top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Achmad Chaerun, Bapak Rakyat Tangerang

    MEDIO Oktober 1945, ribuan massa dari Karawaci dan Sepatan bergerak ke kediaman bupati Tangerang Agus Padmanegara di Tangerang. Tujuan mereka satu: melengserkan sang bupati. Namun Agus sudah terlebih dahulu pergi menyelamatkan diri dan keluarganya ketika massa yang terbakar semangat revolusi itu datang mengepung rumahnya. Beberapa hari sebelumnya, pada 18 Oktober 1945 bertempat di Curug, Achmad Chaerun mendeklarasikan dirinya sebagai "Bapak Rakyat". Dialah yang memerintahkan Soetedjo, pemimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) Tangerang, menggerakkan ribuan massa dari Karawaci dan Sepatan untuk melakukan aksi "daulat" terhadap Bupati Tangerang, Agus Padmanegara. Sang bupati berhasil dilengserkan. Achmad Chaerun pun ditunjuk sebagai Bupati baru Tangerang. Seluruh Pamong Praja mulai dari bupati sampai lurah diberhentikan secara sepihak oleh Chaerun. Berbagai aksi rakyat dikonsolidasi hingga ke tingkat daerah guna membersihkan sisa-sisa pemerintahan lama. Hubungan kerjasama dengan pemerintah pusat di Jakarta juga diputus.

  • Ende dan Perenungan Bung Karno

    PRESIDEN Joko Widodo mengunjungi Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, sejak Selasa, 31 Mei 2022 untuk memperingati Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Ende dipilih Jokowi karena pernah menjadi tempat pengasingan Sukarno selama empat tahun sejak 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. Jokowi mengujungi beberapa situs bersejarah seperti rumah pengasingan Bung Karno hingga tempat di mana Bung Karno kerap berkontemplasi. “Jejak Bung Karno masih terlihat di rumah itu berupa berbagai macam barang peninggalan sang Proklamator, lukisan tangannya, juga naskah drama sandiwara yang ditulisnya,” tulis Jokowi dalam akun Twitter resminya @jokowi, Rabu, 1 Juni 2022. Keberadaan Ende sangat penting dalam sejarah Indonesia karena Bung Besar pernah diasingkan di kota ini selama empat tahun. Tak hanya itu, Sukarno mengatakan bahwa di kota inilah ia mendapat ilham revolusi Indonesia, seperti diceritakannya kepada Cindy Adams dalam otobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

  • Nepotisme Sudah Terjadi Sejak Zaman VOC

    KELUARGA elite Batavia di masa VOC memberikan gambaran bagaimana praktik nepotisme merajalela hingga menjadi salah satu penyebab keruntuhan perusahaan tersebut di akhir abad ke-18. Para pejabat tinggi tak hanya tanpa ragu memperkaya diri melalui perdagangan pribadi yang ilegal, suap, hingga penggelapan, tetapi juga memanfaatkan kekuasaan secara sewenang-wenang untuk menempatkan keluarga dan kerabat di posisi-posisi pekerjaan strategis, meski tidak memiliki kompetensi di bidang tersebut. Sebagai contoh keluarga Jeremias van Riemsdijk. Jeremias van Riemsdijk lahir di Utrecht, 18 Oktober 1712. Dia memulai kariernya sebagai sersan dalam tentara VOC. Putra pendeta Scipio van Riemsdijk dan Johanna Bogaert itu mendaftarkan diri melalui kamer Amsterdam dan berangkat ke Batavia dengan menumpangi kapal Proostwijk pada 25 Februari 1735. Setelah mengarungi lautan lebih dari enam bulan lamanya, van Riemsdijk tiba di Batavia pada 24 September 1735.

