top of page

Hasil pencarian

Search this site

9981 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Komandan Resimen Dikagetkan Tank Jadi-jadian

    SETELAH pertempuran Titi Bambu, Letkol Djamin Gintings memerintahkan penggotongan keenam prajurit Kompi Markas yang masih hidup ke Kampung Suka. Dalam proses evakuasi dan identifikasi, tiga orang prajurit tak ditemukan. Mereka ternyata hanyut terbawa arus Sungai Lau Biang yang deras. Sementara itu, enam prajurit lainnya dipastikan meninggal. Dalam suasana penuh duka, komandan Resimen I Sumatra itu tetiba dikejutkan oleh suara teriakan. “Awas, Tank datang!” Mendengarnya, sontak saja situasi dilanda hiruk-pikuk. Dikira tentara Belanda datang. Tapi, mujurlah kepanikan itu tak berlangsung lama. Sejurus kemudian diketahui bahwa tank yang digembar-gemborkan itu adalah kereta lembu petani yang baru pulang dari ladang. Deru langkah lembu itu memang terdengar menghentak tanah dengan keras.

  • Dukung Indonesia Berarti Masuk Kamp Pulau Semau

    KEDATANGAN kapal motor Australia Experance Bay di Pelabuhan Kupang, Nusa Tenggara Timur pada awal 1946 membuat geger. Otoritas Belanda di sana sampai buka suara. Bukan tanpa alasan, sebab kapal yang mengangkut ratusan orang Indonesia dari Australia untuk dipulangkan itu menurunkan 20 orang penumpangnya di sana. Ke-20 orang yang diturunkan itu bukan sembarang orang alias berbahaya. Pihak Belanda mencap mereka sebagai agitator. Menurut kabar dari Ilyas Jacoub kepada Djamaludin Tamin, seperti tercatat dalam Arsip Mohamad Bondan 460 yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), mereka yang diturunkan di Kupang itu yakni Mohamad Senan, Soedihat, Soeparmin, J.A. Loemanau, Ilyas Jacoub bersama istri dan tujuh anak mereka, A. Quddus, Maoen, Aroean, Hendrik Salenda, Loeter Salendeho, Agoes Linggar, Bakri, Misnan, Takim, Poeri, Badri, Kadri, Markatab, Loedin Djalaloedin, dan Rail. Otoritas Belanda pun menahan ke-20 orang tadi di Pulau Semau, sebuah pulau kecil di barat Kupang. Menurut Het Dagblad, 12 Maret 1946, dari Pulau Semau ke-20 orang itu hendak dipindahkan Labuan. Diberitakan pula, para agitator itu menerima ransum militer Australia secara penuh selama mereka tinggal di Semau.

  • Memupuk Asa di Djajaloka

    STASIUN Kertapati, Sumatra Selatan akhirnya dicapai Presiden Sukarno dan rombongannya. Kendati dekat, perjalanan mereka dari pusat kota Palembang tidaklah mudah. Mereka mesti menyeberangi Sungai Musi terlebih dulu menggunakan kapal motor. Dalam penyeberangan itu, salah satu kapal pengiring sempat ada yang terbalik pula. Perjalanan pada 10 April 1956 itu dilakukan Sukarno untuk meresmikan proyek transmigrasi Djajaloka. Proyek yang namanya diberikan langsung oleh Sukarno itu terletak di Tebing Tinggi, hampir 200 kilometer di barat Palembang. Proyek tersebut tak bisa dilepaskan dari kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diterapkan Kabinet Hatta pada masa Perang Kemerdekaan. Diberlakukannya (Re-Ra) menimbulkan gejolak di masyarakat. Para pejuang yang angkat senjata melawan Belanda, yang berupaya menguasai kembali bekas jajahannya, dibebastugaskan sehingga menganggur. Hanya mereka yang memiliki latar belakang pendidikan formal mumpuni yang tertampung dalam wadah resmi bernama TNI. Banyak pejuang yang menganggur itu tidak terima. Politisi ataupun partai politik yang punya ketergantungan besar pada mereka pun mempermasalahkan Re-Ra, terutama mereka yang menjadi oposisi.

