top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Geert Wilders dan Balas Dendamnya

    KEMBALI DIA BERHASIL: pelbagai kepala berita koran-koran Eropa pada Juni 2009 memuat rencana Geert Wilders untuk mengusir “jutaan, puluhan juta” Muslim Eropa kalau mereka macam-macam dan menyebabkan masalah. Ucapan ini dilontarkan sang pemimpin PVV (singkatan bahasa Belanda untuk Partai Kebebasan) di Denmark, karena di sana, seperti juga di Amerika Serikat, oleh banyak orang dia dianggap sebagai pahlawan internasional bagi kebebasan berpendapat. Di luar negeri, Wilders merasa lebih bebas bicara, manakala dia menyinggung topik-topik yang disukainya: ancaman islamisasi terhadap dunia Barat yang bebas, diawali dengan ‘Eurabia’. Alternatifnya —deportasi, pengurungan atau pengusiran kaum Muslim— di luar negeri selalu disambut dengan tepuk tangan meriah para hadirin yang langsung pula berdiri. Di Denmark dia menegaskan bahwa demokrasi di Barat berada di ambang keruntuhan, karena ‘imigrasi massal dan tingginya angka kelahiran penduduk yang beragama Muslim’. Di Los Angeles, Wilders menegaskan bahwa Islam di Eropa masa kini telah berseru supaya ‘kita dimusnahkan’ saja. Pertanyaannya tetap: mengapa Wilders berbuat begitu? Dari mana dia memperoleh dorongan yang begitu menggebu-gebu? Adakah konteks —ideologis, historis— yang pas bagi Wilders? Walaupun sudah begitu banyak upaya menempatkan sang wakil rakyat di dalam aliran politik tertentu, tetap saja tidak ada analisa yang memuaskan. Tahun-tahun belakangan Wilders dilukiskan sebagai fasis, rasis, populis, udik, xenofob, liberal tulen, ekstrim kanan, radikal kanan dan juga sebagai rasis Islam. Dia lebih jauh ketimbang ekstrim kanan biasa seperti Jean-Marie Le Pen dan Filip Dewinter, demikian menurut beberapa pakar politik. Meindert Fennema, pakar politik Universiteit van Amsterdam, menegaskan bahwa usul-usul Wilders kadang-kadang menggelisahkan karena jauh melebihi batas apa yang pantas di sebuah negara hukum — klasifikasi yang oleh Wilders sendiri disebut sebagai ‘rengekan di pinggiran’ dan hasrat orang untuk menganggapnya sebagai setan. Sesudah itu Wilders menyebut dirinya sebagai ‘pejuang kebebasan Belanda’; sebelum itu dia lebih senang menyebut diri sebagai ‘demokrat sejati’.

  • Wilders Kejepit Hitler dan Wagner

    PERUPA Belanda Jasper de Beijer, 37 tahun, bikin kejutan. Dia membuat lukisan Geert Wilders muda dalam tampang aslinya. Tampang asli? Iya, karena ketika masih muda, pada usia awal 20-an, Wilders belum berambut pirang seperti sekarang. Politikus anti Islam pemblonda rambut itu masih berambut warna kelam, sesuai latar belakang indisch-nya. Wilders, seperti kita tahu, memang punya nenek moyang yang berasal dari Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia. Jasper de Beijer mengaku selalu terpesona pada Wilders. Orang ini, kata Jasper pada koran Belanda de Volkskrant, selalu mengganggu gugat asal usul orang. Sebagai politikus anti Islam, Wilders memusuhi kaum pendatang yang beragama Islam. Di Belanda mereka kebanyakan berasal dari Turki atau Maroko. Kejahatan seseorang misalnya, oleh Wilders selalu dikait-kaitkan dengan latar belakang etnis orang itu. Kalau Wilders sampai berkuasa, maka begitu ketahuan melanggar hukum, warga pendatang Turki dan Maroko itu pasti akan dideportasikannya, dipulangkan ke negeri asal. Di lain pihak, dengan memblonda rambutnya, Wilders sendiri justru malah membuat kabur asal usulnya. Karena itu Jasper tergelitik untuk melukis Wilders yang masih asli, Wilders yang berambut kelam, bukan rambut pirang seperti sekarang. Dan memang yang terlihat pada lukisan Jasper de Beijer adalah Wilders yang lebih alami. Bukan saja karena rambutnya yang kelam, tapi terutama lantaran Jasper menampilkannya sebagai seorang pelukis yang sedang istirahat, tidak sibuk dengan kanvas atau kuasnya. Dalam catatan de Volkskrant, koran sedikit kiri yang dibenci Wilders dan PVV, partainya, Jasper de Beijer menampilkan Wilders sebagai perupa yang cool dan simpatik.

