Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Misteri Kerajaan Jampang Manggung di Cianjur
PAHATAN tapak kaki kiri tergambar pada batu hitam berukuran sekitar 30x14 cm. Kehadiran batu bergambar tersebut hampir tak kentara, tertutupi semak belukar dan rerumputan, serta pohon tumbang dan ranting-ranting berserakan. "Orang-orang sini mengenalnya sebagai Sanghyang Tapak,” kata Hendrawan (37), penduduk Cianjur. Sanghyang Tapak terletak tepat di puncak Gunung Mananggel, bukit berketinggian sekitar 800 meter dpl (dari permukaan laut). Kendati populer, tetapi penduduk kota tauco itu jarang mengetahui asal-usul Sanghyang Tapak. Yana (59), menyatakan bahwa kaki kiri itu dahulu kala konon milik seorang sakti yang menguji ilmu kanuragannya.
- Ritual Panen Raya Kerajaan Adat Marusu di Sulawesi Selatan
SABTU malam, 19 Maret 2016, di Balla Lompoa (rumah adat kerajaan Marusu) Kabupaten Maros, berkumpul kerabat kerajaan, masyarakat dan perwakilan petani. Mereka duduk bersama, tak ada kursi yang lebih tiggi untuk sang raja, semua sama rata. Raja Adat Marusu, Andi Abdul Waris Karaeng Sioja, bahkan menjadi pembawa acara sekaligus pembicara utama malam itu. Bahkan sebelum pertemuan itu dimulai, sang raja merapikan meja jamuan, menata meja, dan membersihkan lantai. “Raja dari dulu itu nak, tugasnya melayani. Bukan memerintah,” katanya. Setelah rembuk bersama, suara gendang, pui-pui (alat musik tiup), dan gong dibunyikan. Seorang pinati (pemimpin ritual) membawa nampan berisi dupa. Dia duduk dengan takzim, membaca doa, lalu menyentuh daun sirih yang telah digulung sedemikain rupa hingga membentuk huruf arab Lam, Alif dan Hu (Allahu).
- Peran Ulama dalam Kerajaan Islam di Nusantara
PADA masa jaya kerajaan-kerajaan Islam, peran ulama menonjol sebagai bagian dari pejabat elite. Fungsinya memperkokoh kedudukan pemimpin yang duduk di singgasana. Di Asia Tenggara, apalagi Nusantara, hubungan erat raja dan ulama bukan hal yang aneh. Contohnya di Kerajaan Samudera Pasai. Ayang Utriza Yakin dalam Sejarah Hukum Islam Nusantara Abad XIV-XIX M menulis, di Samudera Pasai, pemerintah Islam menunjuk ulama yang punya kemampuan mumpuni sebagai mufti resmi. Itu berdasarkan keterangan Ibnu Batutah yang pernah tinggal selama 15 hari di Samudera Pasai pada 1345. Dalam catatannya, al-Rihlat, Batutah menyebut fungsi mufti sangat penting dalam kesultanan. Sang mufti biasanya duduk dalam ruang pertemuan bersama dengan sekretaris, para pemimpin tentara, komandan, dan pembesar kerajaan.
- Kerajaan Tertua di Jawa Timur
ADA seorang raja bijaksana dan berkuasa, namanya Dewasimha. Di bawah lindungannya api putikeswara yang menyebarkan sinar di sekelilingnya. Juga Limwa, putranya, yang bernama Gajayana, melindungi manusia bagaikan anaknya, ketika ayahnya marak ke langit. Limwa melahirkan anak perempuan, namanya Uttejana. Dia adalah permaisuri raja Pradaputra. Dia juga ibu A-nana yang bijaksana, cucu Gajayana, orang yang selalu berbuat baik terhadap kaum brahma, dan pemuja Agastya, tuan yang dilahirkan dari tempayan. Demikianlah sebagian informasi dalam Prasasti Dinoyo yang beratrikh 682 Saka (760 M). Prasasti ini ditemukan terbelah menjadi tiga bagian. Bagian tengah yang terbesar ditemukan di Desa Dinoyo, Malang. Sedangkan bagian atas dan bawah ditemukan di Desa Merjosari dan Dusun Kejuron, Desa Karangbesuki, Malang.
