top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Sukarno Marah kepada Sjahrir

    Presiden Joko Widodo marah kepada para menteri-nya. Dalam video yang diunggah akun YouTube Sekertariat Presiden, Minggu (28/6), presiden tampak berang dengan sikap para menteri dan menyoroti kinerja mereka selama masa krisis ini. Dia bahkan mengancam akan melakukan perombakan (reshuffle) kabinet jika diperlukan. “Saya lihat masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apa ngga punya perasaan? Suasana ini krisis!” ungkap presiden. “Bisa saja membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya. Entah buat Perpu yang lebih penting lagi kalau memang diperlukan,” lanjutnya. Rasa jengkel juga rupanya pernah dirasakan Presiden Sukarno akibat ulah salah seorang bawahannya, Sutan Sjahrir. Tetapi itu bukan karena kesalahan di dalam tugasnya sebagai Penasihat Istimewa Presiden, melainkan lebih kepada urusan pribadi. Watak keras keduanya pun menjadi sebab.

  • Di Balik Jatuhnya Kabinet Sjahrir

    DALAM sebuah pertemuan Kabinet di gedung kepresidenan pada 26 Juni 1947, ketegangan di tubuh Republik mencapai puncaknya. Tiap-tiap menteri, serta perwakilan partai memberikan pandangan mereka tentang situasi politik terkini. Mereka saling melempar kritik terhadap satu sama lain, yang membuat suasana debat menjadi panas. Sorotan utama di dalam perdebatan tersebut adalah sikap Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang dianggap terlalu lemah saat berhadapan dengan pemerintah Belanda. Sebagai ujung tombak perjuangan di ranah diplomasi, dia diharapkan dapat bersikap tegas dan bertindak cepat. Terutama dalam situasi genting pasca mendaratnya kembali Belanda di Indonesia yang baru merdeka.

  • Kisah Penculikan Sjahrir

    PASCA 1945, Republik Indonesia belum menemukan arah politik yang jelas. Sekalipun partai-partai politik seperti Masyumi, Partai Sosialis, Partai Nasional Indonesia, dan sebagainya telah dibentuk, pendirian serta pandangan yang diambil sangat berbeda satu sama lain. Akibatnya, setiap wilayah memiliki sikap tersendiri dalam menjaga tempat bernaungnya. Bangsa ini tidak bisa sedikitpun disebut ajeg. M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since C. 1200 menggambarkan situasi Indonesia pertengahan tahun 1946. Situasinya cukup tidak menentu. Terutama setelah Belanda kembali mencoba peruntungannya menguasai Indonesia. Sejumlah daerah dibuat bergolak karenanya. Sementara itu di ranah politik terjadi beberpa peristiwa penting, di antaranya pembentukan Kabinet Sjahrir II, penangkapan Tan Malaka, dan peristiwa Tiga Daerah di Pekalongan.

  • Om Sjahrir dan Anak-Anak Banda Neira

    PANORAMA laut biru berpadu dengan deretan pulau dan gunung nan cantik jadi pelengkap pesona Pulau Banda Neira, Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Di pulau itu Sutan Sjahrir bersama Mohammad Hatta menjalani masa pembuangannya yang kedua setelah dipindah dari Boven Digul, Papua. Seorang bocah Banda yang kelak jadi anak angkat Bung Hatta, Des Alwi, mengenang momen kedatangan Sjahrir dan Hatta ke Banda Neira pada Februari 1936. Saat itu, keduanya datang dengan kapal berbendera Belanda, Fommelhaut, yang melepas jangkar di Pelabuhan Banda Neira. “Tuan-tuan itu berwajah pucat,” kenang Des Alwi dalam buku Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman. Kepada Des Alwi di dermaga, Sjahrir dan Hatta menanyakan rumah dua tokoh lain yang juga sudah sejak 1928 menghuni Banda usai dipindahkan dari Boven Digul, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Iwa Koesoemasoemantri.

  • Connie Sutedja Langganan Mengiringi Benyamin Sueb

    GARA-gara sehelai selendang, kemelut terjadi dalam rumah tangga. Norma (Connie Sutedja) menuduh suaminya, Johan (A. Hamid Arif), main gila dengan wanita lain. Dalam kekacauan nan jenaka itu, sebuah lemparan kue tart melayang ke wajah sopir mereka, Pengki (Benyamin S). Sontak, Pengki pun mengerang bak cacing kepanasan dan mengancam akan lapor polisi. Norma bersama ibunya (Wolly Sutina/Mak Wok) pun merayu Pengki untuk tak mempolisikannya. “Sekarang lebih baik kita damai aja ya. Ini saya kasih seribu (rupiah) untukmu,” bujuk Norma. Pengki menolak. Norma pun terpaksa menambahkan Rp1.500 lagi uang damainya.

  • Peran Connie Sutedja di Dunia Nyata

    DI masa jayanya, Connie Sutedja merupakan primadona. Paras geulis mojang Tasikmalaya itu membuat banyak kaum Adam yang kepincut padanya. “Ya banyak dulu yang naksir, sih. Tapi jangan disebut ah, enggak enak sama orangnya. Ada yang sejawat, pernah juga sutradara,” ujarnya saat ditemui Historia di kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan, 11 April 2019. Beberapa di antara yang kesemsem itu pernah menjalin kisah asmara dengan Connie. Sayangnya, tak satupun dari mereka berhasil mengajak Connie naik ke pelaminan. “Banyak yang serius. Kadang saya pacaran sama orang, begitu orang itu mau serius, langsung saya putusin. Sadis banget memang waktu itu saya. Kalau sudah serius ngajak nikah, saya pilih putus saja. Enggak tahu kenapa. Enggak ada angin enggak ada hujan, bingung gitu,” lanjut Connie yang sampai usia 74 tahun ini memilih tetap sendiri.