  • Oswald Pelaku Tunggal

    PADA November 1963, Oswald bangun lebih awal. Istrinya, Marina Nikolayevna Prusakova, masih tertidur. Dia meninggalkan US$170 dan cincin kawinnya. Dengan membawa sebuah bungkusan persegi panjang dibungkus kertas cokelat, dia keluar rumah. Kepada tetangganya yang memberikan tumpangan, dia mengatakan bungkusan itu berisi batang gorden untuk kamarnya. Di lantai enam Texas School Book Depository (sekarang Dallas County Administration Building), tempatnya bekerja, Oswald menghabiskan pagi mengisi buku pesanan. Ketika rekan- rekan kerjanya turun untuk makan siang, dia tidak ikut. Sekira pukul 12:30, iring-iringan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy melewati Dallas Dealey Plaza. Dari sudut jendela, Oswald melepaskan tiga tembakan yang membunuh Kennedy dan melukai Gubernur Texas John Connally. Rekaman iring-iringan rombongan Kennedy dan penembakan itu, yang dibuat seorang pengusaha pakaian wanita bernama Abraham Zapruder, membantu mengungkap dengan segera penembakan itu.

  • Dari Jack Lemmers ke Jack Lesmana

    NYONYA Yudi Thumman Palm yang beralamat di Bonenburg 25, Vlissingen, Zeeland, Belanda mengirim surat pembaca ke majalah Tempo, 28 Juni 1980, mencari ayah tirinya bernama Jack Lemmers. Ia menyebutkan, ibunya, Thea Kreker menikah dengan Thumman dikaruniai tiga anak: Yudi Thumman, Ronald Thumman, dan Zul Thumman. Setelah bercerai dengan Thumman, Thea menikah lagi dengan Jack Lemmers. Mereka dikaruniai dua anak: Silvana dan Shaila. Jack dan Thea dengan lima anak tinggal di Jalan Mundu No. 1 Surabaya. Pada Agustus 1963, Thumman membawa ketiga anaknya, Yudi, Ronald, dan Zul ke Belanda. Thea kemudian berpisah dengan Jack pada 1964 lalu membawa kedua anak mereka, Silvana dan Shaila ke Belanda. Thea meninggal dunia pada 1966. Karena dibawa ketika masih kecil, Silvana dan Shaila tidak mengetahui wajah ayah kandungnya.

  • Gagal Sejahterakan Orang Banyak, Transmigrasi Lahirkan Penjualan Anak

    PENEMUAN dua ekor ular piton raksasa sepanjang puluhan meter di perbukitan Rawa Makmur, Samarinda, membuat geger masyarakat pada September 1957. Beruntung ular itu tak memakan korban dan berhasil ditangkap. Peristiwa unik itu berkaitan dengan seorang warga yang bermimpi didatangi lelaki tua. Dalam mimpi itu lelaki tua mengabarkan ada dua “putri” yang ingin terbang ke Jawa. Namun, bukannya sosok putri yang muncul, di dunia nyata warga justru mendapati dua ular raksasa yang tampak tenang meski dikerubungi 70 warga. Het nieuwsblad voor Sumatra edisi 11 September 1957 dan Algemeen Indisch Dagblad edisi 3 Oktober 1957 memberitakan bahwa ular yang dianggap suci oleh masyarakat lokal tersebut akhirnya ditangkap dan diangkut ke Kebun Binatang Surabaya. Mimpi si warga tentang perjalanan ke Jawa pun terwujud dengan cara tidak terduga.

  • Jalan Berliku Opsir Gatot Soebroto

    PAPAN berwarna hitam yang sudah kusam itu teronggok di atas sebuah peti kayu dan bersandar pada ujung kaki sebuah dipan lawas. Di papan itu tertulis sebuah lema bahasa Jawa yang kira-kira artinya dalam bahasa Indonesia “Prihatin”. Papan itu tersimpan di sebuah kamar tidur di rumah mendiang Jenderal Gatot Soebroto. Rumah di bilangan Jalan Brigjen Sudiarto, Ungaran, Jawa Tengah itu sejak 2021 sudah bertransformasi jadi museum pribadi. Lawrence Locsin Sardjono yang mengurus rumah-museum itu. Lawrence adalah salah satu cucu Gatot Soebroto dari anak ketiga pasangan Gatot dan Siti Soepiah, Nanang Bambang Sardjono. Ia sengaja menyimpan papannya di rumah itu sebagai pengingat bahwa kakeknya membuat rumah itu pada 1953 dalam keadaan batin yang tengah prihatin.

