top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Yani Akan Menangkap Nasution

    KSAD Jenderal TNI Nasution mencalonkan Mayjen TNI Gatot Soebroto sebagai penggantinya, namun ditolak Presiden Sukarno. Nasution kemudian mengusulkan deputi operasinya, Mayjen TNI Ahmad Yani. Nasution menganggap Yani memiliki beberapa kelebihan. “Dia telah memperoleh reputasi yang baik ketika memimpin pasukan dan dengan mudah menupas pemberontakan PRRI tahun 1958, dan sebagai seorang antikomunis yang keras, mendapat kepercayaan Nasution dan korps perwira umumnya,” tulis Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia. Kepemimpinan Yani dianggap dapat melanjutkan peran AD dalam membendung pengaruh PKI yang semakin besar memasuki dekade 1960-an. Dengan pembawaan diri yang luwes, Yani diyakini dapat mengambil hati Sukarno dan berangsur-angsur mempengaruhinya untuk mengerem laju komunis yang kian cepat. Sukarno sendiri mengenal Yani dengan baik. Selain berprestasi, Yani bekerjasama dengan Sukarno selama di KOTI (Komando Operasi Tertinggi).

  • Maria Ullfah Diculik Pemuda Gara-gara Film Amerika

    TAK ada yang menyangka pemutaran film Amerika yang dihadiri kaum ibu dari Kongres Wanita Indonesia di Jakarta diwarnai penculikan terhadap Maria Ullfah. Mantan Menteri Sosial era Kabinet Sjahrir II itu menjabat Ketua Panitia Sensor Film dari tahun 1950 hingga 1961. Tokoh pers-cum-sejarawan Rosihan Anwar dalam In Memoriam: Mengenang yang Wafat menyebut di masa kepemimpinannya kala itu dunia perfilman Indonesia tengah menghadapi berbagai persoalan. Film nasional yang dimotori Usmar Ismail, pimpinan Perusahaan Film Nasional (Perfini), dan Djamaluddin Malik, pimpinan Persatuan Artis Republik Indonesia (Persari) berupaya mempertahankan eksistensinya di hadapan film India dan film Malaya yang digemari penonton lapisan bawah. Tak hanya itu, film nasional pun sulit memperoleh jam putar di bioskop-bioskop terkemuka karena pemasaran, peredaran, dan eksibisi film dikuasai Asosiasi Film Amerika di Indonesia (AMPAI) yang dipimpin Bill Palmer.

  • Perjuangan Maria Ullfah dalam Pendidikan

    SEJUMLAH orang datang ke Pelabuhan Tanjung Priok pada Desember 1933. Mereka hendak menyambut seorang perempuan yang belum lama lulus dari studinya di Belanda. Perempuan itu adalah Maria Ullfah (1911–1988). Maria melanjutkan studi ke Belanda bersamaan dengan ayahnya, Bupati Kuningan, R. Mohammad Achmad, yang mendapat tugas mempelajari koperasi. Maria lulus dari jurusan Ilmu Hukum Universitas Leiden pada 1933. Ia menjadi Sarjana Hukum (Meester in de Rechten) perempuan Indonesia pertama dari Universitas Leiden. Wartawan perempuan Gadis Rasid dalam Maria Ullfah Subadio, Pembela Kaumnya menulis, banyak sekali keluarga, kawan serta beberapa peminat pergerakan kebangsaan dan pergerakan perempuan yang datang untuk menyambut Maria di Pelabuhan Tanjung Priok. “Mereka terdorong oleh ingin tahu dan berkenalan dengan wanita Indonesia pertama yang mendapat gelar Sarjana Hukum,” tulis Gadis.

  • Buah Kengototan Maria Ullfah dalam Rapat BPUPKI

    MARIA Ullfah menjadi satu-satunya perempuan yang duduk dalam Panitia Pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) ketika membahas Undang-Undang Dasar, 29 Mei 1945 di Gedung Departemen Luar Negeri, Pejambon, Jakarta. “Karena saya ahli hukum, saya dimasukkan ke sana. Ketua aktif adalah Prof. dr. Supomo. Dialah yang banyak menyusun UUD 1945,” kata Maria Ullfah kepada Dewi Fortuna Anwar dalam rekaman suara proyek sejarah lisan Arsip Nasional Republik Indonesia. Namun, Maria bukan satu-satunya perempuan dalam rapat BPUPKI dari 28 Mei-1 Juni 1945 itu. Di luar Panitia Pertama, ada Siti Sukaptinah (ketua Fujinkai) di Panitia Ketiga yang membahas tentang pembinaan tanah air.

