Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tamatnya Armada Jepang di Filipina (Bagian I)
TANPA peralatan radar yang memadai dan perlindungan udara, rombongan kapal perang dalam armada pimpinan Laksamana Madya Takeo Kurita bersiaga penuh saat melintasi Selat Palawan, Filipina sekitar pukul 1 dini hari, 23 Oktober 1944. Mereka berlindung di balik kegelapan malam. Namun tanpa disadari, mereka dikuntit dua kapal selam Amerika Serikat. Nama Laksdya Kurita tak asing karena ia pernah melumpuhkan Sekutu di Pertempuran Selat Sunda (28 Februari-1 Maret 1942). Ia juga terlibat di Pertempuran Midway (4-7 Juni 1942) yang jadi awal kemunduran superioritas Jepang di Pasifik. Sebelumnya, Laksdya Kurita memimpin Central Force atau rombongan utama Armada Gabungan Kaigun (Angkatan Laut/AL Jepang) berangkat dari Brunei pada 22 Oktober 1944 malam menuju perairan Filipina atas perintah Panglima Armada Gabungan Laksamana Soemu Toyoda yang melancarkan empat Operasi Sho-Go”. Walau jadi rombongan utama, Kurita hanya membawa 10 kapal penjelajah berat, dua penjelajah ringan, 15 kapal perusak, serta lima kapal tempur, termasuk kapal perang super Yamato. Kurita sendiri berkedudukan di kapal penjelajah berat Atago yang jadi flag ship.
- Tamatnya Armada Jepang di Filipina (Bagian II–Habis)
KAMIKAZE yang artinya “Dewa Angin” jadi taktik “putus asa” spontan yang dilakoni para pilot Jepang sejak pembokongan Pearl Harbor (7 Desember 1941). Namun, serangan dengan taktik pesawat bunuh diri yang terorganisir secara massal baru terjadi di Palagan Laut Sibuyan (24 Oktober 1944), bagian dari Pertempuran Teluk Leyte (23-26 Oktober 1944) di Filipina. “Taktik-taktik kamikaze mengintegrasikan teknik-teknik inovatif yang didesain untuk mengeksploitasi kelemahan sistem pertahanana angkatan laut (AL). Menyerang secara bergerombol tapi seketika menyebar ketika sudah berada dalam jangkauan sistem pertahanan, membuat pesawat-pesawat itu sulit ditembak jatuh,” tulis Trent Hone di kolom majalah Naval History edisi Oktober 2020, “Countering the Kamikaze”. Adalah Panglima Armada Udara ke-1 Laksamana Takijirō Ōnishi yang mengorganisirnya sebagai bagian dari “Operasi Shō-Gō”. Taktik buah pikiran Panglima Armada Gabungan Kaigun (Angkatan Laut/AL) Jepang Laksamana Soemu Toyoda itu untuk memukul balik armada-armada Amerika Serikat pasca-pendaratan di Pulau Leyte, 20 Oktober 1944. Meski berbasis di Manila, Armada Udara ke-1 bertugas menyokong Northern Force pimpinan Laksamana Jisaburō Ozawa yang bertugas jadi umpan untuk memancing Armada ke-3 Amerika di bawah Laksamana William Halsey.
- Jejak Revolusi Filipina dalam Kemerdekaan Indonesia
SELAIN dekat secara geografis, Indonesia dan Filipina punya banyak kemiripan. Sejarah kedua negara menentang kolonialisme, yang membentang selama setengah abad, jadi bagian dalam gelombang nasionalisme dan dekolonialisme yang menandai abad ke-20. Seberapa jauh gerakan nasionalisme dan kemerdekaan di kedua negara saling terkait? Pada 30 Desember 1896, otoritas Spanyol mengeksekusi Jose Rizal, intelektual Filipina yang dianggap menghasut pemberontakan. Pada tahun yang sama, sejumlah pemuda radikal lebih dulu melakukan aksi bersenjata menuntut kemerdekaan Filipina. Di penghujung abad ke-19, Republik Filipina merdeka berdiri pada 23 Januari 1899. Butuh waktu cukup lama sebelum apa yang terjadi di Filipina bisa dirasakan, apalagi diapresiasi, di Indonesia. Arus komunikasi adalah salah satu alasan. Menurut sejarawan Adrian Lapian, berita kemerdekaan Filipina sempat dimuat secara singkat di koran kolonial Java Bode, yang mendapat kabar dari sebuah kantor berita di Hong Kong. Sementara harian milik misionaris di Minahasa, Tjahaha Siang, mendapat kabar itu dari koresponden mereka yang membaca berita terkait di sebuah harian di Amsterdam, yang kemungkinan berdasarkan sumber lain di New York.
