top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10077 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Penjajahan Memudarkan Visi Kelautan

    INDONESIA harus kembali membangun visi kelautan. Sejarah membuktikan, bangsa Indonesia adalah penjelajah samudera yang mampu membawa pengaruh budayanya hingga ke Madagaskar. Hal itu diutarakan diplomat senior sekaligus ahli hukum laut internasional, Hasjim Djalal dalam pidatonya berjudul “Visi Kelautan Indonesia dari Segi Sejarah” sebagai pembicara kunci dalam Seminar Nasional Indonesia (SNI) X di Jakarta, Selasa (8/11). “Kalau dilihat dari segi sejarah tidak ada keraguan,” ujar penasihat khusus menteri kelautan dan perikanan itu. Hasjim menuturkan, dahulu bangsa Indonesia mampu mengembangkan teknologi pelayaran, mengembarai Samudera Hindia sampai Madagaskar. Tak cuma ke sana, orang Indonesia bagian timur pun sudah menjelajahi Samudera Pasifik hingga Kepulauan Paskah.

  • Hari Tua Anggota DPR Termuda

    TAHANAN politik (tapol) di Penjara Cipinang semasa Orde Baru adalah tahanan-tahanan yang saling tolong-menolong dengan sesama tahanan. Tak peduli afiliasi politik mereka kanan –biasanya kelompok Islam yang terkait Negara Islam Indonesia (NII)– ataupun kiri –terdiri dari pelaku G30S, mantan anggota PKI atau mereka yang diduga punya simpati terhadap partai kiri tersebut. Mereka tak hidup ekslusif dengan membuat kelompok sendiri selama di tahanan. Bahkan, mereka karib bergaul dengan Xanana Gusmao, pemimpin Fretilin. “Satu penderitaan. Sama-sama membenci Soeharto, kan. Gak peduli ideologinya apa,” ujar Fauzi Isman, salah satu tapol kasus Talangsari, Lampung yang terkait NII. Selama dalam tahanan, Fauzi pun berkawan dengan orang-orang PKI yang usianya jauh di atasnya. Ketika masuk penjara, Fauzi masih 22 tahun. Salah satu tahanan lain yang dikenalnya adalah Sukatno Hoeseni.

  • Asal-Usul Lagu Halo-Halo Bandung

    KOTA Bandung hangus dilalap api. Tentara republik membakar markas dan asrama-asramanya serta bangunan-bangunan penting. Banyak warga juga ikutan membakar sendiri rumah mereka dibantu para laskar. Segenap rakyat Bandung tidak sudi menyerahkan kota mereka begitu saja kepada tentara Sekutu. Begitulah situasi kota Bandung di masa genting revolusi, Maret 1946, yang kemudian dikenal sebagai “Bandung Lautan Api”. “Peristiwa ini yang oleh komponis Ismail Marzuki kemudian diabadikan dalam lagu ‘Halo, halo Bandung’,” tulis Pramoedya Ananta Toer, dkk. dalam Kronik Revolusi Jilid 2 (1946). Lagu “Halo-Halo Bandung” mengusung spirit heroisme. Ia kerap dinyayikan dengan tempo mars. Liriknya sederhana tapi penuh semangat, terutama pada bagian akhir yang mengenang perjuangan rakyat Bandung mempertahankan kemerdekaan, sebagai berikut:

  • Halo-Halo Bandung, Sebuah Syair Cinta Anonim

    LAGU “Halo-Halo Bandung” merupakan salah satu lagu perjuangan paling terkenal di Indonesia, tapi juga yang paling kontroversial karena penciptanya tidak diketahui. Ada yang menyebut komposer Ismail Marzuki, seorang pemuda pejuang Ciparay, dan L. Tobing, anggota Divisi Siliwangi. Saya berargumen bahwa lirik dalam lagu tersebut merupakan syair cinta yang dibuat seorang pemudi pejuang tidak dikenal kepada tunangannya. Pendapat ini berdasarkan berita yang diterbitkan Antara, 10 Agustus 1946. Judulnya, “Tentang anggauta2 LASJWI jang goegoer dimedan pertempoeran Djawa Barat: Asmara kalah dengan semangat berdjuang”. Di sana diceritakan konteks bagaimana syair itu digubah. Pada Juli 1946, Belanda mengebom Majalengka. Sejumlah pejuang wanita menjadi korban, termasuk dari Lasjkar Wanita Indonesia (Lasjwi) Yogyakarta, PPI Garut, dan PMI Tasikmalaya. Para pemudi yang selamat mengungsi ke ibu kota Republik, Yogyakarta.

