top of page

Hasil pencarian

Search this site

9978 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Layar Lebar Chadwick Boseman

    TAK hanya “Wakanda”, para penggemar Marvel di segala penjuru bumi diguncang kedukaan dengan wafatnya Chadwick Aaron Boseman. Sang Raja T’Challa alias Black Panther itu mengembuskan nafas terakhir pada Jumat, 28 Agustus 2020, di usia 43 tahun karena kanker usus besar. Boseman yang kondang dengan peran itu di film-film franchise MCU, Captain America: Civil War (2013), Black Panther (2018), Avengers: Infinity War (2018), dan Avengers: Endgame (2019) sudah masuk dunia “showbiz” sejak 2003 lewat serial televisi Third Watch. Seni peran sudah jadi minat sosok kelahiran Anderson, 29 November 1976 itu sejak sekolah di SMA T.L. Hanna pada 1995. Dia mengawalinya sebagai sutradara teater sekolahnya. Selepas lulus pun Boseman mengejar pendidikan tinggi di bidang yang sesuai minatnya, sinematografi, di Universitas Howard, Washington DC dan kemudian turut dalam Program Mid-Semester Musim Panas Oxford di British American Drama Academy.

  • Jejak Kak Seto

    KETUA Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, yang dikenal sebagai Kak Seto, dihujat karena peduli kepada anak-anak Putri Candrawathi dan Ferdy Sambo. Maklum Ferdy Sambo dan istrinya sedang menjadi “musuh bersama” masyarakat karena terlibat dalam pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat. Kak Seto khawatir dengan anak-anak Putri dan Ferdy Sambo. Dia mendengar anak mereka yang remaja menjadi sasaran perundungan (bullying). Sementara anak yang paling kecil masih membutuhkan air susu ibu. Putri pun tidak ditahan dengan alasan kemanusiaan. Sehingga masyarakat membandingkan perlakuan terhadap Putri dengan ibu-ibu dari masyarakat biasa yang dipenjara bersama anak-anaknya. Publik juga menilai kepedulian Kak Seto hanya kepada anak-anak Putri dan Ferdy Sambo. Kak Seto bukan “anak kemarin sore” dalam membela anak-anak Indonesia. Kehadiran orang-orang yang peduli kepada anak-anak seperti Kak Seto selalu dibutuhkan mengingat hak-hak anak kerap dilanggar bahkan oleh orang tuanya sendiri.

  • Ahmad Subardjo Menteri Urusan Diplomasi

    RUMAH besar bergaya arsitektur kolonial di Jl. Cikini 82, Jakarta Pusat kerap menjadi tempat resepsi pernikahan dengan nuansa estetis. Rumah itu juga disewakan untuk pameran hingga pertunjukan seni dan budaya. Sejak tahun 2024, rumah itu memang telah difungsikan sebagai ruang publik komersial. Namun, tak banyak orang tahu, rumah itu menyimpan memori sejarah berdirinya Republik Indonesia. Di rumah itulah Kementerian Luar Negeri Indonesia mula-mula menjalankan tugasnya. Pemiliknya adalah Ahmad Subardjo, menteri luar negeri pertama. Demi kepentingan negara, dia menjadikan rumahnya sebagai kantor departemen luar negeri. Lhaksmi Pujiwati Insia, putri sulung Ahmad Subardjo kelahiran 23 Juni 1936, masih ingat masa-masa di Cikini 82 ketika ayahnya bertugas sebagai menteri luar negeri. Sebagai anak menteri, keluarganya hidup biasa-biasa saja tanpa perlakuan khusus atau privilese dari negara. Meski demikian, keluarga mendukung sepenuhnya usaha Ahmad Subardjo sebagai abdi negara tanpa pamrih. Apalagi, saat itu masih dalam suasana genting perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

  • Jejak Multatuli Setelah Meninggalkan Lebak

    DI atas kapal uap yang berlayar menuju Singapura, Eduard Douwes Dekker terkenang masa-masa bertugas di Hindia Belanda. Dia baru saja mengundurkan diri sebagai Asisten Residen Lebak. Saat itu tahun 1857 dan dia tak bisa tinggal lebih lama tanpa pekerjaan. Pria berusia 30-an itu memiliki keluarga dan utang. Dia tak memiliki banyak uang untuk membawa keluarganya ke Eropa, sehingga dia berangkat sendiri sementara keluarganya tetap tinggal di wilayah koloni. Pada akhir Mei atau awal Juni, Dekker tiba di Marseille, titik awal perjalanan keliling Eropa. Selain Prancis, Italia dan Jerman masuk dalam daftar yang hendak dikunjunginya. Ketiganya merupakan pusat perkembangan politik dan sosial yang pesat setelah revolusi sepanjang tahun 1848 hingga 1849. Dekker hidup berpindah-pindah. Akibatnya, kontak dengan istrinya, Everdine, jarang terjadi. “Saat itu, dia belum melangkah lebih jauh dari beberapa rumah judi di Eropa. Kini, karena untuk sementara dia menjalani hidup sebagai duda yang belum menikah lagi... dia bisa membiayai petualangannya... Selama perjalanan, dia tidak sering mendapatkan pelajaran tentang gaya penulisan, tetapi justru lebih banyak pelajaran hidup,” tulis Paul van ‘t Veer dalam Het Leven van Multatuli.

