Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jayapura Bermula dari Kamp KNIL
SETELAH dilanda kegelapan akibat listrik padam beberapa hari sebelumnya, Jayapura kembali dilanda musibah Jumat (6/10/23) kemarin. Kali ini berupa gempa bumi. Detik.com, yang mengutip Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), melaporkan bahwa gempa yang berkekuatan magnitudo 3,3 di Kabupaten Jayapura itu terjadi pada pukul 16.56 WIT. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer. Jayapura sendiri merupakan ibukota Provinsi Papua. Sebelum ada pemekaran provinsi di pulau terluas kedua di Indonesia itu, Jayapura menjadi satu-satunya ibukota provinsi di sana. Sejarah Jayapura merentang sejak zaman penjajahan Belanda. Ketika Papua masih dikuasai Belanda, kota tersebut merupakan bagian dari Keresidenan Ternate. Pemerintah kolonial Belanda menempatkan seorang wakilnya untuk Papua di Manokwari. Pejabat tersebut tinggal di sana dengan satu detasemen tentara Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL).
- Sersan KNIL Kolonel RMS
SETELAH pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949, perang antara Indonesia dan Belanda berakhir. Tentara Belanda yang bule dengan senang hati kembali ke negerinya. Sementara Tentara Kerajaan Hindia Belanda atau Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) justru gelisah. Di antara mereka kemudian pulang ke Ambon. Agoes Anwar dalam Soumokil Dan Hantjurnja RMS menyebut KNIL-KNIL berdatangan sejak 17 Januari 1950, tidak lama setelah pengakuan kedaulatan. Di antara KNIL yang datang itu terdapat bekas pasukan khusus baret hijau (komando) yang dipimpin Sersan Thomas Nussy dan bekas baret merah (penerjun payung) yang dipimpin Kopral Corputty. Selain KNIL yang baru datang itu ada pula pasukan KNIL lain yang sudah berada di Ambon.
- KNIL Pakai Pendeta dan Ulama
Bila sekarang di Tentara Nasional Indonesia (TNI) terdapat unit Pusat Pembinaan Mental Tentara Nasional Indonesia (Pusbintal TNI), dulu di zaman Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) ada Pusat Pemeliharaan Rohani ABRI (Pusroh ABRI). Ini pertanda militer sadar bahwa prajurit butuh siraman rohani untuk menjaga mental mereka melalui jalur agama. Namun sejatinya bukan hanya TNI/ABRI saja yang punya perangkat yang mengurusi masalah rohani atau tentara. Tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang sedari dulu memerangi anak bangsa pun juga punya. Sebab, KNIL berisi banyak tentara dari bermacam kepercayaan. Jangankan yang beragama Kristen seperti orang Belanda, yang beragama Islam pun banyak.
- Persahabatan Sersan KNIL Boenjamin dan dr. Soemarno
Sebuah kapal merapat di Tanjungselor, Kalimantan Timur pada Juni 1938. Di dermaga, orang-orang yang hendak menjemput para penumpang kapal itu telah berkerumun. Di antara orang yang berkerumun itu terdapat pria bernama Boenjamin. Dia merupakan bintara administrasi tentara kolonial, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), yang belum lama ditugaskan di Tanjungselor. Bersama beberapa orang Belanda dan Indo serta seorang juru rawat bernama Yusuf, Boenjamin hendak menjemput pria asal Jawa bernama Soemarno Sastroatmodjo beserta istrinya Armis dan anak mereka, Mamang alias Sidharta Manghurudin. Soemarno adalah dokter muda lulusan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) –alias Sekolah Dokter Hindia Belanda– di Surabaya. Dia ditugaskan ke Tanjungselor, wilayah yang secara tradisional merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Bulungan.
- KNIL Muslim dari Tulehu
WAKTU tentara Jepang memasuki Hindia Belanda pada 1942, Oemar Kotta belum lama menjadi prajurit dua infanteri di tentara kolonial Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandch Indische Leger (KNIL). Dia mendaftar sebagai sukarelawan pada 1941 dan diterima kemudian bertugas di Depot Batalyon Infanteri ke-3 di Gombong, Jawa Tengah. Tepat sehari setelah ulang tahunnya yang ke-22 tahun, 8 Maret 1942, Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara Jepang di Kalijati, Subang. Lebih dari sebulan, putra pasangan Hasanuddin Kotta dan Fatma Malawat yang asal Tulehu itu menganggur. Namun, itu tak lama. Kartu tawanan perang atas nama dirinya menyebut Omar tertangkap sekitar 17 April 1942 di Jawa. Ketika dirinya ditangkap, istrinya berada di Surabaya. Omar kemudian kemudian dikirim ke Sumatra. Seperti umumnya militer yang ditawan Jepang, Omar dipekerjakan di proyek-proyek. Dia baru dibebaskan pada 14 September 1945 di Pekanbaru.
- Eks KNIL Tajir
DI zaman Hindia Belanda, ada seorang sersan Jawa bernama Kunto. Jebolan kelas dua Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) ini masuk Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL) sejak muda. Dia pernah bertugas di Kutaraja, Tapak Tuan, Purworejo, Semarang, dan Magelang. Gaji seorang sersan KNIL kala itu lebih bagus dibanding sersan TNI sekarang. Setidaknya, Sersan Kunto tiap bulan bisa terima gaji lebih dari 100 gulden. Selagi muda, Kunto sering iseng beli lotre. Majalah Benteng Negara tahun 4 tahun VIII 1957 menyebut, dia enam kali menang lotre. Dia pernah memenangkan hadiah lotre sebesar 30 ribu gulden. Alih-alih segera menghabiskan uang panas itu, dia justru menggunakannya untuk investasi. Beberapa mobil dia beli untuk disewakan.