  • Empat Karya Seni Terinspirasi Peristiwa Bandung Lautan Api

    BANDUNG Lautan Api pada 24 Maret 1946 menjadi peristiwa penting dalam sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia. Ia menginspirasi para seniman dalam karya-karyanya. Berikut ini empat karya mereka: Lagu Ismail Marzuki yang ikut mengungsi menciptakan beberapa lagu: Saputangan dari Bandung Selatan, Karangan Bunga dari Selatan, O, Angin Sampaikan Salamku, dan Gugur Bunga. Lagunya yang terkenal dan kontroversial adalah Halo-halo Bandung. Menurut J.A Dungga dan L. Manik dalam Musik di Indonesia dan Beberrapa Persoalannja, Halo-halo Bandung merupakan lagi mars yang melodi dan harmoni bagian pertamanya hampir sama dengan melodi dan harmoni dari kalimat-kalimat lagu When It’s Springtime in the Rockies karya Robert Sauer dan Mary Haley Woolsey.

  • Kisah di Balik Bandung Lautan Api

    KAMIS, 21 Maret 1946. Sebuah Dakota milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) melayang-layang di atas Kota Bandung. Alih-alih melemparkan bom, justru pesawat angkut tersebut menurunkan ribuan lembar kertas. Isinya: Para ekstrimis Indonesia harus mengosongkan Bandung selambat-lambatnya pada 24 Maret 1946, jam 24.00 dan mundur sejauh 11 km dari tanda kilometer nol. Asikin Rachman sedang di wilayah Cicadas saat kertas-kertas itu berhamburan dari udara. Betapa terkejutnya pejuang dari Lasykar Hizboellah tersebut ketika membaca tulisan yang tertera di dalamnya. Giginya gemeretak, darahnya mendidih. “Kami ini dianggap apa sama Inggris? Tanah, tanah kami sendiri. Negeri, negeri kami sendiri. Mengapa harus ikut perintah mereka?” ujar lelaki yang kini berusia 93 tahun itu.

  • Sebelum Bandung Jadi Lautan Api

    AWAL 1946. Divisi ke-23 British Indian Army sudah nyaris menguasai setiap sudut Bandung. Namun demikian, nyatanya kekacauan masih meliputi kota tersebut. Bentrok antara tentara Inggris dengan kaum nasionalis Indonesia alih-alih melemah malah semakin sporadis di mana. Bahkan sudah melibatkan rakyat sipil. Sebagai respon terjadinya pembersihan-pembersihan yang dilakukan tentara Inggris, pada Februari 1946, para pejuang Bandung mengirimkan tembakan-tembakan mortir dari wilayah Bandung Selatan dan Lembang ke arah Bandung Utara. “Karena dilakukan secara serampangan tanpa alat pembidik, kompas dan peta yang mumpuni, peluru-peluru mortir itu malah mengena sasaran-sasaran sipil dan rumah orang-orang Belanda di kawasan Jaarbeurs dan kamp interniran di Jalan Riau hingga menimbulkan korban jiwa yang tak sedikit,” ungkap A.H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1: Kenangan Masa Muda.

  • When the Bader Fish Eats Coconut Flowers

    THE SCORCHING sun burned his nape as he walked along the rice fields towards a reservoir. With one hand carrying a hat, the man pointed to a side of the reservoir where his village, Guyuban, used to exist. Guyuban was one of the 37 hamlets that were flooded in order for the Kedung Ombo Reservoir mega project to succeed. "Here is all of the villages (used to be), but now it's all water," said Djaswadi, aged 80. Everyone in Kedungmulyo and Kedungrejo Hamlet in Kemusu District, Boyolali Regency knows who Djaswadi is, as the two hamlets came into existence because of his struggle 30 years ago. Djaswadi's fingers are always trembling, the Javanese call it buyuten. His steps are small and hesitant, his stammering voice is weak. When he talks about his resistance to the construction of the Kedung Ombo Reservoir in the 1980s, his voice turns fiery.

