top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Terpukau Sosok Snouck

    “HIDUPNYA padat; ia seorang ilmuwan, tentara, mata-mata, melakukan intrik-intrik, menyidik seperti polisi. Semua itu dalam satu sosok! Itulah yang memukau saya,” ujar Philip Dröge, penulis buku Pelgrim, Leven en reizen van Christiaan Snouck Hurgronje. Philip Dröge, berusia 56 tahun, adalah seorang wartawan Belanda. Baginya, menulis buku adalah perpanjangan dari kerja wartawan. Sebelumnya, ia menulis In de schaduw van Tambora (Di Bawah Bayangan Tambora), terbit tahun 2015, tentang letusan dahsyat Gunung Tambora pada 1815.

  • Para Pembantu Snouck Hurgronje

    KETIKA Snouck Hurgronje meneliti Makkah dan bertugas di Hindia Belanda, ia mendapatkan bantuan dari sejumlah orang bumiputra dan keturunan Arab. Berkat mereka, Snouck bisa menghasilkan laporan-laporan berharga untuk pemerintah kolonial Belanda. Siapa saja mereka? Raden Aboe Bakar Djajadiningrat Pada Agustus 1884, Snouck Hurgronje tiba di Konsulat Belanda di Jeddah. Ia segera memulai misinya untuk mengamati kehidupan jemaah haji di Makkah, yang mayoritas berasal dari Hindia Belanda. Ia mewawancarai jemaah haji dan informan lokal yang datang ke konsulat. Di konsulat pula Snouck berkenalan dengan Aboe Bakar Djajadiningrat, yang sudah tinggal di Makkah sekitar lima tahun.

  • Kemenangan dan Kegagalan di Aceh

    PELURU meriam dari kapal Citadel van Antwerpen menghantam benteng di tepi pantai Aceh. Tembakan itu berbalas. Saling balas tembakan meriam pada pagi 27 Maret 1873 itu menandai dimulainya Perang Aceh. Setelah lebih dari sepekan, ribuan tentara pemerintah Hindia Belanda akhirnya mendarat dan merangsek ke pedalaman. Tapi, di depan Masjid Raya, pertempuran kembali terjadi. Bahkan pemimpin pasukan, Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler, tewas. Kolonel Gotfried Coenraad Ernst van Daalen, wakil Kohler, lekas menarik mundur pasukan. Para pembesar militer berupaya menyusun ulang strategi penyerangan. Berkali-kali mereka menyerang Aceh, berkali-kali pula mereka gagal menaklukkan Aceh. Snouck Hurgronje berada di Makkah ketika memperoleh kabar rentetan kegagalan pemerintah Hindia Belanda di Aceh pada 1889. Sumbernya surat kabar dan mulut para haji asal Hindia Belanda, termasuk dari Aceh.

  • Jejak Silam Hukum Islam

    SETELAH sekira tujuh bulan di Aceh, Snouck Hurgronje punya cukup bahan untuk menulis laporan mengenai situasi politik, agama, dan kebudayaan orang Aceh. Sebagian laporannya kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul De Atjehers pada 1893 dan 1894. Dalam laporannya, Snouck antara lain menyinggung hukum adat dan Islam di Aceh. Ia menyindir memorandum dari “penelitian dangkal” yang dilakukan T.H. der Kinderen, sekretaris Lodewijk Willem Christiaan van den Berg. Terutama kesimpulan bahwa “tak ada sedikit pun adat istiadat kuno yang bertentangan dengan Islam”.

  • Dari Teologi ke Ilmu Semit

    LARUT malam di Leiden, Belanda. Lampu kamar asrama mahasiswa teologi Fakultas Sastra Universitas Leiden masih menyala. Ada dua orang di dalam kamar: Snouck Hurgronje dan Herman Bavinck. Mereka belum juga kelar mendaras halaman-halaman Alkitab tua. Snouck menikmati kuliahnya di Leiden. Para pengampunya merupakan “modernis Leiden” yang saat itu mendominasi wacana baru tentang penafsiran Alkitab di Eropa. Antara lain Abraham Kuenen, C.P. Tiele, L.W.E. Rauwenhoff, dan Julius Welhausen. Label “modernis Leiden” disematkan lantaran pendekatan analitis kritis mereka terhadap kitab suci.

  • Langkah Awal Anak Pendeta

    JACOBUS Julianus Snouck Hurgronje dibutakan cinta. Sang pendeta tega meninggalkan istri dan enam anaknya demi hidup dengan perempuan lain. Ia selingkuh dengan Anna Maria Visser, putri sejawatnya, Christiaan de Visser dan Anna Catherina Scharp. Hubungan gelap Snouck dan Anna diketahui pengurus gereja Hervormd Tholen di Provinsi Zeeland, Belanda. Ia pun dipecat pada 3 Mei 1894. Menurut P.S.J. van Koningsveld dalam Snouck Hurgronje dan Islam, dalam keputusan pemecatan resmi dari pengurus gereja tertera alasan: “meninggalkan jabatan secara tidak setia, disertai dengan tindakan-tindakan yang memberatkan”.

