Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cornelis Speelman di Tengah Kemelut Mataram
PERJANJIAN Bongaya yang disepakati pada 18 November 1667 menjadi kemenangan VOC dalam Perang Makassar. Perjanjian tersebut merampas hegemoni regional Makassar dan menempatkannya di bawah kekuasaan VOC. Tak hanya itu, Perjanjian Bongaya menjadi bukti bahwa VOC berhasil meredam perlawanan salah satu lawan paling gigih, sehingga kerajaan-kerajaan lain semakin waspada terhadap VOC. Perjanjian ini melambungkan nama Cornelis Speelman, pemimpin ekspedisi militer dalam Perang Makassar. Sejarawan Belanda, Frederik Willem Stapel mencatat dalam “Cornelis Janszoon Speelman”, yang termuat di Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1936, Perang Makassar menjadi perhatian para petinggi VOC di Negeri Belanda, yakni Heeren Zeventien atau Dewan Tujuh Belas. Perjanjian Bongaya dianggap sebagai langkah penting dalam upaya VOC mengamankan dan memonopoli perdagangan di Hindia Timur. “Dewan Tujuh Belas tidak hanya mengirimkan surat yang berisi apresiasi atas keberhasilan pasukan Speelman di Makassar, tetapi juga berterima kasih kepada sang pemimpin ekspedisi militer itu dengan menyisipkan kata-kata pujian untuknya,” tulis Stapel.
- Menelusuri Tradisi Beli Pakaian Baru Jelang Lebaran
PEMERINTAH melarang tradisi mudik Lebaran pada 2021. Tujuannya menekan penyebaran Covid-19. Tapi pemerintah mengimbau masyarakat tetap meneruskan tradisi lain menjelang Lebaran: beli pakaian baru. “Ada bagusnya Lebaran kita tetap menggunakan baju baru sehingga muncul aktivitas ekonomi,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 22 April 2021. Tradisi membeli pakaian baru jelang Lebaran dan memakainya sewaktu Lebaran telah berjejak cukup lama di Indonesia. Snouck Hurgronje, penasihat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial, mencatat kebiasaan ini pada awal abad ke-20. “Dimana-mana perayaan pesta ini disertai hidangan makan khusus, saling bertandang yang dilakukan oleh kaum kerabat dan kenalan, pembelian pakaian baru, serta berbagai bentuk hiburan yang menggembirakan,” tulis Snouck dalam suratnya kepada Direktur Pemerintahan Dalam Negeri, 20 April 1904, yang termuat dalam Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889–1939 Jilid IV.
- Warna-warni Mudik Lebaran Tahun Ini di Jakarta
ORANG Indonesia begitu semangat memasuki bulan suci Ramadan. Salah satunya kegiatan pulang ke kampung halaman atau lebih dikenal dengan istilah mudik. Kata mudik berasal dari kata udik yang artinya hulu. Alkisah, pada zaman dahulu sebelum migrasi urban terjadi di kota-kota besar Indonesia, banyak wilayah kampung disebut udik. Ini misalnya tersua di Batavia. Berbagai hasil pangan diambil dari wilayah-wilayah di luar tembok kota di selatan atau wilayahhulu (udik). Para petani tersebut membawa hasil pangan mereka untuk dijual melalui sungai di wilayah hilir (kota) dari sanalah kemudian tercipta istilah hilir-mudik. Mudik berkembang di berbagai negara terutama yang penduduknya mayoritas muslim dan Indonesia termasuk didalamnya. Mudik di Indonesia menjadi tradisi tahunan jelang Lebaran. Itulah kesempatan bagi masyarakat untuk bertatap muka dengan sanak saudara, berpisah sebentar dari kepenatan kota tempat mereka bekerja.
- Sejarah Mudik Lebaran
BULAN Suci Ramadhan 1442 H hampir usai. Umat Islam di seluruh dunia telah menjalankan ibadah puasa selama hampir tiga minggu lamanya. Mereka kini tengah bersiap menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri (diperkirakan jatuh pada 12 Mei 2021). Di Indonesia, perayaan Hari Raya Idul Fitri ditandai dengan adanya tradisi berkumpul bersama sanak saudara, yakni tradisi mudik. Masyarakat merayakan puncak dari bulan puasa tersebut dengan pulang ke kampung halamannya masing-masing. Hal itu biasanya dilakukan oleh mereka yang bekerja di kota-kota besar. Bahkan menjadi hal yang lumrah ketika perjalanan pulang itu memakan waktu yang panjang karena mereka terjebak kemacetan di jalan.
