Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Syiah Bermula dari Serambi Makkah
TAK ada puing-puing bekas bangunan atau benda bersejarah dari Kerajaan Pereulak (Perlak). Yang tertinggal hanyalah makam sultan dan keluarganya di beberapa tempat. Salah satunya makam Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Letaknya berada di sebuah dayah (pesantren) kecil yang sunyi. Kerajaan Perlak disebut-sebut sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara dan menganut mazhab Syiah. Menurut Tengku Abdullah Muhammad, yang menjadi juru kunci sejak 12 tahun lalu, sebelum Islam masuk, Perlak sudah berhubungan dengan para pedagang dari Arab, Tiongkok, India, dan sebagainya. Pendorongnya, pesatnya perdagangan kayu Perlak, yang menjadi muasal nama daerah ini –sumber lain menyebut nama orang yang membuka daerah itu adalah Pho He La Sjahir Nuwiy.
- Syiah dari Kalangan Hadrami
HINDIA Timur tak terdengar asing baginya. Sejak kecil, Muhammad bin Ahmad al-Muhdar, seorang Hadrami (penduduk Hadramaut, Yaman Selatan), mendengar beragam kisah tentang negeri di selatan ini. Sebagian besar kerabatnya pedagang yang merantau ke Hindia Timur. Banyak yang menetap, sebagian lagi kembali ke Hadramaut dengan membawa istri, anak, dan kisah dari rantau. Menginjak usia 24 tahun, al-Muhdar mengikuti jejak kerabatnya. Dengan menggunakan kapal uap, dia tiba di Batavia pada 1885. Bukan hal sulit bagi al-Muhdar untuk mencari tempat tinggal di perantauan. Jejaring kekerabatan orang Hadramaut dengan orang tempatan sudah terbentuk ratusan tahun. Ada banyak koloni Arab di wilayah Hindia Timur. “Jarang terjadi seorang Arab tiba di Nusantara tanpa mengenal seseorang yang diharapkannya akan menerimanya dengan tangan terbuka,“ tulis L.W.C. van den Berg, penasihat ahli gubernur jenderal Hindia Timur selama 1884–1883, dalam Orang Arab di Nusantara.
- Geliat Syiah di Negeri Ahlusunah
WAJAHNYA mengguratkan ketakutan. Kakinya gegas melangkah menuju pesawat pribadinya di sebuah bandara di Teheran, Iran. Syah Reza Pahlevi, diktator Iran sejak 1941, hanya ditemani sang istri saat hendak meninggalkan Iran pada 16 Januari 1979. Orang kepercayaannya lebih dulu mencari selamat. Kabur tanpa sepengetahuannya. Revolusi tak tertahankan lagi. Rezim yang dipimpinnya tumbang. Ayatullah Khomeini, pemimpin spiritual Iran, menggantikannya. Dan dia menyebut peristiwa itu sebagai Revolusi Islam Iran. Perubahan itu segera mengundang sorotan banyak orang. Sebuah revolusi muncul lantaran didorong semangat keagamaan.
- Mendedah Sejarah Syiah
KETIDAKTAHUAN masyarakat terhadap sejarah dan ajaran Syiah dinilai berperan dalam menyulut bara konflik Sunni-Syiah di Indonesia hingga sekarang. Karena itu, bangsa ini mudah labil dalam menyikapi perbedaan dua aliran besar dalam Islam itu. Demikian dikatakan Husain Heriyanto, staf pengajar Universitas Indonesia, dalam "International Conference on Historical and Cultural Presence of Shias in Southeast Asia"di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ketidaktahuan itu tak hanya menimpa khalayak awam, tetapi juga pemuka agama. Kala budayawan Agus Sunyoto duduk di bangku pesantren, gurunya berpesan agar menjauhi ajaran Syiah. “Menurutnya Syiah itu anti-maulid, anti-wiridan, dan anti-ziarah. Padahal itu Wahabi,” kata Agus, penulis buku Atlas Wali Songo. “Keberadaan dan pengaruh Syiah telah mengakar di beberapa wilayah Nusantara sejak 1400 tahun lampau.”
- Serangan Umum 1 Maret
Pada 1 Maret 1949, TNI menyerang Belanda. Meski TNI hanya enam jam menguasai Yogyakarta, TNI berhasil mematahkan propaganda Belanda.
- Band Asal Bapak Senang Pengawal Sukarno
SEHABIS makan siang bersama Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones di Cipanas, Sukarno memanggil Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP), dan bertanya: “Anak-anak ada atau tidak?” Anggota DKP segera menyanyi sambil memukul-mukul apa saja yang penting bersuara dan berirama. Sukarno dan Hartini, Howard Jones dan istrinya, serta anggota staf kedutaan menari lenso. Tanpa alat-alat musik, tari lenso berlangsung meriah. Setelah acara selesai, alat-alat dapur yang dipukuli semuanya penyok. “Wah, bagaimana ini nanti, Pak. Sebab alat-alat dapur ini saya pinjam dari tetangga sebelah,” kata pelayan dapur.
