Hasil pencarian
Cari di situs ini
10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Minuman Keras Champarade dari Tjampoer Adoek
KEDAI minuman merupakan tempat hiburan populer di Batavia pada abad ke-17. Jumlah kedai minuman, yang dapat dikenali dari kaleng timah atau kendi tembikar, sangat banyak di kawasan Batavia. Seiring meningkatnya aktivitas perdagangan VOC, jumlah orang Eropa yang datang ke Batavia terus bertambah. Mereka datang sebagai bagian dari VOC, mulai dari pelaut, pedagang, hingga tentara. Bagi banyak orang, hidup merantau bukanlah hal mudah. Selain harus bekerja jauh dari rumah dan keluarga, orang-orang Eropa di Batavia juga harus beradaptasi dengan lingkungan dan iklim yang berbeda dari negara asalnya. Di masa awal kehadiran permukiman orang Eropa di Batavia, tak banyak hiburan yang bisa dilakukan di sana. Orang-orang Eropa yang kebanyakan pria biasanya pergi berburu untuk mengisi waktu luang. Di waktu lain, mereka mendatangi kedai minuman untuk bercengkerama atau sekadar rehat dari aktivitas harian yang menjemukan.
- Ketika Moncong Meriam Menodong Istana
17 OKTOBER 1952. Sejak jam empat subuh militer mengamankan tempat-tempat strategis: kantor RRI, gedung DPRS-MPRS, dan stasiun-stasiun keretapi. Pukul delapan pagi, kerumuman massa menjalar; mereka diangkut dari pabrik-pabrik di luar kota, sisanya dari Jakarta dikelola jagoan-jagoan Betawi. Tentara mengorganisir demonstrasi itu, dengan dukungan tank dan artileri, bergerak ke istana presiden, menuntut pembubaran parlemen. Peristiwa 17 Oktober 1952 itu berakar dari pertentangan sipil-militer pascakemerdekaan. Pada masa Kabinet Wilopo, pimpinan TNI berniat mereorganisasi dan rasionalisasi militer untuk menanggalkan mentalitas tentara gerilya menjadi tentara profesional. Proses ini akan diikuti pemberhentian hampir 40 persen personel TNI sebagai dampak pemangkasan anggaran. Pimpinan militer, seperti KSAD Kolonel AH Nasution dan Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang, mengusulkan untuk mendatangkan Misi Militer Belanda (MMB) yang ditugaskan membantu dalam segi teknis –bukan doktrin–untuk menyediakan kader bagi lembaga-lembaga pendidikan militer. Namun, ide ini ditentang keras golongan lain di dalam AD. Kolonel Bambang Supeno, melaporkan ketidaksukaannya terhadap rencana itu kepada Sukarno secara langsung tanpa mengindahkan alur komando.
- Keakraban Alex Kawilarang dengan Oerip Soemohardjo
KETIKA mendengar nama Mayor (KNIL) Oerip Soemohardjo di Jalan Cilacap No. 5 Jakarta (pusat pertemuan para pemuda yang ingin menjadi tentara Republik) disebut-sebut oleh para pemuda, jantung Alex Evert Kawilarang berdegup keras. Bagi lelaki berdarah Minahasa itu, nama Oerip tidaklah asing. Sang ayah Mayor (KNIL) A.H.H. Kawilarang pernah berkisah tentang lelaki Jawa tersebut kepadanya. “Langsung saya ingat kepada percakapan di rumah, dulu sewaktu Ayah masih ada,” ungkap A.E. Kawilarang dalam otobiografinya, Untuk Sang Merah Putih yang disusun oleh Ramadhan K.H. Oerip merupakan junior ayahnya saat menimba ilmu kemiliteran di Sekolah Militer Messter Cornelis, Batavia. Pasca Proklamasi, dia ditugaskan oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia Amir Sjarifoeddin untuk membentuk tentara republik. Guna melancarkan koordinasi, pemerintah lantas memberikan pangkat letnan jenderal kepadanya.