  • Berdebat dengan T.B. Simatupang

    TAHI Bonar Simatupang menjadi jenderal pada usia muda. Saat berumur 30, Simatupang mengemban jabatan Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP). Sejak Perang Kemerdekaan, dia telah membuktikan dirinya sebagai perwira intelektual yang brilian. Satu-satunya perwira TNI yang terlibat dalam perundingan dengan Belanda sejak 1946 hingga pengakuan kedaulatan. “Saya waktu berusia 28 tahun diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang, dan waktu Pak Dirman meninggal kemudian, setelah melalui banyak kesulitan, akhirnya diangkat sebagai kepala staf,” kenang Simatupang dalam Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang. Menjadi jenderal di usia muda dan berasal dari suku Batak yang suka bicara ceplas-ceplos membuat Simatupang tak sungkan mendebat siapa saja. Presiden Sukarno bahkan pernah jadi sasaran kritik Simatupang lantaran gemar mengenakan seragam militer. Simatupang pada suatu pertemuan mengatakan agar presiden tak perlu lagi mengenakan uniform usai Perang Kemerdekaan. Anjuran itu rupanya jadi persoalan antara Simatupang dan Bung Karno.

  • Gagal dapat SIM Gara-gara Pertanyaan Ujian yang Aneh

    SURAT Izin Mengemudi (SIM) merupakan dokumen penting yang harus dimiliki pengemudi kendaraan. Tak berbeda dengan masa kini, SIM di zaman kolonial Belanda yang disebut rijbewijs bisa didapatkan pengemudi dengan mengikuti serangkaian tes, salah satunya ujian berkendara di jalan umum. Saat menjalani tes ini pengemudi didampingi seorang inspektur polisi yang akan menilai kemampuan mereka selama berkendara. Menurut G.H. von Faber dalam Oud Seorabaia, melalui tes berkendara ini pihak berwenang akan menilai kemampuan pengendara. Biasanya peserta akan diminta mengemudikan kendaraannya melewati sejumlah jalan. Lalu, mereka diuji untuk bermanuver di antara barisan bendera, menggerakan mobil maju dan mundur, hingga berbelok. Bagi banyak orang, ujian berkendara ini menjadi tes yang paling sulit dalam rangkaian ujian mendapatkan SIM. Dalam beberapa kasus, alih-alih lolos ujian berkendara, sejumlah peserta justru mengalami kecelakaan. Seperti pengalaman seorang peserta ujian SIM yang diberitakan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 13 Juli 1909. Dikisahkan, Tuan B dari Magelang pergi ke kantor polisi di Surabaya untuk mengajukan permohonan SIM bagi sopirnya seorang penduduk lokal.

  • Handala, Simbol Perlawanan Palestina dalam Seni Jalanan

    HABIS kapal Madleen, terbitlah Handala. Tak kapok dengan apa yang menimpa Madleen bulan lalu, Gabungan lembaga kemanusiaan independen Freedom Flotilla Coalition (FFC) menjadwalkan akan memberangkatkan kapal Handala –yang membawa aneka bantuan kemanusiaan– dari Siracusa, Italia ke Jalur Gaza, Palestina, pada Minggu (13/7/2025). Pada 1 Juni lalu, FFC memberangkatkan kapal Madleen yang berlayar –dengan menggunakan bendera Inggris– dari Sisilia, Italia dengan membawa persediaan susu formula, 100 kilogram tepung, 250 kilogram beras, popok, barang keperluan wanita, hingga alat-alat kesehatan. Madleen berlayar dengan 11 kru dan aktivis, di antaranya anggota Parlemen Eropa Rima Hassan asal Prancis, aktivis kemanusiaan Thiago Avila dari Brasil, dan Greta Thunberg asal Swedia. Namun saat masih berlayar di perairan internasional dekat Siprus pada dini hari 9 Juni 2025, mereka dicegat Angkatan Laut (AL) Israel dan ke-11 aktivis itu diculik ke Israel. Setelah beberapa hari diinterogasi, mereka dikembalikan ke negara asal masing-masing. Meski tak senahas kapal bantuan kemanusiaan MV Mavi Marmara yang diberangkatkan lembaga HAM Türkiye, İHH, pada 2010 silam hingga menewaskan 10 orang dan melukai 12 lainnya, tetap saja misi Madleen menembus blokade Israel demi menyelamatkan dua juta populasi Gaza yang butuh bantuan kemanusiaan tak tercapai.

