Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Irawan Soejono Against Nazi Germany in the Netherlands
IT is a street in Osdorp, a suburb of Amsterdam, but the name is quite distinctive. This street stretches around 200 meters, connecting Rudi Bloemgartensingel with Trijn Hullemanlaan and is flanked by two streets: Jacob Paffstraat and Geertruide Lierstraat. The Amsterdam municipality named the street Irawan Soejonostraat. Irawan Soejono isn't a famous figure, especially when compared to other Indonesian figures who were immortalized into street names in the Netherlands, such as R.A. Kartini (Kartinistraat), Mohammad Hatta (Hattastraat), and Sutan Sjahrir (Sjahrirstraat). Irawan's name was immortalized because of his struggle and sacrifice in a country that, ironically, colonized his homeland. The Irawan Soejonostraat was inaugurated on May 4, 1990, in conjunction with the commemoration of the heroes and victims of the Nazi-German occupation.
- Nyong Ambon Ditembak Nazi
BERITA kematiannya muncul di koran Het Vaderland tanggal 24 April 1942. Koran itu menyebut bahwa dirinya meninggal dunia pada 9 April 1942 di Dijon, Perancis, daerah yang tengah dikuasai tentara Jerman-Nazi sebagaimana Belanda. Victor Lucas Makatita yang malang itu masih belum genap berusia 23 tahun ketika dieksekusi. Sebelum tentara Jerman menduduki Belanda, Victor adalah taruna di Akademi Militer Breda. Ketika tentara Jerman menginvasi pada Mei 1940, Victor sudah berpangkat Sersan Kadet. Menurut Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische Officieren uit het KNIL 1900-1950, Victor masuk akademi pada 15 September 1938 dan sejak Juli 1940 dia tak lagi menjadi taruna. Lulusan SMA di zaman Hindia Belanda umumnya anak pegawai bergaji tinggi. Keluarga Makatita sendiri pernah tinggal di Negeri Belanda pada 1930-an. Arsip-arsip Belanda menyebut Victor lahir di Batavia, pada 30 April 1919. Ia putra ketiga dari empat bersaudara pasangan Lucas Makatita, yang kelahiran 1874, dengan Maria Fransisca Kessler, yang kelahiran 1887. Victor termasuk orang Ambon yang lahir-besar di luar Kepulauan Lease, Maluku yang meliputi Pulau Ambon.
- Resep Basi Ekonom Nazi
KONSULTAN ekonomi pemerintah Indonesia, Hjalmar Schacht menyelesaikan laporan dalam bahasa Jerman pada 9 Oktober 1951. Laporan itu kemudian diterbitkan pemerintah Indonesia dalam bahasa Indonesia dan Jerman. Semua pejabat tinggi pemerintah mendapat salinan agar bisa mempelajarinya. Schacht membagi laporannya dalam tujuh bab. Bagian pertama menjelaskan latar belakang kedatangan dan tugasnya di Indonesia. Bagian kedua menyentuh keadaan umum seperti pemulihan keamanan, pembenahan birokrasi, bantuan luar negeri dan modal asing/swasta, serta peningkatan standar hidup dan prestasi kerja. Dan bab-bab berikutnya berturut-turut membahas dasar-dasar ekonomi, perdagangan dan perusahaan bank, keuangan negara, valuta, serta kesimpulan dan penutup. Laporannya kurang tersusun rapi. Pembahasannya tumpeng tindih dan kadang diulang-ulang. Tapi, kekurangan ini tentu tak mengurangi arti penting laporannya. “Dalam perjalanan pembangunan negara ini, pemerintah tidak sedikit menjalankan rekomendasi saya,” ujar Schacht dalam bukunya, The Magic of Money (1967).
