger Pacinan
MENYEBUT Sunan Kuning, pikiran sebagian besar orang tertuju pada lokalisasi di bagian barat Kota Semarang. Sebelumnya, lokalisasi yang berdiri pada 1966 ini dinamakan lokalisasi Argorejo. “Lokalisasi ini kelak dikenal sebagai lokalisasi Sunan Kuning karena terdapat petilasan Sun-Kun-Ing yang dipercaya sebagai tokoh Tionghoa penyebar agama Islam di kawasan lokalisasi Argorejo tersebut. Petilasannya pada waktu-waktu tertentu diramaikan oleh para peziarah,” tandas Akhriyadi Sofian, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dian Nuswantoro Semarang, yang meneliti sejarah perkembangan Sunan Kuning dari tahun 1966 hingga 1984. Menurut Remy Silado dalam 9 Oktober 1740: Drama Sejarah, dalam catatan seorang Tionghoa di Semarang, Liem Thian Joe, dikatakan bahwa Sunan Kuning adalah sebutan populer bagi Raden Mas Garendi.
- Toleransi Beragama ala Sunan Kudus
Warga muslim dan Kristen di Tolikara, Papua, berdamai. Sebagai rasa syukur mereka mengadakan kenduri. Biasanya dengan bakar babi, namun diganti dengan sapi. “Seharusnya potong babi, tapi saudara muslim tidak makan babi. Jadi kami cari sapi,” ujar Sekretaris Badan Pekerja GIDI Wilayah Toli, Pendeta Marthen Jingga, dikutip cnnindonesia.com. Toleransi seperti itu pernah dilakukan oleh Sunan Kudus. Bedanya, Sunan Kudus justru tidak menyembelih sapi untuk menghormati masyarakat Kudus yang saat itu masih memeluk agama Hindu. Sapi adalah hewan yang disucikan oleh umat Hindu.
- Hikayat Sunan Prapen
PERTENGAHAN abad ke-16, kegaduhan terjadi di wilayah Tengah dan Timur Pulau Jawa. Wafatnya pemimpin kharismatik Demak, Sultan Trenggana, membuat kekosongan kekuasaan terjadi di kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Perebutan kekuasaan pun tidak terhindarkan antara Pajang dan Jipang, yang semakin memperkeruh suasana di Jawa kala itu. Akibatnya, banyak negeri vasal yang memutuskan hubungan dengan Demak dan memilih merdeka. Satu di antara negara yang telah sepenuhnya merdeka itu adalah Giri Kedaton di Gresik, Jawa Timur. Sebenarnya, sejak kejatuhan Majapahit pada 1527, Giri tidak pernah merasa ada di bawah kuasa Demak. Mereka menganggap diri sebagai negeri merdeka dan bebas. Sebagaimana diuraikan H.J De Graaf dan TH. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, baik dalam tutur Demak maupun Giri tidak pernah disebutkan adanya pendudukan atas Giri. Namun kejatuhan itu telah membuat wilayah Gresik secara umum terbebas dari bayang-bayang kuasa Demak. Di wilayah Giri Kedaton, kekuasaan tertinggi dipegang oleh pemimpin agama. Tempat itu sejak abad ke-15 telah digunakan oleh para ulama untuk menuntut ilmu dan menyebarkan ajaran Islam. Sewaktu keributan di Demak terjadi, pemimpin agama di Giri diduduki oleh Sunan Prapen, atau dikenal juga dengan nama Sunan Mas Ratu Pratikal. Dia diangkat pada 1548, menggantikan adiknya Sunan Seda-ing-Margi yang tewas di dalam sebuah perjalanan.
- Empat Penyebar Islam Pra Wali Songo
PADA abad ke-15, keberadaan agama Islam mulai kuat di Pulau Jawa. Kehadirannya sedikit demi sedikit menggerus eksistensi Hindu-Budha yang telah hadir berabad-abad lamanya. Dianggap lebih mudah diikuti ketimbang ajaran-ajaran sebelumnya, masyarakat pun berbondong-bondong mengikrarkan diri sebagai seorang muslim. Kemunculan Walisongo (sembilan wali) juga turut menguatkan proses islamisasi kala itu. Para alim –seorang berilmu dalam agama Islam– itu menjadi ujung tombak dalam penyebaran ajaran Islam. Sunan Gersik, Sunan Bonang, hingga Sunan Gunung Jati, membangun daerah penyebarannya masing-masing. Mereka menjadi salah satu pembuka jalan era kerajaan Islam di Pulau Jawa. Namun sebelum masa Sembilan Wali, masyarakat di Pulau Jawa telah mengenal tokoh-tokoh penyebar Islam. Syekh Jumadil Qubro misalnya, menjadi leluhur sebagian besar Wali Songo. Di antara ulama-ulama tersebut, berikut empat tokoh yang berhasil dirangkum Historia.
