Hasil pencarian
Cari di situs ini
10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jenderal Spoor dan Peristiwa Sulawesi Selatan
SEJARAWAN Anhar Gonggong masih ingat bagaimana Andi Bekkeng, mengisahkan proses kematian ayahnya, Andi Pananrangi. Bekkeng yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Pananrangi menjadi saksi bagaimana pada suatu hari di bulan Desember 1946, Pananrangi dijemput dari Penjara Pare-Pare oleh sekelompok serdadu Belanda. “Paman saya itu menceritakan sepanjang jalan menuju tempat eksekusi, di dalam truk militer ayah saya disiksa,” ungkap lelaki kelahiran Pinrang, 14 Agustus 1943 tersebut. Andi Pananrangi, mantan Raja Alitta yang pro-Republik Indonesia, kemudian ditembak mati oleh anak buah Kapten R.P.P. Westerling, Komandan Depot Pasukan Khusus (DST). Ikut gugur bersamanya, ratusan anggota keluarga Kerajaan Alitta lainnya termasuk dua kakak Anhar Gonggong, yakni Andi Mandu dan Andi Isa.
- Insiden Rawagede di Mata Jenderal Spoor
DESA Rawagede, 9 Desember 1947. Hari masih pagi. Murid-murid Sekolah Rakyat (SR) Rawagede masih belum memasuki kelasnya ketika mereka melihat sekelompok serdadu Belanda, sebagian besar terdiri dari anak-anak muda pribumi, menggiring puluhan orang ke pinggir rel kereta api dekat sekolahnya. Sebagai seorang bocah, Odih yang kala itu duduk di bangku kelas dua SR, tentu saja penasaran. Bersama kawan-kawannya, dia berlari mengikuti rombongan tersebut. Belum sampai mendekati rombongan, seorang serdadu bule berbaret hijau mengusir mereka. Namun, ketika akan berbalik lagi menuju sekolah, tetiba terdengar tiga kali rentetan tembakan diikuti robohnya orang-orang yang digiring tersebut jatuh. “Saya lihat sendiri mereka bergelimpangan dengan bermandikan darah di pinggir rel kereta api," kenang Odih yang sekarang berusia 83 tahun.
- Jenderal Spoor Tewas di Sumatera?
RABU, 25 Mei 1949 adalah hari hitam bagi dunia militer Belanda. Secara mendadak, Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia Jenderal S.H. Spoor diberitakan telah wafat “Ia meninggal akibat tersumbatnya sirkulasi darah di jantungnya,” tulis sejarawan J.A. de Moor dalam buku Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia. Penjelasan Moor yang merupakan versi resmi penyebab kematian Spoor, tidak pernah dipercaya oleh sebagian besar eks pejuang di Sumatera Utara. Sumbat Sembiring (88) merupakan salah satunya. Menurut eks anggota pasukan TNI dari Sektor IV Sub Teritorium VII Sumatera itu Spoor tewas dalam suatu penghadangan di antara Sipirok dan Sibolga. Muhammad T.W.H., (85 tahun), jurnalis senior yang banyak menulis sejarah perang kemerdekaan di Sumatera membenarkan pernyataan Sumbat. “Saya bahkan sudah tulis buku khusus membahas itu, judulnya Tewasnya Jendral Spoor di Tapanuli Tengah,” ujarnya.
- Razia Homoseksual Zaman Kolonial
TIGA perempuan ditetapkan sebagai tersangka karena kampanye hitam. Dalam video yang viral, mereka menyebut jika Joko Widodo terpilih kembali menjadi presiden maka azan akan dilarang dan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) akan dilegalkan. Selama ini memang kelompok LGBT mendapat penolakan dari berbagai kalangan dalam bentuk aturan yang diterbitkan pemerintah-pemerintah daerah, persekusi, pemidanaan, pembubaran acara, dan sejumlah kekerasan lainnya. Penolakan itu dengan berbagai alasan. Mulai soal moral, penyebab bencana, sampai keyakinan kalau kelompok LGBT telah dirasuki jin sehingga harus di-ruqyah. Upaya menghapus kelompok LGBT dari masyarakat bukan hal baru di Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda bahkan membentuk satuan khusus Polisi Susila (zedenpolitie) untuk menangkap pria-pria homoseksual. Peristiwa itu dikenal sebagai Skandal Susila (zedenschandaal).
