Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tragedi Bintaro
PADA 19 Oktober 1987, dua rangkaian kereta api bertabrakan di Bintaro, Tangerang —sekarang masuk Provinsi Banten. Lokomotif dan gerbong pertama masing-masing kereta hancur-lebur. Ratusan penumpang tewas mengenaskan. Suara tabrakan terdengar hingga beberapa belas meter. Kecelakaan kereta terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Kecelakaan ini terjadi Senin pagi, sekira jam tujuh. Waktu padat penumpang untuk Kereta api (KA) 225 trayek Rangkasbitung—Jakarta Kota. Kereta ini mengangkut 1.887 penumpang. “Penumpang KA 225 itu sudah melebihi kepadatan maksimal (200 persen dari kapasitas padat),” catat redaksi Suara Pembaruan dalam Rekaman Peristiwa '87. Para penumpang KA 225 memenuhi lokomotif dan atap gerbong. Situasi berbeda tampak dalam KA 220 jurusan Tanah Abang—Merak. Kereta ini terisi oleh 478 penumpang. Kapasitas angkutnya 685 penumpang. Kepadatannya menyentuh angka 72.6 persen. Masih dalam batas normal. Semua penumpang kebagian tempat duduk.
- Hari-hari Terakhir Benito Mussolini
DI DEPAN jendela kamarnya di Hotel Campo Imperatore di puncak Gran Sasso, Italia, Benito Mussolini duduk santai pada 12 September 1943 sekira pukul 2 siang. Seiring cuaca cerah yang membuyarkan halimun pagi sebelumnya, mata pemimpin fasis Italia itu menikmati panorama Pegunungan Apenina. Padahal, kepalanya overthinking tak karuan. Fasisme yang ia dirikan di negerinya sudah di ujung tanduk sejurus penahanan dirinya sejak 25 Juli 1943 oleh pasukan Carabinieri (polisi militer). Selain kantor-kantor partai fasisnya di berbagai kota sudah ditutup, Sisilia sudah diduduki Sekutu, dan pemerintahannya telah dijatuhkan Raja Vittorio Emanuele III dibantu Marsekal Pietro Badoglio. Memang kawan Mussolini, Jerman Nazi, masih menduduki Italia bagian tengah dan utara. Namun kejatuhan segenap Italia sepertinya tinggal menunggu waktu lantaran pemerintahan Marsekal Badoglio bernegosiasi dengan Sekutu yang menghasilkan Gencatan Senjata Cassibile pada 3 September 1943, berbarengan dengan invasi Sekutu ke Italia bagian selatan.
- Rebutan Rhoma Irama
KENDATI beberapa tahun lalu pengamat politik Syamsuddin Haris pernah berkomentar keras soal fenomena artis atau selebritis yang menjadi caleg, bahkan anggota legislatif sebagai kegagalan kaderisasi dalam partai politik, Pemilu 2024 tampaknya masih akan diwarnai banyaknya artis dan selebritis. Sejumlah partai masih menggunakan jasa mereka untuk meraup suara. Di masa lalu, penggunaan artis juga sudah ada meski artis yang benar-benar jadi wakil rakyat baru terjadi pada Pemilu 1992. Sebelumnya, penggunaan artis hanya sebatas untuk kampanye. Raja dangdut Rhoma Irama pernah dijadikan andalan PPP dalam kampanye-kampanyenya. Rhoma Irama dan Soneta grupnya awalnya kerap dipandang sebelah mata. Musik dangdut yang diusung Soneta dicap kampungan. Meski begitu, Rhoma dan Soneta punya massa penggemar cukup besar. Musik dangdut yang diusung Rhoma Irama tak hanya kaya pengaruh India saja, tapi terdapat pula pengaruh musik rock di dalamnya. Permainan gitar Rhoma kental pengaruh dari permainan gitaris Deep Purple Ritchie Blackmore.
- Tangga Lagu tentang Penjara
Siapapun tak ingin meringkuk di balik terali besi. Tak peduli penjahat atau orang baik-baik. Tapi bagi sebagian musisi, penjara bisa memberi inspirasi terciptanya sebuah lagu. Ada banyak lagu bertema penjara. Tapi tiga lagu berikut menggambarkan dengan apik hidup sulit di dalam sel.