- Duet Masyumi-PSI Datangkan Menteri Nazi
DI rumahnya di Bleckede, sebuah kota di distrik Luneburg, Lower Saxony, Jerman, Hjalmar Schacht menerima rombongan tamu dari Indonesia yang dipimpin Menteri Keuangan Jusuf Wibisono dari Partai Masyumi. Tujuan mereka cuma satu: apakah Schacht sudi datang ke Indonesia. Schacht bimbang sejenak. Indonesia adalah negeri yang jauh. Dia juga tak mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menimbang. Belum pula ada niat untuk bekerja dalam jangka waktu lama di negara asing. Tapi dia tertarik untuk berbagi pengalaman. “Karena itu saya mengatakan kepada utusan itu bahwa saya siap, pada waktu yang ditentukan, untuk memberikan pendapat ahli kepada pemerintah Indonesia, gratis, mengenai masalah ekonomi dan keuangan asalkan pemerintah bersedia menanggung biaya perjalanan dan hotel,” tulis Schacht dalam memoarnya My First Seventy-Six Years (1955).
- Sersan Mas Soemitro Melawan Nazi di Belanda
SEORANG pemuda Jawa, Mas Soemitro, tiba di Negeri Belanda pada 1914 bersama mantan asisten residen Belanda yang tinggal di Utrecht. Setahun sebelumnya, Mas Soepardji tiba di Belanda bersama istri asisten residen itu. “Kepada orang tua kedua pemuda itu, asisten residen berjanji akan menyekolahkan mereka di Negeri Belanda untuk menjadi pengawas pekerjaan umum, tetapi ternyata mereka dimanfaatkan sebagai pembantu rumah tangga,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda. Mas Soemitro dan Mas Soepardji kemudian melapor ke pihak berwenang. Dewan Perwalian pun turun tangan. Sehingga mereka terbebas dari mantan asisten residen itu. Atas permintaan mereka, Dewan Perwalian mengirim keduanya ke Kampen atau sekolah pendidikan bintara.
- Mimpi Merdeka Raden Ajeng Kaida
PADA bulan Oktober 1912, seorang wanita muda di keraton Paku Alam Yogyakarta memulai surat pertamanya kepada sahabat pena baru di Belanda. Raden Ajeng Kaida berumur delapan belas tahun dan terus berkomunikasi dengan teman barunya dari Belanda, Kaatje, selama kurang lebih empat tahun. Surat-suratnya, yang sekarang disimpan dalam arsip di Amsterdam, memberikan pengetahuan yang menarik tentang harapan Kaida untuk masa depannya. Surat-surat itu juga menunjukkan bahwa dia harus menghadapi banyak kekecewaan, karena tradisi priayi terkadang lebih kuat daripada mimpinya sendiri. Kisah Kaida memiliki banyak kesamaan dengan kisah Raden Ajeng Kartini (1879–1904). Keduanya berkorespondensi dengan wanita muda seusia mereka di Belanda. Kartini mulai menulis kepada teman penanya, Stella Zeehandelaar, pada tahun 1899, ketika dia berusia dua puluh tahun. Baik Kartini dan Kaida bergumul dengan keterbatasan tradisi dalam keluarga priayi mereka. Namun, ketika Kartini menjadi terkenal, kisah Kaida tidak diketahui. Surat-suratnya pada Kaatje menggambarkan pengalaman pribadi seorang wanita muda priayi di saat masyarakat Jawa sedang berubah dengan cepat. Tidak jelas bagaimana Kaida bisa berhubungan dengan sahabat pena Belandanya. Mungkin para gadis-gadis ini mulai bertukar surat karena guru Kaatje di Amsterdam, yang menghubungkan gadis Jawa dan Belanda satu sama lain. Berbeda dengan Kaatje yang duduk di bangku SMA, Kaida telah meninggalkan sekolah setelah lulus dari Sekolah Dasar berbahasa Belanda (Europese Lagere School) pada usia lima belas tahun. Dia menulis dan berbicara bahasa Belanda dengan lancar.
