Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Babak Awal Sejarah Sepeda Motor
SEPEDA motor jadi moda transportasi paling diminati di tanah air. Selain ekonomis, ia praktis untuk menembus peliknya kemacetan di kota-kota besar pada jam-jam sibuk. Sejurus dengan lebih terjangkaunya harga kendaraan bermotor roda dua, tak mengherankan jika jumlah sepeda motor bisa tujuh kali lipat dari jumlah mobil atau kendaraan roda empat berpenumpang. Menukil laman resmi data Badan Pusat Statistik (BPS) per 20 Februari 2024, jumlah kendaraan bermotor roda dua baik sepeda motor berbahan bakar bensin maupun motor listrik di 38 provinsi pada 2023 sebanyak 132.433.679 unit. Angka tersebut begitu jauh jika dibandingkan jumlah mobil yang sebanyak 18.285.293. Lantas, apa sesungguhnya sepeda motor itu dan sejak kapan eksisnya? Menurut Oxford English Dictionary (2009), sepeda motor adalah “kendaraan beroda dua yang ditenagai mesin pembakaran dalam.” Sedangkan dalam kamus otomotif Merriam-Webster, sepeda motor adalah “kendaraan (bermesin) beroda dua atau beroda tiga dengan setirnya berupa handlebar dan tempat duduknya bergaya pelana.”
- Kisah Sersan Mayor Menjadi Mayor
SEORANG ksatria lazimnya tahu kapan dia mesti turun gunung. Bila sudah turun, dia juga mesti menghindari dunia yang digelutinya selama ini secara total dan menyibukkan diri dengan kegiatan spiritual. Hal itulah yang dipilih Alex Heen Mengko. Begitu mundur dari kedinasannya di TNI, dia pulang dan tak lagi melibatkan diri dalam kegiatan militer apapun. “Opa pulang kampung ke Manado, menjadi pemuka agamanya,” terang musisi Muhammad FR Mengko alias Prince Mengko, cucu Alex Mengku, kepada Historia. Alex Mengko merupakan serdadu sejak era Belanda dan kemudian ikut mendirikan sebuah batalyon di TNI. Meski dirinya tercatat berasal dari Magelang, sebagaimana ditunjukkan kartu tawanan perangnya di zaman pendudukan Jepang, nama belakangnya menunjukkan keluarganya berakar dari Minahasa, Sulawesi Utara, yang dulunya adalah bagian dari Keresidenan Manado. Bisa jadi dia pernah dibesarkan di Magelang, Jawa Tengah.
- Presiden Suka Momotoran
PRESIDEN Joko Widodo melakukan touring dengan motor Chopper ke Pelabuhan Ratu sejauh 30 km pada Sabtu, 8 April 2018. Dia ditemani Menhub Budi Karya Sumadi dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, serta komunitas motor. Touring ini untuk meninjau proyek irigasi dan tanggul penahan air di Kabupaten Sukabumi. Sebelum Jokowi, presiden yang suka touring adalah B.J. Habibie dengan motor gede (moge). Presiden ketiga itu ternyata mengoleksi moge. Dua koleksinya hasil pabrikan Softail Springer dan Badboy yang dibeli di Seattle, Amerika Serikat, dipajang di acara "Pameran Foto: 80 Tahun Habibie” di Museum Bank Mandiri, Jakarta Barat, 24 Juli 2016. Menurut keterangan pada moge yang dipajang itu, ketertarikan Habibie pada moge berhubungan dengan kesehatannya yang baru operasi jantung. Dokter menyarankan Habibie mengendarai moge agar bekas jahitan di dada kembali normal. Hal ini karena moge mempunyai getaran yang besar saat mesinnya menyala.
- Pemilik Motor Pertama di Indonesia
MOTOR merupakan kendaraan yang populer di Indonesia. Harganya relatif murah dan terjangkau oleh masyarakat. Bahkan, setiap keluarga memiliki lebih dari satu motor. Kendaraan roda dua ini menjadi pilihan banyak orang untuk berbagai kegiatan. Upaya menciptakan kendaraan bertenaga mesin telah berlangsung sejak abad ke-19. Kala itu, kereta kuda menjadi kendaraan yang paling banyak digunakan untuk mengangkut orang dan barang. Beragam percobaan dilakukan untuk mengembangkan sebuah kendaraan bertenaga mesin yang memiliki kecepatan lebih besar dari kuda. Salah satunya Gottlieb Daimler. Mengutip Ensiklopedi Nasional Indonesia Volume 14, Daimler merupakan orang pertama yang membuat sepeda motor dengan mesin bertenaga bensin pada 1885. Penemu berkebangsaan Jerman itu merancang sebuah mesin dan memasangnya di sebuah sepeda kayu.
