Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cosmas Batubara Sang Menteri Rumah Susun
PADA 18 Januari 1966, Cosmas muda naik bemo ke Istana Merdeka Jakarta. Dia beserta sembilan pimpinan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) Pusat, KAMI Jakarta Raya dan KAMI UI diundang Presiden Sukarno. Sukarno mengundang mereka karena demo menuntut pembubaran PKI berlarut-larut saat itu. Di Istana, Cosmas dan sembilan mahasiswa lainnya dipandangi Sukarno satu per satu. Sukarno lalu mulai bicara dengan nada yang semakin meninggi. Bung Besar nampaknya marah karena menduga para mahasiswa telah menjadi antek Nekolim (neo kolonialisme) dan tak paham revolusi. “Dengan nada suara yang mencerminkan kemarahan itu, saya merasa, sebenarnya Bung Karno tidak memahami mengapa mahasiswa berdemonstrasi. Tampaknya dia yakin betul bahwa mahasiswa tidak memahami revolusi yang sedang berlangsung di negeri ini,” kata Cosmas dalam Cosmas Batubara Sebuah Otobiografi Politik.
- Aksi Sepihak Menteri Amirmachmud
PEPERA. Kata itu pernah bikin Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Amirmachmud bingung dan gelagapan. Pada 1969, pemerintah Indonesia harus memenuhi komitmennya menyelenggarakan Pepera. Pepera adalah hak menentukan pendapat bagi rakyat Irian Barat untuk merdeka atau integrasi kepada Indonesia. Namun Amir tampaknya enggan melaksanakan Pepera yang demokratis sebagaimana diatur dalam Perjanjian New York. “Dalam hati kecil, sebenarnya saya tidak menyetujui pelaksanaan Act of Free Choice tersebut. Namun kini sudah menjadi keputusan pemerintah yang harus saya laksanakan. Masalah yang kita hadapi memang tidak mudah,” kata Amirmachmud dalam H. Amirmachmud: Prajurit Pejuang. Sang menteri sempat terlibat silang pendapat dengan Sudjarwo Tjondronegoro. Sudjarwo waktu itu menjabat Duta Besar Indonesia untuk PBB. Dia kurang berkenan dengan cara Amir yang tidak melibatkan dirinya maupun utusan istimewa PBB Fernando Ortiz Sanz dalam persiapan Pepera. Menurut Soedjarwo kebijakan Amir bertentangan dengan hukum internasional.
- Bung Hatta: Pejabat Pemarah ke Ahli Jiwa Saja
PEJABAT temperamental pernah bikin Wakil Presiden Mohammad Hatta tercengang. Sosok yang dimaksud Bung Hatta ialah Amir Sjarifoeddin. Di masa revolusi, Bung Hatta dan Amir berkolega dalam pemerintahan. Di masa awal kemerdekaan, Hatta menjadi wakil presiden sementara Amir menjabat menteri penerangan yang pertama. Rekanan dalam pemerintahan berlanjut sampai tahun 1948. Hatta tetap menjadi wakil presiden sementara Amir menjabat sebagai perdana menteri merangkap menteri pertahanan. Namun, Amir gagal mempertahankan kabinetnya setelah Perjanjian Renville. Setelah mengembalikan mandat kekuasaan, Amir berada di luar pemerintahan sebagai oposisi. Amir kemudian memimpin Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang kemudian membawanya terlibat dalam Peristiwa Madiun. Sementara itu, Hatta menggantikan Amir sebagai perdana menteri dan membentuk Kabinet Hatta I. Keadaan demikian menyebabkan Amir dan Hatta saling berhadap-hadapan sebagai lawan politik.
- Amir Sjarifoeddin Bergeraf
BELANDA menyadari keunggulan Jepang. Kekalahan sudah pasti, namun Belanda tak ingin menyerah. Belanda mencari cara agar tetap bisa melawan Jepang. Charles van der Plass, mantan Gubernur Jawa Timur, kemudian ditugasi untuk membangun sebuah gerakan bawah tanah. Namun van der Plass kurang memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia. P.J.A. Idenburg, mantan Sekretaris Kabinet Gubernur Jenderal, mengusulkan agar memilih Amir Sjarifoeddin, pegawai Departemen Ekonomi di Batavia yang jadi pendiri Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Pembentukan Gerindo pada Mei 1937 merupakan respons terhadap bahaya fasisme yang mengancam demokrasi. Gerindo ibarat partai pelarian aktivis-aktivis dari semua partai yang dilarang pemerintah. Sesuai kebijakan Komintern (Komunis Internasional), tulis Wilson dalam Orang dan Partai Nazi di Indonesia, Gerindo membuka diri kepada semua kekuatan sosial politik, termasuk kerja sama dengan pemerintah kolonial untuk menggalang kekuatan massa menyambut bahaya fasisme.
