Hasil pencarian
Cari di situs ini
10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Oliver Manusia-Kera
DI awal kemunculannya di hadapan publik, Oliver kerap direpresentasikan sebagai humanzee (chuman, manpanzee, chumanzee) atau hasil dari hibrida simpanse dan manusia. Setelah ditangkap pada awal 1960-an di Afrika, Oliver segera menarik perhatian karena penampilannya berbeda dibandingkan simpanse lain.
- Korupsi Ala Tentara di Madura
LETNAN Dua Ario Mangkoediningrat baru saja naik pangkat. Dia pun mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumahnya atas kenaikan pangkatnya. Entah karena kecil-kecilan atau alasan lain, Mangkoediningrat tak mengundang Kapten Raden Ario Tjitrokoesoemo, komandannya di Kompi ke-3 Korps Barisan Madura di Sumenep. Maka, ketika bersua dalam sebuah parade, Kapten Raden Ario iseng-iseng bertanya kepada Letnan Mangkoediningrat mengapa dirinya tidak diundang di acara syukuran tadi. Letnan itu menjawab bahwa dirinyaa tak punya cukup uang. Dari 1000 gulden yang seharusnya diterima, dirinya hanya diberi 280 gulden. Sisa yang 720 gulden masih dipegang oleh komandan Korps Barisan. “Pastinya kau akan mendapatkan uang itu kembali," kata Kapten Raden Ario. “Ya, mungkin,” balas si letnan yang tampak pasrah.
- Intel Indonesia Dilatih Intel Israel
PADA awal 1965, Kolonel Nicklany, Asisten Intelijen di Polisi Militer, mengawasi pembentukan unit intelijen khusus di tubuh Polisi Militer yang diberi nama Detasemen Pelaksana Intelijen Militer (Den Pintel Pom). Tujuannya, untuk melacak jejak para anggota PKI. Unit ini dikenal paling cakap dalam tubuh angkatan bersenjata. Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Asisten Intelijen Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) pada awal 1968, Nicklany menyampaikan kepada para petinggi Den Pintel Pom perlunya satu unit baru yang bertugas untuk menangani kontraintelijen asing, yaitu menangkap mata-mata asing yang beroperasi di Indonesia, terutama dari negara-negara komunis. Untuk unit tersebut, Komandan Den Pintel Pom, Mayor Nuril Rachman menyiapkan 60 orang (sepuluh perwira aktif dan 50 sipil) dari Polisi Militer. Pada 16 November 1968, unit ini diresmikan bernama Satuan Khusus Pelaksana Intelijen atau Satsus Pintel, yang kemudian dipendekkan menjadi Satuan Khusus Intelijen atau Satsus Intel. Unit ini bertanggungjawab kepada Asisten Operasi Polisi Militer, dan setelah tahun 1969, kepada Nicklany sebagai Deputi II Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Indonesia).
- Mossad Berburu sampai Batu
TIGA ledakan bom mengguncang New Delhi, ibu kota India, pada 29 Oktober 2005. Ledakan pertama di pasar Paharganj, dekat stasiun kereta api; ledakan kedua dekat sebuah bus di daerah Govindpuri di bagian selatan kota; dan ledakan ketiga di pasar Sarojini Nagar di Delhi selatan. “Serangan itu kemudian ditetapkan sebagai pekerjaan kelompok al-Qaeda di Kashmir, Lashkar-e-Toiba atau Soldiers of Fortune. Lebih dari enam puluh orang tewas dan lebih dari seratus luka parah,” tulis Gordon Thomas dalam Gideon’s Spies: The Secret History of the Mossad. Laporan news24.com (31/10/2005) menyebut ledakan itu menelan korban jiwa 62 orang dan 210 orang luka-luka.
- Mossad dan Kontrak Skyhawk
SETELAH beberapa bulan di divisi penelitian Mossad, Victor Ostrovsky dipindahkan ke departemen lain yang disebut Kaisarut atau penghubung. Dia ditempatkan di bagian Dardasim atau Smerfs yang menangani Timur Jauh dan Afrika. Victor menggambarkan Dardasim semacam kantor luar negeri mini untuk negara-negara yang tidak ada ikatan formal atau diplomatik dengan Israel –seperti Indonesia. Para mantan jenderal dan bermacam mantan orang ternama keluar masuk kantor, mengenakan tanda pengenal tamu, dan menggunakan mantan kontak Mossad mereka untuk mengatur urusan perusahaan, biasanya menjual senjata. “Saya bekerja di bawah pimpinan Amy Yaar,” kata Victor dalam Mossad: Tipu Daya yang Digambarkan oleh Bekas Anggota Mossad, ditulis bersama Claire Hoy, penulis terkenal Kanada.