- Kebanyakan Tentara, Irak Hancur
PEMERINTAH belum lama ini resmi membentuk 100 Batalyon Teritorial Pembangunan (TP) dalam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) untuk mendukung program-program pemerintah dan swasembada pangan. Tiap batalyon memiliki kompi pertanian dan peternakan. Rencananya, tiap tahun akan dibentuk 100 Batalyon TP sehingga dalam lima tahun ke depan akan ada 500 Batalyon TP. Dengan begitu, TNI AD akan memiliki lonjakan jumlah personel. Sebagai gambaran, pada 2024 TNI AD memiliki 350.000 personel. Jika tiap batalyon terdapat setidaknya 500 personel, maka TNI AD ketambahan 50.000 personel baru. Penggemukan postur jelas bukan terjadi pada militer Inodnesia di masa sekarang saja. Puluhan tahun silam, Irak di bawah Presiden Saddam Husein juga pernah memperbesar Angkatan Darat-nya. Ketika itu, alasan Irak bukan untuk menciptakan lebih banyak lahan pertanian dan perkebunan, melainkan karena sedang berperang dengan Iran dalam Perang Iran-Irak (1980-1988).
- Penyelundupan dan Perdagangan Gelap Pegawai VOC
KESUKSESAN VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) menarik minat banyak orang Eropa miskin untuk bekerja di Perusahaan Dagang Hindia Timur itu. Dengan menjadi pegawai VOC, mereka dapat mengubah nasib menjadi lebih baik. Namun, meraih kekayaan dan karier tidak mudah, terlebih bagi pegawai VOC tingkat menengah ke bawah.
- Perangi Komunis Demi Uang
PERANG tampaknya tak pernah jauh dari Sersan Satu Raden Moardjiman. Tak lama setelah Perang Pasifik/Perang Dunia II usai, serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) itu terlibat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Begitu perang tersebut selesai, dia ikut ke Belanda bersama para serdadu yang dipulangkan pasca-pengakuan kedaulatan Indonesia. Namun, tak lama di Belanda, dia kembali ke Asia untuk perang yang lain lagi. Setelah Perang Dunia II usai, Perang Dingin muncul. Kali ini antara blok Timur yang komunis dengan blok Barat yang kapitalis. Kerajaan Belanda selaku anggota NATO jelas terlibat perang ini. Belanda ikut mengirim pasukan untuk Perang Korea. Mereka tergabung dalam Netherlands Detachment United Nations (NDVN). “Detasemen Perserikatan Bangsa-Bangsa Belanda (NDVN) didirikan setelah siaran pers yang dikeluarkan pada 11 Agustus 1950 meminta sukarelawan untuk melapor. Meski pemerintah Belanda menahan diri, jumlah relawan yang mendaftar cukup banyak. Dalam empat hari, 1.044 sukarelawan menanggapi panggilan tersebut,” tulis BCM Kester dalam “Van Wimpel tot Oranje Strik, Nederlandse Militairen in de Koreaoorlog: Een Verkenning van de Beeldvorming in Pers, Bioscoopjournaal en Speelfilm”, termuat di buku Het Beeld in de Spiegel: Historiografische Verkenningen: Liber Amicorum voor Piet Blaas.
- Detik-detik Latief Hendraningrat
SEBUAH kehebohan terjadi pada bulan Agustus 2008. Seseorang bernama Ilyas Karim mengaku sebagai pengibar bendera dalam upacara proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Pengakuan itu membuat gusar Citroseno Hadiningrat. Dia tak ingin anak-cucu keliru melihat sejarah proklamasi kemerdekaan.