  • Krakatau Tak Pernah Selesai

    KETIKA Gunung Krakatau meletus hebat pada 27 Agustus 1883, laut datang menerjang dengan kekuatan yang sulit dibayangkan manusia. Jejak amukannya kini masih tertinggal di Rawa Gribig, Tanjung Lesung. Jauh dari garis pantai, di tengah rawa dan hutan bakau, ratusan bongkah koral berserakan. Ukurannya pun luar biasa, dengan beberapa bongkah hampir mencapai lima meter. Di bawah lumpurnya tersimpan endapan pasir tsunami setebal hingga setengah meter dan batu apung dari letusan gunung. Ratusan bongkah koral itu menjadi semacam monumen alam bagi bencana besar yang telah berlalu lebih dari satu abad. Tetapi semakin lama melihat Krakatau, semakin terasa bahwa 1883 bukanlah titik akhir. Krakatau bukan sekadar gunung yang meletus pada 27 Agustus 1883. Ia adalah sistem gunung api yang berulang kali mengubah lanskap Selat Sunda. Sebagian jejaknya tersimpan dalam naskah, sebagian dalam tanah dan dasar laut, sebagian lagi dalam ingatan manusia.

  • Maestro Gamelan di Kiri Jalan

    PADA 1893, Slamet Soekari lahir di Surakarta. Karena berasal dari keluarga miskin, Soekari tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Sejak umur 12 tahun ia telah menjadi abdi dalem karawitan dan hidupnya bergantung pada keraton Surakarta. Setelah menempa ilmu karawitan bertahun-tahun, sekitar tahun 1912, Slamet dianugerahi gelar pangkat jabatan menengah, Raden dan nama baru Pontjopangrawit. Pangrawit adalah jabatan bagi ‘nayaga terkemuka yang bersangkutan dengan karawitan’. Sedangkan nama Pontjo dipilihnya sendiri. Pontjopangrawit kemudian bergabung dengan lembaga Pananta Dibya yang berdiri tahun 1914. Lembaga ini bertujuan untuk memperbaiki dan menyusun kembali praktik-praktik serta upacara seni pagelaran keraton. Selain itu, lembaga ini juga aktif dalam diskusi-diskusi politik. Hubungan Pontjopangrawit dengan politik kelak membawanya ke kamp Digul hingga pusaran tragedi 1965.

  • Kisah Tiga Pilot AURI

    KOLONEL Alex Evert Kawilarang tengah berunding dengan Jenderal Mayor KNIL Schaffelaar di Makassar pada Agustus 1950. Tiba-tiba muncul dua pesawat Bomber B-25 melintas di atas kota dan menembaki kampemen KIS, tangsi KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger), dengan peluru berkaliber 12,7. “Bagaimana bisa bicara tentang cease fire (gencatan senjata) kalau dua kapal terbang terus menembak?” tanya Schaffelaar. Kawilarang tak hilang akal. “Penghentian tembak-menembak baru pada waktu mulai cease fire,” kata Kawilarang. Tak hanya tembak-menembak yang kemudian berhenti, para serdadu KNIL pun dikosongkan dari kota Makassar sehingga Makassar pun damai. Begitu tercatat dalam otobiografi AE Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih.

  • Ben Anderson Lebih Dari Sekadar Indonesianis

    SUATU pagi bulan September yang dingin di Desa Freeville, di dekat kota Ithaca, New York bagian atas, saya berjumpa dengan Ben Anderson terakhir kali. Saya diundang oleh Cornell Southeast Asia Program (SEAP) untuk bicara soal pembantaian 1965. Pihak SEAP sebetulnya menyediakan hotel. Namun, saya memilih menghubungi Om Ben (begitu kami memanggilnya) dan meminta apakah saya boleh menumpang di rumahnya. Jawabannya sangat antusias,“Of course I will be delighted if you would like to stay at my old house. Ben Abel is very happy too, and probably we will talk and talk and talk.” Ben Abel adalah kompanyon terdekat Ben Anderson. Dia adalah juga sahabat terdekat saya di Ithaca. Karena di sekitar Cornell itu banyak sekali nama Ben, orang kadang bingung untuk membedakannya. Benny anak angkatnya Ben Anderson juga dipanggil Ben. Ada Benny satu lagi yang mahasiswa. Kemudian ada Benny yang lain yang menjadi visiting scholar. Karena itu, keisengan pun muncul. Ben Anderson sering dipanggil Benson. Lalu Ben Abel dipanggil apa? Bensin. Tapi kemudian panggilan ini berubah. Ketika anak pertamanya lahir, dia kami panggil Benali –Ben bapaknya Ali. Kunjungan singkat saya ke Ithaca itu ternyata tidak memberi kesempatan kepada saya untuk bicara banyak dengan Om Ben. Dia sibuk menyelesaikan manuskrip buku terbarunya. Saya sendiri sibuk dengan persiapan berbicara dan mengunjungi teman. Namun, pagi sebelum acara di SEAP saya sempat bicara agak lama di dapur rumahnya. Ini adalah tempat yang paling dikangeni oleh banyak orang yang mengenal Ben. Di sinilah pertukaran ide, informasi, lelucon, dan sekian banyak desas-desus itu berlangsung. Tentu sambil makan enak dan minum yang enak.