- Jenderal Jago Perang Belanda Meregang Nyawa di Pulau Dewata
SEDARI remaja, pria kelahiran Maastricht, Belanda, 30 April 1797 ini sudah jadi tentara. Dia masih 17 tahun ketika terlibat dalam Perang Napoleon sebagai letnan dua di resimen ke-22 militer Prancis. Dia ada di sana sewaktu Napoleon kalah di Waterloo. Andreas Victor Michiels, nama pria itu, akhirnya memilih melanglang buana ribuan kilometer dari tanah kelahirannya. Pada 3 Juli 1817, dia sudah berada di Batavia. Dia menjadi letnan satu pada batalyon perintis tentara kolonial Hindia Belanda. Di perantauan, mula-mula Michiels terlibat dalam pertempuran di Palimanan dan Cirebon. Kiprahnya yang bagus membuatnya tak lama kemudian naik pangkat menjadi kapten dalam usia yang sangat muda.
- Jatuh Bangun Como 1907 Comeback ke Serie A
PENANTIAN 21 tahun sukses dientaskan Como 1907 untuk menuju kasta teratas liga sepakbola Italia. Klub milik SENT Entertainment di bawah Grup Djarum asal Indonesia itu menyusul Parma kembali promosi ke gelanggang Serie A musim 2024-2025 mendatang. Kendati dramatis, sebutir poin yang diperoleh dari hasil imbang 1-1 saat melakoni laga terakhir kontra Cosenza pada Jumat (10/5/2024) waktu setempat, sudah cukup mengantar Como 1907 finis di posisi runner-up Serie B. Pasalnya pesaing terdekat, Venezia, keok 1-2 dari Spezia di hari yang sama. Spezia yang diperkuat pemain naturalisasi Indonesia, Jay Idzes, terpaksa hanya finis di posisi ketiga. Demi berebut tiket promosi terakhir ke Serie A menyusul Parma dan Como, Venezia mesti melakoni playoff dengan lima tim lain: Cremonese, Catanzaro, Palermo, Sampdoria, dan Brescia.
- Balada Klub Antah Berantah Como 1907
COMO 1907, klub Serie C Liga Italia, tengah jadi kabar hangat di tanah air. Kepemilikannya dikabarkan kini beralih ke genggaman grup usaha terkaya Indonesia, Djarum Group. Mengutip Bolalob, 18 Oktober 2019, Como dibeli lewat anak perusahaan Djarum SENT Entertainment Ltd. yang berbasis di London, Inggris. Nilainya tak sampai 5 miliar rupiah. “Istilahnya kami menebus di pegadaian. Per 1 Juli pemainnya bahkan tidak ada. Jadi, kami seperti mengambil aset tak terurus dan kami poles lagi,” ujar Mirwan Santoso, perwakilan Mola TV, perusahaan tv kabel yang juga milik Djarum. Manajemen klub akan ditangani Michael Gandler, eks manajer marketing Inter Milan era Erick Thohir, sebagai kepanjangan tangan Djarum. Como 1907 nantinya akan dijadikan wadah untuk menempa tim Garuda Select, hasil kerjasama Djarum Super Soccer dan PSSI yang sudah start sejak enam bulan lewat.
- PlayStation dan Nostalgia Mainan Anak-anak 1990-an
PLAYSTATION yang dirilis pertama kali di Jepang pada 1994 sukses mencuri perhatian anak-anak hingga orang dewasa. Setahun berselang, konsol permainan grafis dari era 32-bit yang juga dikenal dengan nama PSOne, itu diluncurkan di Amerika Serikat. Berbeda dengan game arcade yang populer tahun 1970 dan 1980-an, di mana pemain harus memasukan koin untuk dapat memainkannya, video game PlayStation menggunakan cakram padat atau CD, yang menandai peralihan industri video game dari kartrid. Kemunculan PlayStation menjadi penanda kebangkitan Sony di dunia video game. Menurut Bryan Mitchell Young dalam Encyclopedia of Video Games: The Culture, Technology, and Art of Gaming, upaya mengembangkan permainan ini sudah dilakukan sejak tahun 1988, ketika perangkat ini mulanya dirancang sebagai perangkat tambahan untuk konsol Super Nintendo Entertainment System (SNES) milik Nintendo. “Dikenal sebagai ‘Play Station’ (dua kata), perangkat ini memungkinkan Nintendo untuk membuat game berbasis CD-ROM. PlayStation baru dipahami sebagai sebuah perangkat permainan yang berdiri sendiri pada 1991, ketika, setelah hubungan antara Sony dan Nintendo memburuk, Nintendo mengumumkan bahwa Philips akan membuat perangkat tambahan CD-ROM untuk Nintendo,” tulis Young.