- Di Balik Tewasnya Emod
DIAM-diam, otoritas Belanda di Australia pada sekitar 6 November 1946 memindahkan 13 orang tawanannya di Kamp Casino, pedalaman New South Wales ke Batavia. Para tahanan itu adalah Gozali, Kemirin, Woworoentoe, Kamagi, Tala, Tuala, Karto, Praitano, Dengah, Moestari, Sahja, Lengkong, Jadi, dan Lantang. “Saya melaporkan peristiwa menghilangnya 13 orang tahanan secara rahasia kepada Menteri Calwell pada 7 November 1946 yang dibawa lari penguasa Belanda di Kamp Casino. Mereka dituduh Belanda telah membunuh Emod,” kenang Mohammad Bondan dalam Memoar Seorang Eks Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan. Tuduhan bahwa Emod dibunuh mereka tidak dipercayai orang Australia yang mendukung kemerdekaan Republik Indonesia, yang kebanyakan anggota kelompok sayap kiri yang kala itu berpengaruh di Australia. Koran Tribune ikut meributkannya di edisi Selasa, 3 Desember 1946. Koran itu menyebut penyidik dari pihak Australia menyebut Emod bunuh diri. Namun pihak Belanda terus berkeras bahwa ke-13 tahanan itu yang membunuh Emod.
- Amat Jantan Indonesia
AMAT, salah seorang anggota barisan pembantu prajurit Jepang (Heiho) di Angkatan Laut, dipuja bak pahlawan. Kisah keberanian dan pengorbanannya dipropagandakan melalui drama, film, hingga lagu. Pemerintah pendudukan Jepang memobilisasi para pemuda untuk bergabung dengan pasukan-pasukan semimiliter. Salah satunya Heiho, yang dibentuk pada April 1943. Syaratnya, pemuda berusia 18-25 tahun, berbadan sehat, berkelakuan baik, dan pendidikan minimal sekolah dasar. Mereka dijanjikan akan ditempatkan di Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang. Nyatanya, Heiho dimaksudkan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan kasar di kesatuan-kesatuan angkatan perang Jepang. “Oleh karena barisan Heiho ini adalah barisan tenaga pekerja, maka umumnya tidak diberi senjata kepada mereka, kecuali satu taikeng (sangkur) yang merupakan satu bagian mutlak dari pakaian seragam yang lengkap,” tulis O.D.P. Sihombing dalam Pemuda Indonesia Menantang Fasisme Djepang.
- Kesaksian Seorang Heiho di Balikpapan
KEMIS bin Singadarta bukanlah anggota Heiho terkenal macam Amat, yang bertempur di Balikpapan melawan serbuan Sekutu pada 1945. Dia hanyalah pemuda 25 tahun dari Desa Toyoreka di Keresidenan Banyumas, Jawa Tengah pada tahun 1945. Profesinya hanya tukang bubut. Namun dengan keahliannya itu, Kemis bisa jadi anggota teknik militer di Heiho dan ke luar Jawa. Heiho adalah pembantu tentara Jepang. Anggotanya direkrut dari penduduk lokal tempat pasukan Jepang berkuasa. “Heiho mulai diberlakukan di Indonesia pada tanggal 22 April 1943. Heiho terutama bertugas sebagai pekerja transportasi, logistik, dan konstruksi. Yang lainnnya bertugas dalam unit-unit penangkis serangan udara, tank, dan transportasi. Pada awalnya, heiho dibentuk terutama dari para tawanan perang bangsa Indonesia yang pernah bertugas dalam KNIL. Kemudian, perekrutan dilakukan di antara masyarakat umum,” tulis Nino Oktorino dalam Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia.
- Maria Walanda Maramis, Pahlawan Nasional dari Sulawesi Utara
SENYUM terkembang di wajah Maria Walanda Maramis saat membuka Sekolah Rumah Tangga (Huishoud School) di Sulawesi Utara pada 1917. Di tahun yang sama, tepatnya pada 8 Juli 1917, Maria juga mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) yang berperan besar dalam meningkatkan pendidikan bagi perempuan dan anak-anak di Sulawesi hingga ke berbagai daerah. Maria lahir di Kema, kota pelabuhan kecil di Sulawesi Utara, pada 1 Desember 1872. Orang tuanya meninggal saat ia berusia enam tahun. Ia kemudian dibesarkan oleh paman dan bibinya. Pamannya, seorang Hakim Besar yang terpandang di Maumbi, menyekolahkan Maria dan kakak perempuannya di sebuah Sekolah Melayu. Sejak remaja, Maria sudah memiliki keinginan memajukan kaum perempuan. J.B. Sudarmanto dalam Jejak-jejak Pahlawan Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia menyebut perkenalan Maria dengan sejumlah orang terpelajar, salah satunya Pendeta Ten Hoeven, kian membuka matanya akan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan. Terlebih Maria menyadari pendidikan yang diperolehnya belum memadai karena hanya sekolah dasar. Oleh karena itu, ia mengisi waktunya dengan belajar secara otodidak.
