Hasil pencarian
Cari di situs ini
10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Loyalis Sukarno Bernama Ibrahim Adjie
SEBINGKAI pigura memuat potret Bung Karno (BK) dengan senyum khasnya. Bersama foto itu, tertempel pula selembar pecahan uang kertas bernilai Rp. 100,- bergambar presiden pertama RI tersebut. Yang paling menarik, dalam bingkainya disertakan juga sepucuk surat BK tertanggal 3 Oktober 1965, persis dua hari usai terjadi Insiden Gestok (Gerakan Satu Oktober) 1965. “Anakda I. Adjie, Kodam VI, Harap kerdja-sama sebaik-baiknya dengan sdr. Wiriadinata, menjelamatkan AURI, ADRI dan Revolusi. Keselamatan AURI dan ADRI adalah mutlak -perlu untuk menghadapi Nekolim,” demikian bunyi tulisan surat yang ditulis di atas kertas putih berkop “Adjudan Presiden” tersebut. Sebagai panglima Kodam VI Siliwangi (1960—1966), reputasi militer Adjie terbilang gemilang. Darul Islam yang telah mengacau Republik sejak zaman revolusi berhasil ditumpas Divisi Siliwangi di bawah pimpinannya pada 1962. Operasi “Pagar Betis” yang dirancang Adjie berhasil meringkus pemimpin Darul Islam: S.M. Kartosoewirjo.
- Si Pitung dari Ciamis
DI Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat pada 1920, kondisi ekonomi tak menentu. Harga-harga kebutuhan pokok tak terjangkau oleh rakyat kecil hingga menyebabkan kelaparan dan penindasan oleh para rentenir. “Dalam situasi seperti itu, salah seorang anggota Sjarekat Islam (SI) afdeeling B bernama S. Gunawan membentuk Sjarekat Rakjat (SR),” ujar Muhajir Salam, sejarawan Tasikmalaya kepada Historia. SR banyak mendapat dukungan dari rakyat. Bukan hanya rakyat kebanyakan tapi juga sejumlah jawara (pendekar). Salah satunya bernama Djoeminta. Dengan kondisi masyarakat di sekitarnya, Djoeminta merasa prihatin dan iba hati. Karena uang tak punya, ia lantas menggunakan keahliannya berkelahi untuk menolong rakyat miskin, laiknya Si Pitung yang pernah menjalankan aksi-aksi serupa di Batavia puluhan tahun sebelumnya.
- Mencari Sejarah Si Pitung
DARI kejauhan terdengar suara tembakan memecah malam pada 30 Juli 1892. Rumah tuan tanah asal Bugis, Hadji Sapiudin, di kawasan Marunda dirampok gerombolan bersenjata. Seorang menodong Hadji Sapiudin, sisanya menguras isi rumah. Esoknya, warga heboh. Mereka percaya kelompok Si Pitung pelaku perampokan itu. Peristiwa ini terekam dalam koran Hindia Olanda, 10 Agustus 1892. Sebulan kemudian, Si Pitung ditangkap. Rumahnya digeledah. Polisi menemukan barang bukti uang sebesar 125 gulden di sebuah lubang rahasia di lantai rumah. Pitung dijebloskan ke penjara di Meester Cornelis. Namun, tak lama berselang, Si Pitung bersama gengnya, Dji’ih, Rais, dan Jebul meloloskan diri.
- Tamat Menjelang Seabad
PADA 10 Juli 1961, Pengadilan Ekonomi Semarang memutuskan Oei Tiong Ham Concern dirampas untuk negara dan menjatuhkan vonis in absentia (tanpa kehadiran terdakwa) bersalah kepada tujuh pemegang saham Oei Tiong Ham Concern –satu terdakwa, Tjong Tjiat meninggal di Amsterdam pada 1957. Pertimbangannya: mereka mempunyai surat tanda pemilikan harta dan kekayaan di Indonesia tanpa izin Lembaga Alat-Alat Pembayaran Luar Negeri (LAAPLN), tanpa izin menjual saham-saham perusahaan yang didirikan di Indonesia, dan menguasai saham-saham perusahaan di Indonesia tanpa memiliki izin dari LAAPLN. Dengan ketetapan tersebut, pemerintah menyita semua perusahaan Oei Tiong Ham Concern di Indonesia: perusahaan dagang Kian Gwan, perusahaan gula Algemeene Maatschappij tot Exploitatie der Oei Tiong Ham Suikerfabrieken, serta perusahaan-perusahaan lain yang bergerak di bidang perkebunan, pengolahan karet, dan pabrik biskuit.
