Hasil pencarian
Cari di situs ini
10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Raffles dan Dua Abad The History of Java
THOMAS Stamford Raffles adalah pengingat yang jempolan. Dia tekun mendengarkan cerita-cerita dari beberapa kolega seperti Bupati Yogyakarta, Tan Jin Sing, dan Bupati Semarang Surohadimenggolo, tentang tempat-tempat eksotis di Jawa. Bukan itu saja, dia pun rajin mengumpulkan tulisan-tulisan terdahulu mengenai segala hal yang berhubungan dengan Jawa, terutama dari sisi budayanya. Dari situ, dia pun doyan jalan-jalan. Maka tak heran, setahun setelah purnatugas di Hindia Belanda, dia menerbitkan karya besarnya, The History of Java pada 1817. Buku itu dibaca banyak orang Eropa dan mengundang hasrat beberapa pelancong untuk berkunjung ke Jawa. Beberapa lokasi eksotis yang pernah dicatat dalam The History of Java, hari ini pun menjadi destinasi pariwisata yang ramai. “Menurut saya, Raffles sebagai orang yang mengeksploitasi daerah-daerah yang kini menjadi tujuan pariwisata. Dalam pandangan pariwisata sekarang, Raffles disebut perintis. Dia memperkenalkan daerah-daerah yang menarik untuk dikunjungi. The History of Java menjadi rujukan penjelajah yang datang ke Hindia Belanda seperti Ida Laura Reyer Pfeiffer dari Austria. Raffles lebih menyukai daerah-daerah, jika memakai kacamata pariwisata hari ini, adalah wisata budaya. Dia menulis banyak mengenai candi-candi,” terang Ahmad Sunjayadi, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam diskusi “Raffles dan Kita: 200th The History of Java” di Balai Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Jalan Veteran, Jakarta Pusat, 6 Maret 2017.
- Candi Singhasari dalam Catatan Thomas Stamford Raffles
EMPAT arca Candi Singhasari yakni Durga, Mahakala, Nandishvara, dan Ganesha, termasuk dalam benda-benda bersejarah dari Indonesia yang dikembalikan oleh Belanda. Tak hanya proses pengembalian yang menjadi perhatian masyarakat, sejarah mengenai Candi Singhasari serta perjalanan arca-arca tersebut sampai di negeri Belanda juga menjadi sorotan. Nicolaus Engelhard, pejabat administrasi kolonial Belanda yang tertarik terhadap benda-benda antik, disebut sebagai orang pertama yang mengunjungi Candi Singhasari pada awal abad ke-19. Ia juga memerintahkan pemindahan sejumlah arca dari candi tersebut ke kediamannya di Semarang. Enam arca peninggalan kerajaan Singhasari itu kemudian dikirimkan secara berkala ke Belanda pada 1819 dan 1827. Eksplorasi Candi Singhasari tak hanya dilakukan Engelhard. Beberapa tahun setelah kunjungannya ke kompleks candi tersebut, Thomas Stamford Raffles juga menyelidiki situs ini pada 1815. Dalam bukunya The History of Java, Raffles menulis bahwa situs ini berdiri tidak jauh dari pintu masuk hutan jati, yang jaraknya sekitar empat mil dari Lawang dan berada di sebelah kanan jalan raya menuju Malang. Kondisi candi, yang kemudian dikenal dengan nama candi menara, pada awal abad ke-19 menarik perhatian sang letnan gubernur jenderal.