- Misteri Enrique de Malacca
PADA 1521, Ferdinand Magellan terbunuh dalam perlawanan Mactan di Filipina. Peristiwa ini membuat penjelajah Portugis yang membelot ke Spanyol ini gagal mengelilingi bumi. Padahal, jika berhasil mencapai Malaka, ia akan menjadi orang pertama yang mengelilingi bumi. Sementara itu, orang pertama yang disebut telah mengelilingi bumi justru seorang budak Magellan: Enrique de Malacca. Sosok Enrique muncul dalam catatan Antonio Pigafetta, ilmuan Italia yang turut dalam penjelajahan Magellan. Dalam The First Voyage around the World (1519– 1522) An Account of Magellan’s Expedition (Theodore J. Cachey Jr., Ed.), Pigafetta belum menyebut nama Enrique. Ia menyebutnya sebagai seorang budak. Budak ini pertama disebut dalam catatan pada 28 Maret 1521 ketika mereka tiba di sebuah pulau di Filipina. Kala itu kapal Magellan didekati oleh sebuah perahu yang berisi delapan orang lokal. Mereka ternyata bisa berkomunikasi dengan budak Magellan. Pigafetta juga menyebut budak itu berasal dari Sumatera.
- Perjalanan Susu ke Indonesia dari Konsumsi hingga Industri
MINUM susu telah menjadi kebiasaan banyak orang Indonesia. Minuman kaya nutrisi ini tak hanya baik dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Popularitas minuman ini terlihat dari inovasi dalam pengolahan maupun pemasaran produk susu. Contohnya, bila dulu susu yang terkenal adalah susu sapi maupun kedelai, kini banyak sumber nabati yang diolah menjadi susu, seperti almond, oat, hingga beras. Kemajuan teknologi juga memungkinkan proses pengolahan susu lebih modern, sehingga menghasilkan susu UHT (ultra high temperature) yang saat ini beredar di pasaran dengan berbagai rasa dan ukuran. Akan tetapi, berbeda dengan masa kini, di mana susu menjadi minuman yang banyak dikonsumsi dan tersedia dengan beragam variasi, masyarakat Indonesia di masa lalu tak banyak mengonsumsi susu. Rendahnya minat terhadap susu menarik perhatian Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles.
- Buah dan Susu di Duren Tiga
DUREN Tiga di Jakarta Selatan tengah menjadi sorotan. Pasalnya, di Kompleks Polri telah terjadi pembunuhan anggota polisi, Brigadir J atau Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Tempat kejadian perkaranya di rumah dinas Kadiv Propam Polri Irjen Pol. Ferdy Sambo. Sebanyak 31 anggota polisi diperiksa dan empat pelaku ditetapkan sebagai tersangka termasuk Ferdy Sambo. Sembari mengikuti kasus ini, kiranya menarik juga mengetahui sejarah Duren Tiga. Selain Kompleks Polri, di kawasan itu juga terdapat Kompleks PLN, Kompleks Pertamina, dan Kompleks Pertambangan. Ilya R. Sunarwinadi dalam “Penduduk Asli Betawi dan Industri Kecil,” majalah Widyapura, No. 4 Th. IV, Maret 1984, menjelaskan, Duren Tiga mulai menjadi daerah permukiman bagi kaum pendatang sekitar tahun 1955, ketika PLN berniat membangun kompleks perumahan bagi para pegawainya. Pihak perusahaan melalui makelar-makelar tanah mengadakan pendekatan pada penduduk Betawi agar mau menjual tanahnya. Meski tidak dipaksa, banyak juga yang menjual tanahnya dengan harga relatif murah Rp90 per meter persegi, ketika itu hanya cukup untuk membeli tiga liter beras.
- Konco Westerling Berburu Penjahat Perang Jepang
MENDARATLAH pesawat amfibi milik armada udara Inggris Royal Air Force (RAF) di Pontianak. Dari pesawat itu turun pula putra Sultan Pontianak, Letnan Kolonel Syarif Hamid Alkadrie (1913-1978). Ketika itu tentara Jepang belum begitu lama menyerah kepada tentara sekutu. Rasa kehilangan mendera Hamid. “Ada dua belas raja yang berkuasa di Borneo Barat Belanda, yang semuanya dibunuh oleh Jepang,” kata Hamid di koran Trouw edisi 5 Februari 1946. Jumlah itu belum termasuk ribuan orang Tionghoa dan bumiputra yang tinggal dan berasal dari Kalimantan Barat sendiri. Tak diketahui pasti berapa jumlah korbannya. Pembantaian oleh tentara Jepang itu dikenal sebagai Tragedi Mandor Berdarah.