  • Gatot Soebroto Menumpas Gerakan Kiri

    MANTAN Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin jadi buronan setelah Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dipimpinnya berujung pemberontakan. Sekondan Amir, Munawar Musso, telah lebih dulu dieksekusi mati dalam pengejaran di Ponorogo pada akhir Oktober 1948. Gerakan Amir-Musso ini lebih dikenal sebagai Peristiwa Pemberontakan PKI Madiun. Di tengah pelariannya, Amir dan para pengikutnya semakin terdesak. Dari Madiun, rombongan Amir terus bergerak ke arah utara. Kondisi mereka memprihatinkan. Ada kalanya berhari-hari tidak makan, sementara harus turun-naik menyisir gunung dan bukit. Rombongan Amir akhirnya tertangkap di Desa Klambu, Purwodadi, Jawa Tengah pada 18 November 1948. Amir kemudian dibawa ke Solo dan dihadapkan kepada Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto. Meski termasuk buronan kelas kakap, tiada seorang pun dari kelompok Amir yang diborgol. Para tawanan diperlakukan dengan baik dan dijamu dengan layak.

  • Raja Tekstil dari Medan

    SEKALI waktu di masa akhir kekuasaannya, Presiden Sukarno mengalami kesulitan keuangan. Si Bung Besar lantas memanggil Mangil Martowidjojo. Diperintahkannya sang ajudan itu mengundang T.D. Pardede ke Istana. “He, Pardede, aku butuh duit untuk bayar utang dan beli cat,” kata Sukarno. Pardede lalu memberi Sukarno $1000 sembari menanyakan apakah jumlah tersebut masih kurang. “Wah, banyak amat,” jawab Sukarno. Dia kemudian hanya mengambil seperlunya.

  • Laga Ketua Gila Bola

    TANPA ragu, Herry Kiswanto menerima tawaran dari Tumpal Dorianus (T.D.) Pardede, pemilik klub sepakbola profesional Pardedetex. Dia pun hengkang dari Persib Bandung, klub yang sudah dibelanya selama beberapa musim. Pada 1979, Herry bertolak ke Medan dan memulai petualangannya sebagai pemain Pardedetex. Herry memilih Pardedetex bukan tanpa alasan. Dia merasa lelah dan tak fokus bermain bola ketika membela Persib Bandung, yang berlaga di Liga Perserikatan. Selain bermain di lapangan hijau, dia harus bekerja sebagai pegawai bank. Sementara Pardedetex berlaga di Liga Sepakbola Utama atau dikenal dengan sebutan Galatama. “Saya tertarik dengan Ketua (T.D. Pardede) yang memang gila bola. Dia berani keluar uang, tanpa pamrih untuk kemajuan sepakbola nasional,” ujar Herry Kiswanto kepada Historia.ID.

  • Filosofi Bisnis T.D. Pardede

    SEKOLAHNYA tidak tinggi tetapi lini usahanya ada di mana-mana. Orang-orang suka memanggilnya “Ketua”, yang dalam logat Medan dilafal “Katua”, yang berarti bos. Itulah Tumpal Dorianus Pardede, yang sohor sebagai “Raja tekstil dari Medan.” Pada masa jayanya, Pardede diakui sebagai salah satu pengusaha nasional terkaya di Indonesia. Bakat bisnis Pardede, yang lahir di Balige, 16 Oktober 1916 ini memang sudah terasah sejak dini. Di masa kanak-kanak, seperti terkisah dalam Apa dan Siapa Sejumlah orang Indonesia 1985—1986, Pardede suka bermain kelereng. Acapkali menang. Bahkan, sering pula Pardede muncul di pasar, menjual kelereng yang berlebihan itu. Dengan cara itulah, bocah Pardede mendapatkan uang jajan. Sebagian uang yang sisa, disimpannya sebagai tabungan. Pada usia tujuh tahun, Pardede membagi waktunya antara sekolah, berjualan, dan belajar agama.