- Batik dalam Catatan Thomas Stamford Raffles
HARI Batik Nasional diperingati setiap 2 Oktober. Tanggal ini diambil dari penetapan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan budaya tak benda oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009. Sebelumnya, pada 4 September 2008 batik telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia, yang ditetapkan oleh badan PBB bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan itu. Mengutip laman Kemdikbud, batik dianggap memenuhi tiga dari lima domain berdasarkan Konvensi Internasional Perlindungan Warisan Budaya Takbenda Manusia tahun 2003. Tiga poin itu di antaranya tradisi dan ekspresi lisan, kebiasaan sosial dan adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan-perayaan, serta kemahiran kerajinan tradisional. Setelah dilakukan pengujian tertutup di Paris pada 11–14 Mei 2009, melalui sidang Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO, batik resmi menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia ketiga setelah keris dan wayang. Keindahan batik turut menarik perhatian Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Inggris di Jawa (menjabat 1811–1816). Pria kelahiran Jamaika, 6 Juli 1781 itu dikenal memiliki ketertarikan dan rasa ingin tahu yang besar terhadap keadaan penduduk, adat istiadat, geografi hingga keanekaragaman flora dan fauna di wilayah koloni. Oleh karena itu, selama bertugas di Jawa, ia menulis catatan yang kemudian dibukukan berjudul The History of Java.
- Mula Adu Penalti
MITOS Jerman jagonya adu penalti rupanya hanya bertahan setengah abad. Kemarin, cap jago penalti itu luntur kala Jerman gugur oleh Paraguay lewat adu penalti di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Jerman selalu jadi momok di berbagai turnamen seperti Piala Eropa dan Piala Dunia jika sudah urusan adu penalti. Terakhir kali Jerman menangis dalam adu penalti terjadi 50 tahun lalu di final Piala Eropa 1976, tempat bintang legendaris Cekoslovakia Antonín Panenka pertamakali memperkenalkan “Tendangan Panenka”. Anggapan bahwa adu penalti hanya bergantung pada keberuntungan, tidak berlaku buat Jerman. Tim berjuluk Der Panzer itu punya antitesisnya yang bernama mentalitas. Jerman hampir selalu memberi pengalaman pahit buat Inggris jika berurusan dengan adu penalti. Di Piala Dunia 1990, The Three Lions tersingkir lewat adu penalti (3-4) di semifinal. Pun mimpi Inggris merebut mahkota Eropa saat jadi tuan rumah Piala Eropa 1996, juga buyar usai kalah adu penalti (5-6) di semifinal.
- Dua Musim Cinta Maria
SITI Soendari, sahabat kental Maria sejak muda, tak pernah bisa memahami bagaimana perasaan Maria terhadap pria. Dalam soal hubungannya dengan pria, Maria lebih suka memendam dalam-dalam perasaannya. Berbeda dengan Soendari yang kerap mengharu biru dalam urusan cinta, Maria lebih banyak memfokuskan perhatian pada studinya. “Tak pernah saya melihat dia menangis, tak pernah kita tukar-menukar kisah-kisah pengalaman pribadi, sebagaimana layaknya antara dua pemudi yang begitu akrab pergaulannya,” ungkap Soendari kepada Gadis Rasid mengenai Maria. Seperti diakuinya kepada Gadis Rasid, selama kuliah di negeri Belanda, Maria merasa belum siap untuk menangani masalah-masalah cinta. “Maka sekembalinya di Indonesia perhatian pada kaum pria mulai terbuka,” tulis Gadis Rasid. Di antara sekian banyak kawan seperjuangannya dan pengagum Maria Ullfah ada tiga orang yang paling akrab dengannya dan mempunyai minat lebih dari sekadar persahabatan sesama pejuang. Mereka adalah Adnan Kapau Gani, Hindromartono, dan Santoso Wirodihardjo. Adnan Kapau Gani, kata Maria, “Seorang pemuda ganteng, yang pernah jadi bintang film, adalah orang yang paling flamboyan.” Kepada Gadis Rasid, Maria melanjutkan gambarannya tentang Gani, “Tingkah lakunya agak ugal-ugalan, dan sikapnya terus terang, tanpa basa-basi.” Dia begitu yakin akan berhasil merebut hati Maria, sehingga pada suatu hari dia datang ke Kuningan untuk berlebaran dengan keluarga Bupati Mohammad Achmad. Secara halus Maria menjelaskan tentang perasaannya yang biasa saja kepada Gani. Pada zaman revolusi, Gani menjabat sebagai Gubernur Militer Sumatra Selatan, Menteri Ekonomi Kabinet Sjahrir III, dan Wakil Perdana Menteri Kabinet Amir Sjarifuddin.