- Klub Motor Zaman Hindia Belanda
AKSI Elanto Wijoyono menghadang rombongan motor gede (moge) di Perempatan Condong Catur, Yogyakarta, 15 Agustus 2015, menjadi pembicaraan dan pemberitaan di media massa. Dia melakukan hal tersebut lantaran kesal dengan klub moge yang sering melanggar rambu lalu lintas saat kovoi dan melakukan tindakan seenaknya tanpa menghiraukan pengguna jalan lain. Ironisnya, mereka biasa dikawal polisi dengan voorijder. Sebenarnya, tak hanya moge, klub motor kecil pun ketika konvoi juga kerap menguasai jalan dan meminggirkan pengendara lain. Keberadaan klub motor di Indonesia sudah sejak zaman kolonial Belanda. Motor hadir sebelum mobil masuk ke Hindia Belanda. Orang pertama yang memiliki motor adalah seorang Inggris, John C. Potter, yang bekerja sebagai masinis pabrik gula di Umbul, dekat Probolinggo. Potter membeli motor langsung ke Hildebrand Und Wolfmuller, perusahaan penemu sepeda motor pertama pada 1883. Jadi, motor masuk Hindia Belanda tak lama setelah ditemukan. Setelah motor masuk ke Hindia Belanda, orang-orang terlihat kagum dan heran. “Karena tidak ditarik oleh kuda atau hewan lainnya maka kedatangan sepeda motor pertama di Jawa membuat siapa pun yang melihatnya menjadi tercengang dan terbengong. Orang lantas menamankannya Kereta Setan,” tulis Abdul Hakim dalam Jakarta Tempo Doeloe.
- Kebun Binatang Zaman VOC
BANYAK orang sekarang suka memelihara binatang. Anjing, kucing, dan kelinci menjadi hewan favorit untuk dipelihara. Namun, ada pula yang memelihara hewan buas seperti buaya dan harimau. Melihat jauh ke masa lalu, penduduk Batavia, khususnya gubernur jenderal dan para pembesar VOC, juga suka memelihara binatang. Taman-taman dibangun dan difungsikan sebagai penangkaran hewan-hewan eksotis, kandang burung, kandang bebek, dan kolam ikan. Di Kastil Batavia, menurut F. J. G. van Emden dan Willem Brandt dalam Kleurig memoriaal van de Hollanders op Oud-Java, para gubernur jenderal memiliki kebun binatang untuk hewan-hewan koleksinya. Mereka menerima hewan-hewan tersebut sebagai hadiah dari pangeran maupun pembesar Nusantara atau dibawa oleh nakhoda kapal dagang.
- Tiga Zaman Kebun Binatang
TAMAN margasatwa pertama di Jakarta adalah Taman Botani dan Zoologi Batavia (Batavia’s Planten en Dierentuin) yang didirikan pada 1864 di Cikini. Raden Saleh, sang empunya tanah partikelir luas di Cikini, menghibahkan pekarangan rumahnya untuk dijadikan Taman Botani dan Zoologi. Pekarangan rumah Raden Saleh digunakan sebagai taman yang dikenal sebagai wahana pengembangan tumbuhan, hewan, pertanian, holtikultura, dan perawatan hewan. Keasrian Taman Botani dan Zoologi jadi dambaan. “Para pelancong pasti tertarik pada Taman Botani dan Zoologi di Cikini,” tulis Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun. Siang hari para pelancong biasanya menikmati Taman Botani dan Zoologi dengan berjalan-jalan atau sekadar duduk di antara barisan pepohonan besar. Kala senja menyapa, lampu gas, yang sejak 1860-an berhasil mengusir gelap di Batavia, menerangi area Taman Botani dan Zoologi. Menurut tulisan pengunjung yang dikutip Susan Blackburn, malam hari di Taman Botani dan Zoologi hanya terdengar suara jangkrik, roda gerobak yang berputar, dan suara seruling.
- Menyanyi untuk Menyembuhkan
SATU per satu ibu-ibu memasuki Ruang Pamong Budaya di Gedung E, Kompleks Kemendikbudristek, Jakarta. Senyum merekah terpancar di wajah mereka saat berbaris menghadap penonton. Mengenakan pakaian tradisional beraneka warna, ibu-ibu itu siap unjuk kebolehan menyanyikan sejumlah lagu, sebelum diskusi bertajuk “S. Rukiah dalam Cinta dan Perjuangan” dimulai pada Rabu, 25 Oktober 2023. Mereka adalah paduan suara Dialita. Pada pagi itu, Dialita menyanyikan empat lagu, yaitu Dunia Milik Kita, Ku Pandang Langit, Semakin Memble, dan Salam Harapan. Salah satu lagu diciptakan oleh pengarang lagu terkenal. “Lagu Dunia Milik Kita merupakan karya Pak Sudharnoto yang juga pencipta lagu Garuda Pancasila,” kata Uchi, salah satu anggota Dialita. Dialita merupakan singkatan dari Di Atas Lima Puluh Tahun, karena umur para anggotanya 50 hingga 70 tahun, bahkan ada yang lebih dari 80 tahun. Mereka penyintas langsung dan keluarga penyintas yang mencoba bangkit dari masa lalu yang kelam setelah peristiwa 1965.
