top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sukarno Ditembak Pistol FN di Istana

    SEORANG perempuan mencoba menerobos ke Istana Negara di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (25/10). Dia menodongkan pistol jenis FN ke anggota Paspampres yang berhasil merebutnya dan menangkap perempuan itu. Perempuan itu kemudian dibawa ke Subdit Keamanan Negara Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya untuk diperiksa secara intensif. Sebelumnya, pada 31 Maret 2021 seorang perempuan masuk ke Markas Besar Kepolisian. Dia menembak polisi yang berjaga. Perempuan bernama Zakia itu tewas ditembak anggota polisi. Penyusupan ke Istana pernah terjadi pada masa Presiden Sukarno. Mereka berhasil masuk bersama para jemaah yang akan melaksanakan salat Iduladha di halaman Istana Merdeka pada 14 Mei 1962. Ketika masuk penghabisan rakaat kedua, seorang lelaki melepaskan tembakan ke arah barisan depan. Sasarannya Sukarno.

  • Herman Pieters Panglima Kesayangan Sukarno

    ORANG-orang Ambon terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 1945–1949. Mereka berhimpun dalam Pasukan Pattimura yang dibentuk pada Februari 1947 di Malang dengan Komandan dr. Pattiradjawane dan Kepala Staf dr. Siwabessy. Sementara Kepala Operasi adalah Herman Pieters dan wakilnya Minggus Nanlohy. Herman Pieters lahir di Ambon pada 17 Desember 1924. Sebelum revolusi kemerdekaan, lulusan sekolah elektro Surabaya ini bekerja di perusahaan listrik di Surabaya. Ia dan banyak pemuda Ambon berjuang mendukung Republik Indonesia di Jawa Timur, meski mereka tahu banyak orang Ambon yang menjadi korban karena dituduh berada di pihak Belanda. Setelah tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia pada 1950, Herman Pieters dan banyak pemuda Ambon tetap menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Bahkan, ada pula bekas KNIL asal Ambon yang masuk TNI. Mereka dikirim ke Maluku untuk menumpas Republik Maluku Selatan (RMS).

  • Sukarno dan Jenggot Fidel Castro

    SELAIN Asia dan Afrika, Presiden Sukarno juga menjalin persahabatan dengan pemimpin negara-negara Amerika Latin. Pergaulan terjalin lantaran kesamaan pandangan anti kolonialisme dan imperialisme. Tidak melulu soal politik, Sukarno juga mengagumi cara berpenampilan salah satu pemimpin negara Amerika Latin yaitu Juan Peron dari Argentina. Menurut Guntur, putra sulung Bung Karno, Presiden Argentina Juan Peron adalah pemimpin dari Amerika Lartin yang paling parlente di mata Sukarno. Juan Peron memang populer bagi masyarakat Argentina. Dia menjadi presiden Argentina untuk tiga periode masa jabatan (1946—1952, 1952—1955, dan 1973—1974). Juan Peron yang berlatar belakang militer ini dikenal tampan dan berpenampilan rapi –sepertinya halnya Sukarno. Bila Juan Peron dijunjung dengan selera penampilannya yang bagus, maka berbanding terbalik dengan Fidel Castro. “Kalau yang paling ‘brengsek’ cara berpakaiannya adalah Sang ‘Maximo Lider De La Revolution De Cuba’ atau ‘Pemimpin Besar Revolusi Kuba’ Fidel Castro,” ujar Guntur dalam Bung Karno & Kesayangannya. Dalam artian, Fidel Castro sama sekali tidak peduli perkara penampilan.

  • Barisan Jenggot Berbahaya

    LASKAR atau barisan perjuangan memainkan peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Mereka dibentuk di berbagai daerah di seluruh Indonesia dengan nama-nama yang menarik. Seperti Barisan Jenggot di Kalimantan. Dari namanya, badan perjuangan ini terdiri dari para ulama dan pengikutnya. Barisan Jenggot (Barisan Ulama), menurut Sulaiman Al-Kumayi dalam Islam Bubuhan Kumai, bermarkas di Masjid Besar al-Baidha, Kumai, selama perjuangan mengusir penjajah Belanda. Pada 14 Januari 1946, tentara Belanda (NICA atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) masuk Kalimantan. Mereka berjumlah kurang lebih 250 orang dengan senjata lengkap menumpang lima kapal. Mereka menyerang daerah Kota Waringin.

