top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sebelum Satar Dieksekusi

    MESKI hanya seorang bekas sersan mayor (Serma), di dalam Penjara Cipinang Satar menjadi pemuka blok ekstrim kiri. Padahal di blok itu ada bekas menteri dan seorang kolonel yang dulu menjadi atasannya. Satar di Cipinang karena keterlibatannya dalam Gerakan 30 September 1965. Satar terlibat dalam penculikan para jenderal. Satar bin Atmodimedjo lahir di Jatiguni, Malang, sekitar 1931. Prajurit Angkatan Darat itu merupakan komandan Peleton II Kompi C Batalyon Kawal Kehormatan I Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno. Komanda batalyonnya adalah Letnan Kolonel Untung. Buku Gerakan 30 September di Hadapan Mahmillub 2 di Jakarta: Perkara Untung menyebut, Satar tinggal di Asrama Tjakrabirawa Tanah Abang II, Jakarta. Sebagai seorang bawahan, Serma Satar tak tahu suhu politik nasional, apalagi intrik di dalamnya, terik pada 1965. Dia hanya tahu jiwa-raganya dipertaruhkan untuk keselamatan presiden.

  • Gijadi Menembak Yani

    Sebagai tentara, Sersan Dua (Serda) Gijadi bin Wignjosukardjo hanya bisa patuh apa perintah komandan. Pada 30 September 1965, Gijadi bersama rekan-rekannya di Kompi B Batalyon Kawal Kehormatan I Resimen Tjakrabirawa dikumpulkan oleh atasannya. Mereka diperintahkan melaksanakan sebuah tugas khusus. “Pada tanggal 30 September 1965 saya diperintahkan untuk konsinyir berat (berkumpul) dan pada jam 10.30 kami dengan pasukan dibawa ke Lubang Buaya. Di sana kami oleh sersan Raswad disuruh istirahat,” aku Gijadi dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub) 25 Februari 1966 di Jakarta, sebagaimana tercatat dalam Gerakan 30 September di Hadapan Mahmillub 2 di Jakarta: Perkara Untung. Lubang Buaya jauh dari tempat Gijadi tidur. Komandan salah satu regu di Kompi B KK I Tjakrabirawa itu tinggal bersama para prajurit Tjakrabirawa lain di asrama Tjakrabirawa Tanah Abang II, Jakarta. Dekat dari Istana Negara, asrama Tjakrabirawa sama-sama berada dalam ring 1 oleh karena Tjakrabirawa tugasnya mengawal Presiden Sukarno.

  • Tradisi Minum Tuak Zaman Mataram Kuno

    RAJA Mataram, Rake Watukura Dyah Balitung (898-911), mengutus Rakryan Watu Tihang Pu Sanggramadhurandhara meresmikan tanah, bangunan suci dan sawah di wilayah desa Taji menjadi daerah perdikan (bebas pajak). Para pejabat di tingkat pusat, tingkat desa, saksi dari desa tetangga, dan penduduk desa Taji, turut hadir mengikuti upacara penetapan sima itu. Setelah upacara selesai, tersuguh hidangan berupa nasi dengan lauk -pauk daging kerbau, ayam, ikan asin, dan telur. Tak lupa minuman tuak (twak). Minuman ini acapkali menjadi suguhan pada prosesi penetapan sima. Informasi awal mengenai prosesi penetapan sima yang menyuguhkan tuak, tersua dalam prasasti Taji yang dikelurakan pada tahun 823 Caka atau 901 M. Tuak juga tercatat dalam prasasti-prasasti lain, yang dikeluarkan dari masa Dyah Balitung hingga Pu Sindok.

  • 16 Desember 1931: Kolonisasi Ekonomi di Tanah Gayo

    MESKI kedatangan Belanda di tanah Gayo, Aceh telah berlangsung sejak awal abad ke-20, namun upaya kolonisasi oleh orang-orang Eropa baru kembali dilakukan pada dekade 1930-an. Pada 1931, Departemen Vaderlandsche Club (VC) Jawa Barat memutuskan untuk melakukan kolonisasi ekonomi di Gayo. Upaya tersebut merupakan inisiatif dari Presiden VC Dr. W.L. Wolff bersama Serikat Pengusaha Perkebunan Hindia Belanda. VC atau Klub Patriotik merupakan organisasi politik ultra-reaksioner orang-orang Belanda yang berdiri pada 1929 dan mayoritas anggotanya mendukung pemerintah kolonial. Pendirian VC sebagai bentuk protes terhadap ethisch beleid (kebijakan politik etis) Gubernur Jenderal Hindia Belanda Andries Cornelies Dirk de Graeff. Di sisi lain, kalangan nasionalis Indonesia menilai De Graeff merupakan Gubernur Jenderal yang toleran terhadap pergerakan nasional dengan segala tuntutan yang digaungkan.

