Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Tukang Kebun Istana Bogor
SEJAK didirikan pada 1817, Kebun Raya Bogor diimpikan sebagai pusat kegiatan ilmiah di Hindia Belanda. Harapan itu terwujud, bahkan terlampaui, pada 1890-an. Kala itu Kebun Raya dianggap sebagai salah satu pusat kegiatan ilmiah utama di kawasan tropis. Ia menjadi ikon Pulau Jawa. Namun sejatinya, di awal-awal perjalanan sejarahnya, Kebun Raya sempat menghadapi masa-masa sulit. Pada pertengahan 1820-an, pemerintah kolonial mengalami kesulitan finansial –salah satunya karena Perang Jawa– dan terpaksa melakukan penghematan anggaran. Hal ini berdampak pada Kebun Raya. Dalam Science Cultivating Practice, A History of Agricultural Science in The Netherlands and Its Colonies 1864-1986, disertasi di Wageningen University Belanda tahun 2001, Harro Maat mencatat, pada Agustus 1826, pembiayaan operasional Kebun Raya dipotong dan jabatan direktur dihapuskan. Pengelolaan Kebun Raya kemudian dijadikan satu dengan kantor istana gubernur jenderal. Kebun Raya pun hanya menjadi suatu pekarangan biasa di sekitar istana.
- Kudeta di Bogor
23 DESEMBER, sebuah kudeta terjadi di Bogor. Pejabat pemerintah dan militer setempat disandera. Sebuah pemerintahan baru dibentuk dan nyaris diakui pemerintah pusat. Namun, kudeta atau daulat itu hanya bertahan dua hari. Aksi itu dipimpin oleh Ki Narija. Tak banyak catatan mengenai dirinya. Menurut Edi Sudrajat dalam Bogor Masa Revolusi 1945–1950 Jilid I, sejak lama Ki Narija terkenal sebagai kiai “ahli hikmah”, yang biasa mengajarkan doa-doa tertentu (amalan-amalan) dan latihan batin agar orang berani berkelahi dan kebal bacok. Ki Narija juga dikenal sebagai “bapak rakyat” yang memiliki pengaruh di Dramaga dan Ciomas, dua daerah yang masuk wilayah Keresidenan Bogor. Pada awal kemerdekaan, dia mendirikan Laskar Hitam yang beranggotakan lebih dari 5.000 orang.
- Alkisah Harun dari Baghdad
SYAHDAN pada suatu hari, Khalifah Muhammad Al-Mahdi bin Mansur pergi haji ke Mekkah. Di tengah perjalanan, Mahdi, ditemani seorang pengawal, meninggalkan perkemahan untuk berburu kijang. Tak terasa, khalifah dan pengawalnya tersesat jauh dari perkemahannya dan kehabisan bekal. Namun beruntung mereka bertemu seorang Arab miskin. Kepada orang Arab tersebut khalifah bertanya apakah dia punya makanan. Orang itu menjawab kalau dia punya roti, mentega dan minyak zaitun. “Apakah kau mau minum anggur,” kata sang khalifah. “Mau,” kata orang itu. Sambil menyantap makanan, khalifah menuangkan anggur ke dalam gelas orang Arab tadi.
- Chris John Antara Tinju dan Wushu
MARIA Rosa Christiani, putri mantan bintang tinju Indonesia Chris John, mengikuti jejak kesuksesan ayahnya mengecap prestasi. Maria mengalungi medali emas nomor taolu kelas A (senior) di Jatim Open Wushu Championship pada Minggu (18/9/2022) lalu. Kejuaraan Jatim Open itu jadi pembuka dari rangkaian agenda Kejurnas Wushu, 16-22 September 2022. Ajang tersebut sebagai persiapan Indonesia menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Wushu Junior, 2-11 Desember 2022. Sebelumnya, putri pertama Chris John, Maria Luna Ferisha, juga menggeluti wushu. Atlet putri yang akrab disapa Fey itu tercatat pernah menyabet medali perak di nomor taichi pada Kejurnas Wushu 2019.
