Hasil pencarian
Cari di situs ini
10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jejak Peradaban di Sepanjang Sungai Batanghari
DI Jambi, Sungai Batanghari adalah yang terpanjang. Mengalir sejauh 800 km, sungai ini menembus wilayah Jambi dari hulunya di Gunung Rasan, Sumatra Barat, kemudian bermuara di pantai timur Sumatra ke Laut Cina Selatan. Di sepanjang alirannya, jejak perdaban masa lalu banyak ditemukan, seperti Koto Kandis, Muarajambi, Padang Roco, Pulau Sawah, dan Solok Sipin. Beberapa di antaranya bahkan dipilih oleh penguasa Melayu menjadi pusat pemerintahan. Junus Satrio Atmodjo, arkeolog dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional, menjelaskan kehidupan di kawasan Sungai Batanghari sudah sangat tua. “Pengaruh prehistori kita dapatkan sampai ke Kerinci. Ada pengaruh dari Tiongkok juga. Ditemukan keramik-keramik dari masa Dinasti Han, abad ke-3,” jelasnya.
- Amuk Inggris di Sungai Beramas
MAYOR Andrew Sandilands Knox Anderson (30) tengah diganja asmara hari itu. Seorang gadis Inggris telah membuatnya kasmaran setengah mati. Ann Helen Allingham (25) namanya. Dia seorang anggota Palang Merah Inggris yang tengah bertugas di Padang, mengurusi eks tawanan perang Jepang berkebangsaan Eropa. Situasi perang menyebabkan kedua sejoli tersebut cepat berpadu hati. Minggu, 2 Desember 1945, Anderson sudah merencanakan untuk bervakansi dengan sang kekasih ke sebuah bungalow yang dilengkapi tempat pemandian indah di kawasan Sungai Beramas (sekitar 11 km sebelah selatan Padang). Mereka memutuskan akan menginap. Namun sesuai prosedur, Anderson harus melaporkan dahulu rencananya itu kepada pihak berwenang yang mewakili Republik Indonesia (RI) di Padang. Maka pada hari Minggu sekitar jam 8, sebelum pergi ke Sungai Beramas, Anderson dan Allingham terlebih dahulu menemui Johnny Anwar di Kantor Polisi RI. Kepada anggota Kepolisian RI yang sudah dikenalnya itu, Anderson mengutarakan niatnya. Alih-alih memberi izin, Johnny justru mengingatkan bahaya yang mengancam jika pergi ke tempat tersebut. Selain memiliki medan yang curam, pemandian itu juga terletak di dekat hutan yang rawan akan aksi kejahatan.
- Patola, Cikal Bakal Motif Batik Masa Kini
PENGGUNAAN kain bermotif batik sebagai pakaian, umum dilakukan dalam berbagai kegiatan. Motif batik muncul di berbagai gaya busana seperti blouse, kemeja, celana, atau bahkan hanya dibiarkan menjadi lembaran kain yang dililit-lilit. Salah satu motif batik yang diminati adalah batik Jlamprang asal Pekalongan. Motif ini mirip dengan motif batik Nitik dari Yogyakarta. Motif-motif seperti itu sudah ada sejak masa Jawa Kuno, dikenal dengan nama Patola. Dalam Indonesische Siermotieven: Indonesian Ornamental Design, arkeolog Van der Hoop menggambarkan desain Jlamprang sebagai sekumpulan lingkaran yang menyentuh satu sama lain. Di dalam lingkaran-lingkaran itu diisi dengan mawar dan motif lain.
- Seragam Batik Tempur
WARGANET, utamanya para penggila K-Pop, dibuat heboh oleh unggahan dua personil boyband Super Junior, Park Jeong-su alias Leeteuk dan Kim Jong-woon alias Yesung, di laman Instagram masing-masing. Keduanya pamer baju batik. Batik motif Garuda Kujang Kencana yang mereka kenakan merupakan hasil desain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamila atau akrab disapa Kang Emil. “Thank you KPop stars @xxteukxx and @yesung1106 of @superjunior for wearing west java batik @batikkomar that i designed. You are now officially ready for ‘pergi kondangan’ or ‘ikut pilkada’ in Indonesia. Khamsahamnida from your Hyung. Buat gadis2 Indonesia, dengan ini mereka terlihat lebih melokal dan tentunya lebih terjangkau. Mari semangat jadikan batik Indonesia mendunia. Saya menggunakannya untuk diplomasi budaya,” tulis Kang Emil lewat unggahan ulang foto keduanya di akun Instagram@ridwankamil, Selasa (25/5/2021). Batik lazim dikenakan masyarakat Indonesia dalam acara hajatan keluarga maupun hajatan pemerintah. Batik juga kerap jadi buah tangan para pemimpin Indonesia untuk tamu kehormatan mereka. Presiden Afrika Selatan Nelson Rolihlahla Mandela dan Presiden Amerika Serikat William Jefferson ‘Bill’ Clinton di antara tamu kehormatan yang pernah mendapat hadiah batik. Tetapi yang jarang diketahui khalayak, kain batik juga pernah dijadikan seragam tempur sepasukan kombatan Kiblik di Jawa Timur.
