Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ahmad Subardjo van Karawang
DI tepi Sungai Citarum, ada sebuah desa kecil bernama Teluk Jambe. Letaknya dekat Karawang, keresidenan yang di masa kolonial terkenal sebagai penghasil beras. Mobilitas di Karawang begitu sibuk dan ramai karena menjadi tempat perhentian kereta api dari Bandung ke Batavia, dan sebaliknya. Untuk mencapai Karawang, orang harus menyeberangi Sungai Citarum di Teluk Jambe. Di Teluk Jambe itulah Teuku Yusuf bertugas sebagai mantri polisi. Dia bertanggung jawab atas ketertiban dan keamanan Teluk Jambe dan sekitarnya yang banyak didatangi pencuri dan perampok. Pada 23 Maret 1896, pasangan Teuku Yusuf dan Wardinah dikaruniai anak keempat yang diberi nama Ahmad Subardjo. “Pada waktu aku dilahirkan, ayahku masih menjabat mantri polisi, jabatan yang terbawah dalam kepamongprajaan,” kenang Ahmad Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. “Ibuku menceritakan dengan bangga bahwa ayahku pernah dianugerahi medali oleh pemerintah sebagai tanda jasa setelah dia berhasil membekuk seorang perampok yang sangat ditakuti.”
- Wawasan yang Menggugah Ahmad Subardjo
RAMAI dan sibuknya kota Batavia (kini Jakarta) di tahun 1903 bikin hati bocah berusia tujuh tahun Ahmad Subardjo kian merasa kerdil. Bocah kelahiran Karawang yang datang merantau untuk mengenyam pendidikan Belanda itu pun jadi rindu kampung halamannya. Ia akhirnya nekat pulang untuk melepas kangen pada keluarganya. Di Batavia, Subardjo dan kakaknya, Abdul Rachman, dikirim ayahnya untuk bisa belajar di sekolah Belanda lantaran di Karawang belum ada satupun sekolah Belanda. Berbekal biaya dari orangtua dan kakek-nenek, mereka berangkat ke Batavia dan ‘ngekos’ di rumah-pondokan di Kwitang milik seorang Jawa, Suwandi. Suwandi menganggap Subardjo dan Rachman sebagai anak sendiri. Ia sempat khawatir ketika pada suatu hari Subardjo minta pulang ke Karawang. Pasalnya, Subardjo harus tertinggal setahun karena masih harus memperdalam bahasa Belanda, sementara Rachman yang sudah fasih bahasa Belanda, sibuk di sekolahnya. Namun, Subardjo tetap minta pulang meski sendiri. Suwandi yang iba lalu hanya bisa mengongkosinya pulang ke Karawang dengan keretaapi.
- Kisah Leluhur Ahmad Subardjo
BUNGA kamboja putih bersih bertaburan di atas makam Teuku Muhammad Usman di tepi sungai Cimanuk, dekat Penganjang, Jawa Barat. Di atas batu nisannya tertulis: “leluhur dan guru kami yang tercinta dari Aceh.” “Dia meninggal dalam usia lanjut pada 1895, setahun sebelum aku dilahirkan, dikuburkan oleh orang-orang sekampungnya dan murid-muridnya yang merasa berterima kasih kepadanya,” kata Ahmad Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional. Sekira 55 tahun lalu, sebuah kapal layar kandas di pantai utara Cirebon, dekat kota kecil Indramayu. Kapal layar itu terdampar setelah tak berdaya melawan topan yang menyerang. Layarnya terkoyak yang menyebabkan kapal terbalik.
- Masa Muda Ahmad Subardjo
PADA 1913, Ahmad Subardjo tercatat sebagai murid sekolah menengah pertama di Koning Willem (KW III) School di Batavia (kini menjadi Perpustakaan Nasional di Jl. Salemba Jakarta Pusat). Tahun itu bertepatan dengan seabad kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis. Rakyat jajahan di negeri koloni Hindia Belanda harus ikut menyumbang, dengan embel-embel pungutan uang derma, untuk membiayai perayaan. Namun, rencana perayaan besar-besaran itu dikecam oleh seorang bumiputra, Soewardi Soerjaningrat, melalui tulisan “Als ik een Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) dalam suratkabar De Express, 13 Juli 1913. Soewardi menyindir masa lalu Belanda yang juga pernah menjadi negeri jajahan. Betapa tak tahu malunya Belanda yang pernah dijajah, kini merayakan kemerdekaannya di hadapan rakyat koloni yang masih terjajah. Soewardi sungguh malu, andai dia orang Belanda. Artikel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu untuk disebarluaskan kepada kalangan bumiputra.
