Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ajaran Amal untuk Ilmu Kebal
KISAH perjuangan revolusi kemerdekaan di Indonesia seringkali berlumur bumbu mistis. Ganasnya peperangan melawan Belanda membuat para pejuang mencari berbagai cara untuk bertahan dalam pertempuran. Menjadi kebal adalah salah satunya. Menurut Kapten Soegih Arto, di masa revolusi banyak sekali pemuda pejuang yang berusaha memperoleh jimat. Benda bertuah itu diharapkan akan membuat mereka kebal dari tembakan pelutu ataupun tikaman bayonet. Beberapa dari mereka ada yang mencari sendiri atau mendapatkannya dari kiai maupun orang pintar. Ada yang dikalungkan di leher. Ada yang harus diikatkan di kepala. Ada harus dipakai sebagai sabuk, dan lain sebagainya.
- Sersan Murtala Tak Kebal Peluru
LETNAN Kolonel Kahar Muzakkar akhirnya mendapat pasukan tambahan setelah meninggalkan laskar Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Pasukannya itu sekelompok bekas narapidana Nusakambangan, Jawa Tengah. “Beberapa di antaranya mungkin adalah tahanan politik (sekalipun nasionalisme lebih merupakan kejahatan bagi Belanda daripada bagi Jepang yang lebih baru menguasai penjara), tetapi beberapa lagi adalah bandit dan penjahat biasa –pencopet, pencuri, pembunuh,” catat Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII. Selain Kahar sendiri, pelatihan para bandit itu ditangani anak buah Kahar asal Sulawesi yang ikut berjuang di Jawa. Maulwi Saelan salah satunya.
- Hasil Alami “Candi” di Purworejo
BEBERAPA waktu lalu masyarakat dihebohkan dengan temuan batu bersusun yang dikira bangunan candi di bukit Pajangan, Makem Dowo, Sidomulyo, Purworejo. Foto-fotonya sempat ramai di media sosial karena disangka merupakan candi yang sangat besar. Namun, berdasarkan survei yang dilakukan beberapa ahli termasuk dari BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Tengah, di bukit Pajangan tidak ditemukan adanya artefak. Para ahli menyimpulkan susunan batu itu adalah hasil alami yang disebut columnar joint. Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Muhammad Junawan menjelaskan, columnar joint merupakan hasil peristiwa geologis. Bentukan itu dihasilkan akibat aliran lava yang mengalami pendinginan dan pengkerutan hingga menyebabkan retakan. Struktur batuan beku ini sering kali memperlihatkan bentuk seperti kumpulan tiang-tiang maupun kolom-kolom.
- Asal-Usul Daerah Tertua di Purworejo
SUASANA sunyi menyergap kompleks makam pendiri daerah Loano, salah satu daerah tertua di Purworejo, Jawa Tengah. Letaknya di gugusan perbukitan Gunungdamar, sekira 1,5 kilometer ke arah barat kantor Polsek Loano. Sesekali suara tonggeret, serangga yang muncul sebagai penanda akhir musim penghujan, turut menyapa. Jauh masuk kedalam hutan, suara mesin gergaji mengalun, memotong batang pohon di hutan-hutan Purworejo. Di kompleks makam itu, terdapat dua nisan utama dalam satu cungkup. Di sekitar cungkup utama itu, masih terdapat sekira 13 nisan lain yang berukuran lebih kecil.
- Kejutan untuk Istri Bupati Purworejo
KENDATI belum setengah abad Gedong Tataan dijadikan daerah kolonisatie alias transmigrasi kolonial, keberhasilannya membuat daerah yang kini masuk Kabupaten Pesawaran, Lampung itu berulangkali didatangi bupati-bupati dari Jawa Tengah dan Jawa Timur era kolonial. Di awal abad ke-20 itu, Lampung ibarat masa depan bagi orang Jawa yang ekonominya lemah. Para pejabat lokal di Jawa ingin melihat sesuatu di Gedong Tataan itu. Tak tanggung-tanggung, yang datang ke sana bahkan ada yang raja. Koran De Locomotief, 9 Februari 1935 memberitakan, pada Rabu (6 Februari 1935) malam pukul 20.00, mobil yang ditumpangi Susuhunan Pakubuwono X (1866-1939) bersama istrinya Ratu Pembayun dan Ratu Mas tiba di Lampung. Beberapa pangeran ikut serta dalam kunjungan itu. Mereka disambut dengan tari-tarian dan langsung oleh Residen Rookmaker. Esoknya, 7 Februari 1935, Suhunan Solo mengunjungi Gedong Tataan. Mereka singgah di pendopo rumah asisten wedana Gadingrejo. Gadingrejo adalah pusat dari Distrik Gedong Tataan.