- Lima Pemberontakan Penjara Paling Berdarah
KERUSUHAN tahanan teroris di Rumah Tahanan Markas Komando (Mako) Brimob Polri, Kelapa Dua, Selasa (8/5/2018) malam menggegerkan publik dalam negeri dan sejumlah media asing. Lima personil polisi dan satu tahanan tewas dalam insiden berdarah yang baru berakhir Rabu (9/5/2018) pagi itu. Menurut kabar, kelompok teroris ISIS mengklaim jadi dalang kerusuhan tersebut. Laman Voice of America Indonesia yang melansir Amaq (media yang berafiliasi dengan ISIS) mengungkapkan, ini jadi aksi teror lanjutan pasca-tragedi bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Mei 2017. Menurut keterangan Humas Polri, penyebab kerusuhan diduga berasal dari titipan makanan untuk salah satu tahanan ditahan petugas. Ketidakterimaan si tahanan lalu memicu konflik. Kerusuhan teredam dengan korban jiwa, sebagaimana ratusan insiden serupa di masa lalu yang terjadi di berbagai penjuru bumi.
- Ketika Sipir Berserikat di Dalam Penjara
TERIAKAN orang kesakitan terdengar dari penjara Nusakambangan, Jawa Tengah, pada 7 Oktober 1959 pukul 14.00. Seorang sipir ambruk terkena sabetan parang narapidana. Seorang sipir lainnya mencoba menghentikan upaya pelarian narapidana itu. Kalah cepat menekan picu senapan, sipir itu tertembak dan tewas. Narapidana berhasil kabur. Para sipir berduka. Besoknya para sipir melepas kepergian rekannya. Mereka minta perhatian serius dari pemerintah untuk memperbaiki kehidupan para sipir di penjara. Sebab risiko pekerjaan mereka sangat tinggi. “Tiap-tiap detik ada kemungkinan berjumpa dengan malaikat el maut,” tulis Suara Buruh Kependjaraan, Oktober-November 1959. Kehidupan sipir jarang tersorot, terhalang oleh ketebalan dan ketinggian tembok penjara. Pada masa kolonial Belanda, para sipir bumiputera tak punya kedudukan berarti. “Pekerjaan hanya terbatas pada penjagaan keamanan di dalam lingkungan, aspirasi untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi tidak ada, karena kesempatan untuk itu tidak diberikan,” tulis Suara Buruh Kependjaraan, Desember 1954-Februari 1955.
- Penjara untuk Perempuan Kriminal
ZARIMA Mirafsur, Sheila Marcia, dan Jennifer Dunn. Tiga nama tenar yang punya satu kesamaan. Mereka pernah terperosok ke bui lantaran tindak kriminal terkait narkoba. Letak penjara mereka berlainan, tapi sama-sama khusus untuk perempuan. Tidak banyak penjara khusus perempuan di Indonesia. Lebih sedikit lagi tentang sejarahnya. Gagasan penjara khusus untuk perempuan kasus kriminal berkembang dalam kurun berbeda di pelbagai belahan dunia. R.A. Koesnoen dalam Politik Pendjara Nasional mencatat negeri Belanda telah menerapkan pemisahan antara narapidana laki-laki dan perempuan pada 1597, disebut penjara spinhuis. “Mereka ditempatkan sendiri-sendiri dalam kamar masing-masing siang-malam dan terdiri dari pencuri, perampok, pengemis, pelacur, dan pemalas kerja,” tulis Koesnoen. Artinya mereka berada dalam satu bangunan, tetapi menempati sel berbeda. Belum secara khusus ada bangunan penjara untuk perempuan.
- Penjara Tak Bikin Tobat
PENJARA jadi bahan gunjingan khalayak lagi. Kemarin lalu perkara rusuh napi teroris di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, sekarang perilaku cemar pegawai penjara dengan napi rasuah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung. Boro-boro berupaya menjadi manusia susila di dalam penjara, para napi malah melanggar pidana lagi dengan menyogok pegawai supaya tetap hidup nyaman di lapas. Pegawai pun enteng saja menerima sogokan. Perilaku dua kelompok ini jauh dari tujuan awal pengelolaan penjara nasional setelah kemerdekaan. Penjara berasal dari sistem hukuman Eropa abad ke-17 untuk menggantikan hukuman badan dan mati. “Pidana penjara adalah pidana pencabutan kemerdekaan,” ungkap R.A. Koesnoen dalam Politik Pendjara Nasional.