  • Connie Sutedja Si Singa Betina dari Marunda

    SI Mirah, jagoan cantik yang lihai “maen pukulan” alias silat, beraksi lagi. Cerita rakyat tentang perempuan pendekar berjuluk “Singa Betina dari Marunda” yang populer di masyarakat Betawi itu dipentaskan kembali oleh Sanggar Margasari. Adalah Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta yang mengangkat kisah yang pernah populer saat difilmkan tahun 1971 itu untuk memperingati Hari Kartini pada Sabtu, 13 April 2019. Dalam dongeng-dongeng rakyat Betawi, sosok Mirah laiknya sosok Si Pitung, jawara silat yang acap diceritakan memberantas kesewenang-wenangan. Gelaran yang dipentaskan Sanggar Margasari itu seolah memutar kembali ingatan akan sosok Mirah yang diperankan Connie Sutedja dalam film Si Mirah racikan sineas Sofia WD, istri aktor WD Mochtar.

  • Connie Sutedja Si Ratu Vespa

    PARAS geulis khas priangan itu masih saja tampak. Kerutan-kerutan di wajah yang mengiringi usia yang menginjak 74 tahun sama sekali tak menghilangkan kharismanya. Sesekali, ia menyibakkan kipas yang dipegangnya saat memutar kembali kaset ingatan di kepalanya. Connie Sutedja, aktris kawakan lintas zaman itu hingga sekarang masih eksis di seni peran. Masyarakat awam mungkin mengenalnya sebagai “Bu Hebring”. Sebagian penikmat film bisa jadi paling kenal dengan karakternya sebagai wanita judes bermulut tajam yang acap jadi lawan main Benyamin S. Kesan ini mungkin yang paling ditangkap generasi sekarang lantaran film-film Benyamin S masih acap diputar di stasiun-stasiun TV swasta. Beberapa pemerhati film juga mengenalnya sebagai si Mirah, karakter jagoan utama dalam film Singa Betina dari Marunda.

  • Di Balik Lagu-lagu Benyamin Sueb

    BANYAK pemusik dan penyanyi memutar haluan ke lagu pop Indonesia. Sebagian lagi lari ke keroncong. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), dilarang keras segala bentuk lagu yang beraroma Barat. Sehingga musik keroncong mengalami masa jayanya, meskipun hanya seumur jagung. Tapi Ben menjejak bumi, dia membawakan lagu irama Betawi (gambang kromong). Suatu langkah yang penuh tantangan, karena dicibir banyak orang. Ben tetap di wilayah ”musik kampungan” itu. Malah kemudian menciptakan lagu Gambang Kromong yang modern, diiringi musik tradisi yang diperkuat organ, trompet, gitar listrik, dan lain-lain. Lagu Gambang Kromong modern ala Ben tidak hanya disukai warga Betawi, tapi juga masyarakat luas.

  • Benyamin Sueb Penyambung Lidah Orang Betawi

    KETIKA Benyamin Sueb wafat pada 5 September 1995, sontak semua stasiun televisi, untuk beberapa jam lamanya, menunda program acaranya dan menggantinya dengan acara inmemoriam Benyamin Sueb. Hal itu seakan meneguhkan sebuah pameo: seseorang baru berarti ketika dia mati. Ben sangat berarti, paling tidak buat orang Betawi. Ia juga memperkaya khasanah dunia hiburan kita. Ben menghadirkan realitas. Wajah Ben adalah potret orang Betawi. Akting Ben di dalam film adalah realita keseharian orang Betawi: yang acapkali harus menerima nasib tersingkirkan oleh derap pembangunan kota Jakarta. Namun di antara segala penderitaan itu selalu terselip rasa humor yang tinggi, seperti juga yang dilakukan Ben dalam setiap aksi panggung dan filmnya.

  • Radikalisme Indische Partij

    HARI kelahiran organisasi pergerakan Boedi Oetomo acap dianggap sebagai tonggak lahirnya nasionalisme Indonesia. Boedi Oetomo berdiri pada 20 Mei 1908. Dalam Boedi Oetomo, para priayi Jawa berserikat untuk memajukan kaum bumiputra Hindia Belanda. Sampai saat ini, hari berdirinya Boedi Oetomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pakar sejarah Asia Tenggara Akira Nagazumi dalam The Dawn of Indonesia Nationalisme: The Early Years of The Budi Utomo 1908—1918 menyebut Boedi Oetomo sebagai fajar nasionalisme Indonesia atau protonasionalisme. Kelahirannya diilhami oleh semangat zaman, yaitu sikap liberal, humanis, sekuler, dan progresif. Nagazumi berkesimpulan bahwa Boedi Oetomo merupakan organisasi nasional pertama di Indonesia dan relatif bebas dari sekat-sekat keagamaan dan tradisi, serta berhasrat memajukan kecerdasan bangsa.

  • Masa-masa Penghabisan

    BAGIAN muka bangunan itu terlihat sederhana tapi anggun. Bergaya klasik dengan elemen-elemen arsitektur rokoko. Daun pintu masuknya berukir dan di tengahnya tertera nama pemiliknya: Snouck Hurgronje. Rumah itu terletak di Jalan Rapenburg 61 Leiden, Belanda, tak jauh dari Universitas Leiden, universitas tertua di Belanda. Ia berada di antara deretan bangunan lainnya. Di depannya, terbentang kanal yang ditumbuhi bunga teratai selama cuaca bersahabat. Rumah ini dibangun pada 1701 oleh arsitek Jacob Roman. Hiasan di tembok luar dan pintu berukir gaya rokoko baru dibubuhkan pada 1764 atas permintaan pemilik lamanya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page