  • Kisah Ilmuwan, Petualang, dan Mata-mata

    KETIKA Gunung Krakatau meletus pada 1883, dunia terpana dan para orientalis di Eropa khawatir peristiwa ini akan ditafsirkan sebagai “sinyal Allah” yang bisa menyulut pergolakan muslim di pelosok dunia, juga di Nusantara. Pemerintah Belanda resah: bagaimana cara mengetahui “rahasia Islam”? Johan Kruyt, konsul Belanda di Jeddah, menemukan tulisan Snouck Hurgronje di koran Java Bode. Ia kagum. Tak salah lagi, pikir Kruyt, Snouck-lah orang yang dicarinya untuk mengamati kehidupan jemaah haji di Makkah dan memberi saran-saran politik. Dikirimlah Snouck, doktor bahasa dan sastra oriental berusia 28 tahun, ke Makkah –kota yang haram bagi “kafir” kecuali bila menjadi muslim dengan disunat terlebih dulu.

  • Ritual Persumpahan Desa Bebas Pajak

    HADIRIN khidmat. Di hadapan mereka pemimpin upacara mulai mengucapkan sumpah. Sambil menyumpah, ia memotong leher seekor ayam. Lalu membanting sebutir telur di atas sang hyangkalumpang. "Seperti tubuh ayam yang telah mati, tak dapat hidup lagi. Seperti telur yang telah remuk berkeping-keping, takkan kembali utuh. Seperti pula kayu yang terbakar api, menjadi abu, hilang diterbangkan angin," katanya. Sumpah itu diucapkan dengan jelas agar didengar oleh hadirin. Barang siapa yang berani mengganggu ketetapan tanah perdikan akan mendapat petaka, berakhir seperti sumpah yang telah mereka dengar.

  • Menentang Pajak Hewan Kurban Hindia Belanda

    PERMULAAN abad ke-20, pemberontakan besar terjadi di Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat. Kemarahan rakyat itu dipicu oleh sebuah peraturan yang dikeluarkan pemerintah kolonial Belanda terkait Hari Raya Idul Adha: setiap hewan kurban dikenakan pajak perseorangan. Jika pajak tidak dibayarkan pada waktu tertentu, maka hewan-hewan kurban itu akan disita, atau dimusnahkan. Perlawanan rakyat NTB terjadi pada 1908. Di dalam penelitian Lalu Wacana, dkk, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Barat, disebutkan bahwa pemberontakan itu dipicu oleh pelanggaran perjanjian yang dilakukan Belanda, serta ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan Sultan Ibrahim, raja Kesultanan Bima (1881-1915). Tahun 1908, terjadi pembaharuan perjanjian antara Belanda dengan Kesultanan Bima. Isinya: pengakuan Sultan Ibrahim atas kedaulatan Belanda di wilayah NTB, dan perjanjian untuk tidak melakukan kontak dengan orang-orang kulit putih lain selain Belanda, serta bersedia memberi bantaun kapanpun dibutuhkan pihak Belanda.

  • Perilaku Wajib Pajak Tempo Dulu

    AKHIR Maret biasanya menjadi saat paling riweuh bagi wajib pajak orang pribadi. Inilah tenggat waktu terakhir pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Jika telat melapor, wajib pajak akan terkena denda atau hukuman bui. Tapi ancaman itu belum berhasil meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Sudah tiga tahun terakhir, sejak 2018, target pelaporan SPT gagal terpenuhi. Perilaku wajib pajak beraneka ragam. Ada yang patuh dan taat membayar pajak dengan melaporkan SPT. Banyak pula yang enggan atau tak tahu mengisi SPT. Akibatnya target capaian pajak dari pemerintah pun sulit terwujud. Perilaku wajib pajak ini juga terjadi pada tempo dulu. Pajak telah dipungut dari rakyat sejak masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha berdiri pada abad 5–13 M. Pajak masa itu memiliki pengertian pungutan teratur terhadap hasil bumi yang dihasilkan petani.

  • Bermacam Pajak Era Kolonial

    PADA awal munculnya kolonialisme di Jawa, pemerintah kolonial belum memiliki birokrasi yang stabil untuk mengatur sistem perpajakan tanah jajahan. Mereka kemudian meneruskan sistem pajak tanah dan tenaga kerja yang telah dipakai sejak era kerajaan. Menurut sejarawan Universitas Gadjah Mada Abdul Wahid dalam Dialog Sejarah “Pajak Zaman Kolonial” di saluran Youtube dan Facebook Historia, pemerintah kolonial melakukan apropiasi terhadap sistem pajak tanah bagi para petani yang diterapkan oleh kerajaan-kerajaan terdahulu. “Jadi memanfaatkan struktur sosial-politik yang ada, khususnya berkait dengan pajak, kemudian diintegrasikan dengan sistem administrasi yang ingin mereka bangun,” jelas Wahid.

  • Penunggang Pajak

    DALAM pernyataan resmi terkait kasus penganiayaan David oleh Mario Dandy Satrio, anak pejabat pajak Rafael Alun Trisambodo, Dirjen Pajak Suryo Utomo mengecam segala tindak kekerasan maupun gaya hidup mewah dan sikap pamer harta yang dilakukan oleh pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan keluarganya. Hal itu dapat menggerus tingkat kepercayaan terhadap integritas institusi dan memberi stigma negatif terhadap seluruh jajaran DJP yang berjumlah lebih dari 45 ribu pegawai. Kecaman Suryo itu ditujukan kepada Dandy, anak pejabat pajak kaya raya, yang suka pamer harta dengan mengendarai mobil Rubicon dan motor gede Harley Davidson. Ironisnya, media menemukan jejak digital Suryo Utomo tengah mengendarai motor gede bersama klub Belasting Rijder DJP, yaitu komunitas pegawai pajak yang suka naik motor besar.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page