Hasil pencarian
Cari di situs ini
10067 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Piala Dunia yang Tak Diakui
ENAM dekade silam, Swedia menggoreskan tinta prestasi tertinggi, sebagai finalis Piala Dunia (1958). Kini jalan untuk menyamainya atau bahkan melewatinya (baca: juara) cukup terbuka mengingat di Piala Dunia 2018 ini Andreas Granqvist dkk. sudah memijak babak perempatfinal. Inggris jadi lawan Swedia dalam laga yang akan dimainkan Sabtu (7/6/2018). Bukan mustahil Swedia bisa merebut tiket semifinal. Terlebih, di Rusia keunggulan di atas kertas bukan segalanya. Tengok saja nasib Spanyol, Portugal, Argentina, atau Jerman. Swedia bahkan bisa “juara” seperti ketika tahun 1942. Tapi, adakah Piala Dunia 1942? Perang Dunia II masih panas-panasnya tahun itu.
- Misteri Piala Dunia di Patagonia
EUFORIA dan pengaruh sepakbola tak mengenal situasi dan kondisi. Bahkan saat sebagian besar wilayah di bumi terbakar Perang Dunia II, pesta permainan si kulit bundar tetap bergulir lewat perhelatan Piala Dunia 1942 di Amerika Latin. Sebagaimana “Piala Dunia” tak resmi di Jerman, Piala Dunia ini juga tak diakui. Organisasi sepakbola manapun, terlebih FIFA, tak pernah mengakuinya. “Memang Piala Dunia 1942 tak pernah disebutkan di buku sejarah manapun, namun pernah dimainkan di Patagonia, Argentina,” ungkap Osvaldo Soriano dalam Pensare con i Piedi. “Piala Dunia” Patagonia, wilayah yang –kini terbagi antara Argentina dan Cile– pada 1942 masih masuk ke dalam kekuasaan Raja Antoine III dari Kerajaan Araucanía dan Patagonia, berlangsung pada medio November 1942. Turnamen ini digagas Menteri Olahraga Kerajaan Patagonia asal Balkan, Count Vladimir von Otz. Pesertanya diikuti 12 tim.
- Mengenalkan Indonesia di Piala Dunia
PERHELATAN Piala Dunia 2018 akan dimeriahkan dengan penampilan drummer Indonesia. Kunto Hartono, drummer kelahiran Banyuwangi, unjuk kebolehan dengan menggebuk drum selama 24 jam di Moskow, Rusia. Rencananya, aksi Kunto dimulai 14 Juli pukul 16.00 waktu Moskow dan berakhir pukul 16.00 keesokan harinya pada hari final Piala Dunia 2018. Ada sekira sepuluh lagu nasional dan tradisional Indonesia yang dibawakan, seperti lagu “Bendera” dari band Cokelat, “Bubuy Bulan”, dan “Rek Ayo Rek”. Untuk mempersiapkan pertunjukan itu, Kunto bersama rombongannya berangkat ke Moskow pada Kamis (12/07) ini pukul 09.00 WIB. Menggebuk drum berjam-jam bukan pertama kali dilakukan Kunto. Pada Oktober 2002, dia memecahkan rekor MURI dengan menabuh drum 24 jam nonstop di Plaza Balaikota Bogor. Pada Agustus 2003, Kunto kembali memecahkan rekor MURI dengan menabuh drum selama 61 jam 15 menit di GOR Padjajaran, Bogor. Namun, catatan itu belum memuaskannya lantaran masih sebatas rekor nasional. Pada 30 Desember 2016 Kunto kembali unjuk kemampuan. Di pelataran Benteng Kuto Besak, Palembang, Kunto menggebuk drum nonstop selama 145 jam dan mencatatkan namanya dalam Guinness World Record. Aksi Kunto di Moskow merupakan bagian dari acara “The Beats of Indonesia, From Indonesia with Drum”. Acara ini bertujuan mengangkat nama Indonesia sekaligus mempromosikan program “Wonderful Indonesia” dari Kementerian Pariwisata dan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. “Dengan rekor unik dan kemampuan hebat yang dimilikinya, pertunjukan ini diharapkan ikut mengangkat nama Indonesia di dunia internasional,” kata Indra Bigwanto, co-founder GVM