  • Jerman Barat Terpasung Proyek Lampung

    SESI pertama rapat internal “Program Aksi Indonesia” yang dihadiri pejabat tinggi Jerman Barat pada akhir tahun 1964 secara khusus membahas arah politik Indonesia di masa Perang Dingin dan perkembangan hubungan pemerintahan Sukarno dengan Jerman Timur yang berada di bawah komando Uni Soviet. Republik Federal Jerman atau Jerman Barat, yang beraliansi dengan Sekutu, telah menjalin hubungan diplomatik dan memiliki kedutaan besar di Indonesia sejak tahun 1952. Sementara Republik Demokratik Jerman atau Jerman Timur mempunyai konsulat jenderal di Jakarta sejak Agustus 1960. Berbeda dengan Jerman Barat yang telah diakui lebih dari 100 negara, Jerman Timur hanya menjalin hubungan diplomatik dengan beberapa negara komunis. Bernd Schaefer mencatat dalam “The Two Germanys and Indonesia 1965/1966”, termuat di 1965: Indonesia and the World, Jerman Timur yang berupaya meyakinkan pemerintah Indonesia untuk mendirikan perwakilan resmi di Berlin Timur membina hubungan dengan pejabat, jurnalis, dan intelektual di Jakarta. Tak jarang mereka melancarkan propaganda melawan Kedutaan Besar Jerman Barat. “Jerman Barat yang kapitalis dengan cemas memantau aktivitas Jerman Timur di Jakarta dan khawatir bahwa langkah lebih lanjut Presiden Sukarno ke arah kiri, bersamaan dengan meningkatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI), mungkin akan mengarah pada peningkatan status diplomatik Jerman Timur,” tulis Schaefer. Memasuki dekade 1960-an, Bonn memandang pengaruh Pankow (sebutan untuk pemerintah pusat Jerman Timur) semakin meningkat di Indonesia. Duta Besar Jerman Barat di Jakarta, Dr. Luitpold Werz, yang mendapat informasi bahwa Indonesia akan memberi pengakuan terhadap Jerman Timur dalam waktu dekat, mendesak pemerintahnya untuk segera bertindak. “Kita dianggap sebagai ‘teman yang setengah hati’. Semua proyek besar akan dibatalkan jika kita hanya membiayai proyek-proyek kecil... Ada kekecewaan terkait proyek Lampung. Zona Pendudukan Soviet di Jerman (SBZ) telah mengajukan penawaran senilai 140 juta DM kepada Indonesia. Untuk mencegah terputusnya hubungan... bantuan ekonomi harus dilanjutkan... proyek Lampung harus diteruskan,” kata Werz dalam arsip notulensi rapat internal di Bonn, pada 22 Desember 1964. SBZ atau Sowjetische Besatzungszone merujuk pada wilayah Jerman Timur yang diduduki dan dikuasai oleh Uni Soviet. Jerman Barat menganggap Indonesia harus mendapat penanganan khusus agar tidak memberikan pengakuan hukum dan membuka hubungan diplomatik dengan Jerman Timur. Bonn mengambil langkah melalui bantuan ekonomi untuk merebut hati pemerintahan Sukarno. Salah satunya dukungan terhadap rencana pemerintah Indonesia membangun pabrik peleburan bijih besi di Lampung. Proyek Mercusuar Sukarno Till Florian Tömmel dalam Bonn, Jakarta und der Kalte Krieg: Die Außenpolitik der Bundesrepublik Deutschland gegenüber Indonesien von 1952 bis 1973 menyebut gagasan pembangunan pabrik peleburan bijih besi di Lampung muncul pada 1957/58. Pabrik tersebut direncanakan untuk memasok besi kasar (pig iron) ke pabrik baja yang akan dibangun di Cilegon dengan bantuan dana dari Uni Soviet. Pemilihan lokasi pabrik