top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Aston Villa Punya Cerita

    KONON angka 13 acap menghadirkan nasib sial. Percaya atau tidak, itulah yang terjadi dengan Adrián San Miguel del Castillo, kiper Liverpool. Mengenakan nomor punggung 13, pengganti kiper utama Alisson Becker yang cedera bahu itu membuka petaka buat timnya dengan blunder saat “dipermak” Aston Villa 7-2. Stadion Villa Park, markas Aston Villa di kota Birmingham, jadi saksi bisu bagaimana jawara Liga Inggris musim lalu tak berdaya pada Minggu, 4 Oktober 2020. Petakanya berawal dari blunder Adrián saat mengoper bola di bidang permainan sendiri ketika babak pertama baru bergulir empat menit. Bola “liar”-nya langsung dikonversi Ollie Watkins menjadi gol Villa. Watkins lantas jadi pahlawan bagi “The Villans” (julukan Aston Villa) dengan membukukan hattrick. Empat gol pelengkap lain disumbangkan Jack Grealish (dwigol), dan masing-masing satu gol dari John McGinn dan Ross Barkley.

  • HUT Kota Surabaya dan Pasukan Sriwijaya

    DIRGAHAYU Kota Pahlawan Surabaya. Pada 31 Mei lalu, usianya sudah menginjak 726 tahun. Hari jadi Surabaya 31 Mei diambil dari momen pada 1293 ketika Raden Wijaya memimpin pasukan Majapahit menangkal invasi pasukan Mongol. Seiring perjalanan waktu, Surabaya berkembang pesat dan bertabur kisah heroisme hingga dijuluki sebagai Kota Pahlawan. Sayangnya, majunya perkembangan kota justru membuat identitas kepahlawanan Surabaya perlahan menguap seiring dengan beralih fungsinya bangunan-bangunan bersejarah. Benteng Kedungcowek di sisi timur Jembatan Suramadu, salah satunya. Persoalan itu sedang digugat sekelompok aktivis dan penggiat sejarah dari komunitas Roode Brug Soerabaia. “Surabaya adalah kota petarung dengan karakter penduduknya yang egaliter serta blak-blakan. Mari kita jujur pada diri sendiri, ruh Surabaya sebagai kota pahlawan apakah semakin memudar? Jika semakin memudar lantas kita bisa apa?” bunyi penggalan surat terbuka Ady Erlianto Setyawan, periset sejarah serta founder Roode Brug Soerabaia.

  • Kontroversi Iringi Sejarah Arsenal

    KURSI kepelatihan Arsenal yang diduduki Mikel Arteta makin panas jelang Boxing Day. Sejak dimulainya musim 2020-2021, The Gunners (julukan Arsenal) sudah terbelit beberapa kontroversi. Dua di antaranya adalah dicoretnya nama bintang Mesut Özil dari skuad utama yang berbuntut drama, dan deretan hasil merah di laga-laga Liga Inggris dan Carabao Cup (EFL). Di bawah Arteta, klub yang bermarkas di Emirates Stadium itu hanya mampu menang empat kali dalam 14 laga terakhirnya. Arsenal juga kalah 1-4 dari Manchester City di perempatfinal Carabao Cup, Selasa (23/12/2020). Fans Arsenal pun mulai menuntut Arteta dipecat, yang berbuntut manajemen klub mencari penggantinya. Kemarahan fans mulai mencuat setelah Arsenal keok 0-1 dari klub cilik Burnley pada 14 Desember 2020. Ditambah hasil imbang 1-1 saat menjamu Southampton tiga hari berikutnya dan ditundukkan Everton 1-2 pada 20 Desember, Arsenal pun terjun bebas ke posisi 15 klasemen Liga Inggris atau berjarak dua spot dari zona degradasi.

  • Kala Arsenal Tak Berdaya di Surabaya

    UNTUK ketiga kalinya, Arsenal akan bertandang ke Indonesia. Arsenal memboyong para pemain legendanya untuk bertanding dalam turnamen segitiga Balikpapan Masters Cup, 5 November 2017 di Stadion Batakan, Balikpapan, yang akan diikuti tim Indonesia Masters dan Liverpool Masters. The Gunners pertama kali bertamu ke Indonesia pada 1983 kemudian 2013. Tim Meriam London itu berharap tur ke Asia akan mengangkat lagi spirit tim setelah di Division One Liga Inggris musim 1982/1983 hanya bercokol di posisi sepuluh klasemen akhir. “The Gunners datang dengan diperkuat kiper legendaris Pat Jennings, Alan Sunderland, dua pemain nasional Inggris, Kenny Sansom dan Graham Rix, serta si legenda hidup David O’Leary,” tulis Arief Natakusumah dalam Drama Itu Bernama Sepakbola.