- Kisah dalam Seporsi Opor Lebaran
KETUMBAR, jintan, jahe, kemiri dan beberapa bumbu lainnya dihaluskan. Selanjutnya ditumis hingga harum bersama daun salam, daun jeruk, lengkuas, dan batang serai. Jika sudah wangi, masukan ayam kampung, aduk merata hingga berubah warna. Menyusul kemudian santan cair dan santan kental dituang secara terpisah. Berbagai rempah dan bumbu masakan itu yang menciptakan sepanci opor ayam untuk sajian Lebaran. Sebagaimana ditulis Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, dkk. dalam Kuliner Yogyakarta: Pantas Dikenang Sepanjang Masa, opor biasa disajikan terutama pada saat tradisi Syawalan bersama ketupat. “Di Yogyakarta khususnya, pada saat Lebaran (1 Syawal) biasanya diselenggarakan tradisi Syawalan sebagai ungkapan syukur karena telah selamat menjalankan ibadah puasa dan juga untuk menyongsong hari raya Idulfitri,” tulis Murdijati.
- Awal Mula Pelesiran Lebaran ke Kebun Binatang
BAGI banyak orang Indonesia, Idulfitri tidak hanya ditandai dengan silaturahmi antarkeluarga dalam bentuk mudik seorang anak ke rumah orang tuanya, atau kunjungan dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Lebaran juga identik dengan kunjungan lainnya, yakni kunjungan ke kebun binatang. Mereka yang mudik bertandang ke kebun binatang di kampung halamannya. Mereka yang tidak mudik juga tidak diam saja di rumah, dan ada yang memilih datang ke kebun binatang di kota tempatnya tinggal sebagai cara hemat mencari hiburan di hari libur. Keluarga-keluarga Indonesia, dengan berbagai sarana transportasi yang mereka punya, dengan bahagia plesiran ke kebun binatang, terutama pada hari kedua Lebaran. Di sana mereka membentangkan tikar, menikmati makanan tradisional dari rantang yang dibawa dari rumah, berbincang di bawah naungan pohon-pohon besar yang membawa angin semilir yang sejuk, dengan sesekali ditingkahi beragam suara hewan. Kebun binatang adalah pemandangan alam liar yang direproduksi dalam versi mini, tapi toh bagi banyak orang kota lanskap itu menawarkan hal-hal yang sulit mereka temukan sehari-hari di balik tembok-tembok kota: keindahan, kesegaran, kealamian. Sulit untuk membawa semua anggota keluarga mendaki gunung –guna merasakan pengalaman berada di alam liar yang sebenarnya–, maka kebun binatang adalah solusi tepat bagi kalangan tua, muda, dan kanak-kanak.
- Nastar, Kudapan Bergaya Eropa Jadi Camilan Lebaran
MENTEGA dan kuning telur bersatu, ditambah tepung jagung dan terigu, membuat tekstur nastar kaya, empuk dan lumer di mulut. Parutan keju edam ditaburkan di atas bola-bola kue nastar, sehingga menambah aromanya ketika dipanggang. Kue ini mendapatkan nama nastar (ananastaart) berkat selai nanas yang menjadi isian adonannya. Selai nanas dibuat dengan cara mengkaramelisasi parutan nanas segar dicampur dengan rempah-rempah, seperti kayu manis dan cengkeh. Selain dikenal di Indonesia, nastar juga sangat populer di beberapa negara Asia seperti Malaysia dan Singapura. Andrea Nguyen, penulis buku masakan asal Vietnam-Amerika, dalam Asian Dumplings: Mastering Gyoza, Spring Rolls, Samosas, and More, menjelaskan bahwa nastar di Singapura disebut kuih tart nenas atau dalam bahasa Inggris disebut pineapple taarts. Kue ini selalu diasosiasikan dengan Idulfitri, Natal, dan Imlek.
- Suasana Mudik dan Lebaran di Awal Orde Baru
HARI Raya Idulfitri atau Lebaran merupakan hari raya keagamaan terbesar di Indonesia. Berasal dari bahasa Jawa, istilah Lebaran kini telah dipakai oleh masyarakat Indonesia untuk mengacu pada hari pertama di bulan Syawal setelah umat muslim menjalankan puasa selama sebulan di bulan Ramadan. Setiap komunitas muslim di Indonesia memiliki tradisi uniknya masing-masing dalam merayakan Lebaran. Namun, secara umum, ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan kaum muslim Indonesia, yakni pulang kampung (mudik), takbiran, salat Id, dan halalbihalal atau bersilaturahmi dengan keluarga dan kolega di hari raya. Nuansa yang melingkupi Lebaran di Indonesia mengalami perubahan dari masa ke masa. Salah satu yang menarik untuk dibahas adalah suasana Lebaran di masa awal eksistensi pemerintahan Orde Baru, khususnya menjelang akhir dekade 1960-an. Bagi sebagian orang Indonesia, kelahiran Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto merupakan sebuah harapan setelah tahun-tahun yang sulit secara ekonomi dan politik di masa akhir pemerintahan Sukarno. Pemerintahan Soeharto mengambil sejumlah kebijakan penting, seperti usaha perbaikan ekonomi, penggiatan pembangunan, penjadwalan ulang pembayaran utang luar negeri, pembebasan tahanan politik yang terlibat PRRI/Permesta, kembali bergabungnya Indonesia dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan diakhirinya konfrontasi dengan Malaysia. Usaha-usaha ini tidaklah mudah. Di level masyarakat, situasi kehidupan yang sulit masih terasa di tahun-tahun akhir 1960-an.