- Islamisasi ala Sunan Gunung Jati
SETIAP malam Jumat Kliwon aktivitas tidak biasa kerap terlihat di Gunung Sembung, Cirebon Utara: warga berbondong-bondong datang ke Kompleks Makam Astana Gunung Jati untuk berziarah sambil berzikir di masjid Sang Saka Ratu. Tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan waktu tersebut untuk mengambil air dari tujuh sumur yang tersebar di sekitar kompleks. Namun ada pula yang memilih berdiam di area makam para tokoh pendiri Cirebon yang dimakamkan di sana, salah satunya Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati, atau dikenal juga sebagai Syarif Hidayatullah adalah tokoh penegak Islam pertama di Tatar Sunda. Ia dibesarkan dan dididik di tanah Arab. Mengenal Islam dari tokoh-tokoh besar di Mekah dan Baghdad, membuat pengetahuan Islam Syarif Hidayatullah sangat mumpuni untuk disebarkan kepada masyarakat.
- Perlawanan Laskar Islam
30 Juli 1950, seorang anggota Angkatan Umat Islam (AUI), dengan membawa sepucuk senjata, berjalan mondar-mandir di jalan Stasiun Kebumen, Jawa Tengah. Lagaknya yang mencurigakan menarik perhatikan seorang anggota Corps Polisi Militer (CPM) yang sedang bertugas. Dia ditegur lalu ditangkap dan dibawa ke markas menggunakan truk. Di tengah jalan, anggota AUI itu mengamuk. Malang, dia langsung dilumpuhkan petugas CPM dengan tembakan. Anggota AUI itu pun tewas. Kabar itu memicu kemarahan AUI. Markas AUI di daerah Somalangu, 4 kilometer utara Kabupaten Kebumen, dipenuhi pasukan laskar yang bersiaga. Pada 1 Agustus 1950 pagi pasukan AUI mulai menembaki pasukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) yang berjaga di utara Stasiun Kebumen. Mereka juga merazia dan menyandera pegawai-pegawai pemerintah.
- Sebuah Jalan dan Kematian Seorang Komandan Laskar
RABU, 18 Agustus 1948. Harian Haarlems Daagblaad mengabarkan suatu berita dari tanah Jawa: tiga anggota kelompok Bamboe Roentjing, masing-masing bernama Soetjipta, Satibi dan Oemang, telah divonis mati oleh Pengadilan Sipil Hindia Belanda di Bogor. Vonis yang jatuh pada 17 Agustus 1948 itu, telah dijatuhkan berdasarkan aksi kriminal yang telah dilakukan oleh ketiganya di wilayah Cianjur selama 1947—1948. “Mereka bertiga telah melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai kaki tangan NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda), secara langsung maupun tidak langsung,” tulis media yang berpusat di Haarlem, Belanda itu. Siapakah tokoh Soetjipta? Tidak seperti pihak Belanda, orang-orang Cianjur justru menganggap Soetjipta sebagai seorang pejuang. Hal itu dibuktikan dengan penyematan namanya untuk satu ruas nama jalan di pusat kota Cianjur. Sayangnya, jalan yang ketika diresmikan sekira tahun 1950-an tersebut bernama Jalan A. Soetjipta, kini telah berganti menjadi Jalan Adi Sucipta.