  • Indonesianis Ben Anderson Berpulang

    BENEDICT Richard O’Gorman Anderson atau biasa disapa Ben Anderson meninggal dunia di Batu, Malang, 13 Desember 2015. Dia yang lahir di Kunming, Tiongkok, 26 Agustus 1936, meninggal di usia 79 tahun. Dua hari sebelumnya, Ben masih sempat memberikan kuliah umum bertajuk “Anarkisme dan Nasionalisme” di Universitas Indonesia. Kuliah umum ini terkait dengan bukunya yang belum lama terbit, Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial, diterbitkan oleh Marjin Kiri. Ronny Agustinus, editor Marjin Kiri, menulis dalam akun facebook-nya, bahwa pada 2007, Ben Anderson ingin mengunjungi Marjin Kiri. Sewaktu Ronny menjemputnya dari bandara Sukarno-Hatta menuju daerah Serpong, dia melihat iklan lapangan golf.

  • Kala Pesawat Jet Mengudara Perdana

    LANGIT masih gelap ketika sekelompok kecil orang sibuk mempersiapkan proyek prestisius di lapangan terbang Marienehe, Rostock, Jerman pada 27 Agustus 1939. Selain tidak ingin diketahui publik, persiapan sengaja dilakukan di pagi buta agar keamanan lebih terjaga. Maklum, kesiagaan di Jerman telah ditingkatkan seiring negeri itu hendak menyerang Polandia, yang membuka Perang Dunia II. Di antara yang sibuk menjelang pukul 04 pagi itu, ada Erich Warsitz, seorang test-pilot perusahaan pembuat pesawat Heinkel Flugzeugwerke. Dia mengecek segala kesiapan pesawat yang akan dipilotinya. Lantaran penerbangannya bakal menjadi penerbangan perdana untuk sebuah jenis pesawat, pengecekan dilakukan ketat. Warsitz pun dibuatnya jadi gelisah. “Menjadi perokok berat, saya akan menyalakan beberapa batang rokok tambahan sebelum penerbangan seperti itu, dan itu dipakai terutama ketika, menetap di kokpit setelah sinyal siap, mesin diperiksa untuk terakhir kalinya dan seseorang akan berteriak: “Berhenti, matikan, ada katup yang longgar di sini!” Kemudian saya harus turun lagi. Ini membuat seseorang gelisah!” ujar Warsitz sebagaimana dikutip anaknya, Lutz Warsitz, dalam The First Jet Pilot: The Story of German Test Pilot Erich Warsitz.

  • Lotere untuk PON

    PERSIAPAN PON VII tahun 1969, ajang olahraga empat tahunan yang pertama di masa Orde Baru, nyaris tak bisa digelar. Maklum, kondisi politik dan ekonomi belum sepenuhnya stabil. Tak heran jika banyak daerah menolak menjadi tuan rumah dengan alasan tak punya dana. Di Jawa Timur, setelah Gerakan 30 September 1965, Operasi Trisula menghancurkan berbagai unsur Partai Komunis Indonesia. Menurut Pangdam VIII/Brawijaya, M. Jassin, Operasi Trisula dan peng-Orba-an di Jawa Timur berhasil. “Atas hal ini, Sultan Hamengkubuwono IX, selaku ketua KONI Pusat, menunjuk Jawa Timur sebagai tuan rumah PON pertama di era Orde Baru,” kata Jasin dalam memoarnya, M. Jassin, Saya Tak Pernah Meminta Ampun Kepada Soeharto.

  • Ketika Gula Berjaya di Clappa-doa

    CATATAN perdagangan milik pemerintah Inggris untuk Hindia Timur menyisakan teka-teki tentang aktivitas jual-beli gula dan tebu para pedagang Tionghoa di Banten. Arsip yang tersimpan di India Office Records, London, Inggris itu menyebut sebuah tempat di Kesultanan Banten: “Clappa-doa” (Kelapadua), yang menjadi pusat kegiatan ekonomi orang-orang Tionghoa di sana. Kelapadua sendiri saat itu merupakan perkampungan yang sebagian besar diisi oleh orang-orang Tionghoa. Sebagai pedagang, masyarakat di sana memilih untuk menanam tebu dan mengolahnya menjadi gula. Bahkan ketika arus perdagangan sedang ramai oleh lada dan pala, para pengusaha Tionghoa di Kelapadua tidak ikut latah. Itulah pemerintah Inggris memanfaatkan mereka. Dalam arsip tertua pemerintah Inggris di Banten (1635), hubungan dagang antara pihaknya dengan orang-orang Tionghoa dan Kesultanan Banten telah teralin baik. Hampir tidak ada konflik yang terjadi. Hasil pertanian yang diperdagangkan sebenarnya cukup beragam, tetapi bagi pedagang Tionghoa gula menjadi yang utama.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page