- Pangeran yang Bahagia
DUSUN Kroyo lengang. Sepeda motor sesekali melintas di jalanan aspal. Diapit perkebunan karet dan sepetak dua petak kebun jagung, dusun di Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang Jawa Tengah ini sesungguhnya tak terlalu pelosok. Jaraknya sekira 10 kilometer dari Kota Salatiga. Dusun Kroyo punya satu hal spesial. Di sisi timur laut dusun, terdapat lembah dengan sungai kecil yang begitu bersejarah. Di sana berdiri sebuah pondok kecil tanpa dinding dan beratap seng dengan sumur dangkal yang tak pernah kering meski kemarau. Orang-orang kerap menganggap tempat itu wingit, angker. Cerita-cerita mistik berkembang. Air dari sumur yang berada di tepi sungai dianggap memiliki khasiat ajaib. Di antara pohon beringin dan randu-randu gigantik, ada yang melihat kuda berwarna kuning, ada yang bersaksi melihat ayam hutan bercahaya.
- Aksi Militer Belanda Menghabisi SP 88
JAKARTA, 12 Desember 1947. Malam baru saja melangsungkan waktunya beberapa jam saat para penonton di Bioskop Capitol Pintu Air (sekarang Jalan Ir. H. Djuanda) dikejutkan suara menggelegar dari luar. Situasi menjadi kacau. Para penonton berhamburan. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat pemandangan mengerikan di jalanan: 12 serdadu bergelimpangan dalam kondisi berdarah-darah. Sebagian besar kemungkinan sudah tak bernyawa lagi.
- Orang Ambon di Front Jakarta
SEJATINYA, pergerakan nasional Indonesia juga berisikan orang Ambon. Johannes Leimena (1905-1977), mahasiswa kedokteran STOVIA yang kelak berjuluk “Bapak Kesehatan Indonesia”, bahkan hadir dalam Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda. Ada pula Alexander Jacob Patty (1901-1947), pendiri Sarekat Ambon yang secara politik berseberangan dengan pemerintah kolonial hingga dia dibuang ke Boven Digoel. Tokoh lain yang terkenal adalah Mr Johannes Latuharhary (1900-1959), lulusan hukum Universitas Leiden yang rela berhenti dari pekerjaan enaknya untuk aktif dalam pergerakan nasional. Mantan ketua Pengadilan Negeri (Landraad) di Kraksan, Jawa Timur ini namanya kemudian diabadikan jadi nama sebuah jalan di Jakarta. Namun, Jakarta pada awal kemerdekaan Indonesia justru punya banyak penduduk yang mencurigai orang-orang Ambon hanya karena sebagian orang Ambon di masa kolonial Belanda menjadi serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Orang-orang Ambon lalu dipersekusi.
- IGK Manila dan Bung Karno Makan Sepiring Berdua
BANYAK orang mengenal mendiang I Gusti Kompyang (IGK) Manila sebagai perwira yang banyak jasa dalam olahraga, dari sepakbola hingga wushu. Purnawirawan mayor jenderal itu juga dikenal sebagai “Panglima Gajah” karena keberhasilannya memindahkan ratusan gajah di Sumatera Selatan. Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa di masa mudanya Manila pernah menemani Presiden Sukarno di masa kesepiannya di Wisma Yaso. Pria kelahiran Singaraja, Buleleng, Bali pada 8 Juli 1942 itu meretas kariernya di militer dengan jadi taruna Akademi Militer Nasional (AMN) di Lembah Tidar, Magelang kurun 1961-1964. Saat menjadi taruna itulah Presiden Sukarno berkunjung didampingi sejumlah perwira tinggi, termasuk Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) Letjen Ahmad Yani. Mengingat Bung Karno juga punya darah Bali, ia pun melempar satu pertanyaan pada Manila. “Bung Karno bertanya, mau jadi apa setelah lulus AMN? Manila menjawab, ingin menjadi pengawal Presiden. Jawaban yang membuat Jenderal Ahmad Yani yang ikut hadir, lantas tertawa. Jenderal Yani mengatakan, ‘Pengawal Presiden itu (pangkatnya) kolonel, seperti Maulwi Saelan, bukan letnan dua.’ Manila hanya terdiam,” tulis Hardy R. Hermawan dan Edy Budiyarso dalam biografi IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara.





