- Pameran Surat-surat Pribadi Pendiri Bangsa
PUTRI proklamator Bung Hatta, Meutia Hatta, mengatakan bahwa sebelum meninggal ayahnya sempat menulis dua surat wasiat. Satu surat ditujukan kepada keluarganya, berisi permintaan agar dia tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. “Saya ingin dikuburkan di kuburan rakyat biasa yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya,” kata Hatta dalam surat wasiatnya yang dibacakan Meutia ketika memberi sambutan dalam pembukaan Pameran “Surat Pendiri Bangsa” di Museum Nasional, 10 November 2018. Surat wasiat kedua ditujukan kepada Guntur Sukarnoputra, putra sulung Presiden Sukarno. Surat wasiat kedua bukan mengungkapkan hubungan pribadi kedua proklamator tapi mengenai fakta sejarah yang saat itu ditutup-tutupi oleh rezim Orde Baru bahwa Bung Karno bukan penggagas Pancasila. “Bung Karno merupakan penggali Pancasila,” kata Hatta dalam suratnya seperti ditirukan Meutia.
- Di Sekitar Nasionalisasi Bank Sentral
HAL-hal bersifat seremonial dan risalah-risalah di akhir perundingan panjang Konferensi Meja Bundar (KMB) sudah disinggung banyak riset dan buku. Namun perihal alotnya negosiasi di sejumlah komisi, masih sangat jarang. Terlebih di komisi yang merundingkan bidang ekonomi dan moneter. Agus Setiawan dkk. dalam buku Konferensi Meja Bundar: Jalan Menuju Terbentuknya Bank Sentral Republik Indonesia mencoba menelusuri detailnya. Saat menghadapi negosiasi KMB yang berlangsung dari 23 Agustus-2 November 1949 hingga akhirnya diratifikasi pada 27 Desember 1949 oleh delegasi Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Belanda, delegasi Indonesia yang diketuai Moh. Hatta mengikutsertakan sembilan tokoh. Mereka memiliki misi di masing-masing bidang: Mr (meester in de rechten) Mohammad Roem, Prof. Dr. Soepomo, Dr. Johannes Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Soejono Hadinoto, Mr. Abdul Karim Pringgodigdo, Dr. Moewardi, Kolonel T.B. Simatupang, dan Dr. Sumitro Djojohadikusumo.
- Pandemi Tuntut Pemaknaan Ulang Nasionalisme
NASIONALISME bukanlah gagasan yang statis. Sepanjang sejarah, nasionalisme mengalami berbagai perubahan dan perkembangan makna. Dari satu gagasan abstrak yang dibayang-bayangkan para tokoh pergerakan, nasionalisme kini menuntut pemaknaan baru untuk menjawab tanda-tanda zaman yaitu pandemi. Ide tentang nasionalisme Indonesia muncul pada dekade 1920-an. Kala itu, orang Indonesia mulai memiliki kesadaran sebagai sebuah bangsa. Kesamaan nasib, musuh, bahasa, dan cita-cita kemudian menumbuhkan gerakan perjuangan kemerdekaan yang bersifat nasional, bukan lagi kedaerahan. Dari gerakan-gerakan nasional itu, ide untuk bersatu dalam sebuah negara muncul. Tonggaknya, Indonesia memproklamasikan diri pada 17 Agustus 1945.