- Usaha Menteri Keuangan A.A. Maramis Menyelamatkan Ekonomi Indonesia
BELUM genap dua tahun usia Republik Indonesia, semenjak 17 Agustus 1945. Beragam ujian politik dan ekonomi mewarnai kehidupan republik. Kabinet pemerintahan jatuh bangun. Belanda juga masih ingin menguasai Republik Indonesia kembali. Di dalam keadaan itu, Alexander Andries Maramis (Alex Maramis) menunaikan tugasnya sebagai menteri keuangan. Keadaan ekonomi Indonesia 1947-1949 masih seperti di tahun 1945. Pendapatan negara tiris, produktivitas pangan rendah. ”Meskipun produksi pangan pada tahun 1948-1949 lebih tinggi dari tahun sebelumnya, namun itu sekitar 10 persen di bawah rata-rata produksi sebelum perang tahun 1937. Sebaliknya, penduduk Indonesia mungkin telah meningkat sejak perang dari 70 menjadi 73 Juta,” lapor United States Departement of Agriculture, dalam World Food Situation 1949, 12 Januari 1949. Beng To Oey dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia: (1945-1958) mengemukakan hal senada. “…Ekspor komoditi penting dari Indonesia, yang sesungguhnya merupakan sokoguru utama bagi perekonomian, untuk beberapa tahun setelah pengakuan kedaulatan tidak akan mampu mencapai tingkat sebelum perang, sedangkan beras sebagai bahan makanan utama rakyat untuk sementara harus diimpor dalam jumlah yang cukup banyak,” terang Beng.
- Makam di Sisi Masjid Perlawanan
SEBUAH masjid berdiri megah di ruas Jalan Jatinegara Kaum Raya, Jakarta Timur. Namanya Masjid Jami’ As-Salafiyah (Masjid Tertua), berdiri pada 1620. Tepat di sisi kanan masjid berdiri sebuah bangunan, mirip pendopo, yang berisi lima makam: Pangeran Achmad Jayakarta, Pangeran Lahut, Pangeran Surya, Pangeran Shogeri, dan makam Ratu Rafi’ah. “Pangeran Lahut itu anak dari Pangeran Achmad Jayakarta. Pangeran Shogeri masih kerabatnya dan anak dari Sultan Agung Titayasa. Sedangkan Ratu Rafi’ah adalah istri dari Pangeran Shogeri,” kata Raden Manaf, generasi kesembilan dari keturunan Pangeran Jayakarta. Banyak orang sempat meragukan makam di sisi masjid itu adalah makam Pangeran Jayakarta. Keberadaannya juga pernah dirahasiakan dari publik dan baru diberitakan pada 1950. Menurut Raden Manaf, Pangeran Jayakarta berwasiat agar keberadaan makamnya baru diberitakan bila Belanda sudah tak lagi bercokol di Nusantara. Sebab, bila diketahui pihak Belanda, keturunannya akan dihabisi.
- Pengalaman Ahmad Subardjo di Eropa
KAPAL Sindoro memulai perjalanan menuju negeri Belanda pada awal tahun 1919. Dari Tanjung Priok, Batavia, kapal milik perusahaan Rotterdamsche Llyod itu berlayar melewati Selat Sunda menuju Emmahaven (Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang, Sumatra Barat. Kapal singgah sementara untuk mengambil batu bara. Perjalanan kemudian dilanjutkan melewati Aden, Suez, Port Said, Marseille, dan melalui Selat Gibraltar ke Terusan Inggris dengan tujuan Rotterdam. Salah satu penumpang kapal berukuran 5.000 ton itu adalah Ahmad Subardjo. Dua tahun sebelumnya dia menamatkan pendidikan sekolah menengah umum pertama Koning Willem III (KW III) School di Batavia. “Di Terusan Inggris (English Channel) kapal harus berlayar sangat perlahan-lahan. Karena sudah waktu malam tiba di sana, kami berlabuh dekat pantai Inggris. Ini untuk menghindarkan kapal dari ranjau-ranjau yang banyak mengambang di Lautan Utara (North Sea). Ada kapal Rotterdamsche Llyod yang tenggelam karena melanggar ranjau,” kata Ahmad Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional.