didorong oleh pertimbangan politik, karena ketiga wilayah terpenting di Indonesia yakni Jawa, Sumatra, dan Kalimantan harus dilibatkan dalam pengembangan industri baja. Rencana pembangunan pabrik di Lampung dan Cilegon merupakan upaya Indonesia untuk mengembangkan industri baja nasional yang berdikari. Proyek Lampung masuk tahap persiapan pembangunan setelah mendapat masukan positif dari para ahli Jerman Barat, yang melakukan penelitian dan eksplorasi sumber daya alam di wilayah tersebut. “Berdasarkan penelitian mereka, yang diselesaikan pada Juli tahun lalu, dapat disimpulkan bahwa keberadaan bijih besi di dalam tanah menawarkan peluang besar bagi pendirian industri baja di Indonesia,” kata Perdana Menteri Ir. Djuanda Kartawidjaja dalam surat kabar Algemeen Indisch Dagblad: De Preangerbode, 7 September 1957. Artikel di surat kabar Algemeen Indisch Dagblad De Preangerbode, 7 September 1957, membahas rencana Indonesia membangun pabrik peleburan bijih besi di Lampung. (Delpher). Para ahli Jerman Barat melaporkan, bijih besi yang terkandung di Lampung sangat cocok untuk industri, walau cadangannya hanya cukup untuk 30 tahun dengan produksi 30.000 ton per tahun. Hasil penelitian itu juga memuat catatan mengenai manfaat industri baja yang memungkinkan Indonesia tidak bergantung pada negara lain di masa-masa sulit, dan membuka peluang kerja yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan umum dan kondisi sosial. Laporan ahli Jerman Barat itu dipelajari oleh Dr. Subramanian, ahli dari Komisi Ekonomi PBB untuk Asia dan Timur Jauh, yang memberi respons positif. Berdasarkan penelitian teknis itu, pembangunan pabrik baja di Indonesia dapat dimulai segera setelah dana untuk pembiayaannya tersedia. “Pembiayaan proyek ini masih menjadi kendala bagi pelaksanaannya. Untuk memperoleh dana yang diperlukan, dapat dilakukan pinjaman dengan Jerman Barat, sementara sebagian dari pembayaran ganti rugi Jepang kepada Indonesia juga dapat dialokasikan untuk bagian ini,” kata Djuanda. Tömmel mencatat, gagasan agar Jerman Barat mendukung pembangunan pabrik peleburan bijih besi di Lampung pertama kali dikemukakan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Chairul Saleh saat berkunjung ke Jerman Barat. Pada Juli 1960, Chairul Saleh berdiskusi dengan Kanselir Jerman Barat, Ludwig Erhard, mengenai perluasan kerjasama ekonomi, setelah komite antarkementerian yang bertugas mengelola Jaminan Hermes, menyetujui permohonan korporasi Krupp AG pada 1960 untuk jaminan atas proyek Lampung sebesar 38 juta DM. Selain itu, dalam misi diplomatik yang dipimpin Dr. Hans-Joachim von Merkatz pada Januari 1961, Jaminan Hermes sebesar 100 juta DM kembali diberikan untuk Indonesia, yang menurut komunike penutup berkaitan dengan “proyek-proyek tertentu yang telah dibahas”. Bagi Indonesia, hal ini dianggap sebagai dukungan terhadap pembangunan pabrik peleburan bijih besi di Lampung. Kontroversi Proyek Lampung Meski begitu, proyek Lampung tak luput dari kontroversi. Perbedaan kepentingan antara Jerman Barat dan Indonesia, serta kementerian-kementerian di Bonn, membuat eksekusi proyek ini jalan di tempat. Kunjungan delegasi Jerman Barat ke Indonesia pada November 