  • Jejak Raja dan Ratu Belgia di Indonesia

    DI Kebun Raya Bogor, ada nama jalan yang terdengar asing. Nama itu tidak diserap dari makna lokal, malah cenderung bernuansa Eropa. Jalan Astrid namanya. Nama ini merujuk kepada sosok Putri Astrid, putri Kerajaan Belgia yang pernah berkunjung ke Bogor pada masa kolonial. “Putri Astrid ini seorang botanis, pencinta tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Akhirnya namanya diabadikan sebagai salah satu jalan di Kebun Raya Bogor,” tutur Suryagung, arsiparis sekaligus ketua tim pameran ANRI ketika memandu Historia.ID dalam pameran arsip 75 Tahun Hubungan Indonesia-Belgia, beberapa waktu silam. Pada 1928, Putri Astrid berkunjung bersama suaminya, Pangeran Leopold, putra mahkota Kerajaan Belgia. Waktu itu mereka baru saja melangsungkan pernikahan. Jadi, perjalanan Astrid dan Leopold ke Kebun Raya Bogor masih dalam momen berbulan madu. Selain ke Bogor, pasangan ini juga mengunjungi Surakarta, Surabaya, dan Bali.

  • Demi Mudik, Serdadu Indo-Jawa KNIL Pilih Desersi

    KERETA api Istimewa disediakan pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk membawa rombongan Dr Koets dari Komisi Belanda ke pedalaman Jawa di daerah Republik Indonesia pada 15 September 1946, dua minggu setelah lebaran. Saat itu antara pemerintah dengan Belanda sedang berdiplomasi guna mencari kata sepakat atas konflik keduanya. Adalah Des Alwi (1927-2010), keponakan angkat Wakil Presiden Hatta, yang mengusahakan keretaapi tersebut. Pria asal Banda itu punya akses untuk ikut Kereta Istimewa dari Jakarta lantaran punya banyak kawan ketika berada di Surabaya dan Jakarta. Jumlah kawannya bertambah setelah Indonesia merdeka dan banyak yang lebih tua darinya. Salah satu kawannya, George Reuneker, menumpang dalam Kereta Istimewa itu. “George Reuneker menyelundupkan senjata itu di bawah tempat duduk Dr. Koets di kereta api,” kenang Des Alwi dalam Seri Dimata: Pribadi Manusia Hatta.

  • Yusman Sudah Komando Sebelum Sekolah Perwira

    UNTUK menghantam lagi kombatan Permesta di Sulawesi Utara, sekitar tahun 1961 batalyon kedua Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dikirim ke Sulawesi Utara. Sebelum berangkat, batalyon ini tujuh bulan latihan di bawah tembakan di Jawa. Meski Permesta sudah terdesak ke pedalaman, pergerakan pasukan RPKAD di bawah pimpinan Mayor Seno Hartono itu tidaklah mudah. Dengan susah payah pasukan RPKAD itu menghadapi pasukan PRRI yang terlatih dalam berperang. Senjatanya pun tidak kalah dari RPKAD. “Bagi Prajurit Yusman Yutam, Permesta terbukti sebagai lawan yang gigih,” catat Ken Conboy dalam Kopassus Inside Indonesia's Special Forces. Prajurit Yusman merupakan anggota RPKAD yang bersama tiga rekannya bergerak di depan. Kendati usianya belum genap 21 tahun, dia sudah menjadi bagian korps elite AD itu lantaran awal era 1960-an RPKAD kekurangan perwira. Kekurangan itu disiasati pimpinan antara lain dengan memberi kesempatan pada beberapa prajurit rendahan RPKAD yang punya ijazah SMA untuk ikut tes Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang. Salah satunya Yusman.

  • Pemerintah Kolonial Libatkan Masyarakat dalam Kawasan Konservasi

    PENUTUPAN Pulau Rinca di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melanjutkan pembangunan Taman Wisata ala Jurassic Park mengundang pro dan kontra. Pegiat lingkungan menilai pembangunan mengancam habitat komodo dalam kawasan konservasi dan mengabaikan keterlibatan masyarakat. Tapi pemerintah mengatakan bahwa pembangunan sudah mempertimbangkan dua hal tersebut. Pelibatan masyarakat dalam kawasan konservasi sejatinya bukan hal baru. Sejarah konservasi alam masa Hindia Belanda telah menunjukkan beberapa kecenderungan pemerintah kolonial untuk melibatkan peran masyarakat dalam konservasi. “Sejak pertama kali pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan tentang kehutanan, baik hutan lindung, cagar alam maupun suaka margasatwa, penduduk setempat telah menerima perhatian untuk dipertimbangkan,” catat Harto Juwono dan Gunung Sinaga dalam Sejarah Konservasi Alam di Indonesia (Periode 1865–1950).