  • Ulos Ragi Hidup Simbol Kehidupan Paripurna Orang Batak

    DI kalangan suku Batak, kaum pria boleh jadi menempati posisi lebih dominan dalam struktur sosial. Pada setiap hajatan, entah itu pesta pernikahan, upacara perkabungan, atau parhata –orang yang memimpin jalannya prosesi adat– selalu diperankan oleh laki-laki yang dituakan. Namun, andai kata tidak ada perempuan yang menenun kain ulos, nicaya tradisi adat itu mati belaka. Sepenting itulah ulos, sebutan untuk kain tenun Batak, begitu pula peran perempuan penenunnya (partonun). Ulos dalam adat budaya Batak bukan sekadar sehelai kain tenun. Ia mengandung nilai keluhuran. Selain itu, penyematan ulos (mangulosi) kepada seseorang punya filosofi masing-masing. Tergantung jenis ulos apa yang dipakai dan kepada siapa ulos itu disematkan.

  • SIM untuk Kusir dan Tukang Becak

    Sebelum ada motor dan mobil di Hindia Belanda, alat transportasi yang digunakan adalah kereta kuda seperti dokar, delman, dan sado. Motor dan mobil hadir menjelang abad ke-20. Pada awal kemunculannya, pengendara mengemudikannya tanpa Surat Izin Mengemudi (SIM). Baru pada awal tahun 1900 para pengemudi wajib memiliki SIM agar dapat berkendara di jalan umum. Selain wajib bagi pengendara mobil dan motor, SIM atau rijbewijs kemudian juga diberlakukan kepada para kusir kereta kuda. Aturan ini telah menjadi pembahasan hangat di Hindia Belanda, terlebih bertambahnya jumlah motor dan mobil, tak hanya membuat lalu lintas menjadi lebih ramai tetapi juga rawan kecelakaan. Surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad, 1 Maret 1938 memberitakan, aturan ini diberlakukan di Batavia sejak Februari 1938. Untuk mendapatkan SIM, selain membayar biaya administrasi, para kusir juga harus mengikuti tes keterampilan mengemudi.

  • Di Balik Pidato Presiden Sukarno

    GANIS Harsono terperangah dalam rasa kaget yang bukan alang kepalang. Di tengah riuh rendah massa yang memenuhi Istora Senayan siang itu, dia tak habis pikir, bagaimana bisa isi pidato Presiden Sukarno di depan peserta peringatan Konfrensi Asia Afrika ke-10 itu berbeda dengan isi copy naskah pidato yang tengah dia pegang. “Kok bisa terjadi seperti ini?” pikir Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI tersebut. Dalam perasaan tak menentu itu, Ganis lantas menengok ke arah kumpulan para wartawan. Benar saja perkiraannya, sambil memegang kertas copy naskah pidato tersebut, para kuli tinta itu terlihat bergumam dalam ketidakmengertian. Sebagian dari mereka, terlihat memandangnya, seolah meminta penjelasan tentang “kekacauan” ini. “Yang anda berikan pada saya lain, dan saya sudah bagi-bagikan kepada semua anggota pers” tiba-tiba sekretarisnya yang bernama Alex Alatas (kelak menjadi Menteri Luar Negeri di era pemerintahan Presiden Soeharto) berbisik kepadanya.