Networks. Kunto akan bermain drum dengan mata tertutup. Di sekitar area pertunjukan, GVM Networks yang memprakarsai acara itu meletakkan layar LED berukuran besar yang menampilkan pariwisata Indonesia. “Saya berterimakasih kepada GVM Networks yang telah memfasilitasi keberangkatan saya ke Rusia. Saya berharap nama Indonesia bergaung saat final Piala Dunia 2018,” kata Kunto. Awalnya, Kunto berencana menabuh drum non-stop sebelum laga Belgia versus Inggris hingga menjelang pertandingan Prancis versus Kroasia. Namun, mempertimbangkan aspek keamanan, rencana tersebut disesuaikan dengan kebijakan pihak keamanan Rusia. Kunto tampil di Rusia untuk mempromosikan Wonderful Indonesia dan Asian Games 2018. Acara ini didukung oleh GVM Networks, yang menaungi Bolalob.com, Opini.id, Womantalk.com, Historia.id, dan Bobotoh.id.*
- Monumen Sukarno Resmi Berdiri di Aljazair
SETELAH sempat tertunda, peresmian Monument Soekarno di Alger, Aljazair terlaksana pada Sabtu (18/7/2020) pagi waktu setempat atau sore WIB. Monumen tersebut menjadi penanda hubungan persaudaraan antardua negara yang terpisah 12 ribu kilometer jauhnya. Pembangunan monumen itu diinisiasi Kedutaan Besar RI (KBRI) Alger, didesain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan dipercantik sebuah patung Sukarno dari lempengan-lempengan besi karya pematung Dolorosa Sinaga. Peresmian itu dihadiri antara lain oleh Menteri Luar Negeri Aljazair Sabri Boukadoum, dan Gubernur Provinsi Alger Youcef Charfa. Ketua DPR RI Puan Maharani yang merupakan cucu Sukarno, hadir secara virtual dari Jakarta.
- Patung Bung Karno Berdiri di Aljazair
JAUH di mata tapi dekat di hati. Meski jarak Indonesia dan Aljazair terbentang lebih dari 12 ribu kilometer, persahabatan antara kedua negara dan rakyatnya yang berbeda belahan dunia itu begitu dekat. Perekatnya tiada lain Bung Karno. “Itu yang saya rasakan semenjak menjadi Duta Besar RI untuk Aljazair pada Maret 2016 lalu. Setiap kali hadir di berbagai forum di Aljazair dan pihak manapun yang mendengar nama Indonesia, pasti teringat nama Bung Karno. Faktanya beliau sangat diapresiasi karena mendukung Aljazair sebelum merdeka pada 1962,” ungkap Duta Besar RI untuk Aljazair Safira Machrusah saat dihubungi Historia.ID. “Nama Indonesia begitu ngetop di Aljazair karena Bung Karno. Karena selain turut mengundang (delegasi kelompok perjuangan kemerdekaan) Aljazair, tahun 1956 pemerintah Indonesia membuka (kantor) perwakilan FNL (Front de Libération Nationale) di Jakarta (Jalan Serang, Menteng, Jakarta). Bayangkan, sampai seperti itu dukungan Bung Karno,” tambahnya.
- Djamila Bouhired Srikandi Aljazair
MONUMEN Sukarno telah berdiri di pusat kota Algiers, Aljazair. Monumen yang didesain oleh Ridwan Kamil dan Dolorosa Sinaga itu merupakan permintaan pribadi Gubernur Algiers sebagai penghormatan Aljazair pada Sukarno. “Bung Karno sangat dihormai di Aljazair. Karena inspirasi Bung Karno, juga karena semangat Dasa Sila Bandung di KAA 1955 yang memberikan inspirasi bagi para pendiri Aljazair untuk merebut kemerdekaan dari penjajah di sana. Ini merupakan kehormatan nama Indonesia di mata dunia,” ujar Ridwan Kamil di akun twitter-nya, 6 Mei 2020. Hubungan Indonesia dengan Aljazair memang sudah cukup lama terjalin. Sejak Konferensi Asia Afrika yang pertama, Indonesia juga beberapa kali memberi bantuan kepada negara-negara yang belum merdeka termasuk Aljazair.