  • Waktu Deep Purple Konser di Senayan

    RENCANANYA band gaek asal Inggris, Deep Purple, akan konser di auditorium Universitas Muhammadiyah, Surakarta pada 10 Maret 2023. Dalam konser itu, armada Deep Purple akan diisi oleh Don Airey (keyboard), Simon McBride (gitar), Ian Gillan (vocal), Roger Glover (bass), dan Ian Paice (drum). Tiga nama terakhir adalah nama penting dalam sejarah Deep Purple. Setengah abad silam, Gillan, Glover, dan Paice bagian dari Mark II. Personel lain zaman Mark II itu adalah Ritchie Blackmore (gitar) dan Jon Lord (keyboard). Mark II dianggap sebagai zaman keemasan Deep Purple. Sayangnya, Jon Lord sudah berpulang pada 2012. Jadi, tentu terasa ada yang kurang dalam Deep Purple. Di zaman itu, Deep Purple merilis album studio seperti Deep Purple in Rock (1970), Fireball (1971), Machine Head (1972), dan Who Do We Think We Are (1973), selain album live Concerto for Group and Orchestra. Formasi Mark II setidaknya telah menelurkan hits Speed ​​​​King, In to Fire, Black Night, Child in Time, dan tentu saja Smoke on the Water. Lagu-lagu ini banyak diingat para penggemar musik rock.

  • Semarak Konser Musik Rock di Indonesia

    KONSER musik di alam terbuka sering digelar di berbagai kota. Salah satunya RockAdventure 2018 yang digelar di sejumlah kota dan akan berakhir 5 Mei ini. Pada 1970-an, konser musik serupa tak kalah semarak. Yang tak bisa dilupakan adalah Summer 28. Puluhan ribu orang menyemut di sebuah lapangan luas pusat pembuatan film, semacam laboratorium film, di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saat ini tempatnya persis di pertigaan lampu merah, Pasar Minggu, sebelum pusat perbelanjaan Pejaten Village. Mereka berjingkrak, mengikuti irama lagu yang sedang dimainkan grup musik di atas panggung. Summer 28 ―akronim Suasana Menjelang Kemerdekaan RI ke-28― digelar pada 16 hingga 17 Agustus 1973. Pengamat musik Bens Leo mengatakan, Summer 28 merupakan konser musik di alam terbuka pertama di Indonesia. Selain itu, ia merupakan konser musik pop dan rock pertama berskala internasional.

  • Konser Bon Jovi di Ancol Rusuh

    BON JOVI kembali menggelar konser di Gelora Bung Karno, Jakarta, 11 September 2015. Duapuluh tahun lalu, tepatnya 6 Mei 1995, band rock asal Amerika Serikat ini, menggebrak panggung konser di Stadium Ancol, Jakarta Utara. Pada tahun ini, konser band dunia di Jakarta dua kali lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. “Sejumlah nama mendunia mulai Roxette, Phil Collins, Bon Jovi, Take That, dan Wet Wet Wet mengisi album pertunjukan tahun lalu (1995) dengan meraup miliaran rupiah,” tulis majalah Warta Ekonomi, No. 33 Th VII/Januari 1996. “Hanya konser Bon Jovi yang mampu menandingi pentas Phil Collins yang memamerkan perpaduan antara manajemen panggung, kemampuan musikal, dan olah vokal yang prima.” Phil Collins yang juga konser di Ancol dihadiri tak kurang dari 70.000 penonton. Sedangkan penonton Bon Jovi, menurut promotor lokal, sekira 60.000. Namun, menurut Mike Levin dalam majalah Billboard, 20 Mei 1995, “laporan-laporan media massa menaksir penonton mencapai 100.000.” Angka ini mungkin termasuk penonton di luar yang tak bertiket dan jumlahnya mencapai ribuan.

  • Adopsi demi Integrasi

    BILIKI, Petrus Kanisius, Iqbal Menezes, Zacarias Pereira, Benvindo bukanlah sekadar nama-nama. Mereka, bersama ribuan putra dan putri asal Timor Leste, mewakili sebuah tragedi. Mereka tercerabut dari akarnya di tengah perang dan pendudukan militer Indonesia. Sejarawan lazim melukiskan kolonialisme dengan beleid, ketimpangan negeri terjajah, kebangkitan nasionalisme, dan seterusnya. Buku ini justru memperlihatkan bahwa kolonialisme dapat digambarkan melalui kisah dramatis anak-anak yang dibawa dari Timor Timur –nama yang disematkan Indonesia setelah menduduki wilayah ini– ke Indonesia, secara paksa atau setengah paksa, sejak 1975 hingga 1999. Mereka dibawa dengan persetujuan orangtua, ada pula yang tanpa izin atau dengan tipu daya. Ada yang diperlakukan dengan baik, ada yang dipekerjakan, bahkan menjadi semacam budak. Sekitar dua dari empat ribu kasus berlangsung melalui lembaga-lembaga, separo lainnya adopsi. Karena itu, Helene memilih istilah netral “transfer” untuk menangkap makna “pengiriman”, “pengambilalihan”, “penculikan” dan “perdagangan anak”.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page