- 10 Juli 1985: Akhir Tragis Kapal Greenpeace Penentang Nuklir Prancis
HARI ini, 10 Juli 1985, kesunyian dermaga Pelabuhan Auckland, Selandia Baru seketika berganti jadi menakutkan pada pukul 23.45 waktu setempat. Dentuman keras mengagetkan orang-orang di kapal-kapal yang bersandar maupun yang berada di daratan. “Suara apa itu? Jelas bukan bagian dari kebisingan rutin kapal. Bahkan, tidak ada suara normal kapal yang bisa didengar. Generator, yang memasok listrik ke kapal, anehnya sunyi. Gempa bumi kah?” kata Peter Willcox, kapten kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace yang merupakan salah satu kapal di dermaga itu, dalam memoarnya yang dimuat dalam Greenpeace Captain: My Adventures in Protecting the Future of Our Planet. Rainbow Warrior merupakan kapal Greenpeace, organisasi pemerhati lingkungan yang berasal dari Kanada, yang dibeli pada 1978. Bekas kapal Sir William Hardy milik Skotlandia itu lalu direparasi ulang agar berfungsi untuk pekerjaan lingkungan. Untuk menyelaraskan dengan misi yang diembannya, cat kapal didominasi warna putih dan hijau tua.
- Jebolan Boedoet Tempo Dulu
SEKOLAH ini pernah menolak seorang Nyong Ambon untuk menjadi siswanya. Pasalnya, nilai pelajaran menggambar Johannes Leimena, calon siswa itu, amat rendah hanya empat. Padahal, menggambar adalah perkara penting dalam kerja-kerja teknik. Leimena akhirnya diterima di sekolah kedokteran. Dia kemudian menjadi dokter hingga menjadi menteri kesehatan, yang dijuluki Bapak Kesehatan Indonesia, dan wakil perdana menteri. Begitulah ketatnya seleksi masuk ke Koningen Wilhelmina School (KWS), sekolah teknik semasa Hindia Belanda. KWS yang berdiri pada 1901 terletak di Vrijmetselaarsweg atau bisa diterjemahkan sebagai Jalan Freemason atau Jalan Mason Bebas. Kini, nama jalan itu berganti menjadi Jalan Budi Utomo, yang sering disingkat dengan ejaan van Ophuijsen sebagai Boedoet. Bertahun-tahun setelah Leimena gagal masuk KWS, seorang pendeta dari Tapanuli, Friedrich Silaban, mendaftar ke KWS. Anak pedeta kelahiran Bonandolok, Tapanuli pada 16 Desember 1912 ini lulusan Holland Inlandsche School (HIS) Norumonda. HIS merupakan sekolah dasar tujuh tahun berbahasa Belanda. Mereka yang ingin masuk KWS harus memiliki ijazah HIS. Namun, bukan itu saja syarat agar Silaban bisa diterima di KWS. Berkat kemampuan menggambarnya yang jauh melebihi Leimena, maka Silaban pun diterima.
- Bung Hatta Anak Boedoet
PADA 1919, Mohamad Hatta alias Bung Hatta sudah lulus dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijz (MULO) –setara dengan SMP– di Padang. Di kala orang Indonesia masih sedikit yang bisa bersekolah kala itu, lulusan MULO jelas terhitung tinggi pendidikannya. Kendati lulusan MULO, Bung Hatta yang dari keluarga pedagang bertekad ingin belajar lebih tinggi lagi. “Prins Hendrik School, Sekolah Dagang Menengah 5 tahun. Dasarnya 3 tahun HBS dan di atas itu ada 2 tahun jurusan dagang. Murid tamatan MULO diterima di kelas atau sering juga disebut kelas pertama bagian dagang,” jelas Bung Hatta dalam Mohammad Hatta Memoir. Jadi, tiga kelas pertama Prins Hendrik School yang tidak dilalui Bung Hatta sejatinya mirip SMP dan dua kelas terakhirnya mirip Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) atau Sekolah Menengah Kejuruan rumpun ekonomi.
- Lima Dekade Lagu Anak-anak Indonesia
Abang tukang bakso mari-mari sini Aku mau beli Sepenggal lirik ini berasal dari lagu anak-anak berjudul “Abang Tukang Bakso”. Ia muncul pada dekade 1990-an. Liriknya pendek. Pilihan lemanya sederhana. Tapi lagu ini sangat populer dan punya pengaruh kuat pada perkembangan anak-anak. Raisye Soleh Haghia (34), pengajar Program Studi Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia, mengaku sering mendengar ibunya menyanyikan lagu itu ketika dia kecil. “Sekarang saya suka banget sama bakso,” kata Raisye. Raisye juga mencontohkan adanya ikatan kuat pada lagu anak-anak berjudul “Bangun Tidur” ciptaan Pak Kasur pada 1950-an. “Kalau kita telaah liriknya, lagu itu mengajarkan kebiasaan baik untuk anak-anak,” kata Raisye. Dia biasa menyanyikan lagu itu kepada anak-anaknya. Dan itu membantu menyampaikan apa yang dia inginkan dari anak-anaknya.