  • Ketika Ikan Bader Memakan Bunga Kelapa

    LAKI-LAKI yang tengkuknya terbakar terik matahari itu berjalan pada pematang sawah menuju ke pinggiran waduk. Sambil menenteng caping, ia menunjuk ke bagian waduk tempat dusunnya dulu berada, Guyuban. Satu dari 37 dusun yang ditenggelamkan untuk proyek raksasa Waduk Kedung Ombo. “Jadi ini (dulu) kampung-kampung semua, tempat air ini,” kata Jaswadi, laki-laki berusia 80 tahun itu. Jika kamu mengunjungi Dusun Kedungmulyo dan Kedungrejo di Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, tak ada orang yang tak mengenal Jaswadi. Dua dusun ini dibangun atas perjuangannya sekitar 30 tahun lalu. Jari Jaswadi selalu bergetar. Orang Jawa bilang buyuten. Langkahnya kecil dan tak pasti. Suaranya lemah terbata-bata. Tapi ketika bercerita tentang perlawanannya terhadap pembangunan Waduk Kedung Ombo pada dekade 1980, suaranya berubah.

  • Tugu Pak Sakerah dan Wali Kota Surabaya dari PKI

    ALUN-ALUN contong berada tak jauh dari pertemuan Jalan Pahlawan dan Jalan Kramat Gantung, Surabaya, sekitar 600 meter dari Tugu Pahlawan. Kini, kawasan ini lebih dikenal dengan daerah Baliwerti. Alun-alun contong dibentuk pada abad ke-19, saat bangunan kampung dikorbankan untuk membangun terusan Jalan Gemblongan ke arah utara sebagai tembusan dengan ujung selatan Pasar Besar (kini Jalan Pahlawan). Nama contong diambil dari tugu berbentuk kerucut atau contong yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Namun, ada juga yang menyebut karena denah tanahnya berbentuk kerucut. Menurut Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe, pada 1889, lapangan ini diberi nama Von Bultzingslowenplein, diambil dari nama Gunther von Bultzingslowen (1839-1889), mantan konsul Jerman di Surabaya. Ia berjasa terhadap Palang Merah Belanda dalam Perang Aceh I (1878-1874).

  • Busung Lapar di Tanah Subur

    HINGGA pertengahan dekade 1950-an, wilayah Banyumas Selatan dikenal sebagai salah satu daerah lumbung padi yang menopang kebutuhan pangan bagi berbagai daerah di Jawa Tengah. Namun ironisnya, terdapat laporan yang menyebutkan ratusan orang kurang makan di Karesidenan Banyumas. Angka kematian bahkan lebih tinggi dibandingkan angka kelahiran. Beberapa surat kabar nasional pun memberitakan problema tersebut. Indonesia Raya edisi 14 Maret 1957 memberitakan, 600 orang di Karesidenan Banyumas kekurangan pangan. Dari angka tersebut terdapat 460 orang yang dirawat, sedangkan jumlah rumah sakit darurat di karesidenan hanya ada 19 buah. Harian Antara tanggal 10 Juli 1957 dan PIA Semarang tanggal 16 Juli 1957 pun memperingatkan mengenai bahaya kelaparan yang mengancam daerah Jawa Tengah, utamanya Karesidenan Banyumas. Hal tersebut menarik perhatian anggota DPR dari Fraksi Partai Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Muslich. Setelah membaca laporan Antara dan PIA Semarang, Muslich mempertanyakan permasalahan tersebut. Sebagai anggota DPR, Muslich memiliki hak interpelasi kepada pemerintah sesuai Pasal 69 Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS 1950).

  • Murba Dukung Demokrasi Terpimpin, Tan Malaka Jadi Pahlawan Nasional

    PRESIDEN Sukarno mengangkat dua tokoh kiri yang kontroversial tapi berseberangan ideologi, Tan Malaka dan Alimin Prawirodirdjo, sebagai Pahlawan Nasional. Kebijakan ini dianggap memenuhi penyatuan ideologi Nasakom sekalipun Sukarno melabrak prosedur. Pada 23 Maret 1963, Sukarno mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) No. 53/1963. Pengangkatan ini sesuai dengan tuntutan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), yang didirikan Tan Malaka, dalam dua kesempatan: peringatan hilangnya Tan Malaka ke-14 di Jakarta pada Februari 1963 dan konferensi Partai Murba di Balikpapan pada 15 Maret 1963.

bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bg-gray.jpg
Semasa menjadi panglima di Kalimantan Barat, Musannif Ryacudu membuktikan loyalitasnya kepada Presiden Sukarno dengan membiayai sendiri operasi Ganyang Malaysia. Kariernya redup setelah peristiwa G30S 1965.
bottom of page