- Mossad dan Intelijen Indonesia
MEIR Amit menjabat sebagai direktur dan kepala operasi global Mossad dari tahun 1963 hingga 1968. Dia memutuskan bahwa Mossad harus memperluas diplomasi rahasia Israel ke Timur Jauh. Maka, dibukalah stasiun intelijen Mossad di Singapura. Mossad membentuk delegasi militer Israel permanen di Singapura yang dipimpin oleh Kolonel Binyamin (Fouad) Ben-Eliezer, seorang perwira berpengalaman yang kemudian dipromosikan menjadi brigadir jenderal. Ben-Eliezer dan timnya memberikan konsultasi, pelatihan, dan kemudian persenjataan kepada tentara dan polisi rahasia Singapura. Ben-Eliezer kemudian menjadi anggota legislatif dan memegang beberapa jabatan menteri. “Singapura kecil, dengan populasi hampir dua setengah juta, menjadi landasan peluncuran bagi diplomat-diplomat alternatif Mossad di seluruh Asia. Kesuksesan besar pertama mereka di Asia adalah Indonesia,” tulis Dan Raviv dan Yossi Melman dalam Every Spy a Prince: The Complete History of Israel’s Intelligence Community.
- Kisah Menteri Keuangan Raja Louis XVI yang Diganyang Massa
BELAKANGAN viral ucapan Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani yang menganggap “guru beban negara” berseliweran di media sosial. Faktanya, pernyataan itu hoaks belaka lantaran merupakan hasil potongan tidak utuh dan deepfake. Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu memberi klarifikasi bahwa video tentang “guru beban negara” itu adalah hoaks pada Selasa (19/8/2025). Pernyataan itu menurutnya hasil potongan video dan rekayasa dari pidato Menkeu Sri Mulyani di Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 7 Agustus 2025 lalu. Sri Mulyani menyampaikannya dalam rangka menerangkan “klaster kedua” terkait gaji dan tunjangan dosen dan guru dalam alokasi anggaran pendidikan tahun 2025. “Banyak di media sosial saya selalu mengatakan, ‘oh menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya enggak besar.’ Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara, ataukah ada partisipasi dari masyarakat,” demikian bunyi pidato asli Menkeu Sri Mulyani di forum itu, sebagaimana yang diunggah akun Youtube Kompas.com, 8 Agustus 2025.
- Mereka yang Memihak Pramoedya
SEWAKTU Pramoedya Ananta Toer dianugerahi penghargaan Ramon Magsaysay dari Filipina, sejumlah sastrawan terkemuka di Indonesia bak kebakaran jenggot. Selain Mochtar Lubis, nama Taufiq Ismail termasuk yang getol berusaha menentang penghargaan itu diberikan kepada Pram. Sikap Taufik ini kemudian diikuti oleh 25 sastrawan lain. Kebanyakan berasal dari kelompok Manifes Kebudayaan (Manikebu). Demi menjegal Pram, mereka melayangkan petisi penolakan. “Kami menduga bahwa Yayasan Hadiah Magsaysay tidak sepenuhnya tahu tentang peran tidak terpuji Pramoedya pada masa paling gelap bagi kreativitas di zaman Demokrasi Terpimpin, ketika dia memimpin penindasan sesama seniman yang tidak sepaham dengan dia,” demikian bunyi pernyataan bersama para sastrawan itu seperti diberitakan Kompas, 5 Agustus 1995. Polemik penghargaan Magsaysay bagi Pram kian bertiup kencang sehingga menjadi pemberitaan di berbagai media nasional selama berminggu-minggu. Perbuatan Pram di masa lalu disingkap oleh para seterunya. Menurut Taufiq Ismail dkk., Pram telah membegal mereka dalam berkarya bahkan membuat sebagian kehilangan pekerjaan. Untuk itu, Pram dituntut untuk minta maaf secara terbuka.