- Lebaran Pertama Setelah Zaman Perang
MASYARAKAT Indonesia mulai mudik Lebaran ke kampung halaman sejak beberapa hari lalu. Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik tahun ini mencapai 85 juta orang. Jumlah pergerakan manusia yang gigantik ini akan menimbulkan tantangan besar dari segi logistik, keselamatan, dan keamanan. Perkiraan angka ini didasarkan pada fakta bahwa banyak orang Indonesia yang tidak bisa mudik selama dua tahun terakhir karena pandemi Covid-19. Dalam sejarah mudik dan Lebaran, ada beberapa peristiwa besar yang membatasi orang pulang kampung. Ketika peristiwa tersebut berhasil dilewati, orang kembali bisa bersilaturahmi dengan keluarga dan kolega serta dapat merayakan Lebaran dengan khusyuk. Contohnya adalah pandemi Covid-19 tahun 2019–2021 dan perang kemerdekaan tahun 1945–1949.
- Pertemuan Rahasia di Malam Lebaran
SEHARI sebelum Lebaran, Sukarno meminta dokter pribadinya, Soeharto, menyediakan kamar di rumahnya di Kramat Raya 128 Jakarta untuk menerima tamu. Sukarno tidak menyebutkan nama tamu itu. Menjelang isya pada malam Lebaran pertama tanggal 9 September 1945, Sukarno dan tamu itu datang hampir bersamaan. Sukarno diantarkan oleh ajudannya, Mantoyo, sedangkan tamu itu diantarkan oleh Sayuti Melik. Soeharto kemudian menuntun Sukarno dan tamu misterius itu ke kamar yang telah disediakan. “Dalam kegelapan malam itu sang tamu rahasia memperkenalkan dirinya kepada saya sebagai Abdulrajak dari Kalimantan. Saya tuntun dia melalui garasi menuju ke kamar belakang,” kata Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah.
- Jenderal Soedirman Lebaran di Jakarta
SETAHUN setelah Indonesia merdeka, Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Minggu, 3 November 1946. Pada Hari Raya Kurban itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman tengah berada di Jakarta untuk mengikuti perundingan gencatan senjata. Jenderal Soedirman berkesempatan melaksanakan salat Idul Adha di Lapangan Gambir, Jakarta, yang dihadiri ribuan umat Islam dari Jakarta dan sekitarnya, seperti Tangerang, Bogor, dan Bekasi. Mereka tidak gentar terhadap kemungkinan Belanda akan melakukan tindakan represif seperti penangkapan, penahanan, dan penganiayaan. “Perjalanan Pak Dirman pertama ke Jakarta gagal, akan tetapi perjalanan yang kedua kalinya merupakan a blessing in disguise (rahmat Allah Swt. yang tersembunyi). Pak Dirman dapat melakukan salat Idul Adha bersama rakyat Jakarta. Di sini masyarakat merasakan kebesaran Allah Swt. yang memberkati perjuangan bangsa Indonesia,” kata Letjen (Purn.) Tjokropranolo dalam Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia. Tjokropranolo adalah mantan pengawal Jenderal Soedirman.
- Andilan Orang Betawi Menyambut Lebaran
MASYARAKAT Betawi memiliki beragam tradisi untuk menyambut Ramadan dan menyiapkan perayaan Lebaran. Salah satunya andilan atau kebiasaan menabung untuk membeli kerbau yang akan disembelih sebelum hari raya Idul Fitri. Istilah andilan diambil dari kata “andil” yang memiliki makna setiap warga ikut andil atau ambil bagian dalam kegiatan menabung untuk membeli kerbau. “Andilan merupakan bentuk ekspresi kebersamaan masyarakat, jaring-jaring sosial yang dapat kita lihat dalam bentuk gotong royong. Seiring dengan perkembangan ajaran Islam di kalangan masyarakat Betawi, andilan kemudian menjadi salah satu cara untuk merawat kepedulian sosial secara bersama-sama di tengah masyarakat,” kata Yahya Andi Saputra, budayawan Betawi, ketika ditemui Historia.ID di Lembaga Kebudayaan Betawi di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.





