  • Cerita dari Paviliun Amarta

    SEBUAH bangunan paviliun masih berdiri kokoh di sebuah sudut Kompleks Istana Bogor. Berbeda dari empat paviliun lain di dekatnya, paviliun ini ukurannya lebih kecil dan dihiasi empat patung perempuan di halaman maupun terasnya serta sebatang pohon karet kebo (Ficus elastica) besar nan rindang di pojok kiri halamannya.    “Bung Karno membangun lima paviliun itu di perbatasan antara lahan istana dan lahan Gereja (GPIB) Zebaoth. Lokasinya memang agak ngumpet. Dari lima paviliun yang ada, paviliun itu yang paling kecil. Hanya ada dua kamar tidur, dapur, ruang makan, dan sebagainya,” terang Endang Sumitra, mantan kepala Sub-Bagian Rumah Tangga Istana Kepresidenan Bogor, yang ditemui Historia.ID di kediamannya di Bantarjati, Bogor.

  • Soeharto Rekayasa Penyerahan Supersemar

    DITANDATANGANINYA Supersemar pada 11 Maret 1966 tak berdiri sebagai peristiwa tunggal. Rentetan peristiwa beberapa hari sebelumnya mendukung teori “kudeta merangkak” yang dilancarkan oleh klik Letjen TNI Soeharto. Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, sejak 9 Maret 1966 Sukarno telah didesak untuk menyerahkan kekuasaan. Dua pengusaha yang dekat dengan Bung Karno, yakni Dasaad dan Hasjim Ning, datang ke Istana Bogor. Kedua pengusaha yang diutus oleh Alamsyah Ratu Perwiranegara itu membawa surat dari Soeharto. Isinya, Sukarno diminta menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Soeharto. Peristiwa ini diakui Hasjim Ning dan Alamsyah dalam biografi masing-masing.

  • Foto “Gadis Napalm” yang Kontroversial

    SESOSOK gadis kecil tanpa pakaian histeris seraya berlari bersama empat bocah yang masih kerabatnya dan empat prajurit Vietnam Selatan juga mengevakuasi diri. Phan Thị Kim Phúc, nama gadis berusia 9 tahun itu, menjerit-jerit karena kulitnya melepuh sementara di belakangnya asap hitam nan mengepul dan kobaran api terus mengejarnya. Kengerian itu terekam dalam sebuah foto yang menjadi salah satu dokumentasi paling dikenal dalam Perang Vietnam (1955-1975). Foto bertajuk “Terror of War” atau populer disebut foto “Napalm Girl” itu populer karena Phúc kecil turut jadi korban pemboman napalm atau bom bakar oleh pesawat-pesawat atau Angkatan Udara (AU) Vietnam Selatan, KVLNCH, di Desa Trảng Bàng pada 8 Juni 1972 gegara desa itu diklaim telah diduduki pasukan Vietkong. Foto itu merupakan karya fotografer Associated Press (AP), Huỳnh Công Út atau Nick Ut. Ia berada di lokasi kejadian bersama beberapa fotografer dan jurnalis lain ketika serangan udara itu terjadi. Fotonya sempat tertunda untuk dirilis karena perdebatan tentang layak-tidaknya menampilkan foto seorang gadis tanpa sehelai pakaian pun di tubuhnya. Pada akhirnya, para dewan redaksi AP memutuskan merilisnya. Hasilnya, Ut memenangkan beraneka penghargaan, di antaranya Pulitzer Prize dan foto terbaik World Press Photo pada 1973.

  • ​​​​​​​Pardo’s Push, Upaya Gila Pilot Amerika di Angkasa

    HAMPIR berbarengan dengan dimulainya penugasan Kapten Udara John Robert “Bob” Pardo di Skuadron Tempur Taktis ke-433 di Pangkalan Udara Ubon, Thailand pada Februari 1967, Washington melancarkan kampanye bombardir udara terhadap industri-industri utama Vietnam Utara. Pabrik-pabrik baja di Thuy Nguyen, Hai Pong menjadi pilihan pertama. Kampanye tersebut dilakukan untuk mematahkan tulang punggung kekuatan Vietnam yang tak kunjung lemah. Kampanye juga menandai dimulainya kembali bombardir udara yang sebelumnya dihentikan Presiden Amerika Serikat (AS) Lyndon Johnson dan Menhan Robert McNamara. Keputusan penghentian itu diambil Johnson guna menggiring lawan agar mau ke meja perundingan.

  • 4 September 1967: Marinir AS Bersimbah Darah di Operasi Swift

    HARI ini, 4 September 1967. Kabar radio yang menginformasikan Peleton ke-2 dari Kompi M Batalyon ke-3 Resimen Marinir ke-5 Amerika Serikat (AS) sedang digempur pasukan Tentara Rakyat Vietnam (NVA/PAVN) di Lembah Que Son, Provinsi Quang Tin membuat Letnan Vincent Capodanno, pendeta di batalyon tersebut, terpanggil untuk ikut terjun ke palagan. Tak peduli tugasnya bukan memanggul senjata, Capodanno langsung bergegas ke lokasi meninggalkan pos markasnya yang aman. Di lokasi, dia langsung memberi pertolongan kepada para personel yang terluka. Kepada mereka yang sekarat, Capodanno memberi upacara terakhir. Tembakan intens musuh yang didukung mortir tak dihiraukannya.