- Amir Sjarifoeddin dan Partai Kristen
AMIR Sjarifoeddin, yang lebih dikenal sebagai politisi kiri, berperan dalam mendorong partisipasi orang Kristen di dunia politik. Menurutnya, orang Kristen harus terlibat politik, bahu-membahu dengan kalangan Muslim dan nasionalis untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, pada awalnya Amir tak setuju partai politik berbasis agama tertentu, termasuk Kristen. Dia menyerukan partisipasi politik lewat partai-partai nasionalis, yang anggotanya terdiri dari berbagai latar suku dan agama. Sikap tersebut muncul dalam tulisannya di Mirabile Lectu, media terbitan almamaternya, sekolah menengah Gymnasium di Harleem, Belanda. Dalam tulisan bertanggal Februari 1928 tersebut, Amir menganggap pembentukan partai berbasis agama sebagai ancaman bagi nasionalisme.
- Nyali Hadely Jadi Menteri
SETELAH peristiwa Gerakan 30 September 1965, harga barang-barang melonjak. Pada awal tahun 1966, terjadi kenaikan harga minyak dan bahan bakar hingga keadaan bertambah buruk. Presiden Sukarno mendapat tekanan dari mahasiswa, yang kebanyakan makin tidak suka kepadanya. Bahkan, mahasiswa menyebut para menterinya goblok. Sukarno meminta semua pihak bersabar atas kenaikan harga barang-barang yang tengah melanda Indonesia. Dia menyadari menurunkan harga bukan perkara mudah. Dia pun melontarkan tantangan. “Siapa saja yang berani dan sanggup menurunkan harga dalam waktu tiga bulan akan diangkat menjadi Menteri Penurunan Harga. Tetapi jika gagal, dia akan ditembak mati,” kata Bung Karno dalam pidatonya yang terangkum dalam Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Sukarno 30 September 1965–Pelengkap Nawaksara suntingan Budi Setiyono dan Bonnie Triyana.
- Menteri Latief Bicara Harga Cabai
KENAIKAN harga bahan pokok tentu bikin masyarakat kalang kabut. Apalagi bagi mereka yang kemampuan ekonominya lemah atau pas-pasan. Itulah yang terjadi ketika harga minyak goreng dan telur ayam melambung beberapa waktu silam. Belakangan, harga bawang merah juga ikut naik mencapai Rp55.600/kg. “Tentu ada kekurangan, saya kira minta maklumi karena Indonesia negara besar, kepulauannya juga jauh-jauh,” kata Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan seperti dikutip dalam CNN, 25 April 2024. Pernyataan pemakluman atas kenaikan harga bahan pokok juga pernah dilontarkan Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Abdul Latief (1993—1998). Bedanya, komentar Latief bernada guyon meski masuk akal pula. Bermula dari kenaikan harga cabe pada Januari 1996, bertepatan dengan bulan puasa.
- Kisah Amir Sjarifoeddin dalam Pelarian
DI TENGAH pelarian, Amir Sjarifoeddin jengkel terhadap kelakuan anak buahnya. Waktu itu mereka –yang sedang kekurangan makanan– menyinggahi sebuah desa yang tak memusuhi kelompok Amir. Menyaksikan hamparan pohon kelapa yang luas ditambah rasa dahaga, pasukan rombongan Amir jadi kalap. Beberapa orang memanjat pohon kelapa dan mengambil buahnya. “Mengetahui itu, Bung Amir bukan berterimakasih tetapi malah marah. Ia bergegas keluar rumah, lalu pestolnya dimuntahkannya ke atas tiga kali,” kenang Fransisca Fanggidaej dalam Memoar Perempuan Revolusioner. Turun! Turun! Amir berteriak seraya mengancam akan menembak anak buahnya yang memanjat dan memetik kelapa di pekarangan desa itu jika tak mau turun. Dalam pandangan Fransisca –aktivis Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) yang ikut long march rombongan Amir– meski sebagai buronan politik kelas kakap, Amir masih memperlihatkan keluhurannya sebagai seorang negarawan. Di tengah pelarian kelompoknya dari kejaran tentara Republik, Amir menetapkan ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi.
