Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Maestro Gamelan di Kiri Jalan
PADA 1893, Slamet Soekari lahir di Surakarta. Karena berasal dari keluarga miskin, Soekari tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Sejak umur 12 tahun ia telah menjadi abdi dalem karawitan dan hidupnya bergantung pada keraton Surakarta. Setelah menempa ilmu karawitan bertahun-tahun, sekitar tahun 1912, Slamet dianugerahi gelar pangkat jabatan menengah, Raden dan nama baru Pontjopangrawit. Pangrawit adalah jabatan bagi ‘nayaga terkemuka yang bersangkutan dengan karawitan’. Sedangkan nama Pontjo dipilihnya sendiri. Pontjopangrawit kemudian bergabung dengan lembaga Pananta Dibya yang berdiri tahun 1914. Lembaga ini bertujuan untuk memperbaiki dan menyusun kembali praktik-praktik serta upacara seni pagelaran keraton. Selain itu, lembaga ini juga aktif dalam diskusi-diskusi politik. Hubungan Pontjopangrawit dengan politik kelak membawanya ke kamp Digul hingga pusaran tragedi 1965.
- Kisah Tiga Pilot AURI
KOLONEL Alex Evert Kawilarang tengah berunding dengan Jenderal Mayor KNIL Schaffelaar di Makassar pada Agustus 1950. Tiba-tiba muncul dua pesawat Bomber B-25 melintas di atas kota dan menembaki kampemen KIS, tangsi KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger), dengan peluru berkaliber 12,7. “Bagaimana bisa bicara tentang cease fire (gencatan senjata) kalau dua kapal terbang terus menembak?” tanya Schaffelaar. Kawilarang tak hilang akal. “Penghentian tembak-menembak baru pada waktu mulai cease fire,” kata Kawilarang. Tak hanya tembak-menembak yang kemudian berhenti, para serdadu KNIL pun dikosongkan dari kota Makassar sehingga Makassar pun damai. Begitu tercatat dalam otobiografi AE Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih.
- Ben Anderson Lebih Dari Sekadar Indonesianis
SUATU pagi bulan September yang dingin di Desa Freeville, di dekat kota Ithaca, New York bagian atas, saya berjumpa dengan Ben Anderson terakhir kali. Saya diundang oleh Cornell Southeast Asia Program (SEAP) untuk bicara soal pembantaian 1965. Pihak SEAP sebetulnya menyediakan hotel. Namun, saya memilih menghubungi Om Ben (begitu kami memanggilnya) dan meminta apakah saya boleh menumpang di rumahnya. Jawabannya sangat antusias,“Of course I will be delighted if you would like to stay at my old house. Ben Abel is very happy too, and probably we will talk and talk and talk.” Ben Abel adalah kompanyon terdekat Ben Anderson. Dia adalah juga sahabat terdekat saya di Ithaca. Karena di sekitar Cornell itu banyak sekali nama Ben, orang kadang bingung untuk membedakannya. Benny anak angkatnya Ben Anderson juga dipanggil Ben. Ada Benny satu lagi yang mahasiswa. Kemudian ada Benny yang lain yang menjadi visiting scholar. Karena itu, keisengan pun muncul. Ben Anderson sering dipanggil Benson. Lalu Ben Abel dipanggil apa? Bensin. Tapi kemudian panggilan ini berubah. Ketika anak pertamanya lahir, dia kami panggil Benali –Ben bapaknya Ali. Kunjungan singkat saya ke Ithaca itu ternyata tidak memberi kesempatan kepada saya untuk bicara banyak dengan Om Ben. Dia sibuk menyelesaikan manuskrip buku terbarunya. Saya sendiri sibuk dengan persiapan berbicara dan mengunjungi teman. Namun, pagi sebelum acara di SEAP saya sempat bicara agak lama di dapur rumahnya. Ini adalah tempat yang paling dikangeni oleh banyak orang yang mengenal Ben. Di sinilah pertukaran ide, informasi, lelucon, dan sekian banyak desas-desus itu berlangsung. Tentu sambil makan enak dan minum yang enak.
- Indonesianis Ben Anderson Berpulang
BENEDICT Richard O’Gorman Anderson atau biasa disapa Ben Anderson meninggal dunia di Batu, Malang, 13 Desember 2015. Dia yang lahir di Kunming, Tiongkok, 26 Agustus 1936, meninggal di usia 79 tahun. Dua hari sebelumnya, Ben masih sempat memberikan kuliah umum bertajuk “Anarkisme dan Nasionalisme” di Universitas Indonesia. Kuliah umum ini terkait dengan bukunya yang belum lama terbit, Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial, diterbitkan oleh Marjin Kiri. Ronny Agustinus, editor Marjin Kiri, menulis dalam akun facebook-nya, bahwa pada 2007, Ben Anderson ingin mengunjungi Marjin Kiri. Sewaktu Ronny menjemputnya dari bandara Sukarno-Hatta menuju daerah Serpong, dia melihat iklan lapangan golf.