1961 tidak menghasilkan keputusan akhir. Di lain pihak, keraguan terhadap proyek tersebut semakin meningkat di kalangan pejabat Bonn. Imbasnya Komite Hermes menolak permohonan jaminan tambahan dari Krupp AG sebesar 68 juta DM pada Februari 1962, walau sembilan bulan kemudian komite antarkementerian yang mengelola jaminan tersebut, menyetujui permohonan Krupp AG sebesar 42,5 juta DM. Sejumlah pejabat di Bonn ragu dengan proyek Lampung karena jarak yang jauh antara pabrik peleburan bijih besi tersebut dengan pabrik baja yang akan dibangun di Cilegon, yang hanya dapat ditempuh melalui jalur laut. Kondisi ini menimbulkan biaya tambahan yang tinggi karena infrastruktur Indonesia masih kurang memadai. Pemilihan Lampung sebagai lokasi pabrik juga dipermasalahkan. Alasan awal pemilihannya karena dugaan adanya cadangan bijih besi yang besar di sekitarnya. Namun, hasil eksplorasi menunjukkan cadangan bijih besi di Sumatra Selatan hanya 2 hingga 3 persen dari jumlah yang diperkirakan sebelumnya. Menurut Kementerian Ekonomi Federal, tidak masuk akal membangun pabrik tanur tiup berdasarkan cadangan bijih besi yang begitu sedikit. Pabrik yang direncanakan juga tidak akan menguntungkan karena, dibanding biaya pembangunan dan operasional, produksi besi kasarnya akan jauh terlalu sedikit. Perusahaan Jerman, Ruhr-Consulting, yang merancang pabrik Lampung pun menyoroti rasio yang tidak menguntungkan antara biaya produksi dengan harga pasar dunia. Biaya besi kasar yang diproduksi di Indonesia diperkirakan sekitar 60 persen lebih tinggi daripada harga besi kasar impor. “Ada argumen strategis lain yang menentang dukungan Jerman Barat terhadap pabrik tersebut, yakni pabrik itu direncanakan sebagai fasilitas pendahulu bagi pabrik baja yang dibangun oleh Uni Soviet di Jawa; sehingga manajemen Soviet di sana akan mampu ‘mendiskreditkan hasil produksi tanur tiup di Lampung sesuka hati’,” tulis Tömmel. Chairul Saleh dalam surat pada November 1962 dan Januari 1963, mengakui adanya beberapa kesulitan dalam proyek Lampung. Walau begitu, dia menegaskan kembali niat pemerintahan Sukarno untuk melanjutkan pembangunan pabrik itu. Bahkan, dia mengusulkan kepada Ludwig Erhard agar, di luar anggaran yang pada prinsipnya telah disetujui yaitu 42,5 juta DM, diberikan tambahan Jaminan Hermes sebesar 19 juta DM dan 19 juta DM bantuan modal, yang keduanya berasal dari janji Hans-Joachim von Merkatz tahun 1961. Sebagai respons atas permintaan Chairul Saleh, seorang ahli dari Kementerian Ekonomi Federal, Walter Solveen diutus ke Indonesia guna melakukan penilaian. Tugas utamanya sesungguhnya meyakinkan pemerintah Indonesia untuk tidak melanjutkan proyek Lampung. Namun, hingga perjalanan dinas selesai pada Desember 1962, Solveen gagal dalam misinya. Dibayangi Ancaman Jerman Timur Sikap Bonn yang tidak pasti terhadap proyek Lampung dikritik Kementerian Luar Negeri Jerman Barat, yang menganggap kepentingan politik di Indonesia jauh lebih penting dari pertimbangan ekonomi dalam proyek tersebut. Dengan demikian, menolak permintaan Indonesia dalam proyek Lampung akan memperburuk hubungan dengan Jakarta. Kedutaan Besar Jerman Barat di Jakarta gigih memperjuangkan dukungan