- Menilik Sejarah Purworejo Sebagai Pusat Keraton Agung Sejagat
MENGAKU sebagai Sinuhun, Totok Santosa Hadiningrat mendirikan dan memimpin Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Jawa Tengah. Keraton yang belum selesai pembangunannya itu berpusat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo. Totok mengaku sebagai juru damai dan punya kekuasaan atas seluruh negara di dunia. Totok juga mengklaim KAS punya alat-alat kelengkapan di Eropa, dan Persatuan Bangsa-Bangsa sebagai parlemen dunia yang menyokong mereka. Selain itu, Pentagon juga diklaim sebagai dewan keamanan KAS, bukan milik Amerika. Pendirian KAS menjadi bahan lelucon masyarakat karena otak-atik gathuk yang tak masuk akal. Masyarakat Purworejo dan lebih khusus Kecamatan Bayan sendiri tak ada yang percaya dengan omongan Totok. Jumeri, warga Bayan yang rumahnya bertetangga dengan Keraton jadi-jadian itu, mengatakan, sebagaimana diberitakan rmol Jateng, bahwa hanya dua orang tetangganya yang bergabung dengan Totok, lainnya tidak.
- Hoegeng Pernah Keluar dari Kepolisian
ISMAILAhmad, pemuda asal Maluku Utara, diperiksa polisi karena mengunggah humor Gus Dur di akun media sosialnya. Humor Gus Dur itu telah dikenal luas, tentang tiga polisi jujur, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng. Polres Kepulauan Sula menganggap humor itu mencemarkan nama baik institusi Polri. Gus Dur mungkin tak akan membuat humor itu bila Hoegeng Imam Santoso tak kembali ke Kepolisian. Di awal kariernya, dia pernah keluar dari Kepolisian. Pada suatu hari di masa revolusi, Hoegeng tengah berada di rumah orang tuanya di Pekalongan. Orang tuanya kedatangan tamu, Kolonel Laut M. Nazir, yang kemudian menjadi Panglima/Kepala Staf Angkatan Laut kedua.
- Hoegeng, Polisi Anti Suap
KAPOLRI Jenderal Hoegeng Iman Santoso tahu betul bagaimana kentalnya tradisi menjilat di kalangan pejabat Orde Baru. Demi bercokol dalam lingkaran kekuasaan, mereka berusaha menarik simpatik Presiden Soeharto sekalipun dengan cara memalukan. Lapangan golf biasanya menjadi arena dimana praktik menyanjung dan melobi itu dilancarkan. Dalam suatu wawancara dengan George Junus Aditjodro, wartawan Tempo pada akhir 1970, terkuaklah kejengkelan Hoegeng. Dia mengungkapkan tentang seorang pejabat kabinet yang suka menjalankan aksi tersebut. Namanya, Maraden Pangabean, Menhankam/Pangab. Panggabean rela membeli stik golf paling mahal untuk menjadi rekan main golf Soeharto. Namun, saat permainan dia kerap mengalah atau pura-pura tak mampu melawan Soeharto. Saat itulah Panggabean mengeluarkan jurusnya: memuji-muji permainan golf Soeharto.