- Jejak Islam di Batik Besurek
PENGARUH Islam terhadap ragam hias tekstil terjejak pada batik besurek khas Bengkulu. Motifnya biasanya hanya berupa huruf Arab gundul yang tak punya makna khusus –kecuali beberapa jenis kain, terutama untuk upacara adat. Lalu ada perpaduan motif flora dan fauna –yang sudah distilisasi hingga tak dikenali lagi bentuk aslinya– sebagai simbol hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dalam Pengaruh Islam dalam Seni Wastra Indonesia, katalog dalam pameran di Museum Tekstil Jakarta, Judi Achjadi dan Benny Gratha menulis, keberadaan kain besurek di Bengkulu diperkirakan muncul awal abad ke-16 seiring masuknya pengaruh Islam.
- Canting dari Sungai Kuning
PUTRI Ong Tien nelangsa. Sebagai istri wali Sunan Gunung Jati di Cirebon, dia belum juga beroleh keturunan. Untuk menghibur diri, kala senggang, dia melukis di kain. Corak batik hasil kreasinya kadang diberi warna-warna cemerlang seperti warna keceriaan musim semi di Tiongkok. Banyak dayang meniru motif ciptaan Ong Tien. Kini, kita mengenalnya sebagai motif mega mendung. Dari batik Cirebon, Pekalongan, hingga Lasem, pengaruh Tionghoa kental sekali dalam menambah kekayaan corak batik Nusantara. “Pengaruh budaya Tionghoa terhadap batik sangat kuat, terutama untuk batik pesisir, seperti batik Pekalongan atau batik Cirebon. Sebab, memang orang-orang di daerah pesisir yang aktif melakukan kontak dengan masyarakat luar, seperti dengan para pedagang asal negeri Tiongkok. Motif buket bunga pada batik pesisir itu kuat pengaruh Tionghoa,” kata Benny Gratha, asisten kurator Museum Tekstil Jakarta.
- Perintah Receh Jenderal Panggabean
KOLONEL Sayidiman Suryihadiprodjo seyogianya merampungkan kunjungan dinasnya di Sulawesi Selatan. Bersama Mayor Jenderal Askari, Panglima Komando Antar Daerah Indonesia Timur (KOANDA-IT), Sayidiman selaku utusan pusat mengadakan sidak operasi penyelesaian sisa-sisa pemberontakan Darul Islam. Namun di tengah perjalanan dari Makassar menuju Paloppo, ada panggilan dari Jenderal Maraden Panggabean yang disambungkan lewat radio. Sayidiman diminta kembali ke Jakarta. Segera. “Memang sudah sejak tahun 1965 ketika beliau diangkat menjadi Deputi Pembina TNI-AD, Pak Panggabean sering kali memberikan penugasan langsung kepada saya,” tutur Sayidiman dalam otobiografinya Sayidiman: Mengabdi Negara sebagai Prajutit TNI. Selain menjabat Deputi Pembina, Panggabean juga merangkap Deputi Operasi. Sementara Sayidiman merupakan perwira diperbantukan (Paban) bidang operasi. Itu berarti, Panggabean adalah atasan langsung Sayidiman. Perintah dari Panggabean membuat Sayidiman sukar menunaikan tugasnya di Sulawesi.
- Panggabean Dua Kali Kerampokan Saat Perang Kemerdekaan
MAYOR Maraden Panggabean, komandan Sektor IV Sub Teritorium VII Sumatera, kesal. Usulnya kepada Komandan Sub Komandemen Tapanuli Kol. (Tit.) Mr. A. Abbas tidak didengar. Nahas yang telah diprediksinya pada awal September 1948 justru mendatanginya lewat perantaraan Abbas. Sial! Panggabean memang kerap tertimpa sial semasa Perang Kemerdekaan. Sebelum itu dia juga sial ketika diminta menemani dr. Luhut Lumbantobing, komandan resimen. Perkaranya bermula dari ditemuinya dr. Luhut oleh seorang bermarga Hutapea. Orang itu mengatakan kepada Luhut bahwa ada sepasukan bekas anak buah Liberty Malau di Divisi Banteng Negara hendak keluar dari kemiliteran menyusul akan diadakannya Re-Ra. Komandan pasukan itu menyatakan mereka akan menyerahkan persenjataan kepada pemerintah namun dengan imbalan sejumlah uang. Mendengar pemaparan itu, Luhut langsung menyanggupi. Setelah mendapatkan Rp.10 juta dari gubernur militer, dia langsung mengajak Panggabean, orang bermarga Hutapea tadi, dan Gamal Lumbantobing ke tempat yang telah ditentukan, semak-semak sekitar Rumah Sakit Tarutung.