  • 15 Juli 1966: Pontang-Panting di Operasi Hastings

    HARI ini, 15 Juli 1966. Bombardir udara dan tembakan meriam pasukan Marinir Amerika Serikat (AS) ke sejumlah tempat dekat garis demarkasi (de-military zone/DMZ) Vietnam membuka Operasi Hastings. Operasi tersebut dilancarkan untuk memukul mundur Tentara Nasional Vietnam (TNV) dan merebut kembali wilayah-wilayah di selatan garis demarkasi yang dikuasai TNV. Operasi Hastings dipicu oleh meningkatnya pergerakan TNV ke selatan melewati garis demarkasi. “Pada Juni, patroli dari Grup Pengintai Bravo hampir dalam setiap misinya menemukan musuh dalam banyak kelompok berukuran besar,” tulis Michael Lee Lanning dan Ray Stubbe dalam Inside Force Recon: Recon Marines in Vietnam. Namun, laporan intelijen itu awalnya tak mendapat perhatian dari komando lebih tinggi.

  • Mengungkap Populasi Masyarakat Kuno dari Ekstrak Tinja

    KOTORAN manusia dari zaman kuno rupanya bisa menjadi data penting untuk mengetahui tingkat populasi masyarakat di situs permukiman kuno. Metode analisis yang relatif baru ini dilakukan dengan mengekstrak stanol atau molekul organik dalam kotoran manusia dan hewan yang terawetkan dalam lapisan sedimen di bawah danau dan sungai selama ribuan tahun. Konsentrasi stanol dari waktu ke waktu akan membentuk lapisan sedimen. Dari sinilah petunjuk perubahan populasi bisa terlihat, didukung pula oleh temuan data arkeologis. Sejauh ini stanol telah terbukti menjadi indikator akurat tentang berapa banyak orang yang tinggal di suatu tempat pada masa tertentu. Bahkan data yang diungkap stanol bisa menunjukkan tingkat populasi yang sebelumnya tak terbaca data arkeologi.

  • Dari Guci Jadi WC

    BAGI sebagian orang, toilet atau WC (water closet) tak hanya tempat untuk buang air kecil dan air besar, tetapi juga tempat favorit untuk berpikir mencari inspirasi. Di tempat mal atau kafe, desain toilet yang unik nan artistik juga kerap dimanfaatkan pengunjung untuk swafoto. Namun, berbeda dengan masa kini di mana toilet menjadi fasilitas vital yang tersedia di berbagai tempat, di zaman kolonial VOC, rumah-rumah orang Belanda di Batavia umumnya tidak memiliki toilet. Menurut Sir John Barrow, Sekretaris Departemen Angkatan Laut Inggris, dalam catatannya yang termuat dalam Jawa Tempo Doeloe: 650 Tahun Bertemu Dunia Barat, 1330–1985, yang disusun James R. Rush, ada dua alasan yang menyebabkan orang-orang Belanda di Batavia memilih tak memiliki kamar kecil atau toilet.

  • Melihat Kehidupan Orang Romawi Lewat Lubang Jamban

    DI dalam ruang lembap, sederet bangku batu berlubang dipasang memanjang menempel di sepanjang dinding. Kira-kira lima puluh lubang seukuran piring makan dipahat pada permukaannya. Dua ribu tahun yang lalu, di lubang-lubang itulah masyarakat Romawi Kuno membuang hajat. Jamban umum berlangit-langit tinggi ini berada di bawah salah satu istana paling mewah. Ruangan ini pun menjadi tempat tersibuk, sekaligus paling bau kala itu. Ann Koloski-Ostrow dan Gemma Jansen mendapat kesempatan langka mempelajari sisa-sisa toilet atau jamban umum di Bukit Palatium itu pada 2014. Arkeolog Amerika dan sejarawan Belanda ini sudah banyak meneliti jamban dari berbagai peradaban kuno.

  • Peradaban dari Jamban ke Jamban

    KOTORAN manusia mulai menjadi masalah sejak mereka mulai hidup menetap. Mereka buang air besar di sekitar tempat mereka tinggal. Ketika kepadatan penduduk terus meningkat, tinja pun semakin menumpuk dan menjadi sumber penyakit. Manusia pun mencari solusi untuk membuang kotoran. Cikal bakal jamban atau toilet modern baru ditemukan pada masa Ratu Elizabeth I di tengah periode Revolusi Industri. Jamban yang dirakit oleh anak baptis penguasa Inggris Raya itu sudah dilengkapi dengan teknologi penyiram. Seperti kebanyakan teknologi kuno, toilet tampaknya telah ditemukan di beberapa budaya dan melalui tahapan inovasi sebelum menjadi toilet yang kini dikenal.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page