  • Kisah Orang Lampung di Boven Digoel

    DEPOK diliputi ketegangan. Beredar kabar adanya pergerakan kaum komunis dari arah Sawangan menuju Depok, pertanda sesuatu yang besar akan segera terjadi. Di tengah situasi itu, seorang tokoh komunis terkenal asal Lampung dilaporkan telah tiba di sana sebelum keberadaannya akhirnya terendus oleh pemerintah kolonial pada malam 24 November 1926. “Pria tersebut memiliki nama yang terdengar indah, yaitu Mohamad Sjahmin Pandjinegara yang merupakan seorang kenalan lama polisi,” catat De Nieuwe Vorstenlanden 25 November 1926. “Tujuan kedatangan pria ini sangat jelas sehingga tidak ada keraguan tentang hal itu. Karena itu, pengawasan ketat tetap mutlak diperlukan.” Kecurigaan terhadap Sjahmin tidak muncul begitu saja. Setelah menggagalkan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di sejumlah daerah, termasuk di Jawa Barat (Batavia dan Banten), pada November 1926, dinas intelijen politik Belanda (PID) memburu orang-orang komunis. Pengawasan juga diperketat di wilayah-wilayah yang berpotensi menjadi basis pergerakan, logistik, dan tempat pelarian.

  • Habis Peristiwa 9/11, Terbitlah Debu dan Udara Beracun

    TRAGEDI 11 September 2001 (9/11) –serangan ke menara kembar World Trace Center (WTC) di New York dan Pentagon di Washington– sudah 25 tahun berlalu, namun Pemerintah Kota New York baru merilis ratusan ribu arsip yang selama ini dilupakan. Walikota New York Zohran Mamdani sengaja merilisnya untuk menyingkap kebenaran. Beberapa hari sebelum peringatan 25 tahun Peristiwa 9/11, Walikota Mamdani merilis 170 ribu halaman dokumen terkait tingkat bahaya kualitas udara yang beracun di sekitar ground zero Peristiwa 9/11. Tak lama setelah kejadian, otoritas kota saat itu menutupi fakta bahwa udara masih dalam level aman.Padahal, data internal mereka dan apa yang dialami para warga di sekitar ground zero berkata lain. “Hal terkecil dari kota ini berutang kepada keluarga (korban), penyintas, dan penanggap pertama yang kehidupannya berubah oleh serangan 11 September adalah transparansi dan akuntabilitas. Itulah mengapa saya dengan bangga bahwa pemerintahan kami telah merilis portal arsip publik kota pertama yang didedikasikan untuk dampak 9/11 terkait lingkungan dan kesehatan. Sudah terlalu lama, para warga New York bertarung mendapatkan akses terhadap arsip-arsip yang semestinya tersedia bagi mereka sejak awal,” ujar Mamdani, di laman resmi pemerintah kota New York, 8 September 2026.

  • Secuil Cerita Jenaka dari Cianjur Semasa Pendudukan Saudara Tua

    GEMPA bumi berkekuatan 5,6 magnitudo mengguncang Cianjur pada Selasa, 21 November 2022. Selain menyebabkan longsor, gempa juga merusak banyak bangunan, rumah, dan fasilitas umum. Lebih dari 50 ribu rumah rusak ringan hingga berat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 25 November 2022, jumlah korban jiwa 310 orang, lebih dari 2000 orang luka, dan lebih dari 60 ribu orang mengungsi. Cianjur, yang berada di kawasan pegunungan, memang kerap dilanda gempa. Sejak abad ke-19 hingga kini tercatat setidaknya 14 gempa merusak di Cianjur. Selain gempa kali ini, gempa yang juga merusak terjadi pada 1879. Namun, di sisi lain, Cianjur bertanah subur. Kopi Cianjur merupakan kopi pertama yang berhasil dipanen ketika Kongsi Dagang Hindia Timur VOC berupaya membudidayakan tanaman itu di beberapa tempat di Jawa. Selain kopi, beras Cianjur dikenal tinggi mutunya sejak lama. Beras Cianjur itulah yang selalu dijadikan buah tangan oleh Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang kemudian dijuluki “Raja Mobil Indonesia”, ketika hilir-mudik Cianjur-Jakarta semasa akhir pendudukan Jepang.

  • Ibu Kota Pindah dari Cianjur ke Bandung

    GEMPA berkekuatan magnitudo M5,6 mengguncang Cianjur, Jawa Barat, pada Selasa, 21 November 2022. Gempa ini mengakibatkan banyak rumah dan bangunan hancur, tanah longsor, dan menelan korban meninggal dunia 271 orang. Sejarah mencatat, bencana alam berupa gempa dan gunung meletus kerap melanda Cianjur. Bahkan, bencana alam mengakibatkan Cianjur tak lagi menjadi ibu kota Keresidenan Priangan. Cianjur berstatus sebagai ibu kota Priangan sejak tahun 1677 di bawah kekuasaan VOC. Bencana alam seperti gempa pada 1834 dan 1844 yang merusak Cianjur kemudian mendorong pemerintah kolonial Belanda memindahkan ibu kota Priangan dari Cianjur.