  • 27 Juni 1954: Kesebelasan Brasil dan Hungaria Adu Jotos di Piala Dunia

    HARI ini, 27 Juni 1954. Di hadapan 40 ribu penonton yang memadati stadion Wankdorf, Bern, Swiss, wasit Arthur Ellis asal Inggris dengan percaya diri memasuki lapangan didampingi dua hakim garis dan diikuti dua tim yang akan saling berhadapan. Ellis bangga dipercaya memimpin pertandingan yang kemudian dijuluki “Battle of Berne” itu. “Kupikir itu akan menjadi pertandingan terhebat yang pernah aku lihat. Aku berada di puncak dunia,” ujarnya sebagaimana dikutip Guy Hodgson dalam “Footbal: Ellis a Knockout During the Battle of Berne”, dimuat di independent.co.uk. Pertandingan yang dipimpin Ellis itu merupakan partai perempat final Piala Dunia 1954 antara Brasil melawan Hungaria. Tiga partai perempat final lainnya mempertemukan Austria kontra Swiss, Uruguay kontra Inggris, dan Jerman Barat kontra Yugoslavia.

  • Ketika Dendam Hungaria Terhadap Soviet Terbalaskan di Australia

    BERSAMA teman-temannya di timnas polo air Hungaria, Ceszi Gyarmati, kapten tim, begitu antusias sore (6/12/56) itu. Mereka menunggu dimulainya laga semifinal polo air putra Olimpiade Melbourne 1956 yang akan mereka mainkan. “Kami dipesankan harus menang, namun jangan berkelahi, jangan bertinju, dan jangan bermain kasar,” kata Gyarmati menirukan pesan pelatihnya, dikutip Suratkabar The Age edisi 7 Desember 1956. Tak hanya datang dari instruksi pelatih, tekad menang itu datang dari dalam diri masing-masing pemain karena lawan yang bakal mereka hadapi adalah Uni Soviet. Kurang dari sebulan sebelumnya, negeri pemimpin Blok Timur itu bertindak brutal memadamkan hasrat para pemuda-rakyat Hungaria untuk merdeka lewat aksi demonstrasi.

  • Riwayat di Balik Makam Pelaut Inggris di Kebun Raya Bogor

    BAMBU-BAMBU raksasa menjulang tinggi memberikan keteduhan di Taman Bambu, sisi barat Kebun Raya Bogor (KRB) siang, 12 Mei 2026 itu. Di tengah-tengah taman itu, terdapat sebuah permakaman Belanda meski ada satu makam dengan epitaf berbahasa Inggris milik seorang bekas perwira Angkatan Laut (AL) Inggris: Kapten Joseph Drury. “To the memory of Captn J. Drury. R.N. Who died on the 1st of March 1835. Aged 51 years. Much regretted by his relations & friends,” demikian bunyi epitaf di nisan marmer abu-abu itu. Makam Kapten Drury hanyalah satu dari 42 makam yang tersebar di kebun seluas 87 hektare itu. Namun, hanya 38 makam yang tulisan pada nisannya bisa terbaca sehingga teridentifikasi siapa orang yang dipendam di dalam tanahnya.

  • Dendam di Balik Peledakan Pesawat United Airlines 629

    JOHN “Jack” Gilbert Graham cemas petang, 1 November 1955, itu. Kemacetan lalu lintas membuatnya tertahan untuk bisa segera sampai di Bandara Stapleton, Denver, Colorado. Padahal, masih banyak urusan mesti dia selesaikan di bandara agar ibunya, Daisie Eldora King, seorang pengusaha restoran, tidak tertinggal penerbangan. Jack akhirnya sampai di bandara. Bersama Daisie, Gloria istrinya, dan Allen anaknya, Jack langsung menuju terminal keberangkatan. Sementara anak, istri, dan ibunya diperintahkannya menunggu di ruang tunggu, Jack kembali ke tempat parkir tanpa alasan jelas di tengah sempitnya waktu. “Jack Gilbert Graham memiliki tempat unik dalam sejarah penerbangan Amerika. Dia bukan pilot. Dia juga bukan penumpang pada hari yang menentukan di musim gugur 1955,” tulis kriminolog dan penulis R. Barri Flowers dalam Mass Murder in the Sky: The Bombing of Flight 629 (Historical True Crime Short).