- Kisah Hoegeng Disetrap Bung Karno
MASA revolusi mempertemukan Hoegeng Iman Santoso dengan Presiden Sukarno. Pada pidato kenegaraan 17 Agustus 1947 di Yogyakarta, Hoegeng diperbantukan sebagai pengawal Bung Karno. Waktu itu Hoegeng tercatat sebagai mahasiswa Akademi Kepolisian Mertoyudan angkatan pertama (kini Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Suatu hari, Hoegeng ditugaskan komandannya untuk mengawal Sukarno ke suatu tempat. Entah bagaimana ceritanya, dia lupa sarapan saat itu. Jadilah di tengah gegap gempitanya pidato Bung Karno itu, perut Hoegeng keroncongan. Sadar Bung Karno kalau pidato memakan waktu berjam-jam, Hoegeng lantas bersiasat guna memenuhi panggillan alam dari lambungnya. “Karena saya tahu pidatonya bakal lama sekali, saya memberanikan diri njlintis (menyelinap) ke dapur,” tutur Hoegeng kepada wartawati Tempo Leila S. Chudori, 22 Agustus 1992 yang kemudian termuat dalam jilid ketiga Memoar Senarai Kiprah Sejarah.
- Dulu Hoegeng Jadi Menteri Iuran Negara
DI TENGAH isu naiknya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen, badan dan jabatan baru muncul dalam kabinet Prabowo-Gibran. “Badan Penerimaan Negara menjadi Kementerian Penerimaan Negara. Menterinya sudah ada," kata Hashim Djojohadikusumo, anggota Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo. Adanya jabatan tersebut membuat Kementerian Keuangan bakal dirombak. Dalam Badan Penerimaan Negara terdapat Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea Cukai, dan Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak. Ketiganya sebelumnya berada di bawah Kementerian Keuangan. Kebijakan kabinet baru ini menuai polemik, yang mengesankan kabinet ini tidak terencana dengan baik. Apa yang dilakukan kabinet Prabowo-Gibran itu sejatinya bukan hal yang baru. Dalam kabinet Dwikora, Sukarno sudah pernah melakukannya. Namun, hasilnya tidak signifikan dalam menaikkan penghasilan negara karena krisis ekonomi parah terjadi di Indonesia pada 1965.
- Hoegeng dan Beking Judi
KONSORSIUM 303 disebut-sebut sebagai kelompok Irjen Polisi Ferdy Sambo di internal kepolisian yang menjadi beking perjudian. Sambo sendiri berstatus tersangka kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Para pelaku perjudian memerlukan beking agar bisnis judinya bisa beroperasi dengan lancar. Tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk pengamanan itu. Penjudi dibeking oknum aparat kepolisian itu biasa, yang luar biasa penjudi menggunakan nama Kapolri. Tak tanggung-tanggung, nama yang digunakan adalah Hoegeng. Kasus lucu ini diceritakan dalam biografi mantan Kapolri ketujuh (1974–1978) Jenderal Polisi (Purn.) Widodo Budidarmo, Semua Karena Kuasa & Kasihnya karya Imran Hasibuan, dkk. Kasus itu terjadi ketika Widodo Budidarmo menjabat Kapolda Sumatra Utara. Pada suatu hari, ketika Widodo sedang mengikuti upacara HUT kemerdekaan 17 Agustus bersama gubernur dan anggota Muspida Sumatra Utara, seorang perwira jaga Polda dengan tergesa-gesa mendatanginya. Dia menyampaikan bahwa “Pak Hoegeng ingin bicara melalui SSB (short side band) dengan Bapak, sangat penting.” Saat itu, Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso menjabat Kapolri kelima (1968–1971).
- Dari Bugel Menjadi Hoegeng
KAPOLRI Hoegeng Iman Santoso dikenal sebagai polisi yang jujur, bersih, dan sederhana. Dia menjadi polisi sejak zaman pendudukan Jepang. Kariernya terus naik hingga menjadi Kapolri berkat pendidikannya. Pada 1952, Hoegeng bersama 15 orang lulus sebagai angkatan pertama PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Setelah diwisuda, mereka diundang Presiden Sukarno ke Istana Negara Jakarta. Satu persatu ditanya: nama, asal, sudah punya istri atau belum, dan lain-lain. Tibalah giliran Hoegeng memperkenalkan diri. “Hoegeng, Pak!” Sukarno menatapnya. Namanya aneh. Yang dia tahu nama “Sugeng” bukan “Hoegeng.”




