- Menikmati Pameran “Para Sekutu Yang Tidak Bisa Berkata Tidak”
SEJAK 28 Januari 2021, Galeri Nasional, Jakarta, menggelar pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak”. Memang, karena masih dalam keadaan pandemi Covid-19, pameran tidak bisa optimal. Ada pembatasan kunjungan yang membuat masyarakat tidak bisa bebas untuk datang menikmati pameran secara langsung. Pun begitu, penyelenggaraan pameran ini tetap diapresiasi dan dipandang sebagai angin segar bagi para pegiat seni untuk tetap berkarya, berbagi perspektif dan semangat. Pameran yang juga diprakarsai Goethe-Institut Indonesien ini menghadirkan berbagai karya seniman baik dari dalam maupun luar negeri. Itu karena proyek ini merupakan bagian dari Collection Entanglement and Embodied Histories, yang adalah proyek dialog kuratorial jangka panjang.
- Menyesapi Cerita-cerita Tersembunyi di Pameran Revolusi!
GEDUNG megah berarsitektur perpaduan Gothic dan Renaissance dari abad ke-18 itu ramai pengunjung. Terik matahari dan hembusan angin ibukota Belanda, Amssterdam, Jumat (13/5/2022) itu tetap tak mengurangi keramaian orang mengunjungi bangunan yang ditempati Rijksmuseum tersebut, tempat dihelatnya pameran “Revolusi!: Indonesia Independent”. Pameran yang digelar dari 11 Februari-6 Juni 2022 itu buah kolaborasi riset selama empat tahun sebelumnya oleh empat kurator Indonesia dan Belanda: Bonnie Triyana, Harm Stevens, Amir Sidharta, dan Marion Anker. Sesuai tajuknya, pameran menampilkan aneka objek dan benda-benda seni yang berkaitan dengan revolusi fisik atau Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949. Namun yang jadi pembeda dari pameran-pameran lain, benda-benda yang dipamerkan merupakan objek-objek paling personal dari sejumlah sosok yang terlibat dalam masa pergolakan itu. Untuk menjelaskannya, Bonnie dan Stevens memandu live tour ke 10 galerinya.
- Menjelajahi Era Jepang di Nusantara dalam Pameran Sakura di Khatulistiwa
Sejak 9 Agustus 2022, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, menggelar pameran berjudul “Sakura di Khatulistiwa”. Bangunan museum ini, dulunya adalah tempat tinggal perwira militer Jepang, Laksamana Tadashi Maeda. Secara umum, pameran ini bercerita mengenai sejarah perjalanan interaksi masyarakat Nusantara dan Jepang. Dalam konteks sejarah bangsa Indonesia, interaksi tersebut tercatat berlangsung intensif pada periode 1942 dan setelahnya. Namun, jika menelusuri lebih jauh ke belakang, interaksi itu ternyata sudah berlangsung sejak 1621. Kala itu, orang Jepang masuk ke Nusantara sebagai tantara bayaran serikat dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), untuk mengatasi perlawanan rakyat Banda.
- Menjaga Kelestarian Lewat Pameran
GADIS cilik itu asik bermain lompat tali. Di dekatnya bocah lelaki sedang balap karung. Keduanya bukan anak manusia, tapi patung karya Bambang Win. Tak jauh dari keduanya, gadis lain berdiri dekat pintu masuk sambil membawa satu vas berisi bunga. Seakan hendak menyambut para tamu dan memberi hadiah bunga, gadis dalam lukisan Remy Sylado berjudul “Katakan dengan bunga” itu mengawali deretan lukisan yang mengisi pameran bertajuk “Solidarity, Peace, and Justice” yang digelar di Balai Budaya, Jakarta, 4-11 Januari 2018. Ada 30 seniman yang berpartisipasi dalam pameran tersebut. Mereka berasal dari generasi berbeda-beda, mulai dari yang senior seperti Aisul Yanto, Cak Kandar, Remy Sylado, Ika Ismurdiyahwati, hingga yang muda macam Chrysnanda Dwilaksana dan Idris Brandy.





















