Hasil pencarian
Cari di situs ini
10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Argentina dan Trofi yang Dirindukan
SETELAH terseok-seok di dua laga awal, kini Lionel Messi dkk. bisa menarik nafas. Tiket perempatfinal Copa América 2019 sudah di tangan. Kemenangan Argentina atas Qatar di laga terakhir Grup B menghidupkan kembali asa meraih trofi yang sudah lama mereka rindukan. Kemenangan itu juga jadi kado spesial buat Messi. Laga melawan Qatar, salah satu tim tamu Copa America 2019, yang dihelat pada Senin (24/6/2019) itu tepat di hari ulang tahunnya yang ke-32. “Sekarang kami baru memulai perjuangan di kejuaraan ini. Sekarang waktunya (juara) atau tidak sama sekali!,” ujar Messi kala diwawancara TyC Sport usai laga, Senin (24/6/2019).
- Arnold Mononutu, Putra Minahasa jadi Pahlawan Nasional
“TULIS, tulis di situ, pada biografiku, bahwa aku betul-betul bermental kolonial,” kata Arnold Mononutu kepada Ruben Nalenan ketika hendak menulis biografinya. Biografi berjudul Arnold Mononutu, Potret Seorang Patriot itu kemudian terbit pada 1981 dan Nalenan menuliskan dengan jujur siapa Mononutu. Tanpa menutupi bagian-bagian minus dari sang tokoh, sesuai keinginan Mononutu sendiri. Begitulah Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu. Pria kelahiran Manado, 4 Desember 1896 ini menyadari bahwa ia pernah menjadi seorang yang sangat bermental kolonial. Ayahnya adalah elite Minahasa yang bekerja sebagai pegawai keuangan pemerintah Hindia Belanda. Beragam keistimewaan bisa dinikmatinya. Terutama soal pendidikan, Mononutu mendapat jalan yang lebar. Tamat dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS), ia melanjutkan ke Middelbare Handels School di Jakarta hingga 1920. Ia kemudian ke Belanda untuk studi perbandingan kesusastraan Inggris, Belanda dan Prancis (1920-1924).
- Mengenal Lima Pahlawan Nasional Asal Papua
PADA tahun ini, Papua menyumbangkan satu nama lagi dalam album pahlawan nasional. Gelar itu dinobatkan atas nama Machmud Singgirei Rumagesan asal Papua Barat. Dia dikenal sebagai raja lokal di Distrik Kokas, Fakfak yang menentang Belanda sejak zaman kolonial. Sebelum Machmud Singgirei Rumagesan, telah tercatat empat pahlawan nasional asal Papua. Mereka antara lain Frans Kaisiepo, Marthen Indey, dan Silas Papare. Ketiganya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1993. Kemudian, Johannes Abraham Dimara menjadi pahlawan pada 2010. Satu dekade berselang, Rumagesan masuk dalam daftar anyar yang tercatat sebagai pahlawan nasional kelima asal Papua. Siapa dan bagaimana kiprah mereka? Berikut ulasannya.
- Dr. Raden Rubini Natawisastra, Pahlawan Nasional dari Kalimantan Barat
PRESIDEN Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada lima tokoh dalam upacara di Istana Negara Jakarta, Senin, 7 November 2022. Kelima tokoh tersebut antara lain DR. dr. H.R. Soeharto (Jawa Tengah), KGPAA Paku Alam VIII (DI Yogyakarta), dr. Raden Rubini Natawisastra (Kalimantan Barat), H. Salahuddin bin Talibuddin (Maluku Utara), dan K.H. Ahmad Sanusi (Jawa Barat). Dua dari lima tokoh itu adalah dokter, yaitu dr. H.R. Soeharto dan dr. Raden Rubini Natawisastra. Dr. Rubini telah diabadikan sebagai nama jalan dan Rumah Sakit Umum Daerah di Mempawah, Kalimantan Barat. Surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad, 27 Mei 1919, memberitakan, Rubini menjadi salah satu pemuda yang lulus ujian masuk Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) tahun 1919. Ada lima pemuda dari Bandung yang lolos ujian masuk sekolah kedokteran untuk bumiputra itu. Selain Rubini, empat orang lainnya adalah Sabiroedin, Amiroesen, Joesoef, dan Soedibyo.