- Detik-detik Terakhir Hidup Amir Sjarifoeddin
HARI masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas di Desa Ngalian, sebelah timur kota Solo. Namun atas perintah tentara, dua puluh orang penduduk desa telah sibuk menggali kuburan. Salah satu liang dipersiapkan untuk mantan Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Republik Indonesia: Amir Sjarifoeddin. Sementara menunggu, Amir bertanya kepada seorang perwira TNI berpangkat letnan: apa yang akan terjadi? Amir bersama 10 rekannya didakwa melakukan makar terhadap pemerintah Republik. Dalam "Menggugat Peristiwa Madiun" termuat di Pilihan Tulisan I, D.N. Aidit mencatat detik-detik eksekusi. “Apakah saudara sudah mengikhlaskan saya dan kawan-kawan saya?” tanya Amir. Perwira pemimpin regu tembak itu bergeming. “Tidak usah banyak bicara,” katanya. Surat dari Gubernur Militer Gatot Subroto disodorkan. Isinya: perintah eksekusi mati.
- Ketika Amir Sjarifoeddin Mabuk
DI TENGAH hiruk-pikuk ibukota Yogyakarta pada pertengahan 1946 yang masih dibayangi akan kedatangan kembali Belanda, K'tut Tantri, perempuan Amerika kelahiran Inggris yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, didatangi Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin. Di tempat Tantri, Hotel Merdeka, Bung Amir, nama populer Amir Sjarifoeddin, memberitahukan bahwa Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta beserta beberapa menteri dan para kepala staf angkatan akan mengadakan perjalanan keliling Jawa Timur dalam beberapa hari ke depan. Tantri sebagai penyiar radio The Voice of Free Indonesia diminta ikut. “Maksud perjalanan ini ialah untuk memberi penerangan kepada rakyat tentang apa yang sedang berlangsung di bagian lain dari pulau Jawa, dan untuk mempersiapkan rakyat menghadapi situasi yang semakin memburuk, berhubung dengan usaha Belanda merebut kembali Jawa Timur. Dimaksudkan juga sebagai perjalanan propaganda, untuk meyakinkan dunia bawah tujuh puluh juta rakyat Indonesia berdiri di belakang Presiden Sukarno dan tak sudi menyerah,” kata Tantri dalam memoarnya, Revolusi di Nusa Damai.
- Amir Sjarifoeddin Tak Ikut Proklamasi Kemerdekaan
AMIR Sjarifoeddin tak tahu apa yang terjadi pada 17 Agustus 1945. Sementara Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Amir justru meratapi nasib di penjara. Meski absen dalam proklamasi kemerdekaan, Amir bukanlah orang kemarin sore dalam panggung pergerakan nasional. Tokoh sekelas Sukarno sekalipun pasang badan untuk membebaskannya. “Sampai pula laporan kepadaku bahwa Amir Sjarifoeddin, salah seorang pemimpin dari gerakan bawah tanah, selama berminggu-minggu telah digantung oleh Kenpeitai dengan kakinya ke atas. Dia disuruh meminum air kencingnya sendiri. Dia takkan dapat tahan lebih lama lagi. Aku merundingkan pembebasannya dengan menegaskan kepada para pejabat yang bersangkutan,” kenang Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Amir ditangkap polisi intelijen Jepang (Kenpeitai) sejak Februari 1943. Sebelum ditangkap, Amir membentuk Gerakan Anti-fasis (Geraf) pada 1940, yang merupakan kelompok kiri anti-fasis. Kenpeitai kemudian mencurigai Amir berkomplot menggalang gerakan rahasia melawan Jepang.
- Gila Basket di Filipina
TAK ada laser sebagaimana upacara pembukaan ajang olahraga pada umumnya, upacara pembukaan SEA Games 2019 pada Sabtu (30/11/2019) malam justru menarik karena diisi beraneka ragam atraksi seni dari bermacam budaya yang ada di Filipina. Menariknya lagi, upacara pembukaan bukan digelar di stadion sepakbola sebagaimana umumnya, namun stadion indoor Philipine Arena. Venue berkapasitas 55 ribu tempat duduk itu arena indoor terbesar di dunia dan kebanggaan rakyat Filipina. Sejak dirampungkan 2014 silam, stadion itu digunakan untuk bola basket yang menjadi olahraga nomor satu di Tanah Pinoy itu. Sejak masa kolonial, Filipina sudah dikenal sebagai negeri yang gila basket. Dari masa ke masa, perkembangannya begitu pesat. Levelnya sudah Asia dan dunia, jauh meninggalkan negara-negara tetangganya di ASEAN.




