- Para Pelarian dari Penjara
HIDUP dalam penjara tidak pernah enak. Saban hari menyantap makanan itu-itu saja: nasi, sayur asem, sop, ikan asin, telur. “Sudah itu saja. Tiap hari diselang-seling dan dijatah. Nasinya setaraf makanan bebek,” ungkap Ibrahim, mantan narapidana kasus kepemilikan narkoba kepada Historia.ID. Cakrawala napi sebatas kompleks penjara selama berbulan-bulan, bahkan tahunan. Rasa bosan dan rindu akan keluarga mudah hinggap. Kekerasan dan penularan penyakit sering menimpa napi. “Penjara itu neraka dunia. Tak banyak kebebasan,” lanjut Ibrahim. Beberapa napi tak tahan dan berupaya kabur.
- Dilarang Menyebut Hidung
NASIB Sultan Abdülhamid II seperti abu di atas tanggul. Ketika ia naik takhta, Kesultanan Ottoman berada di titik nadir dan kekuasaannya menyusut seiring demokratisasi. Maka, dengan beragam cara, Abdülhamid II berupaya menegakkan kembali kekuasaannya yang absolut. Kesultanan Ottoman atau disebut juga Kesultanan Utsmaniyah adalah kekhalifahan Islam yang meraih puncak kejayaan pada abad ke-16 dan ke-17. Kekuasannya meliputi sebagian besar Balkan (Eropa bagian tenggara), Irak, Suriah, Israel, Mesir, sebagian Afrika Utara, dan Jazirah Arab. Namun krisis demi krisis mulai menggerogoti Ottoman. Situasi itulah yang dihadapi Abdulhamid II. Abdulhamid II dilantik sebagai sultan pada 7 September 1876 di Masjid Eyup Sultan dengan penyerahan Pedang Osman. Beberapa bulan kemudian ia melantik Midhat Pasha, tokoh reformis yang mencita-citakan demokrasi di Ottoman, sebagai wazir agung.
- Pecah Kongsi Perkawinan S.K. Trimurti dan Sayuti Melik
KEDUA remaja ini kerap bertukar pikiran dan perdebatan. Yang dibahas bukan soal sepele; teori, strategi, dan siasat perjuangan. Kadang sengit. Masing-masing mempertahankan pendapatnya. Tak mau kalah atau mengalah. Tapi masing-masing menghargai pendapat lawan. “Saya senang sekali bertukar pikiran dengannya, dan terus terang, tak pernah terpikir bahwa dialah yang akan menjadi suami saya di kemudian hari,” tulis S.K. Trimurti. Suatu ketika, mereka kembali berdebat. Tiba-tiba Yuti, panggilang akrab Sayuti Melik selain Si Kecil dan Mbah Sodrono, berkata: “Kalau begitu, saudara dapat bekerja sama dengan saya. Sebaiknya saudara menjadi istri saya saja.”
- Sayuti Melik Mengubah Beberapa Kata dalam Naskah Proklamasi
SETELAH konsep (klad) naskah Proklamasi disetujui, rumusan itu harus diketik terlebih dahulu sebelum diajukan kepada para anggota PPKI dan lainnya yang menunggu di ruangan tengah. Terdapat beberapa coretan dan perubahan akibat pertukaran pendapat. Seperti kata “secermat-cermatnya” diganti dengan “saksama.” Menurut Ahmad Subardjo, Sukarni yang kebetulan memasuki ruangan, diminta untuk mengetiknya. “Saya lihat dia pergi ke suatu ruang dekat dapur di mana Sayuti Melik dan lain-lain duduk-duduk. Terdapat satu mesin tik di situ dan Sayuti Meliklah mengetik teks dari tulisan tangan Sukarno,” kata Subardjo. Namun, dalam Wawancara dengan Sayuti Melik karya Arief Priyadi, Sayuti Melik mengaku bahwa Sukarno langsung memintanya mengetik naskah Proklamasi, tidak melalui Sukarni. Perintah Sukarno: “Ti, Ti, tik, tik!”





