- K.H. Abdul Chalim, Tokoh NU dari Jawa Barat Jadi Pahlawan Nasional
PEMERINTAH menetapkan K.H. Abdul Chalim bersama lima tokoh sejarah sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2023. Ulama asal Majalengka, Jawa Barat ini dinilai berjasa dalam perjuangan kemerdekaan. Tak hanya melalui organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Sarekat Islam, dia juga ambil bagian dalam perang mempertahankan kemerdekaan. Abdul Chalim lahir pada 22 Juni 1898 sebagai putra tunggal dari Kedung Wangsagama, seorang kepala desa yang disegani. Dia sempat menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Cirebon, sehingga menguasai bahasa Belanda. Penguasaan bahasa Arabnya semakin baik setelah dia menimba ilmu di sejumlah pesantren di Cirebon dan sekitarnya, serta melanjutkan studi selama tiga tahun di Makkah. Di samping berguru pada sejumlah ulama, dia juga menunaikan ibadah haji. Menurut Masyhudi Muchtar dan Mohammad Subhandalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amalia, Uswah Volume 1, selama di tanah suci Makkah, Abdul Chalim berkawan baik dengan K.H. Abdul Wahab Hasbullah, yang kelak menjadi Katib Aam PBNU periode pertama. “Kedekatannya itu bukan hanya berkaitan dengan ilmu yang sedang mereka gali, tetapi juga sebab keduanya memiliki hobi yang sama yakni sama-sama pendekar silat,” tulis Muchtar dan Subhan.
- Ratu Kalinyamat Menjadi Pahlawan Nasional
RATU Kalinyamat akhirnya resmi menjadi pahlawan nasional. Dari enam tokoh yang dinobatkan pada tahun ini, Ratu Kalinyamat adalah satu-satunya perempuan. Pengusulannya terbilang berliku dan memakan waktu lama. Tak kurang perbincangan yang memperdebatkan ketokohannya dalam sejarah bangsa Indonesia. Nama Ratu Kalinyamat eksis sebagai salah satu penguasa di tanah Jawa sekira abad ke-16. Sebelum bergelar ratu, ia bernama asli Retna Kencana, putri dari Raja Demak ke-3 Sultan Trenggana. Retna Kencana dinikahi Pangeran Hadiri. Mereka memerintah di Kalinyamat, yang meliputi Jepara, Kudus, Pati, Rembang, dan Blora. Kalinyamat sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Jepara terletak di antara Kudus dan Jepara. Ihwal mula gelar Ratu Kalinyamat melekat pada sosok Retna Kencana sepeninggal suaminya pada 1549, yang mati dibunuh Adipati Jipang Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat kemudian tampil sebagai penguasa Jepara. Di bawah kepemimpinannya, Jepara mencapai masa kejayaan. Selama 30 tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat membentuk armada laut yang kuat, bahkan termasuk yang paling kuat di Nusantara. Dia menjadikan Jepara sebagai poros maritim kawasan pantai utara Jawa. Kota pelabuhannya ramai dengan aktivitas perdagangan dan pelayaran. Seiring dengan itu, Jepara muncul sebagai sebuah emporium baru; kerajaan maritim yang disegani kerajaan-kerajaan tetangga.
- Perjalanan KH Abdul Chalim Nandur Cinta Tanah Air
MENJELANG satu abad Nahdlatul Ulama (NU), salah satu pendirinya dianugerahi gelar pahlawan nasional. Ia adalah KH Abdul Chalim. Bersama lima tokoh lain, Chalim resmi menyandang gelar itu lewat Keppres No. 115/TK/2023 tanggal 6 November 2023 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. “Sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa yang semasa hidupnya pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau politik atau bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa,” demikian bunyi penggalan keppres tersebut, sebagaimana dikutip laman Sekretariat Kabinet, Jumat (10/11/2023). Penganugerahannya dihelat tepat pada peringatan Hari Pahlawan pada Jumat (10/11/2023) di Istana Negara, Jakarta. Gelarnya diberikan langsung Presiden RI Joko Widodo kepada perwakilan keluarga.
- Gegara Perkara Lima Sen, Jago Tanah Abang Meregang Nyawa
SEMUA tahu, Tanah Abang daerah basah meski kawasan niaga ini sudah uzur. Perang antarkelompok preman di kawasan niaga ini sudah tentu telah ada sejak lama. Sebagian orang masih ingat, sekitar 1996 kelompok Hercules dikalahkan kelompok Bang Ucu di Tanah Abang. Kejadian perang antar gangster seperti itu pernah ada juga di tahun 1936. Ketika itu, istilah “gangster” baru populer karena film-film Hollywood, sementara istilah “preman” belum dipakai seperti sekarang –preman saat itu masih digunakan untuk menamakan orang umum nonformal. Di Tanah Abang kala itu, ada jagoan yang amat ditakuti. Namanya Salihoen. Bataviaasch Courant, 22 April 1936 menyebut, Salihoen tak hanya ditakuti tapi suka menarik pajak kepada para supir taksi yang besarannya adalah 5 sen per orang per hari. Uang 5 sen, menurut Probosutedjo dalam memoarnya, Saya dan Mas Harto, di era 1930-an bisa membeli satu kilogram beras. Jika Salihoen bisa memalak 10 atau 20 supir saban hari, tentu dia bisa lebih dari sekadar makan kenyang tiap harinya.