- Kala Pesawat Jet Mengudara Perdana
LANGIT masih gelap ketika sekelompok kecil orang sibuk mempersiapkan proyek prestisius di lapangan terbang Marienehe, Rostock, Jerman pada 27 Agustus 1939. Selain tidak ingin diketahui publik, persiapan sengaja dilakukan di pagi buta agar keamanan lebih terjaga. Maklum, kesiagaan di Jerman telah ditingkatkan seiring negeri itu hendak menyerang Polandia, yang membuka Perang Dunia II. Di antara yang sibuk menjelang pukul 04 pagi itu, ada Erich Warsitz, seorang test-pilot perusahaan pembuat pesawat Heinkel Flugzeugwerke. Dia mengecek segala kesiapan pesawat yang akan dipilotinya. Lantaran penerbangannya bakal menjadi penerbangan perdana untuk sebuah jenis pesawat, pengecekan dilakukan ketat. Warsitz pun dibuatnya jadi gelisah. “Menjadi perokok berat, saya akan menyalakan beberapa batang rokok tambahan sebelum penerbangan seperti itu, dan itu dipakai terutama ketika, menetap di kokpit setelah sinyal siap, mesin diperiksa untuk terakhir kalinya dan seseorang akan berteriak: “Berhenti, matikan, ada katup yang longgar di sini!” Kemudian saya harus turun lagi. Ini membuat seseorang gelisah!” ujar Warsitz sebagaimana dikutip anaknya, Lutz Warsitz, dalam The First Jet Pilot: The Story of German Test Pilot Erich Warsitz.
- Lotere untuk PON
PERSIAPAN PON VII tahun 1969, ajang olahraga empat tahunan yang pertama di masa Orde Baru, nyaris tak bisa digelar. Maklum, kondisi politik dan ekonomi belum sepenuhnya stabil. Tak heran jika banyak daerah menolak menjadi tuan rumah dengan alasan tak punya dana. Di Jawa Timur, setelah Gerakan 30 September 1965, Operasi Trisula menghancurkan berbagai unsur Partai Komunis Indonesia. Menurut Pangdam VIII/Brawijaya, M. Jassin, Operasi Trisula dan peng-Orba-an di Jawa Timur berhasil. “Atas hal ini, Sultan Hamengkubuwono IX, selaku ketua KONI Pusat, menunjuk Jawa Timur sebagai tuan rumah PON pertama di era Orde Baru,” kata Jasin dalam memoarnya, M. Jassin, Saya Tak Pernah Meminta Ampun Kepada Soeharto.
- Ketika Gula Berjaya di Clappa-doa
CATATAN perdagangan milik pemerintah Inggris untuk Hindia Timur menyisakan teka-teki tentang aktivitas jual-beli gula dan tebu para pedagang Tionghoa di Banten. Arsip yang tersimpan di India Office Records, London, Inggris itu menyebut sebuah tempat di Kesultanan Banten: “Clappa-doa” (Kelapadua), yang menjadi pusat kegiatan ekonomi orang-orang Tionghoa di sana. Kelapadua sendiri saat itu merupakan perkampungan yang sebagian besar diisi oleh orang-orang Tionghoa. Sebagai pedagang, masyarakat di sana memilih untuk menanam tebu dan mengolahnya menjadi gula. Bahkan ketika arus perdagangan sedang ramai oleh lada dan pala, para pengusaha Tionghoa di Kelapadua tidak ikut latah. Itulah pemerintah Inggris memanfaatkan mereka. Dalam arsip tertua pemerintah Inggris di Banten (1635), hubungan dagang antara pihaknya dengan orang-orang Tionghoa dan Kesultanan Banten telah teralin baik. Hampir tidak ada konflik yang terjadi. Hasil pertanian yang diperdagangkan sebenarnya cukup beragam, tetapi bagi pedagang Tionghoa gula menjadi yang utama.
- Kunjungan Pertama Penguasa Belanda ke Indonesia
RAJA Belanda Willem-Alexander tiba di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/3). Bersama sang istri, Ratu Maxima, rombongan Kerajaan Belanda tiba sekira pukul 10.30 WIB. Raja dan Ratu Belanda disambut langsung oleh Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana. Pada kesempatan tersebut, Ratu Maxima menerima karangan bunga dari cucu presiden, Sedah Mirah. Mengutip pemberitaan yang dilansir oleh laman milik pemerintah Indonesia setkab.go.id, setelah diperdengarkan lagu kebangsaan kedua negara, presiden dan raja saling mengenalkan para menteri dan delegasi yang mendampingi kunjungan kenegaraan kali ini. Acara lalu dilanjut sesi foto bersama. Kemudian seluruh rombongan menuju beranda Istana Bogor untuk berbincang dan menyampaikan keterangan pers bersama. “Merupakan tanda yang sangat menjanjikan bahwa dua negara yang pernah berada di pihak yang berlawanan dapat menjalin hubungan yang semakin erat dan mengembangkan sebuah hubungan baru berdasarkan rasa hormat, saling percaya, dan persahabatan. Ikatan di antara kita semakin erat dan beragam. Ini sungguh menggembirakan saya,” ungkap Raja Willem.