- Balonku dan Rahasia Penciptaan Lagu Anak-anak
Meletus balon hijau. Dor! Hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat. Ku pegang erat-erat. Sepenggal lirik lagu anak-anak berjudul “Balonku”ini biasanya tak pernah jadi masalah. Sampai seorang Zainal Abidin berupaya menguliti maksud tersembunyi lirik “Balonku”. Zainal mengatakan lirik “Balonku”memuat kebencian terhadap Islam. Sebab balon hijau yang meletus. Dan warna hijau lekat dengan Islam. Tak hanya “Balonku”. Zainal juga mengupas lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung”. Dalam ceramahnya yang bisa dilihat di Youtube,dia menduga lagu itu menyebarkan ajaran Kristen. Kiri kanan Ku lihat banyak pohon cemara. Itu sepenggal lirik Kristenisasi versi Zainal. Cemara identik dengan hari Natal. Dan Natal adalah harinya umat Kristiani. Benarkah lagu anak-anak punya muatan kebencian dan mengajarkan iman agama tertentu?
- Mengenal Pak Dal, Pencipta Lagu Bintang Kecil
Malam kian larut. Seorang lelaki menuju kamar mandi rumahnya. Dari celah-celah genting, dia melihat bintang-gemintang berpendar di langit. Satu bintang menarik perhatiannya. Sinarnya lebih cerlang daripada lainnya. Keluar dari kamar mandi, dia mengambil alat tulis dan kertas. Dia menuliskan sesuatu sembari bersenandung. Sebuah lagu tercipta. Bintang kecil di langit yang tinggi Amat banyak menghias angkasa Aku ingin terbang dan menari Jauh tinggi ke tempat kau berada Lagu tadi berjudul “Bintang Kecil”. Liriknya asyik, nadanya sederhana, dan pesannya kuat. “Lagu yang menceritakan tentang keindahan alam semesta dan keagungan Tuhan dan sebagai fantasi anak terhadap dunia dan cita-cita masa depan,” kata Mbah Wiro Kribo, pemerhati musik dari Solo, Jawa Tengah.
- Papa T. Bob dan Lagu Anak
SIAPA tak kenal Joshua Suherman? Sosoknya sesekali hadir di layar kaca, menghiasi acara-acara sinetron. Kini, dia sudah dewasa. Jika melihatnya, kita seolah kehilangan sosok Joshua cilik yang kenes dan menggemaskan dengan suara polosnya: “Diobok-obok airnya diobok-obok/ ada ikannya kecil-kecil pada mabok...” Lagu “Air” ini pernah merajai lagu anak-anak era 1990-an. Penyanyinya, Joshua, terbilang fenomenal. Hampir semua albumnya meraih sukses. Album perdananya bertajuk Cit Cit Cuit, yang diluncurkan Maret 1996 waktu Joshua berusia 3 tahun, terjual 400 ribu keping. Album keduanya, Kapal Terbang, yang dirilis setahun kemudian, tak kalah laris. Sementara album ketiganya, Air, mencatat angka penjualan yang fantastis: 1 juta kopi! Labelnya, Selecta Record, pun menuai untung. Sukses Joshua tak bisa dilepaskan dari andil Papa T. Bob, pencipta lagu dari sebagian besar lagu yang dinyanyikan Joshua.
- Papa T. Bob, Pencipta Lagu Anak Generasi 1990-an
PAPA T. Bob, pencipta lagu anak-anak ternama era 1990-an, meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit pada Jum’at, 10 Juli 2020. Jenazahnya dimakamkan pada hari itu juga sore harinya di Tempat Pemakaman Umum Jurang Mangu Timur, Tangerang Selatan, Banten. Selama dekade 1990-an, Papa T. Bob menciptakan banyak lagu anak-anak dan menjadi hits di radio serta televisi. Lagu-lagu itu kemudian dijual dalam bentuk kaset dan laris manis di pasaran. Berkat lagu-lagunya, sejumlah nama penyanyi cilik menjadi tenar. Seperti Enno Lerian, Dhea Ananda, Leony, Alfandy, Joshua Suherman, dan Tina Toon. Papa T. Bob bernama asli Erwanda Lukas. T. Bob adalah nama anaknya. Dia menyebut dirinya Papa T. Bob setelah menciptakan lagu anak-anak untuk kali pertama pada awal 1990. Theodore K.S., pengamat musik yang pernah mewawancarai Papa T. Bob, mengatakan kepada Historia, lagu “Semut-semut Kecil” terinspirasi setelah Erwanda memperhatikan gerak-gerik T. Bob sewaktu berusia satu tahun enam bulan.




