- Mencari Letak Kerajaan Kanjuruhan
KERAJAAN Kanjuruhan membuka peradaban Hindu-Buddha di Jawa bagian Timur. Ketika itu Kerajaan Tarumanegara berkuasa di Jawa Barat dan Kerajaan Kalingga dan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Namun, riwayat Kanjuruhan tak banyak dibahas termasuk soal di mana keratonnya berdiri. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Kaladesa mengungkapkan, Kerajaan Kanjuruhan terletak di dataran tinggi Malang, di pedalaman Jawa bagian timur. Pusatnya berada di selatan gugusan Gunung Arjuno, Anjasmara, Welirang, dan Penanggungan. “Gunung-gunung itu memang tak lebih tinggi dibandingkan dengan Gunung Semeru. Namun, dalam sejarah perkembangan peradaban selanjutnya, wilayah di sekitar pegunungan Arjuno-Anjasmara tampil dan berperan penting dalam sejarah kuno Indonesia,” tulis Agus.
- Tionghoa di Tengah Arus Penyebaran Islam di Nusantara
SEJARAH Islam di Tiongkok selaras dengan sejarah Islam di Nusantara. Khususnya yang terjadi pada abad ke 15-16. Masyarakat Tionghoa pun dinilai memiliki peran dalam persebaran Islam ke Nusantara. “Islam di Nusantara cenderung datang dari Persia dan Arab. Peranan Tionghoa dalam penyebaran Islam di Jawa perlu dipertimbangkan,” ujar Sumanto Al-Qurtubi, pengajar antropologi di King Fahd University of Petroleum & Minerals, dalam Dialog Sejarah berjudul “Arus Tiongkok dalam Penyebaran Islam ke Nusantara” live di Youtube Historia.ID, Kamis (18/2/2012). Permukiman Tionghoa Komunitas Tionghoa sudah lama hidup sebagai bagian dari masyarakat Nusantara. Bahkan, mereka tinggal di wilayah kerajaan Islam, seperti Samudera Pasai, Banten, kota pelabuhan Jepara, pusat penyebaran Islam Kudus, dan Kerajaan Tayan.
- Ketika Pemerintah RI Menjamin Eksistensi Orang Tionghoa
YOGYAKARTA, 17 September 1946. Suasana di Pendopo Kepatihan malam itu mendadak ramai. Orang-orang berkumpul di bangunan yang sekarang menjadi bagian dari kompleks Pemprov D.I. Yogyakarta tersebut. Berbagai kalangan hadir di sana. Mulai dari pejabat pemerintah daerah, pejabat Republik, pejabat keraton, hingga orang-orang dari golongan Tionghoa. Mereka datang untuk menghadiri sebuah perundingan yang kemudian dikenal sebagai Konferensi Indonesia-Tionghoa. Dalam sebuah arsip foto terbitan IPPHOS tahun 1946, yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia, tampak hadir Wakil Presiden Mohammad Hatta, beserta jajaran menteri di Kabinet Sjahrir II. Di ruang konferensi tersebut Hatta terlihat duduk bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX (di sebelah kanan), dan Sri Paku Alam (di sebelah kiri). Tampak pula hadir Pamglima Besar TNI Jenderal Sudirman, serta Ketua DPA R.A.A. Wiranatakusuma.
- Duka Warga Tionghoa
SEJAK abad ke-17, imigrasi warga Tiongkok ke Batavia cukup deras. Keahlian mereka dalam berdagang mendorong Kongsi Dagang Belanda (VOC) mengajak bekerja sama. Namun, kerja sama itu rusak begitu mereka bersaing dalam industri gula yang lagi jadi primadona di Ommelanden, wilayah yang mengelilingi Batavia. VOC menerapkan berbagai peraturan untuk membatasi imigran dari Tiongkok dan mengatur sistem kuota, bahkan melakukan penangkapan dan deportasi ke Sri Lanka dan Afrika Selatan. Korupsi dan pemerasan kian membuat resah. Krisis perdagangan gula, yang menimbulkan pengangguran, memperparah situasi. Warga Tionghoa di luar benteng kota pun siap melawan. Insiden pertama terjadi pada 7 Oktober 1740, di mana orang-orang Tionghoa menyerang pos penjagaan tentara VOC di de Qual, Bekasi.