  • Geger PSG

    STADION Camp Nou memang kosong pada Selasa (16/2/2021) malam lalu. Namun, hal itu tak mengurangi sengitnya duel antara tuan rumah Barcelona melawan Paris Saint-Germain (PSG) di leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Hanya saja laga itu sempat dinodai sebuah hukuman penalti kontroversial. Kala durasi laga berjalan 25 menit, sebuah umpan lambung ke kotak penalti PSG hendak dikejar gelandang Barça Frenkie de Jong. Ia mendapat pengawalan bek Layvin Kurzawa. Namun apa lacur, tetiba De Jong terjatuh akibat tersandung kakinya sendiri. Namun wasit malah menunjuk titik putih. PSG dirugikan. Tetapi Les Parisiens (julukan PSG) pantang patah arang. Kecemerlangan Kylian Mbappé dengan hattrick-nya dan sebutir gol tambahan dari Bloty Moise Kean sukses menghukum balik Lionel Messi dkk. Skor 4-1 untuk PSG bertahan hingga wasit Björn Kuipers meniup peluit panjang.

  • Pembela Buruh Perempuan

    KETERLIBATAN Setiati dalam serikat buruh berawal dari tawaran seorang lelaki yang tak dikenal. Saat itu, Setiati bekerja sebagai asisten Ki Hadjar Dewantara di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sejak masa pendudukan Jepang. Lelaki itu bernama Njono dari Domei, kantor berita Jepang, yang membuat Setiati curiga. Namun, Njono murid Ki Hajar Dewantara di Taman Siswa. Dia minta izin kepada Ki Hadjar untuk berbicara dengan Setiati. “Katanya dia dengar saya pimpinan Pekerja Perempuan Indonesia. Dia minta saya masuk ke serikat buruh, tadinya saya enggak mau. Tapi dia kemukakan bagaimana kondisi buruh wanita yang menderita, nah cocok sama saya. Saya masuk,” kata Setiati kepada Hersri Setiawan sebagaimana dimuat dalam tulisan di GerakIngatan. Setiati mendapat tugas membentuk serikat buruh di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

  • Ketika Jenderal Nasution “Dikerjain” Presiden Sukarno

    PADA akhir September 1964, Jenderal Abdul Haris Nasution berangkat ke Uni Soviet. Saat itu, Angkatan Perang Republik Indonesia perlu peluru kendali jarak menegah. Konflik konfrontasi dengan Malaysia semakin memanas. Sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Nasution bersiap-siap apabila pecah perang dengan Malaysia yang didukung Inggris. Ini adalah kunjungan kesekian kalinya bagi Nasution dalam misi pembelian senjata berat. Dia didampingi oleh dua perwira staf Komando Siaga (KOGA), Laksamana Mulyadi dan Brigjen Ahmad Wiranatakusumah. Untuk memperlancar lobi-lobi, Presiden Sukarno direncanakan akan turut bergabung setelah menyelesaikan kunjungannya di Jenewa. Pada hari kedatangan Sukarno ke Moskow, para pejabat tinggi Uni Soviet menyambut di pelabuhan udara. Mereka antara lain Perdana Menteri Nikita Khrushchev, Presiden Anastas Mikoyan, dan Sekjen Partai Komunis Leonid Brezhnev. Ketika melihat Nasution di antara rombongan dari Indonesia, Khrushchev datang menghampiri seraya mengulurkan tangan kepada sang jenderal.

  • Jenderal Nasution: PKI Bukan Musuh Kita Lagi

    5 Oktober 1965 menjadi hari ulang tahun TNI paling kelabu sepanjang sejarah. Hari itu, TNI Angkatan Darat harus kehilangan enam perwira tinggi dan satu perwira menengah yang terbunuh dalam peristiwa G30S. Jenazah mereka ditemukan sehari sebelumnya dalam sumur tua yang berada di Desa Lubang Buaya, Jakarta Timur. Dengan penuh haru, Jenderal Abdul Haris Nasution melepas jenazah koleganya menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata. “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kita semua difitnah dan Saudara-saudara telah dibunuh. Kita diperlakukan demikian. Tapi, jangan kita dendam hati. Iman kepada Allah akan tetap meneguhkan kita,” kata Nasution, saat itu menjabat Menteri Pertahanan merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata, dalam upacara pemakaman di Mabes Angkatan Darat. Mereka yang dirujuk Nasution adalah mendiang Letjen Ahmad Yani, Mayjen Soeprapto, Mayjen M.T. Harjono, Mayjen S. Parman, Brigjen Donald Izacus Pandjaitan, Brigjen Soetoyo Siswomihardjo, dan ajudannya Letnan Pierre Tendean. Selain rekan-rekan tersebut, Nasution juga kehilangan anak bungsunya, Ade Irma Nasution, yang tertembak pada malam penculikan Gerakan 30 September. Butuh waktu lama bagi Nasution untuk memulihkan diri dari trauma setelah peristiwa kelam itu.