- Dewaruci Menuju Negeri Laskar Pelangi
KRI Dewaruci “cerah” kembali sekeluar dari perawatannya. Pagi 7 Juni 2024 ini para awaknya sudah bersiap di geladak kapal. Untuk kesekian kalinya mereka akan berlayar kembali. Sekitar pukul 9.20, KRI Dewaruci bertolak dari dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamal) di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. KRI legendaris berusia lebih dari 70 tahun itu membawa lebih dari 40 peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah. Mereka dilepas oleh Kepala Staf Kolinlamal Laksamana Pertama Mohamad Riza dan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid di lapangan Laksamana Moeljono Silam yang bersebelahan dengan dermaga. Kali ini tujuan pelayaran KRI Dewaruci adalah Belitung Timur. Diperkirakan pelayaran akan memakan waktu sekitar dua hari dua malam. Sesuai temanya, Muhibah Budaya Jalur Rempah, program ini hendak menggali dan memperkenalkan kebudayaan rempah. Bersama Bangka, Belitung Timur dikenal pula sebagai penghasil lada.
- Ketika Wartawan Dipalak Laskar Sumatra
SUWARDI Tasrif, Rinto Alwi, dan Muhamad Radjab adalah trio wartawan utusan pemerintah. Tasrif dari harian Berita Indonesia, Rinto dari harian Merdeka, sedangkan Radjab dari Kantor Berita Antara. Mereka dipimpin oleh Tuan Parada Harahap, pegawai tinggi pada Kementerian Penerangan. Rombongan itu bertugas meliput keadaan di Sumatra di tengah suasana perjuangan revolusi. Pada 14 Juni 1947, rombongan berangkat dari Yogyakarta. Mereka tiba di Medan pada 20 Juni. Beberapa kota di Sumatra Timur langsung disinggahi, di antaranya Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan Brastagi. Di kota-kota itu perjalanan lancar-lancar saja, tiada halangan yang berarti. Hingga pada 28 Juni, rombongan melanjutkan perjalanan dari Brastagi menuju kota minyak Pangkalan Brandan. Pukul 09.00, rombongan bertolak menuruni lereng-lereng bukit di Tanah Karo. Petaka bermula di Pancur Batu. Di tengah jalan, mobil rombongan melewati gardu pengawalan. Beberapa orang laskar menghampiri mobil. Mereka meminta untuk diizinkan menumpang di mobil rombongan. “Caranya bukan meminta, tetapi mendesak dan bagaikan mengancam,” kenang Radjab dalam catatan perjalanannya Tjatatan di Sumatra.
- Wisata Sumatra Era Kolonial
SEBERKAS iklan pariwisata zaman kolonial menerangkan informasi yang menarik. Terlihat peta Pulau Sumatra dengan titik destinasi wisata andalan yang terhubung satu sama lain. Mulai dari keelokan Danau Toba di jantung Tanah Batak, pesona rumah gadang di Kota Padang, hingga Pulau Nias nan eksotis. Tempat-tempat wisata itu dapat dikunjungi lewat dua jalur rute perjalanan, yakni Pantai Barat dan Pantai Timur Sumatra. “Sebuah tamasya yang indah untuk perjalanan liburan Anda berikutnya,” demikian pesan promosi yang ditawarkan Perusahan Pelayaran Belanda (KPM) bertitimangsa 1930 itu. Menurut sejarawan Achmad Sunjayadi, kegiatan kepariwisataan di Sumatra pada masa kolonial tidak kalah dengan kepariwisataan di Jawa. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke- 20, sejumlah destinasi wisata di Sumatra banyak tersua dalam buku catatan perjalanan maupun buku panduan turisme.
- Ratu Sima dalam Catatan Tiongkok
PADA zaman dulu, hiduplah seorang ratu yang memerintah negerinya dengan tegas. Dia diingat dengan nama Ratu Sima. Saking tegasnya, barang yang tergeletak di jalan tak kan ada yang berani mengambilnya. Penasaran dengan ketegasan sang ratu, Raja Da-zi mengirimkan sebuah tas yang berisi uang. Tas itu diletakkan di perbatasan negara sang ratu. Meski melihat tas itu, orang-orang hanya melewatinya. Tak ada yang berani menyentuhnya. Tas itu tetap di sana hingga tiga tahun lamanya. Suatu hari, putra mahkota tanpa sengaja menyentuh tas itu. Ratu Sima pun marah besar sampai ingin membunuh putranya itu. Namun, dia keburu dicegah para menterinya. “Kesalahanmu terletak di kakimu, karena itu sudah memadai jika kakimu dipotong,” kata sang ratu.





