- Menggali Jejak Merah S. Rukiah
“MERAH ini bukan sadja merah warna revolusi jang sekarang sudah tidak tahu merahnja lagi, bukan pula merah darah pembunuhan, tapi juga merah tjinta.” Kutipan dari novel Kejatuhan dan Hati karya S. Rukiah itu menghiasi dinding pameran di RUBANAH–Underground Hub, Jakarta, dari 14 Oktober hingga 5 November 2023. Pameran bertajuk “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di Tengah Gejolak Revolusi” diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian acara Pekan Kebudayaan Nasional 2023. Pameran ini juga sebagai upaya menggali kembali sosok dan karya sang sastrawati yang aktif berkarya sejak tahun 1940-an. Novel Kejatuhan dan Hati yang terbit pada 1950 bukan karya pertama Rukiah. Di masa perang kemerdekaan, ia aktif menulis puisi dan mengirimkan tulisan-tulisannya ke sejumlah majalah, seperti Gelombang Zaman dan Godam Djelata. Selain menjadi koresponden dan staf majalah Pujangga Baru di Purwakarta, pada 1948 Rukiah juga kerap menulis untuk Mimbar Indonesia dan Indonesia. Meski begitu, Kejatuhan dan Hati yang membuat nama Rukiah semakin dikenal dan diperhitungkan sebagai sastrawan wanita di era kemerdekaan.
- S. Rukiah yang Luput dari Sejarah
“CINTA itu cerita lama, kataku meniru Harun. Dan dengan hati sombong, kutambah lagi: Kita bisa bikin cerita baru, di mana di dalamnya cerita itu tak usah diberi cinta kecil-kecilan. Atau kita juga bisa bikin cerita darah yang tidak kurang bagusnya dari cerita cinta. Atau kita bisa bikin cerita buruh, cerita mesin dan cerita benda-benda lainnya yang ada di luar cinta,” tulis S. Rukiah dalam novelnya, Kejatuhan dan Hati. Siti Rukiah lahir di Purwakarta pada 25 April 1927 sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Muhammad Asik dan Ipok. Salah satu pengarang wanita yang mulai menulis sejak tahun 1940-an. Pada masa pendudukan Jepang, ia menempuh pendidikan guru selama dua tahun, dan kemudian mengajar di Sekolah Rendah Gadis di Purwakarta. Gejolak revolusi tak menggentarkan Rukiah untuk terus berkarya di tengah perjuangan kemerdekaan. Selain menjadi anggota Palang Merah di Purwakarta, di usia 19 tahun, ia mulai menulis puisi untuk majalah mingguan Gelombang Zaman. Ia juga mengirim tulisannya ke sejumlah surat kabar, seperti Mimbar Indonesia dan Godam Djelata yang dikelola oleh Sidik Kertapati yang kelak menjadi suaminya.
- Ketika Amangkurat I Dikhianati
AWAL Juli 1677, pasukan Raden Trunajaya berhasil menguasai ibu kota Mataram seutuhnya. Raja beserta keluarga, serta para pangeran yang seharusnya bertanggung jawab atas pertahanan istana, telah lama hengkang. Mereka memilih menyelamatkan diri dan menyerahkan keraton berusia seratus tahun beserta seluruh harta di dalamnya setelah tidak mampu membendung kekuatan para pemberontak tersebut. Menurut H.J. De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram, peristiwa jatuhnya istana Mataram ke tangan para pemberontak sebenarnya bisa dihindari, mengingat Mataram masih memiliki persenjataan lengkap: sepuluh meriam besar, dan 20.000 prajurit yang siap diterjunkan ke medan tempur. Dengan kekuatan seperti itu mungkin mereka masih dapat bertahan dari gempuran pasukan Trunajaya, yang meskipun unggul jumlah tetapi kalah pengalaman berperang. “Tetapi pertahanan Mataram hancur dari dalam karena anarki dan pengkhianatan,” tulis De Graaf.
- Murka Amangkurat I
PETUALANGAN Pangeran Anom dalam mencari cinta akhirnya selesai. Seorang gadis asal Kali Mas, Surabaya, berhasil mencuri hati si putra mahkota kerajaan Mataram tersebut. Oyi, putri mantri Ngabei Mangunjaya, telah benar-benar mengikat Pangeran Anom. Namun bukan kebahagiaan yang menanti mereka. Kemurkaan sang ayah, Amangkurat I, menghancurkan segalanya. Sejak dibawa keluar dari rumah orang tuanya, garis takdir telah mengantar Oyi menjadi calon ratu di istana Mataram. Tetapi bukan sebagai pendamping Pangeran Anom, melainkan istri bagi Amangkurat I, yang baru saja kehilangan cintanya. Oyi yang kala itu masih berusia 11 tahun dianggap terlalu kecil untuk dipinang. Karenanya Amangkurat I meminta salah seorang mantrinya, Ngabei Wirareja, untuk mengurus hingga si gadis tumbuh dewasa. Di sinilah kekacauan bermula. Menurut J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Jawi: Javaanse Rijkroniek, Oyi yang sudah remaja secara tidak sengaja ditemukan Pangeran Anom. Seketika itu juga si pangeran jatuh cinta kepadanya. Meski telah diberitahu bahwa gadis itu kelak akan menjadi istri ayahnya, cinta telah membutakan Pangeran Anom. Berbagai resiko rela ia hadapi demi bisa bersama sang pujaan hati.





