- Kipasko, Pasukan Komando Pertama di Indonesia
HARI Komando Pasukan Khusus (Kopassus) diperingati setiap 16 April. Kelahirannya berpangkal dari Kesatuan Komando (Kesko) Tentara Teritorium III Siliwangi. Korps pasukan elite ini tidak lepas dari peran Kolonel Alex Evert Kawilarang, panglima Siliwangi saat itu. Pada 16 April 1952, Kawilarang meresmikan pembentukan Kesko. Dalam mencetak prajurit Kesko, Kawilarang dibantu Rokus Bernardus Visser sebagai instruktur. Visser yang kemudian lebih dikenal dengan nama Idjon Djanbi merupakan tentara Belanda jebolan Korps Pasukan Khusus (KST). Dalam perkembangannya, pasukan elite Angkatan Darat ini mengalami serangkaian perubahan wajah. Kesko berganti menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD). Pada 1955, KKAD ditingkatkan menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Ia kemudian bersalin nama lagi mulai dari Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat (Puspassus AD), Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), hingga saat ini Kopassus dengan ciri khas baret merahnya. Kopassus memiliki motto: “Berani, Benar, Berhasil”.
- Nasib Penyintas Setelah Bebas dari Kamp Konsentrasi Nazi
SEKELOMPOK orang berjalan gontai melintasi puing-puing bangunan dan sejumlah gedung yang rusak. Langkah mereka pelan dan sesekali berhenti sejenak untuk mengambil napas, serta melihat kondisi kota Paris yang jauh berbeda dari ingatannya sebelum dikirim ke kamp konsentrasi Nazi. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, orang-orang yang ditahan di kamp konsentrasi dibebaskan. Namun, tidak semua tahu kemana tempat yang akan dituju, sebab banyak yang kehilangan keluarga dan harta benda. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintahan Sementara Republik Prancis membentuk Kementerian Tawanan Perang, Deportan, dan Pengungsi yang dipimpin oleh Henri Frenay, salah satu pemimpin gerakan perlawanan Prancis terhadap Nazi. Sejarawan Ashley Valanzola mencatat dalam When She Remembered: Seven Women Who Transformed French Holocaust Memory, kementerian bertugas memulangkan sekitar satu juta tawanan perang, 700 ribu di antaranya pekerja STO (Service du travail obligatoire), yaitu pemuda Prancis yang bekerja di pabrik maupun kamp di wilayah pendudukan Nazi, serta 40 ribu orang yang dideportasi, termasuk orang-orang Yahudi dan anggota gerakan perlawanan terhadap Nazi. Proses pemulangan berlangsung dari Maret hingga Agustus 1945.
- Skuter Anggota Partai Parkir di Depan Rumah PSK
VIDEO mesum diduga Ketua DPRD Penajam Paser Utara Syahruddin M. Noor dan perempuan open bo (open booking out) berinisial FA di dalam kamar hotel di Jakarta beredar pada Juni 2022. Syahruddin kemudian dipanggil DPP Partai Demokrat untuk menjelaskan video mesum tersebut. Syahruddin menceritakan kronologi kejadiannya. Pengurus DPP Partai Demokrat menerima penjelasannya dan menyimpulkan bahwa video mesum tersebut merupakan jebakan untuk menjatuhkan karier politik Syahruddin. “DPP Partai Demokrat menyarankan untuk melaporkan hal itu kepada Badan Reserse Kriminal Polri sebagai langkah hukum mencari keadilan dan kebenaran dari peristiwa itu,” demikian diberitakan detik.com.
- Mula Pembiayaan Rumah Murah
HUNIAN nyaman dan terjangkau tentu menjadi idaman semua orang. Itulah sebabnya pemerintah dari masa ke masa selalu mencanangkan program perumahan masyarakat. Berkelindan dengan harga rumah yang angkanya selalu naik setiap tahun. Menilik sejarahnya, gagasan pembiayaan rumah murah dirintis pada pertengahan 1970-an. Persisnya saat memasuki masa Rencana Pembangunan Lima Tahun (Pelita) II periode 1974-1979. Presiden Soeharto mulai menaruh perhatian pada sektor perumahan karena pada Repelita sebelumnya lebih difokuskan untuk kebutuhan dasar seperti pangan dan sandang. Pembangunan perumahan, menurut Soeharto, bukan sekadar perkara tempat tinggal. Tetapi, rumah juga menjadi tempat pembentukan watak dan jiwa melalui keluarga. Itulah yang dinyatakan presiden ketika meresmikan pabrik pengolahan kayu Suria Kencana di Cibadak, Sukabumi, pada 2 Agustus 1975.





