- Apple 50th Anniversary
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
- Martin Aleida dan Penjara Tak Bertepi
21 Oktober 1966. Malam itu, Nurlan Daulay dengan bangga menenteng 50 tusuk satai yang dibeli dari upah pertama sebagai tukang batu. Ia berjalan dua kilometer menuju sebuah rumah persembunyian di Jalan Mangga Besar 101. Di rumah itu, Putu Oka Sukanta, Arifin, Mujio, Zaini, dan T. Iskandar A.S., bernaung dari pengejaran Operasi Kalong. Sepiring satai beralas daun pisang yang tandas malam itu tampaknya menjadi perjamuan terakhir mereka. Ketika mereka telah berbaring di sudut tidur masing-masing, Burhan Kumala Sakti, seorang tukang tunjuk militer menodongkan pisau ke leher Nurlan. Di luar, kiranya satu jeep tentara telah menunggu. Malam itu juga mereka digelandang ke kamp konsentrasi. Kisah penangkapan itu mengawali memoar Martin Aleida, Romantisme Tahun Kekerasan. Sebuah memoar tentang pemuda Tanjung Balai yang merantau ke Jakarta, menjadi wartawan, dan terjebak peristiwa G30S 1965. Tentang orang-orang di sekitarnya, yang bernasib getir dan tentang penjara yang tak bertepi.
- Nani Nurani Affandi dari Istana ke Penjara
TAK terbayang dalam benak Nani Nurani Affandi, kehadirannya sebagai pengisi acara HUT Partai Komunis Indonesia (PKI) di Gedung Pertemuan ROXY, Cianjur pada Juni 1965, membuatnya terseret ke dalam prahara Gerakan 30 September 1965. Wanita berjuluk “suara emas dari Cianjur” itu dikenal sebagai penyanyi dan penari Sunda klasik yang cukup tersohor. Presiden Sukarno kerap memintanya untuk menghibur tamu-tamu agung di Istana Cipanas. “Bung Karno yang sangat mengagumi dan mencintai kesenian klasik tentu saja selalu meminta saya menyanyi dan menari,” kata Nani dalam biografinya, Penyanyi Istana: Suara Hati Penyanyi Kebanggaan Bung Karno.
- Ketika Sjafruddin Prawiranegara Dipenjara
FARID PRAWIRANEGARA (1948–2014), putra Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sjafruddin Prawiranegara (1911–1989), merasakan betul besarnya rasa kemanusiaan Sukarno dan orang-orang di sekitarnya saat ayahnya ditahan sejak 1962 sampai 1966. Di masa Sukarno, kata Farid, persahabatan di atas segalanya. “Politik memang boleh beda. Tapi, anak-istri nggak boleh terlantar,” ujar Farid ketika ditemui di rumahnya. Ketika Sjafruddin ditahan akibat terlibat Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), hidup anak-istrinya memang seketika jadi susah. Rumah mereka diambil paksa, Farid dan saudara-saudaranya hidup tercerai-berai.
- Para Penguasa Penjara Cipinang Legendaris
PENJARA sebagai tempat pembinaan, itu memang peruntukannya. Tapi penjara sebagai tempat melakukan kejahatan, itu antara fakta dan rumor. Meski begitu, kabar tentangnya terus eksis hingga kini. Mei 2023 lalu, ramai diberitakan LP Cipinang sebagai tempat banyak kejahatan dilakukan oleh sebagian penghuninya. Artis Tio Pakusadewo, yang menjadi salah satu penghuninya karena kasus narkoba, mengungkapkannya di sebuah kanal Youtube. Menurutnya, ada beragam bisnis ilegal di dalam LP Cipinang, mulai dari narkoba, ponsel, makanan-minuman, hingga kasur. Kendati pernyataan Tio sontak mendapat bantahan dari Kepala LP Cipinang Ali Sukarno, fakta-fakta lain serupa dengan pernyataan Tio terus bermunculan bukan belakangan ini saja. Di waktu hampir bersamaan, Pengadilan Negeri Jakarta Barat memvonis hukuman mati Cheong Kok Wai akibat kasus narkoba.





