bagi proyek Lampung, karena khawatir akan siasat Jerman Timur untuk mendapat pengakuan hukum dan membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Pada akhir Juni 1963, Chairul Saleh kembali mengunjungi Bonn. Dia menyatakan kesediannya untuk tidak lagi menuntut bantuan modal dari Jerman Barat bagi proyek Lampung, tetapi tetap bersikeras agar Jaminan Hermes untuk Indonesia bisa segera diproses. “Di Kementerian Luar Negeri, ada kekhawatiran penolakan dukungan terhadap ‘urusan yang sangat dipedulikan’ Saleh, yaitu Lampung, dapat menyebabkan kejatuhannya dan memperkuat posisi pemimpin Partai Komunis Indonesia, Dipa Nusantara Adit. Sukarno pun mengisyaratkan, penarikan diri Jerman Barat dari pendanaan Lampung dapat membuatnya begitu marah, sehingga dia tidak lagi merasa terikat pada janji-janji terkait pengakuan terhadap Jerman Timur. Asosiasi-asosiasi ekonomi mengungkapkan kekhawatiran mereka bahwa penolakan itu tidak hanya akan berdampak negatif pada hubungan politik, tapi juga pada hubungan ekonomi dengan Indonesia,” tulis Tömmel. Selain meminta bantuan Jerman Barat untuk proyek Lampung, Indonesia sempat mengupayakan dukungan dari sebuah grup perusahaan Prancis, namun Paris menolak memberikan jaminan negara untuk proyek tersebut. Kontroversi dukungan Jerman Barat terhadap proyek Lampung belum hilang. Rapat demi rapat diselenggarakan untuk membahas hal ini. Beberapa pihak memandang bantuan ekonomi yang diberikan Bonn tidak seharusnya digunakan untuk membangunan “monumen nasional” kebijakan industri yang tidak diperlukan. Silang pendapat mengenai sikap yang harus diambil Jerman Barat bahkan membuat berkas Lampung beberapa kali diajukan ke Kabinet Federal untuk diambil keputusan. Sementara itu, pada pertengahan tahun 1964, pemerintah Indonesia kembali mengajukan permohonan kepada Jerman Barat agar jaminan untuk Lampung ditingkatkan dari 42,5 juta DM menjadi 80 juta DM. Meski Kementerian Luar Negeri mendesak agar permintaan tersebut segera dipenuhi, tetapi Kementerian Ekonomi tidak menyetujuinya. Di Indonesia, pada Maret 1965, delegasi yang dipimpin Menteri Keuangan Muhammad Hassan dan Wakil Menteri Luar Negeri Oemarjadi berangkat menuju Bonn untuk menegosiasikan batas kredit sebesar 100 juta DM serta membahas kelanjutan proyek Lampung. Oemarjadi menegaskan, alasan terpenting dari kunjungannya adalah keterlibatan Jerman Barat dalam proyek Lampung. Sebab, keberlanjutan proyek tersebut sudah menjadi urusan nasional, bukan lagi soal keuntungan ekonomi. Pihak Indonesia meminta agar peningkatan jaminan untuk proyek Lampung diberikan secara terpisah, tidak diambil dari batas kredit khusus sebesar 100 juta DM yang ditetapkan pada Januari 1965. Menteri Luar Negeri Jerman Barat Gerhard Schröder mendukung partisipasi Jerman Barat dalam pembangunan pabrik peleburan bijih besi di Lampung. Pada rapat 17 Maret 1965, Schröder berusaha meyakinkan rekan-rekannya untuk menyetujui perluasan jaminan pemerintah federal bagi proyek tersebut. Alasan kepentingan politik di Indonesia akhirnya mendorong para menteri menyetujui peningkatan batas jaminan untuk proyek Lampung menjadi 80 juta DM, sementara Menteri Kerja Sama Ekonomi Walter Scheel, memilih