  • Sisi Jenaka Jenderal Nasution dan Sang Nyonya

    JENDERAL Abdul Haris Nasution, yang menjabat ketua MPRS, sekali waktu berkunjung ke penjara Tangerang meninjau para tahanan politik (tapol) yang dikaryakan. Dalam rombongannya, turut serta sang istri Yohana Sunarti. Ketika mengamat-amati para tapol, Ibu Sunarti tiba-tiba berteriak ke arah rombongan suaminya. “Papi, papi, sini deh,” serunya. “Ada PKI Arab.” Tapol berdarah Arab bernama Hadi itu hanya bisa nyengir belaka sambil berbisik ke kawanan tapol lain, Tuba bin Abdurahim. “Sialan gue jadi tontonan PKI Arab,” gerutunya. Tuba masih ingat peristiwa kocak itu terjadi pada suatu hari tahun 1967. Namun, menurutnya, tiada kesan kebencian yang ditampilkan Ibu Sunarti. “Ia hanya terperanjat melihat sesosok berperawakan Arab yang menjadi simpatisan PKI,” kata Pak Tuba, eks tapol anggota Pemuda Rakyat kepada Historia.ID.

  • Brigjen M. Noor Nasution, Perwira TNI Eks Pemain Sandiwara

    PRESIDEN Sukarno terganggu dengan eksposur media dalam menyorot Gerakan 30 September (G30S). Pemberitaan tentang pemotongan kemaluan jenderal-jenderal Angkatan Darat korban G30S adalah yang paling meresahkannya. Pun demikian dengan mata mereka yang isunya dicungkil oleh para pasukan penculik. Berita itu, menurut Sukarno, tidak sesuai dengan visum repertum dari para dokter yang memeriksa jenazah para jenderal tersebut. Sukarno minta klarifikasi. Pada pembukaan Konferensi Para Gubernur Seluruh Indonesia di Istana Negara, 13 Desember 1965, dia menagihnya ke beberapa nama. Salah satunya kepada Letkol M. Noor Nasution. “Saya tanyakan kepada Noor Nasution, Letkol, yang mengawasi Antara, dari mana kabar yang dimasukkan di dalam surat kabar ini. Kok di dalam surat kabar dikatakan bahwa jenderal-jenderal yang mati ini dipotong kemaluannya! Donder. Sebab, akibat daripada kabar bohong ini, Saudara-saudara, lebih jahat daripada fitnah. Sebab, akibatnya ialah, Saudara-saudara, rakyat kita menjadi gontok-gontokan, panas-panasan,” kata Sukarno dalam pidatonya termuat dalam Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Sukarno September 1965-Pelengkap Nawaksara suntingan Budi Setiyono dan Bonnie Triyana.

  • Brigjen M. Noor Nasution di Panggung Seni Hiburan

    M. Noor Nasution frustasi ketika tentara Jepang menduduki Sumatra Utara. Dia yang sudah menamatkan sekolah MULO tak bisa lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi, Noor enggan menganggur. Bakat seni menuntun Noor jadi pemain sandiwara. Itu bukanlah suatu pilihan yang keliru. Noor menjadi salah satu seniman terkenal di zaman Jepang. “Di masa pendudukan Jepang, para seniman turut pula menyumbangkan buah pikirannya melalui seni, drama, seni suara, dan lain-lain. Tokoh terkemuka adalah Saleh Umar atau Surapati dan M. Noor Nasution (alm. mantan direktur Antara),” catat tim peneliti Depdikbud dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Sumatra Utara. Noor membentuk kelompok sandiwara bernama Kinsei Gedidan. Sjamsuddin Manan, waktu itu turut dalam rombongan drama dari Kisaran sampai Rantau Prapat sebagai tukang tik naskah, terpukau menyaksikan pertunjukan “Bang Noor”. Noor selalu tampil dengan nama panggung “Monanza”. Kecuali Bing Slamet, Sjamsuddin menyebut belum pernah ada seniman yang berhasil membawakan comical song sebagaimana yang ditampilkan Noor.

  • Suluh Dumadi Membela A.H. Nasution

    KOLONEL Suluh Dumadi berang. Sebagaimana Jenderal Soemitro yang ada di dekatnya, mantan Deputi I Badan Kordinasi Intelijlen (BAKIN) itu tak terima ada orang menjelek-jelekkan Jenderal Abdul Haris Nasution. Kejadian itu terjadi pada masa awal Orde Baru. Saat itu, terdapat sebuah lembaga studi yang di dalamnya kebetulan terdapat peneliti-peneliti yang masih punya darah asing, yang sering disebut sebagai “non-pribumi” atau “nonpri”. Suatu kali, mereka berada di kantor BAKIN. Soemitro mendegar cerita kumpul-kumpul itu dari anak buah Mayor Jenderal Ali Moertopo, rival Soemitro. Ali Moertopo adalah pejabat BAKIN yang pernah menjadi kepala Operasi Khusus (Opsus) alias orang kepercayaan Presiden Soeharto.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page