- Kala Hak Imunitas Anggota DPR Kandas
SABTU malam, 30 November 1957, Perguruan Cikini menggelar lustrum ke-3. Presiden Sukarno, sebagai orangtua dari Guntur Soekarnoputra dan Megawati Soekarnoputri, hadir dan memberikan sambutan. Pukul 21.00, Sukarno meninggalkan ruangan resepsi, sementara kedua anaknya tak ikut karena ingin menonton film. Sukarno berjalan menuju halaman gedung sekolah dengan diantar oleh Kepala Sekolah Sumadji dan Ketua Panitia Nyonya Sudardjo. Tiba-tiba terdengar ledakan granat sekira lima meter dari belakang Sukarno. Menyusul kemudian ledakan kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Sukarno, yang hendak menaiki mobil, langsung diselamatkan oleh pengawalnya. Pengumuman Istana yang disiarkan berulang-ulang melalui RRI menyebut Presiden Sukarno dan anak-anaknya dalam keadaan sehat. Namun, ledakan itu menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan sekira 144 orang menderita luka-luka, termasuk perempuan dan anak-anak. Para korban dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat.
- Taking A Melodious Trip to Lokananta
In the heart of Solo, there is a place that has witnessed the journey of Indonesian music. Amidst the hustle and bustle of tradition and the echoes of the arts of the archipelago, this place has been alive as a space that has been "singing" since 1956. It has played a role in the development of the careers of great and famous figures such as Titiek Puspa, Gesang, Waldjinah, Bing Slamet, Sam Saimun, and Didi Kempot. Lokananta, this place's name, is located at Jalan Ahmad Yani No. 379, Kerten, Solo, Central Java. During Pekan Kebudayaan Nasional, Senin-Minggu, 7-13 Oktober 2019 (the National Culture Week, Monday-Sunday, October 7-13, 2019) published by the Directorate General of Culture, it was mentioned that Lokananta has more than 53,000 vinyl records and 5,670 historical master recordings. The most phenomenal recording is President Sukarno's reading of the text of the Proclamation of Independence.
- Sponsor Utama Anti Republik
WISMA Tamu IPB Landhuis di Jalan Tanjung No. 4 Kampus IPB Dramaga, Bogor, terlihat asri dan terawat. Pemilik landhuis (tanah milik bangsawan) itu adalah Gerrit Willem Casimir van Motman (1773–1821), tuan tanah pertama di kawasan Dramaga. Keturunannya mewarisi landhuis dan perkebunan yang luas di Jasinga dan Dramaga. “Tuan tanah pamungkas dari perkebunan di Dramaga adalah Pieter Reinier van Motman sampai tahun 1958,” kata Hendra M. Astari, penggiat Komunitas Tapak Tilas Bogor. Pada 6 Juli 1955, Hakim Maengkom dan Jaksa Tinggi R. Soenario meninjau rumah dan perkebunan milik Motman tersebut. Karena dari situ keluar-masuk senjata dan peluru, makanan, pakaian, dan lain-lain untuk kepentingan gerombolan bersenjata yang hendak melakukan aksi subversi terhadap pemerintahan Republik Indonesia.
- Misil-Misil Iran yang Menembus Kecepatan Suara
USAI gencatan senjata, baik Iran maupun Israel sama-sama mengklaim kemenangan dalam 12 hari Perang Iran-Israel (13-24 Juni 2025). Setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan kemenangan Iran bagaikan tamparan telak di wajah Amerika Serikat sebagai beking Israel, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu membalas dengan pernyataan Israel meraih kemenangan bersejarah. Sementara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa gencatan senjata itu adalah jasanya. Padahal, Korps Garda Revolusi Iran IRGC mengklaim bahwa pihak Israel yang memohon pada Trump untuk menawarkan gencatan senjata dengan Iran. “Israel frustrasi dengan perlawanan heroik bangsa Iran. Fase akhir Operasi True Promise III mengajarkan pelajaran bersejarah dan tak terlupakan untuk Israel setelah agresi buta dan brutal,” ungkap pernyataan IRGC, dikutip Middle East Eye, 24 Juni 2024.
- Bulan Puasa di Bawah Agresi Militer Belanda
BELANDA melancarkan serangan kepada Republik Indonesia pada 21 Juli 1947. Agresi militer Belanda pertama ini berkode actie product (operasi produk). Belanda menyerang pada awal puasa Ramadan 1366 Hijriyah kemungkinan karena orang Indonesia yang mayoritas muslim sedang berpuasa sehingga dalam keadaan lemah. Sebenarnya, sejak akhir Juni 1947 telah diperkirakan Belanda akan melancarkan serangan dalam waktu dekat. Sehingga, di hari pertama puasa pada 19 Juli 1947, para ulama Aceh dalam rapat umum di pekarangan Mesjid Raya Baiturrahman menyerukan “puasa tidak menghalangi seseorang untuk berjuang. Karena itu sambil berpuasa berjuanglah, dan sambil berjuang berpuasalah.”
- The Light of Christ on Nias Island
NIAS is currently experiencing difficulties. Prices of goods have skyrocketed even though the island hasn't been flooded like Tapanuli, South Sumatra. The condition is due to the economic dependence of Nias Island on Tapanuli with its port in Sibolga. As a result, the prices of goods in Nias, which were already more expensive than in Sibolga before the Tapanuli floods, are now even higher. “The only route for goods to Nias is from Sibolga. During this disaster, prices have risen in Nias because goods are now being sent from Padang,” said Dian Purba, a history lecturer at the State Christian Institute (IAKN) in Tarutung. IAKN Tarutung has many students from Nias Island. Some of them live on scholarships, which they sometimes share with their families in Nias. According to Dian Purba, these students don't want to return to their hometowns but instead want to become Christian teachers elsewhere.





