- Perang Kongsi Dagang
RAHASIA besar orang Portugis bocor. Jan Huygen van Linschoten, seorang pegawai berkebangsaan Belanda di maskapai dagang Portugis, menyebar informasi tentang rute pelayaran, kekuatan dan arah angin, pelabuhan, dan koloni Portugis. Semua tersua dalam dua buku Jan Huygen: Travel Journal of the Navigation by the Portuguese and Orients terbit pada 1595 dan Itenario terbit pada 1596. Buku Jan Huygen van Linchosten membuka peluang pedagang Belanda menuju Kepulauan Rempah. Selama bertahun-tahun, pedagang Belanda kalah bersaing dari pedagang Portugis dan Spanyol dalam perburuan rempah. Salah satu penyebabnya mereka kurang pengetahuan navigasi. Pelayaran awal orang Belanda menuju kepulauan rempah biasanya melalui jalur Lautan Utara. Tujuannya agar mereka tak bertemu dengan orang Portugis dan Inggris. Tapi hasil pelayaran mereka mengecewakan. Dari buku Jan Huygen, mereka sadar harus berlayar melalui rute selatan di sepanjang Afrika Selatan (Tanjung Harapan). Ini berarti mereka bakal bertemu Portugis.
- Pelarian Berdarah di Kamp Cowra
KETENANGAN malam di Kamp Tawanan Perang Cowra, New South Wales, Australia, seketika pecah saat pukul 2 dini hari 5 Agustus 1944 terdengar teriakan lantang “Banzai!”. Kegaduhannya disusul bunyi terompet yang menggiring lebih dari 1.000 tawanan serdadu Jepang yang berusaha menembus tiga lapis kawat berduri. Ketika itu mayoritas prajurit dan perwira Batalyon Garnisun ke-22 Angkatan Darat (AD) Australia sedang tertidur pulas. Hanya menyisakan beberapa gelintir prajurit yang piket jaga malam. Di antaranya Prajurit Dua (Prada) Benjamin Gower Hardy dan Prada Ralph Jones di salah satu pos penjagaan. “Sekitar pukul dua dini hari, sejumlah tawanan perang Jepang berlarian menuju gerbang kamp. Lalu terdengar pula bunyi terompet militer Jepang. Massa tawanan yang meneriakkan ‘Banzai!’ merangsek ke sisi utara, barat, dan selatan menembus pagar kawat berduri dengan bantuan selimut,” tulis jurnalis perang cum sejarawan militer Gavin Long dalam The Final Campaigns.
- Ki Padmasusastra, Sang Penyelamat Sastra Jawa
NAMA Ki Padmasusastra memang kurang populer dalam jagat sastra. Padahal, perannya bukan “kaleng-kaleng”. Tanpa sumbangsihnya, bisa jadi sastra Jawa hanya tinggal sejarah. Sastra Jawa sudah ada sejak masa Jawa Kuno, sekitar tahun 700 Masehi, ketika periode animisme dan dinamisme. Eksistensinya berlanjut pada saat Islam menyebar sekitar abad ke-15, yang sekaligus menandai dimulainya periode Sastra Jawa Baru. Ketika Mataram terpecah oleh Perjanjian Giyanti, perkembangan sastra Jawa surut. Produksi karya-karya sastra dilakukan hanya dengan menerjemahkan kitab-kitab sastra Jawa Kuno ke bahasa Jawa baru. Tiga tokoh yang berpengaruh pada periode ini adalah Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita.
- Kamerad Semaoen Muhibah ke Soviet
GEDUNG kantor Sarekat Islam (SI) cabang Semarang hari itu, 23 Mei 1920, ramai oleh kehadiran para pemimpin dan kader-kader –“faksi” Eropa maupun bumiputera– Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV). Mereka menggelar kongres ketujuh. Salah satu agenda utamanya adalah mengubah nama organisasi dan salah seorang yang paling semangat untuknya adalah Semaoen. ISDV sempat mengalami perpecahan antara kubu kanan dan kubu kiri. Kubu kanan pada akhirnya mendeklarasikan Indische Sociaal-Democratische Partij (ISDP), langsung bernaung di bawah Sociaal-Democratische Arbeidspartij (SDAP) di negeri Belanda. “Nama tersebut tidak hanya sangat mirip dengan nama organisasi sosialis revolusioner, tapi juga sangat tidak mungkin membedakan keduanya dalam bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia tersebut tidak mengenal bunyi ‘v’, tetapi hanya ‘p’. Para anggota ISDV dipermalukan dengan dirujuknya nama moderat ini,” tulis Ruth Thomas McVey dalam The Rise of Indonesian Communism.