  • DPA Bukan Dewan Pensiunan Agung

    SEPANJANG masa kekuasaan Orde Baru, citra Dewan Pertimbangan Agung (DPA) tak seagung namanya. Akronimnya kerap dipelesetkan menjadi “Dewan Pensiunan Agung” atau yang lebih parah lagi “Diam Pasti Aman”. Laksamana Soedomo, ketua DPA periode 1993-1998, bukannya tidak menyadari gunjingan terhadap lembaga yang pernah dipimpinnya itu. Kelakar masyarakat soal DPA sebagai Dewan Pensiunan Agung seolah jadi lumrah. “Ini tidak bisa disalahkan, karena rakyat yang merasa telah membayar pajak cukup banyak, ingin tahu juga apa sih kerja DPA,” kata Sudomo sambil tersenyum setelah dilantik menjadi ketua DPA, dikutip dalam Majalah Dharmasena, No 6, Juni 1993. Senyapnya suara DPA, menurut Soedomo, tidak dapat dipersalahkan. Sebab, “diamnya” mereka terikat pada tata tertib atau ketentuan yang berlaku. DPA periode 1988-1993 pimpinan Jenderal Maraden Panggabean setidaknya telah menghasilkan 38 pertimbangan untuk Presiden Soeharto dan 11 permasalahan yang masih dalam pembahasan. Masalah itulah yang menjadi agenda DPA periode Soedomo untuk diselesaikan menjadi masukan kepada presiden. Bersama anggota DPA yang berjumlah 45 orang itu, Soedomo sepakat untuk melakukan pembaruan terhadap citra DPA.

  • DPA dari Masa ke Masa

    MENJELANG peralihan rezim dari Presiden Joko Widodo ke presiden terpilih Prabowo Subianto, muncul wacana untuk menghidupkan kembali lembaga Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Gagasan tersebut berasal dari Badan Legislasi (Baleg) DPR yang kini sedang merancang undang-undang perubahan nomenklatur dari Dewan Pertimbangan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ke DPA. “Fungsinya sama sekali tidak berubah,” kata Ketua Baleg DPR, Supratman Andi Agtas, dikutip dari CNN. Hanya saja, lanjut Supratman, jumlah keanggotaan di DPA nantinya akan menyesuaikan dengan kebutuhan presiden. Berbeda dengan keanggotaan Wantimpres yang kini diisi satu orang ketua merangkap anggota dan delapan anggota. Menilik komposisinya, jumlah personel Wantimpres jauh lebih sedikit daripada DPA yang bisa diisi oleh puluhan orang. Sejumlah kalangan menilai DPA bakal menjadi tempat penampungan bagi para pendukung, loyalis, dan simpatisan yang membantu Prabowo memenangkan Pilpres kemarin. Itulah sebabnya, DPA dianggap tak lebih sebagai arena berbagi jatah kue kekuasaan pada rezim mendatang.

  • Mengiris Sejarah Pisau

    PISAU adalah teman sejati manusia. Sejak masa prasejarah hingga kini, ia menjadi bagian yang tak terlepaskan dari kehidupan manusia. Ia membantu manusia menyediakan makanan dan tempat tinggal, bahkan menghindar dari binatang buas –dan kemudian berperang. Ia juga berkembang seiring peradaban manusia. Batu Tajam Di Zaman Batu (Paleolitik) 40.000 SM, manusia purba menggunakan tulang atau batu yang dipipihkan dan ditajamkan untuk mengguliti hewan buruan, mengiris daging, dan memotong umbi-umbian. Di masa akhir Zaman Batu, batu-batu tajam (flintstone) diperdagangkan. Salah satu daerah penghasil batu tajam berkualitas baik adalah Grand Presiggny di Prancis.

  • Hati-hati dengan Belati

    BELATI, salah satu bentuk evolusi dari pisau potong, adalah salah satu senjata yang dipakai manusia dalam sebuah pertarungan. Ia memiliki dua sisi yang sama tajam dan meruncing di ujungnya. Biasanya belati tak lebih panjang dari 50 centimeter. Melihat bentuknya, belati cocok untuk pertarungan jarak dekat, seperti menusuk dan menikam lawan. Belati batu Para petarung Zaman Batu, sekira 20.000 SM, mencoba menciptakan senjata untuk pertahanan diri. Salah satunya belati yang terbuat dari batu; biasanya dipilih dari daerah berkapur. Guna mendapat tepi yang tajam, batu tersebut dipukulkan dengan batu lain hingga membentuk sisi yang tajam. Agar nyaman digenggam, gagangnya dililitkan kulit atau bagian otot hewan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page