- Karier Kapten Prawirodipuro Eks Pengikut Diponegoro Moncer di KNIL
KETIKA ketika tentara kolonial yang belakangan disebut Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) baru didirikan zaman Gubernur Jenderal van den Bosch pada awal 1830-an, tentara kolonial Hindia Belanda itu mempekerjakan perwira-perwira beretnis Jawa. Kinerja mereka cukup baik dalam pertempuran. Maka ada beberapa perwira etnis Jawa itu sampai mendapat bintang dan ksatria dari Kerajaan Belanda. Mayor Andreas Victor Michiels (1797-1849), veteran Perang Waterloo yang tahun 1832 dilibatkan dalam pemadaman kerusuhan orang-orang Tionghoa di Karawang, Jawa Barat, benar-benar puas pada kinerja mereka. Koran Rotterdamsche Courant tanggal 6 Oktober 1832 menyebut Mayor Michiels memuji bawahan-bawahannya dalam pemadaman kerusuhan orang-orang Tionghoa itu. Tak hanya prajurit Belanda saja yang dipujinya, tapi juga prajurit Jawa yang ikut dengannya.
- KNIL Yahudi Bikin Perkara di Lahat
KETERKUNGKUNGAN membuat Jozef Alexander Cohen acap kabur untuk mencari tempat yang tak mengekangnya. Laki-laki Yahudi kelahiran Leeuwarden, Belanda, 27 September 1864 ini sering kabur mencari kebebasan sejak belia. Alhasil, menurut S.A. Reitsma di Het Parool, 28 September 1954, sekolah menengah Cohen tidak beres. Padahal, dia suka membaca. Jiwa bebas Cohen kemudian menuntunnya pergi ke Harderwijk kala umurnya 19 tahun. Kendati kota itu tempat orang terbuang, bahkan di antaranya nyaris setara sampah masyarakat, Harderwijk menawarkan setitik asa. Di Harderwijklah berkumpul orang dari berbagai tempat demi uang. Sebab, di kota yang berjarak sekira 50 km dari Amsterdam itu mereka para pendatang menandatangani kontrak jadi serdadu Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) selama beberapa tahun. Itu kenapa tempat itu dijuluki “Got Eropa”.
- Pasang Surut Hubungan Indonesia dan Iran
SITUASI panas di Iran akibat aksi protes besar-besaran terhadap pemerintahan Republik Islam dikabarkan mulai mereda. Kendati begitu pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kedutaan Besar RI (KBRI) di Tehran, tetap mengimbau ratusan warga negara Indonesia (WNI) di Iran tetap waspada. Demonstrasi besar itu bergulir sejak 28 Desember 2025. Nahasnya, aksi damai itu berubah jadi kerusuhan berdarah yang menewaskan lebih dari tiga ribu jiwa. Bahkan, beberapa sumber menyebut korban mencapai lima ribu jiwa. Pemerintah Iran menuding agen-agen asing dari Israel dan Amerika Serikat (AS) yang memprovokasi kerusuhan. Presiden AS Donald Trump bahkan pernah sesumbar akan membantu rakyat Iran. Meski demikian, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz di forum Dewan Keamanan PBB pada Kamis (15/1/2026) membantah AS terlibat konspirasi asing dalam gejolak politik di Iran.
- Soeharto Menemukan “Tempatnya” di Barak KNIL
SOEHARTO menjadi satu dari sepuluh tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November lalu. Mantan presiden RI kedua itu dianggap berjasa dalam Perang Kemerdekaan dan pembangunan. Penganugerahan itu memicu pro-kontra masyarakat, khususnya di di jagat maya. Para pendukung dan penentang pemberian gelar itu saling serang. Seperti yang terjadi antara pegiat media sosial Chusnul Chotimah dan elite Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedek Prayudi. Ada pula yang meributkan pemberian gelar itu dengan membanding-bandingkan sosok Soeharto dan Sukarno, presiden Indonesia pertama. Banyak unggahan ataupun komentar yang dikeluarkan para pendukung Soeharto menyebut Sukarno sebagai “mandor romusha” ataupun “antek Jepang”. Pendapat tersebut berangkat dari fakta pernah kerjasama Sukarno dengan Jepang dalam hal romusha atau kerja paksa untuk membangun proyek-proyek Jepang dalam Perang Asia Timur Raya.
- Jejak Perjuangan Ali Khamenei
Menjadi aktivis yang melawan rezim Pahlavi, Ali Khamenei sempat dipenjara sebanyak enam kali. Bagaimana perjalanan hidupnya?
- Dalih Belanda Enggan Menyerah
PADA 8 Maret 1942, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh dan Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda Letnan Jenderal Hein Ter Poorten berunding dengan Panglima Tertinggi Balatentara Dai Nippon Jenderal Hitoshi Imamura di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Hasilnya, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Harian Asia Raya, 9 Maret 1943, memuat laporan panjang mengenai jalannya perundingan itu. "Apakah tuan sanggup membicarakan di sini tentang menyerah atau meneruskan perang?" tanya Imamura. "Itu tidak bisa," jawab Tjarda singkat. "Apa sebabnya?" "Bahwa kami sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda," kata Tjarda, "sampai pada akhir ini mempunyai hak memimpin balatentara. Tapi baru-baru ini hak tertinggi ini dijabat kembali oleh Wilhelmina."





