- Rasuna Said Pertanyakan Korupsi
KASUS korupsi yang melibatkan pegawai pemerintah mencuat awal 1950-an. Pembentukan kementerian khusus untuk menata birokrasi dan memberantas korupsi dianggap belum cukup. Usulan untuk memberantas korupsi pun muncul. Dari hukuman mati hingga penyitaan aset. Masalah ini menjadi keprihatinan Hajjah Rangkayo Rasuna Said, politisi perempuan asal Agam, Sumatra Barat. Pemberantasan korupsi dan pembenahan birokrasi memang menjadi salah satu program Kabinet Ali Sastroamidjojo (1 Agustus 1953-24 Juli 1955). Bahkan, demi maksud itu, pemerintah membentuk Kementerian Kesejahteraan Negara. Menurut Keterangan Pemerintah atas Program Kabinet Ali Sastroamidjojo di DPRS Jakarta (1953), Menteri Kesejahteraan Negara bersifat kontroleerend dan aktiveerend dengan tidak menggangu dan mengurangi penyelenggaraan tugas kementerian lain. Namun, bagi sebagian anggota parlemen termasuk Rasuna Said, pemberantasan korupsi tidak boleh hanya menjadi janji politik.
- Rasuna Said, Perempuan Minang yang Ditakuti Belanda
SEPERTINYA tidaklah berlebihan jika menyebut Sumatera sebagai ranah pergerakan Indonesia. Pulau terbesar ke-6 di dunia itu tercatat telah melahirkan begitu banyak tokoh pejuang. Sebut saja Mohammad Hatta, Sisingamangaraja, Agus Salim, Tan Malaka, Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir, Cut Nyak Dien, dan masih banyak lagi. Tanah yang dihuni oleh beragam suku itu memang tidak pernah kehabisan orang-orang besar. Dari sana jugalah peristiwa-peristiwa penting tercipta. Nama Tjoet Nyak Dhien tercatat di dalam sejarah bangsa ini sebagai salah satu pejuang besar dari kalangan perempuan. Namun Cut Nyak Dien bukan satu-satunya pejuang perempuan dari Sumatera. Tersebutlah Rasuna Said, perempuan Minang yang kini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di Jakarta. Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 di Desa Panyinggahan, Maninjau, Agam, Sumatera Barat. Ia berasal dari keluarga terpandang di Maninjau. Ayahnya, Haji Muhammad Said, merupakan salah seorang tokoh pergerakan di Sumatera Barat. Haji Said juga dikenal sebagai seorang pengusaha sukses.
- Rasuna Said versus Pemerintah Hindia Belanda
SEJAK pertengahan abad ke-19 hingga permulaan abad ke-20, perlawanan rakyat Sumatera terhadap kolonialisme semakin masif dilakukan. Mereka semakin gencar menyuarakan ketidaksenangannya terhadap cara-cara para pejabat Hindia Belanda menjalankan pemerintahan. Ketidakadilan yang diperlihatkan pemerintah Hindia Belanda telah menyulut kemarahan rakyat di sepanjang Sumatera. Seperti Perang Padri di Sumatera Barat, Perang Aceh, Perlawanan di Sumatera Utara, hingga Pemberontakan Pajak. Api perjuangan pun sejak saat itu tidak pernah mampu lagi dipadamkan. Mengikuti jejak para pendahulunya, Haji Rangkyo Rasuna Said berusaha tetap menjaga gelora perlawanan di Ranah Minang. Ia sedikitpun tidak berkompromi dengan segala bentuk kolonialisme pemerintah Hindia Belanda di tanah kelahirannya itu. Meski cara-cara yang ia lakukan kerap kali membawa malapetaka kepadanya.





