- Jenderal-jenderal Madura
DULU waktu zaman Hindia Belanda, jumlah orang Madura di Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) tidaklah banyak. Tentara kolonial itu lebih didominasi orang Ambon, Minahasa dan tentu Jawa. Orang Ambon dan Minahasa agak diistimewakan dalam hal fasilitas. Sementara itu Jawa menghasilkan tenaga kerja murah untuk KNIL. Karakter orang Madura yang berani dan setia amat diperlukan oleh kolonialis Belanda untuk menindak siapapun yang berupaya merongrong kekuasaannya. Karena itu pula citra orang Madura sempat “miring” dibuatnya. “Citra kekejaman dan kesukaan berkelahi semakin diperkuat oleh orang-orang Madura yang menjadi tentara kolonial, serta oleh reputasi keganasan laskar Madura yang ikut membantu pihak Belanda dalam Perang Diponegoro (1825-1830),” tulis Mien A. Rifai dalam Manusia Madura: Pembawaan, Perilaku, Etos Kerja, Penampilan, dan Pandangan Hidupnya Seperti Dicitrakan Peribahasanya.
- Pelaut Madura dalam Sejarah Indonesia
SELAIN menambang garam dan berdagang, banyak orang Madura yang mencari penghidupan dengan menjadi nelayan atau pelaut. Daerah di Jawa Timur yang disebut Tapal Kuda merupakan salah satu pembuktinya. Bahasa Madura banyak dipakai di sana. Itu menandakan ada perpindahan orang Madura dari daerah asal di Pulau Madura ke Jawa Timur, sejak ratusan tahun silam. Perpindahan itu tentu menggunakan jalur laut melewati Selat Madura, dan menuntut mereka untuk berlayar. “Transportasi laut telah menjadi bagian hidup dari orang-orang Madura. Sepanjang Pantai Utara dan Selatan beberapa pelabuhan telah dibangun oleh penduduk asli, digunakan untuk menangkap ikan. Tentu saja, orang Madura adalah peluat ulung,” kata Kuntowijoyo dalam Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940. Orang Madura berlayar ke berbagai tempat, terutama ke sekitar Laut Jawa dan Selat Makassar. Kemampuannya jelas tak diragukan. “Di negeri kepulauan ini, mereka [orang Bugis-Makassar] adalah nakhoda-nakhoda yang tak ada tandingannya –orang Madura ada di urutan kedua dalam bidang pelayaran,” tulis Theodora Benson, novelis-penulis Inggris yang berkunjung ke Hindia Belanda tahun 1930-an dalam artikelnya di buku Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992, “Berkeliling Sulawesi bersama Orang Belanda”.
- Orang Madura dalam Perang Aceh
KETIKA muda, Raden Ario Setjo Negoro berkarier di militer. Saat berpangkat sersan, dia ditempatkan di Barisan Bangkalan, bagian dari Korps Barisan Madura, sebuah Hulptroepen (pasukan bantuan) dalam tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Pada 1875, catat suratkabar Java Bode, 6 Oktober 1875, Raden Ario Setjo Negoro naik pangkat ke letnan-dua (letda) di Barisan Bangkalan. Dia kemudian diikutkan dalam Perang Aceh di bawah komando Belanda. Arsip Register Ridder Militaire Willemsorde 4 nomor 4305 menyebut, Raden Ario Setjo Negoro berperan dalam pertempuran di Kotta Alam dan Oleh Karang.
- Mas Singoatmodjo Komandan Barisan Madura Terakhir
SETELAH Pulau Madura diduduki tentara Belanda, sebuah negara federal dibentuk di sana pertengahan 1948 dengan nama Negara Madura. Negara Madura lalu menunjuk 10 orang yang berpengaruh untuk duduk di parlemen mereka pada Juni 1948. Di antara yang duduk di parlemen itu terdapat pedagang, ahli hukum, dan pensiunan pegawai dan tentara. Koran De Locomotief tanggal 10 Juni 1948 menyebut, pensiunan tentara yang dimaksud adalah Mas Singoatmodjo, pensiunan mayor dari Korps Barisan Madoera. Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Angkatan Darat, Mayor Singoatmodjo merupakan komandan Barisan Madoera pada pakhir zaman Hindia Belanda. Pria kelahiran 1895 itu baru berpangkat letnan dua pada 1924. Sebelumnya, Singoatmodjo pernah berpangkat Fourier, yakni sersan yang mengurusi perbekalan.





