- Kisah Lucu di Sungai Pakuanan
SUATU hari di tahun 1949, Komandan Sektor IV Sub Teritorium VII Sumatera Mayor Maraden Pangabean sedang mengunjungi pos-pos terdepan pasukannya di wilayah antara Hubu dan Saur Matinggi, pelosok Sumatera Utara. Di tengah kunjungan tersebut, ia mendapat informasi bahwa Letnan Kolonel A.E. Kawilarang (Komandan Sub Teritorium VII Sumatera) sedang menuju markas Sektor IV di tepi sungai Pakuanan. Tanpa menunggu lama, Mayor Maraden lalu memutuskan untuk berbalik lagi menuju markasnya itu. Hari sudah mulai remang, saat sang mayor melewati anak sungai sebelum mencapai markas yang berupa bunker tersebut. Menurut kebiasaan, di tempat ini celana harus dicopot karena menghindar basah (maklum celana cuma satu-satunya). “Jadi saat itu saya hanya mengenakan baju dan celana dalam saja,” ujar Maraden dalam biografi yang ditulisnya, Berjuang dan Mengabdi.
- Wallanae, Sungai Purba di Sulawesi Selatan
SELINTAS sungai itu seperti sungai biasa. Namun, siapa sangka pesisirnya menyimpan sejuta misteri. Bagai kotak Pandora para ilmuan, sejak 1940-an hingga tahun 2009 beberapa temuan membuat ilmu pengetahuan tercengang. Di tempat inilah, fauna-fauna purba menyeruak dari kedalaman tanah, ada gajah purba (Elephas celebensis), ikan pari raksasa, buaya purba (Crocodylus sp), babi purba (Celebochoerus heekereni), hingga artefak batu. Fosil-fosil fauna vertebrata ini ditemukan pertama kali tahun 1947 oleh Hendrik Robert van Heekeren, arkeolog Belanda, di kampung Beru jalan poros Cabenge-Pampanua Kabupaten Soppeng. Temuan ini, terus berkembang yang akhirnya menyibak ribuan fosil vertebrata di aliran sungai itu.
- Sungai yang Membangun Peradaban di Sumatra
BERBAGAI peradaban muncul di sepanjang aliran sungai. Termasuk Kadatuan Sriwijaya yang awalnya dimulai dari permukiman di Daerah Aliran Sungai Musi, mulai dari muara hingga hulunya. “Jauh sebelum Sriwijaya lahir sudah ada permukiman di DAS Musi,” kata arkeolog Bambang Budi Utomo atau akrab disapa Tomi, dalam diskusi daring berjudul “Budaya Hindu Buddha di Pulau Sumatra” yang diadakan Balai Arkeologi Sumatra Utara, Rabu, 28 April 2021. Sungai menjadi pintu masuk budaya luar ke Sumatra dan berbagai tempat lain di Nusantara. Mulanya dibawa para pedagang yang masuk ke pedalaman untuk mencari komoditas perdagangan. Jalurnya lewat sungai-sungai besar, seperti Sungai Musi, Batanghari, dan Kampar.
- Merayakan Seabad Ali Sadikin
KENDATI namanya sudah tinggal sejarah, Ali Sadikin selalu dikenang penuh hormat oleh warga Jakarta. Sejumlah karya monumental dan warisan kebijakannya masih dapat dinikmati sampai hari ini. Selama menjabat gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, Ali Sadikin tidak hanya berperan dalam membangun Jakarta secara fisik dari kampung besar nan kumuh menjadi ibu kota modern. Namun, dia juga memberi napas bagi pengembangan seni dan kebudayaan di Jakarta. “Kalau kita melihat perjalanan panjang Bang Ali dalam waktu 10 tahun pemerintahannya, banyak karya yang beliau tinggalkan, termasuk Taman Ismail Marzuki. Termasuk kemudian yang selalu dikenang adalah bagaimana pada waktu itu beliau memutuskan untuk mengubah rawa-rawa di pesisir utara Jakarta menjadi Taman Impian Jaya Ancol yang sekarang ini legasinya masih dirasakan oleh kita semua,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam pembukaan “Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, 7 Juli 2026. Ali Sadikin, lanjut Pramono, juga memperhatikan hiburan bagi warga Jakarta segala kalangan. Salah satu legasinya adalah pembangunan Kebun Binatang Ragunan di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ketika diresmikan pada 1966, Ali Sadikin berperan memprakarsai pemindahan kebun binatang di kawasan Cikini yang sudah mulai padat penduduk, ke Ragunan.





