abstain. Setelah persetujuan peningkatan batas jaminan, delegasi Jerman Barat yang dipimpin Walter Solveen berkunjung ke Indonesia pada Mei 1965. Kedatangan Solveen untuk menilai perkembangan dan prospek proyek Lampung, yang menurut laporannya tidak mengalami perubahan signifikan. Sementara itu, Hassan dan Oemarjadi meminta Kedutaan Besar Jerman Barat di Jakarta untuk menaikkan batas kredit yang baru saja diberikan dari 100 menjadi 120 juta DM. Lagi-lagi, Duta Besar Werz menyarankan Kementerian Luar Negeri untuk segera menyetujuinya “demi mempertahankan posisi Bonn”. “Menteri Schröder umumnya mendukung proposal kementeriannya pada tahun krisis 1965; di hadapan rekan-rekan menterinya, dia mendukung pemberian dana tambahan kepada Indonesia. Intervensi sesekali datang dari pihak Inggris dan Australia terhadap dukungan Bonn untuk proyek Lampung... tapi tampaknya tidak mengganggu Pemerintah Federal dan Kementerian Luar Negeri,” tulis Tömmel. Arsip notulensi rapat internal pejabat Jerman Barat di Bonn pada Desember 1964. Proyek Lampung Setelah G30S 1965 Terlepas dari persetujuan yang diberikan Jerman Barat terhadap proyek Lampung, peristiwa Gerakan 30 September 1965 menyebabkan proyek besar untuk mengembangkan industrialisasi nasional itu terhenti. Setelah peralihan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto, Tömmel yang mengutip pernyataan Duta Besar Jerman Barat untuk Indonesia Hans-Joachim Hallier, menulis bahwa proyek Lampung akhirnya dibangun pada masa Orde Baru dengan keterlibatan perusahaan-perusahaan Jerman. Pabrik peleburan bijih besi dibangun di Desa Sindangsari, Tanjung Bintan, Lampung. Pabrik tersebut diresmikan Presiden Soeharto pada 14 Juli 1984. Menurut M. Toyib, Direktur Industri Logam Dasar, Departemen Perindustrian, rencana pembangunan pabrik peleburan bijih besi di Lampung didasarkan pada penyelidikan mengenai bijih besi di provinsi itu yang sudah dilakukan sejak lama. Pada 1960-an, kerjasama dengan Jerman Barat untuk membangun proyek semacam ini telah diupayakan, namun “rencana itu batal oleh beberapa pertimbangan teknis,” tulis Tempo, 28 Juli 1984. Dalam pidato peresmian penggunaan proyek irigasi Way Rarem, Jembatan Way, Tulang Bawang dan pabrik peleburan bijih besi, Soeharto menyampaikan, pabrik penghasil besi cor yang merupakan bahan baku utama untuk industri pengecoran logam itu merupakan hasil karya rakyat Indonesia dengan menggunakan arang kayu sebagai bahan bakarnya. Dia mengatakan, pembangunan pabrik di Lampung menjadi awal dari pembangunan pabrik semacam itu di tempat lain, sehingga Indonesia dapat meningkatkan produksi besi cor guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri tuangan. “Sampai saat ini, kebutuhan bahan baku industri pengecoran logam kita, masih kita impor... Dengan adanya pabrik ini, maka sebagian dari besi cor yang kita perlukan akan dapat kita hasilkan sendiri. Saya berharap agar pabrik ini dapat merupakan pabrik percontohan, pabrik tempat pengembangan teknologi pengolahan besi, tempat melatih tenaga terampil dan tempat memperkenalkan teknologi tepat guna pada para pengusaha di bidang ini,” kata Soeharto.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page