- CIA Gagalkan KAA II di Aljazair
PADA 19 Juni 1965 dini hari yang sepi terdengar berondongan senapan mesin, mungkin ke udara. Deru panser bergerak membawa tentara yang bertugas memutus semua kawat telepon yang terhubung ke istana presiden. Pasukan bersenjata menyerbu istana dan membawa Presiden Aljazair Ahmed Ben Bella yang sedang tertidur lelap. Gerakan militer itu hanya berlangsung sepuluh menit. Sejak saat itu berakhirlah kekuasaan Ben Bella. Dia dikudeta oleh Kolonel Houari Boumediene, Panglima Tentara Pembebasan Aljazair. Alasannya Ben Bella berkuasa dengan sewenang-wenang, seorang diktator yang meninggalkan dasar musyawarah. Tidak ada perlawanan dari penjaga istana maupun pasukan lain. Setelah itu pun tidak ada perlawanan. Ini membuktikan semua pasukan telah dikuasai Boumediene. Kudeta itu terjadi kurang dari sepekan sebelum Konferensi Asia Afrika II dimulai di ibu kota Algier. Boumediene menjamin KAA II akan tetap diselenggarakan sesuai rencana.
- Gerakan Aron di Sumatra Timur
PADA masa pendudukan Jepang muncul gerakan subversif di wilayah Sumatra Timur yang meresahkan pemerintah Jepang dan kesultanan. Gerakan ini dinamai Aron, di mana para petani merebut dan menggarap lahan pertanian secara ilegal. Menyebabkan sejumlah tragedi berdarah, namun dianggap heroik di kemudian hari. Gerakan Aron bermula dari Gerakan Indonesia Raya (Gerindo) Sumatra Timur. Kader-kader Gerindo juga bergabung dengan Serikat Tani Indonesia. Tujuannya untuk menyusun program-program yang membela kaum tani. Organisasi ini mempunyai komite-komite perladangan. Serikat Tani Indonesia kemudian menjadi gerakan Aron. Aron mengacu pada sekelompok petani yang bekerja secara bergotong-royong. Gerakan Aron, menurut Brahma Putro dalam Karo dari Zaman ke Zaman, serupa dengan gerakan gotong-royong, di mana anggotanya bekerja demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Orang yang masuk gerakan Aron, biasanya muda-mudi dan ibu-ibu, disebut Raron.
- Insiden-insiden Gerakan Aron
KONFLIK lahan di Sumatra Timur pecah pada 19 Juni 1942. Ratusan petani Karo berbondong-bondong mengepung pos polisi di Pancur Batu. Aksi berlangsung selama dua hari sebelum dibubarkan. Musababnya, para petani marah karena 18 kawan mereka ditembak mati oleh polisi Kesultanan sehari sebelumnya. Penembakan keji itu bermula pada awal Juni ketika konflik petani Aron dan kaum bangsawan mencapai puncaknya. Di distrik Sunggal, Deli, kepala desa yang mencoba mencegah aksi petani Aron merebut lahan, dirampok atau ditakuti-takuti. Dua orang terbunuh dalam ketegangan di Sunggal. Polisi Kesultanan membalas dengan menembak mati 18 petani. “Catatan Jepang tidak menunjukkan bahwa ada pejabat atau polisi Jepang yang terlibat pada tahap ini; amarah Aron tampaknya ditujukan kepada Datuk Sunggal, agen-agennya di Pancur Batu, dan kepada para kepala desa yang mendukung mereka,” tulis Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatra, antara Indonesia dan Dunia.