- Cara Orang Madura Naik Kasta
GELAR, entah itu gelar militer, kebangsawanan, ataupun keagamaan, dulu adalah hal penting di banyak daerah di Indonesia. Raden, Ksatria, Haji, Kiai dan gelar-gelar lain menjadi pembeda seseorang dengan masyarakat di lingkungannya sehingga pemiliknya akan dipandang lebih tinggi. Hal itu terlihat antara lain di Madura dulu, zaman Hindia Belanda. Kiai di sana bukan hanya gelar untuk seorang guru agama yang mengelola pesantren. Di kemiliteran pun gelar Kiai ada. Tersebutlah seorang perwira dari Korps Barisan Madura, Letnan Satu Kaij Djaeng Logo. Barisan adalah salah satu pasukan bantuan (hulptroepen) tentara kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Sementara “Kaij” adalah penulisan untuk “Kiai” di era 1800-an.
- Penderitaan Pramoedya Melebihi Manikebuis
SALAH satu Presiden Filipina yang dikenang di negaranya adalah Ramon del Fierro Magsaysay (1907-1957). Mantan teknisi yang lalu jadi pahlawan dalam Perang Dunia II itu kemudian menjadi politisi yang sukses masuk parlemen. Usai menjadi sekretaris pertahanan nasional yang melawan komunisme di Filipina, dia berhasil jadi presiden. Magsaysay berkuasa dari 1953 hingga kematiannya pada 17 Maret 1957 karena kecelakaan pesawat di Cebu. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama penghargaan yang dianggap Nobel Asia: Ramon Magsaysay Award. “Mochtar Lubis terpilih sebagai salah seorang di antara dua pemenang Ramon Magsaysay Journalism and Literature Award untuk tahun 1958. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan itu,” tulis Atmakusumah dalam Mochtar Lubis, Wartawan Jihad.
- Gocekan Okudera yang Membuka Jalan
PEMAIN naturalisasi Kevin Diks Bakarbessy mengukir debut bersejarahnya bersama Borussia Mönchengladbach akhir pekan lalu. Bek berdarah Maluku yang sudah mengambil sumpah sebagai warga negara Indonesia pada November 2024 itu mencatatkan diri jadi pemain Indonesia pertama yang merumput di Bundesliga. Ia juga meneruskan tradisi pemain asal Asia yang meramaikan sepakbola Jerman sejak 1970-an yang dirintis bintang legendaris asal Jepang Yasuhiko Okudera dan Cha Bum-kun asal Korea Selatan. Diks resmi berkarier di Mönchengladbach setelah hijrah dari klub Denmark, FC København. Diks melakoni debutnya sebagai pemain pengganti ketika Mönchengladbach menjamu Hamburg SV Minggu (24/8/2025) lalu. Kedua tim bermain imbang tanpa gol di partai pembuka musim 2025/2026 itu. “Hasil (imbang 0-0) yang tak kami inginkan. Kami mengambil semua hikmah positif, terus bekerja keras, dan fokus untuk pekan depan. Bangga jadi pemain Indonesia pertama di Bundesliga, terima kasih atas semua dukungan Anda di rumah dan di tribun,” ungkap Diks di akun Instagramnya, @kevindiks2.
- Kisah Romansa Pramoedya
SEBAGAI sastrawan yang punya nama besar, sosok Pramoedya Ananta Toer digandrungi banyak orang, termasuk kaum hawa. Pram pun tak menampiknya. Dalam suatu wawancara di tahun-tahun terakhir hidupnya, Pram blak-blakan mengaku masih didekati beberapa perempuan. “Saya nggak ngerti kok dapat pacar di mana-dimana. Padahal saya ini jelek. Di Kanada dapat satu tahun 1999. Heran saya itu. Yang terakhir ada di Jerman. Dia datang ke sini saya sudah nggak ingat saking banyaknya,” ujar Pram dalam kumpulan wawancara Pram Melawan yang disunting Hasudungan Sirait. Berkebalikan semasa mudanya, Pram mesti berjuang keras sekadar bertemu dengan gadis idamannya. Maklum saja, suasananya masih di zaman perang. Cerita bermula sewaktu Pram bertugas di dinas militer sebagai perwira persuratkabaran Resimen 6 Divisi Siliwangi.




