  • 30 Mei 1972: Serangan Aktivis Kiri di Bandara Lod Israel

    HARI ini, 30 Mei 1972, Pablo Tirado-Ayala mendapati kenyataan amat berbeda di Bandara Lod (kini Bandara Internasional Ben Gurion), Tel Aviv, Israel. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan spiritual dengan mengikuti wisata religi ziarah ke “Tanah Suci” itu, pria Puerto Riko yang menjadi warga negara Amerika Serikat tersebut justru tak pernah mendapatkannya karena hanya bisa sampai bandara. Kerusuhan mengerikan di bandara itu tak “mengizinkannya” sampai ke “Tanah Suci” dan justru membawanya ke fase kehidupan berbeda yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Pablo tak mau bicara, di rumah ia hampir selalu berada di kamarnya, ia hanya akan keluar selama beberapa menit, dan dia tak akan bicara, dan dia akan kembali ke kamarnya,” ujar Angel Ramirez Colon, anak angkat semata wayang pasangan Pablo dan Antonia, dalam kesaksiannya tentang sang ayah yang diutarakan dalam persidangan di United States District Court for the District of Puerto Rico pada 2008, dimuat di laman osenlaw.com. Pablo mengalami gangguan jiwa berat akibat terluka oleh tembakan tak lama setelah pesawatnya mendarat di Bandara Lod, dikenal dengan Pembantaian Bandara Lod (Lod Airport Massacre). Kerusuhan itu dilakukan tiga teroris Jepang anggota Japanese Red Army (JRA), organisasi ultra-kiri pecahan Red Army Faction (FAR) yang didirikan Fusako Shigenobu. Menurut Sara Dissanayake dalam “Japan” yang termuat di buku Handbook of Terrorism in the Asia-Pasific, FAR beroperasi dengan tujuan menggulingkan pemerintah dan monarki di Jepang serta menggerakkan revolusi di dunia.

  • Kala Rombongan Haji Dibantai Vasco da Gama

    KAPAL Miri, demikian namanya (beberapa sumber menyebut Meri), sungguh besar. Tak hanya mampu membawa 700 penumpang, kapal dagang itu juga mengangkut komoditas perdagangan dan harta benda dari Makkah dan Jeddah untuk dibawa ke Calicut (kini Kozhikode). “Kapalnya begitu besar dan aman (dikawal sekitar 200 prajurit, red.), banyak orang Muslim yang berperjalanan menuju ibadahnya ke Makkah dan kembali dengan para jamaah dan juga kargo yang sangat berharga,” tulis sejarawan Portugis João de Barros dalam Décadas da Ásia: Dos feitos, que os Portuguezes fizeram no descubrimento, e conquista, dos mares, e terras do Oriente. Pemilik Miri adalah Al-Fanqi, saudagar kaya dari Kerajaan Calicut. Ia masih kerabat dari Khoja Kasim, pelaut dan pedagang yang juga penasihat berpengaruh bagi Sharafat Makkah –yang masih di bawah naungan Kesultanan Mamluk– dan punya hubungan dagang dengan Kerajaan Calicut.

  • J.A. Latumeten, Psikiatris Nasionalis

    KENDATI bergelar Pahlawan Nasional dan namanya diabadikan menjadi nama jalan yang membentang di depan RSJ Suharto Heerjan (Grogol, Jakarta) dan Rumah Sakit Tentara (Ambon), nama Jonas Andreas Latumeten tak begitu dikenal orang. Padahal, jasanya begitu besar. Prof. dr. J.A. Latumeten, begitu ia dipanggil oleh rekan-rekan seperjuangannya, merupakan ahli jiwa generasi pertama. Tak banyak yang bisa diketahui tentang masa kecil pria kelahiran Ambon tahun 1888 itu kecuali dari keluarganya yang merupakan keluarga nelayan. Sebagaimana umumnya anak lelaki di Negeri (desa) Rutong, tempat tinggal keluarga Latumeten, dia sudah membantu ayahnya sejak belia. Latumeten tak hanya ikut melaut dan menangkap ikan, tapi juga ikut memasarkannya ke Kota Ambon.

  • Langkah Van Mook di Tengah Amok

    BEGITU kembali menginjakkan kaki di Indonesia, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus Johannes van Mook dilanda bimbang. Janji Ratu Wilhelmina pada Desember 1942 tentang Persemakmuran Belanda bukan tawaran bagus di tengah situasi politik dan semangat revolusioner di Jawa. Penyelesaian militer jelas tak memungkinkan; selain baru saja mengalami pendudukan Jerman, pertempuran hanya akan menarik perhatian dunia internasional. Saat itulah van Mook mengusulkan federalisme sebagai jawaban untuk mempertahankan negeri bekas jajahan Belanda ini. “Ketika memulai tugasnya, dia masih menguasai wilayah Indonesia di luar Jawa. Di sana dia mencoba membangun sebuah federasi yang relatif terbuka, demokratis, dan tenang. Dia condong akomodatif. Dia mau mengakui keabsahan Republik Indonesia dan memasukkannya ke dalam Indonesia yang federal,” ujar Gerry van Klinken, peneliti senior KITLV. Pada 15 Desember 1942, ditemani Menteri Urusan Daerah Seberang Lautan Logemann, Van Mook pergi ke Belanda untuk menjelaskan gagasannya. Dalam sidang-sidang dewan menteri memperdebatkan gagasannya, namun secara umum mereka setuju. Van Mook pun siap berunding dengan Republik Indonesia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page