- Spirit Merah Putih Ahmad Subardjo di Negeri Belanda
TEUKU Abdul Manaf. Itulah nama yang diberikan kepada Ahmad Subardjo saat menyapa dunia pada 23 Maret 1896 di Teluk Jambe, Karawang. Sejak namanya diganti, sosok keturunan Aceh itu hampir tak pernah menggunakan nama Abdul Manaf lagi, kecuali pada saat darurat di Belanda maupun Jerman. “Nama Teuku Abdul Manaf kadang-kadang dipakai untuk siasat saja ketika di Belanda. Jadi waktu pelarian di Berlin, dia pakai nama Teuku Abdul Manaf karena waktu itu kan Pak (Mohammad) Hatta dan teman-teman ditangkap di Belanda tapi Pak Subardjo, karena lagi ada di luar Belanda, enggak tertangkap. Dengan menggunakan Teuku Abdul Manaf sepertinya hilang dari jejaknya Belanda. Jadi strategislah. Teuku Abdul Manaf tetap dipakai sebagai kebanggaan dia sebagai orang Aceh,” demikian Hutomo Said Effendi, cucu Ahmad Subardjo, berkisah saat disambangi Historia.ID di Bintaro, Tangerang Selatan. Pelarian Subardjo terjadi medio 1927. Tak lama setelah Subardjo dan rekan-rekannya dari Perhimpunan Indonesia (PI) menghadiri Kongres Anti-Imperialisme dan Anti-Kolonialisme.
- Ahmad Subardjo Melawan Penjajahan dari Sarangnya
NUN jauh dari tanah kelahirannya, Ahmad Subardjo untuk kali pertama menginjakkan kaki di Belgia. Sejak merantau ke Eropa, dia bermukim di Leiden, Belanda. Namun, pada pekan kedua Februari 1927, dia berkunjung ke Brussel, ibu kota Belgia, untuk menghadiri Kongres Anti Imperialisme sedunia. “Mereka berkumpul di sana dan saling bersuara untuk melawan kolonialisme dan imperialisme,” kata Hutomo Said, cucu Ahmad Subardjo, kepada Historia.ID. Subardjo datang ke Belgia bersama rekan sesama mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia. Mereka antara lain Mohammad Hatta, Gatot Tarunamihardja, dan Muhammad Nazir Datuk Pamuntjak. Para pemuda Indonesia inilah yang menjadi delegasi dalam Kongres Anti Imperialisme.
- Ahmad Subardjo Menjadi Pengacara dan Merantau ke Jepang
SETELAH meraih gelar Meester in de Rechten atau sarjana hukum dari Universitas Leiden, Belanda, Ahmad Subardjo kembali ke Indonesia pada April 1934. Sejalan dengan sikapnya yang nonkooprasi atau tidak bekerja sama dengan Belanda, Subardjo memilih bekerja sebagai pengacara. Mula-mula Subardjo bekerja di kantor hukum Mr. Sastromulyono di Semarang. Setelah beberapa bulan dia pindah ke Surabaya dan bekerja sebagai ahli hukum junior di kantor hukum Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo. Sekembali dari studi di Belanda, Mr. Iskaq aktif dalam Bandung Studie Club yang dipimpin Sukarno. Kelompok ini kemudian menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Pemerintah kolonial menuduh PNI bermaksud menumbangkan pemerintah kolonial. Sukarno sebagai ketua partai bersama Gatot Mangkupradja, Maskun, dan Supriadinata dipenjara dan PNI menjadi perkumpulan terlarang.
- A History Teacher at Red Schools
ONE day in August 1934, a letter arrived from Batavia. The sender was Soegiarti, Maria’s friend from her college days in Leiden. The letter contained an offer: inviting Maria to become a teacher at a Muhammadiyah school in Batavia. The letter arrived just as Maria’s contract as a temporary employee in Cirebon Regency was coming to an end. “Soegiarti sent me a letter. She offered me a teaching position at a Muhammadiyah school. She already knew me and she was familiar with my character,” Maria told Dewi Fortuna Anwar, who interviewed her. Soegiarti had once shared a boarding house with Maria at Witte Single 25. She was studying to become a teacher in order to earn her hoofdacte diploma, a kind of certification to become a school principal. In Batavia, Soegiarti taught at a Muhammadiyah secondary school. Maria didn't turn down Soegiarti’s offer because the opportunity was a perfect fit for her. Mohammad Achmad, Maria’s father, who was the regent of Kuningan at the time, gave her permission to go to Batavia. “My father was quite progressive. So, he simply allowed me to do as I wished,” Maria said.





