- Menumpas Gerakan Aron
INOUE Tetsuro, Kepala Kepolisian Kabupaten Deli-Serdang telah mempersiapkan semuanya pada 11 Agustus 1942 untuk memberantas gerakan Aron. Ia mengumpulkan 30 kuli untuk membawa peralatan, makanan dan obata-obatan, sepuluh polisi sebagai penjaga, seorang penerjemah bahasa Karo dan seorang penerjemah bahasa Indonesia, serta seorang petani Karo sebagai pemandu. Tetsuro begitu detil menulis misinya itu dalam memoarnya “Bapa Jango: Bapa Djanggut” yang termuat dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942–1945. “Selain itu, kami memiliki seekor kuda bernama Marco untuk saya (ras Anglo Norman), dan dua kuda (ras lokal) untuk penerjemah. Sebelum kami berangkat, saya menginstruksikan urutan berbaris berikut (dengan kepala di sebelah kiri): polisi, pemandu, saya, penerjemah bahasa Indonesia, inspektur polisi, polisi, kuli, penerjemah bahasa Karo, polisi,” tulis Tetsuro.
- Cerita di Balik Kedatangan Pele ke Indonesia
EDSON Arantes do Nascimento alias Pele datang ke Indonesia pada pertengahan 1972. Saat itu, Pele berusia 32 tahun dan bermain untuk klub Brasil Santos FC. Reputasi mentereng sebagai ujung tombak Brasil kampiun Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970 melekat pada diri Pele. Tapi, untuk ukuran pesepakbola profesional, Pele tentu sudah tak muda lagi. Sisa kontraknya untuk bermain di Santos tinggal dua tahun. Kabar santer menyatakan Pele bakal menjadi pelatih setelah kontraknya selesai. Namun, Pele sendiri membantah rumor tersebut. “Hanya sebagai penasihat untuk pemain-pemain muda dalam kontrak saya dengan Pepsi Cola,” katanya di hadapan awak media Indonesia sesaat setelah mendarat di Bandara Kemayoran pada 19 Juli 1972, sebagaimana diberitakan Harian Kami, 20 Juni 1972. Kendati telah melewati masa-masa produktif sebagai pemain bola, publik sepakbola Indonesia sangat antusias menyambut kedatangan Pele. Mereka menantikan si raja bola asal Brasil itu “menari” di lapangan utama Senayan saat bertanding menghadapi tim nasional (timnas) Indonesia. Namun, bukan perkara mudah untuk mendatangkan Pele ke Indonesia. Butuh uang dalam jumlah besar sebagai ongkos kepada tim Santos.
- Ketika Pele Dimaki Suporter Indonesia
LEBIH dari seratus ribu penonton memadati Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno) pada Rabu petang, 21 Juni 1972. Mulai dari jelata hingga pejabat tinggi sipil dan militer tumpah ruah di sana, termasuk Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Mata mereka tertuju pada pemain nomor punggung 10 berseragam Klub Santos FC. Hari itu digelar laga persahabatan antara Timnas Indonesia (PSSI) menghadapi klub Brasil Santos FC. Pele, pemain terbaik dunia, memperkuat tim Santos dan dimainkan sejak menit pertama. “Pele si raja bola tampak tidak banyak bergerak. Tetapi dengan demikian ia berhasil membuka pertahanan barisan belakang PSSI,” diwartakan Harian Kami, 22 Juni 1972. Meski laga persahabatan, Santos FC tampil dengan pemain inti. Dua penyerang sayap Jader da Silva (Jader) dan Jonas Eduardo Americo (Edu) jadi tandem Pele di lini depan. Sementara itu, Timnas Indonesia juga turun dengan skuad terbaiknya yang diambil dari klub-klub papan atas seperti PSMS Medan, Persija, Persebaya, dan PSM Makassar. Mulai dari kiper Ronny Paslah, Juswardi, Sunarto, Muljadi, Anwar Ujang, Suaeb Rizal, Abdul Kadir, Moh. Basri, Jacob Sihasale, Risdijanto, dan Iswadi diturunkan untuk menghadapi Pele dan kawan-kawannya. Di bawah asuhan pelatih Endang Witarsa, Timnas PSSI memainkan strategi bermain dalam tempo tinggi untuk menekan Santos.





