  • Cerita di Balik Lukisan Dramatis karya Pelukis Inggris

    LUKISAN tidak hanya menampilkan visual yang memanjakan mata, tetapi juga menyimpan beragam cerita yang menyentuh hati. Seperti lukisan Attachment karya Edwin Henry Landseer tahun 1829, yang tersimpan di Saint Louis Art Museum, Missouri, Amerika Serikat. Lukisan Attachment menggambarkan seorang pria tergeletak di antara bebatuan pegunungan, dan di sampingnya seekor anjing sedang menggaruk bagian dada pria tersebut, seolah ingin tahu apakah tuannya sedang tertidur atau telah tiada. Lukisan ini dianggap mahakarya Landseer yang menjadi contoh utama seni Romantisisme yang mengedepankan individualisme, imajinasi, dan ekspresi emosional mendalam. Lukisan itu terinspirasi dari puisi Walter Scott berjudul Helvellyn. Penyair Skotlandia itu mengisahkan kematian seniman muda dan kesetiaan anjingnya menjaga jasad sang tuan selama tiga bulan. Kisah tragis ini benar terjadi di dunia nyata. Scott mendengar ceritanya ketika mendaki Helvellyn bersama penyair William Wordsworth dan ahli kimia Sir Humphry Davy.

  • Begitu Sulit Mendapatkan SIM

    SETIAP pengemudi wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) agar dapat mengendarai kendaraannya di jalanan. Untuk mendapatkan SIM, pengendara harus mengikuti tes tulis dan praktik berkendara. Namun, banyak pengendara yang gagal dalam tes praktik. Pemohon bisa mengulang tes praktik dua minggu kemudian. Kini, Polri mengizinkan pemohon mengulang tes praktik hari itu juga sampai berhasil. Pemberlakuan SIM bagi pengendara berkaitan dengan hadirnya sepeda motor dan mobil di Hindia Belanda menjelang abad ke-20. Pada masa itu, mobil dan motor belum dapat dibeli secara langsung, tetapi harus dipesan ke pabriknya di luar negeri. Dealer atau ruang pamer kendaraan (showroom) mulai muncul di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Dukut Imam Widodo dalam Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe menyebut di Surabaya pada 1920-an mulai dibuka sejumlah tempat penjualan mobil maupun toko yang menyediakan suku cadang untuk kendaraan bermotor seperti N.V. Autohandel P. Bouman (Showroom & Verkoopafd.) di Tunjungan 85, dan Ford Sales & Service (N. V. Behn Meyer & Co. Handel Mij.) di Tunjungan 4a.

  • Liga Pemuda Pramuka

    GERAKAN kepanduan di Hindia Belanda, Nederlansche Padvinders Organisatie Vereeniging (NIPV) berdiri pada 1912. Empat tahun kemudian, Mangkunegara VII mendirikan Javaansche Padvinders Organisatie (JPO). “Maksudnya menjadi tempat pembibitan ketentaraan Mangkunegaran,” tulis AG Pringgodigdo dalam Ensiklopedi Umum. Setelah JPO, pada 1918 Muhammadiyah mendirikan Hizbul Wathon, nama semula Muhammadiyah Pandvinderij. Terutama di Semarang banyak kepanduan komunis berhubungan dengan PKI, yang anggotanya murid-murid sekolah Sarekat Islam (SI) Merah dan Sarekat Rakyat. Boedi Oetomo mendirikan Nationale Padvinderij pada 1921; Jong Java di Solo mendirikan Jong Java Padvinderij (1922), Jong Islamieten Bond di Jakarta mendirikan Nationaal Islamitische Padvinderij (1925), Jong Sumatranen Bond kemudian bernama Pemuda Sumatra membentuk Pandu Pemuda Sumatra (1926). SI mendirikan Sarekat Islam Afdeeling Padvinderij (1927), dan Algemeene Studieclub di Bandung mendirikan Nationaal Padvinderij Organisatie.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page