- Jejak Nazi di Ukraina
KOTA-kota besar strategis Ukraina terus diguncang prahara agresi Rusia sejak 24 Februari 2022. Kharkiv, Mariupol, Berdyansk, Kherson, dan bahkan ibukota Kyiv jadi target serangan Kremlin yang dalih awalnya akan membebaskan Luhansk dan Donetsk. Presiden Rusia Vladimir Putin memberi lampu hijau pada mesin-mesin perangnya dengan alasan untuk melakoni demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina dari rezim sayap kanan pengikut neo-Nazi dan “Banderites”. “Banderites dan neo-Nazi mengumpulkan senjata-senjata berat, termasuk MLRS (Sistem Peluncur Roket Ganda), tepat di distrik pusat kota-kota besar, termasuk Kiev dan Kharkov. Ini sebenarnya mereka berlaku dengan cara yang sama dengan tindakan-tindakan teroris di seluruh dunia –menggunakan manusia sebagai tameng,” kata Putin, dikutip Kementerian Luar Negeri Rusia via akun Twitter-nya, @mfa_russia, 26 Februari 2022. “Banderites” merupakan istilah neo-Nazi yang dipakai Kremlin sejak era Uni Soviet. Istilah tersebut merujuk pada tokoh fasis di era Perang Dunia II, Stepan Bandera. Tokoh perlawanan yang pernah berkolaborasi dengan Jerman Nazi untuk melawan Soviet dan di kemudian hari justru berontak pada Nazi itu dinobatkan sebagai pahlawan nasional Ukraina oleh Presiden Ukraina Viktor Yushchenko pada 2010. Namun, setahun berselang status itu dicabut lagi atas desakan Polandia, Rusia, dan Uni Eropa karena Bandera dianggap terlibat dalam holocaust di Ukraina dan Polandia.
- John Rabe, Nazi Anomali dalam Prahara Nanking
MUSIM dingin di Nanking (kadang ditulis Nanjing) pada akhir Januari 1938 masih begitu menusuk. John Rabe, lelaki plontos berkacamata dan menyandang armband Swastika Partai Nazi di lengan mantelnya, berjalan dengan hati-hati ditemani asistennya, Han. Mereka hendak mengecek sekitar 100 pengungsi di dekat pekarangan belakang rumahnya. Kamp pengungsi itu berubah jadi rawa-rawa lagi. Sebelumnya terjadi badai salju selama dua hari. Hari Minggu, 30 Januari 1938, itu saljunya mencair. Terlepas dari keadaan yang memprihatinkan, mayoritas pengungsi itu memajang senyum saat ditemui Rabe. Maklum, sebelumnya pada perayaan tahun baru 1938, Rabe menyumbangkan 100 dolar Amerika untuk diberikan masing-masing satu dolar ke 100 pengungsi itu. “Sungguh kemalangan yang luar biasa, dan besok adalah Tahun Baru China (Imlek), hari raya terbesar bagi orang-orang China yang malang! Komite memberikan kamp saya sebuah hadiah tambahan lima dolar untuk membeli rempah-rempah untuk membumbui nasi tahun baru mereka – lima dolar untuk 600 orang! Sayangnya kami tak bisa memberikan lebih dari itu walau uangnya mereka terima dengan rasa syukur. Semua orang juga menerima secangkir beras tambahan dari jatah harian dua cangkir,” tulis Rabe dalam catatan hariannya, Der Gute Deutsche von Nanking (terj. The Good German of Nanking).





