- Tanah untuk Rakyat
BAIT puisi di atas berjudul “Matinya Seorang Petani” karya penyair Agam Wispi, yang menyaksikan tanah garapan petani miskin di Deli Serdang, Sumatra Utara digusur dengan traktor dan bedil pada Maret 1953. Deli Planters Vereniging, asosiasi pengusaha tembakau, ingin menguasainya kembali sesuai kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB). Salah satu syarat pengakuan kedaulatan Indonesia antara lain aset milik Belanda harus dikembalikan dan dijamin. Para petani penggarap protes dan melakukan perlawanan. Korban 21 orang tertembak, enam di antaranya tewas dalam insiden yang dikenal sebagai Peristiwa Tanjung Morawa. Peristiwa itu mendapat sorotan dari media maupun parlemen. Partai Komunis Indonesia (PKI) mencemooh Menteri Dalam Negeri Mohamad Roem dengan sebutan “Mohamad Roem Traktor Maut”. Sidik Kertapati dari Sarekat Tani Indonesia (Sakti) mengajukan mosi tidak percaya yang mendapat dukungan dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Perdana Menteri Wilopo akhirnya menyerahkan mandatnya kepada Presiden Sukarno.
- Kamera Max Stahl
IA mempertaruhkan nyawa demi mengambil video pembantaian massal di Santa Cruz dan sejumlah kekerasan pasca-jajakpendapat Timor-Leste. Ia juga meliput perang di El Salvador, perang sipil di Lebanon, dan konflik di Georgia, wilayah bekas Yugoslavia. Tapi, penyakit kankerlah yang pada 28 Oktober lalu menghentikan napas Max Stahl untuk selamanya dalam usia 66 tahun. Pria ini sebenarnya punya nama lahir Max Christopher Wenner. Dia mulai menekuni kamera, jurnalistik, dan pertelevisian saat menjadi presenter untuk acara anak-anak di stasiun televisi BBC antara tahun 1978 hingga 1980. Tapi, pada awal 1990-an, saat pindah dari depan ke belakang kamera, ia mengubah namanya. Ia mengadopsi nama gadis ibunya, Stahl. Dunia pun lantas mengenalnya dengan nama Max Stahl. Max lahir dari keluarga diplomat. Kakek dari pihak ibunya pernah menjabat diplomat Swedia, yang punya hak istimewa menjadi direktur Swedish Academy for the Nobel Prize selama lebih dari dua dekade. Ayahnya diplomat Swiss bernama Christopher Max Stahl Wenner. Ibunya berasal dari Prancis.
- Kekerasan Seks Serdadu Belanda
TIGA tahun lalu, media-media di Belanda memberitakan kemenangan gugatan Temiri atas pemerintah Kerajaan Belanda. Di pengadilan tinggi Den Haag, nenek berusia 86 tahun itu dapat membuktikan bahwa dirinya adalah salah satu korban pemerkosaan sejumlah prajurit KST (Korps Pasukan Khusus Angkatan Darat Belanda) di Peniwen, Malang pada 19 Februari 1949. Seperti dilansir Dutchnews, atas kemenangan tersebut, Temiri berhak mendapatkan ganti rugi sebesar €7.500 (tahun 2016 sama dengan Rp114 juta), sesuai putusan yang dibacakan oleh Pengadilan Den Haag pada 27 Januari 2016. Namun, uang ganti rugi itu tidak akan bisa menebus penderitaan batin Temiri sepanjang hidupnya. Sejatinya aksi brutal yang dilakukan serdadu Belanda tidak hanya terjadi di Peniwen. Beberapa kesaksian sempat terekam dalam pengalaman beberapa tentara Belanda dan Indonesia. Salah satunya diungkapkan oleh J.C. Princen, serdadu Belanda yang membelot ke TNI.
- Seks Serdadu Belanda
ITJAH masih berusia 11 tahun ketika para serdadu berkulit putih itu datang ke Panyindangan, kampungnya di Sumedang. Mereka yang sebagian besar anak muda belasan tahun tersebut lantas mendirikan pos yang menempati sebuah rumah besar milik salah satu pemuka kampung. Kedatangan mereka disertai lima perempuan muda pribumi yang berfungsi sebagai babu (pembantu). “Saya hanya ingat tiga di antaranya yakni Ceu Ipoh, Ceu Isah dan Ceu Marni. Mereka semuanya bertugas sebagai tukang masak, tukang setrika dan tukang cuci baju para serdadu,” kenang perempuan kelahiran tahun 1936 itu. Dalam pengamatan Itjah, kelima babu itu sangat disayang. Para serdadu itu tak segan menghadiahi uang dan makanan kepada mereka. Bahkan ada di antaranya selalu terlihat mesra dengan anak-anak muda Belanda itu.





