- Ketika Indonesia jadi Pelampiasan Maradona
FIFA matchday antara timnas Indonesia versus Argentina jadi partai yang paling ditunggu publik di tanah air. Kendati bukan dalam rangka kompetisi resmi, laga yang akan bergulir di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada Senin (19/6/2023) malam itu jadi pertemuan perdana tim senior kedua negara. Di level U-20, tim Garuda Muda sudah pernah merasakan bagaimana tak berdayanya mereka saat bersua Argentina di Kejuaraan Dunia Yunior (kini Piala Dunia U-20) 1979 di Jepang. Kosasih Kartadiredja salah satu saksi matanya. Ia memang bukan bagian dari skuad yunior Indonesia yang diarsiteki Soetjipto Soentoro 44 tahun silam itu, tapi hadir di Kejuaraan Dunia Yunior 1979 itu sebagai pengadil lapangan, kendati peraturan saat itu tentu menghindarkannya bertugas di laga-laga yang satu grup dengan Indonesia. Indonesia sendiri tergabung di Grup B bersama tiga raksasa sepakbola: Argentina, Polandia, dan Yugoslavia. Sementara, Kosasih kebagian jatah bertugas di laga Spanyol vs Aljazair (Grup A) sebagai wasit utama, serta duel Uni Soviet vs Hungaria (Grup D) dan partai Spanyol vs Meksiko (Grup A) sebagai hakim garis.
- Mengenang Aksi Maradona di Jakarta
DUNIA sepakbola berduka. Diego Armando Maradona, maestro sepakbola berjuluk "si tangan Tuhan" itu wafat. Dia meninggal setelah penyakit menggerogoti otak dan jantungnya. Operasi telah dilakukan, tapi tak mampu menyelamatkan mantan pemain sepakbola asal Argentina itu. Warga Argentina mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda duka.
- Gunung Agung dan Masagung
TOKO Buku Gunung Agung yang menjadi pemberitaan tanah air sepekan belakangan akhirnya buka suara terkait isu akan PHK karyawan secara besar-besaran. Pihak manajemen toko buku legendaris itu akhirnya mengumumkan keputusan pilu, yakni akan menutup toko-tokonya yang masih tersisa di tahun ini. “Penutupan toko/outlet tidak hanya kami lakukan akibat dampak dari pandemi Covid-19 pada tahun 2020 saja, karena kami telah melakukan efisiensi dan efektifitas usaha sejak tahun 2013 untuk berjuang menjaga kelangsungan usaha dan mengatasi kerugian usaha akibat permasalahan beban biaya operasional yang besar. Penutupan toko/outlet yang terjadi pada tahun 2020 bukan merupakan penutupan toko/outlet kami yang terakhir karena pada akhir tahun 2023 ini kami berencana menutup toko/outlet milik kami yang masih tersisa,” ujar manajemen Gunung Agung sebagaimana diberitakan cnbcindonesia.com, 23 Mei 2023. Padahal, toko buku yang berpusat di Kwitang, Jakarta Pusat itu telah puluhan tahun ikut “mencerdaskan bangsa”. Hal itu memang menjadi obsesi pendiri Gunung Agung, Tjio Wie Tay, sejak memutuskan berbisnis buku. Maka setiap kesempatan untuk mencerdaskan bangsa datang, ia tak ragu untuk ambil bagian.
- Jasa Pengiriman Surat dan Barang pada Zaman Belanda
KEMAJUAN teknologi membuat transaksi jual beli tak hanya secara tatap muka. Belanja daring telah menjadi kebiasaan masyarakat di era serba digital, yang kian populer di masa pembatasan aktivitas sebagai imbas pandemi Covid-19. Berbagai barang, mulai dari makanan, keperluan rumah tangga hingga elektronik, dapat dibeli melalui beragam situs jual beli daring. Belanja daring sangat mengandalkan jasa ekspedisi. Pertumbuhan jasa pengiriman barang beriringan dengan meningkatnya minat masyarakat dalam belanja daring. Kehadiran jasa pengiriman barang tak terbatas pada perusahaan milik negara seperti Pos Indonesia, tetapi banyak pula pihak swasta yang menjalankan bisnis ini. Dukut Imam Widodo dalam Djember Tempo Doeloe menyebut kantor pos pertama di Hindia Belanda merupakan Kantor Pos di Batavia yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff pada 26 Agustus 1746. Empat tahun kemudian kantor pos dibuka di Semarang, Surabaya, dan selanjutnya menjamur di berbagai kota besar di Hindia Belanda.





















