Hasil pencarian
Cari di situs ini
10061 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Romansa Musuh Belanda di Pedalaman Papua
SEBUAH pertemuan diadakan di sebuah bioskop di Padang, Sumatra Barat pada 1 April 1923. Wakil-wakil dari organisasi besar macam serikat buruh kereta trem, Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP), dan organisasi kepanduan macam Nederlands-Indische Padvinders (NIP) dan organisasi-organisasi lainnya hadir di sana. Salah satu pembicara di sana rupanya dicap sangat berani oleh pemerintah kolonial. “Orang Minangkabau masih berpegang teguh pada adat mereka, yang mereka akui sebagai satu-satunya yang benar, dan meskipun ada pelekat pandjang (kesepakatan antara pemerintah dan orang Minangkabau), adat itu telah dirobek dengan ujung sangkur,” kata Sutan Said Ali, si pembicara berani itu.
- Menyoal Rumor Kekerasan Seksual dalam Peristiwa Kerusuhan Mei 1998
LEMBARAN sejarah kasus kekerasan seksual yang menyasar warga etnis Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998 kembali dibuka menyusul pernyataan kontroversial Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Dalam sebuah siniar, Menteri Fadli menyatakan kasus tersebut masih sebatas rumor dan belum terbukti secara hukum. Sontak pernyataan itu menuai kritik dari berbagai kalangan, terutama dari pihak yang berempati pada korban.
- Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Dikhawatirkan Meminggirkan Peran Perempuan
PENULISAN ulang sejarah Indonesia oleh tim bentukan Kementerian Kebudayaan mendapat penolakan, bukan hanya karena pengerjaannya terburu-buru dan tidak transparan, tetapi juga karena proses penyusunan buku sejarah nasional ini di bawah kendali rezim yang berkuasa. Menurut para aktivis dan sejarawan yang tergabung dalam Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia (AKSI), hal ini dikhawatirkan akan mereduksi sejarah atau semakin meminggirkan peristiwa-peristiwa sejarah yang berseberangan dengan rezim penguasa.
- Menteri Kebudayaan Fadli Zon Tanggapi Penolakan Penulisan Ulang Sejarah Indonesia
PENULISAN ulang sejarah Indonesia oleh tim bentukan Kementerian Kebudayaan menuai perdebatan di kalangan masyarakat. Beberapa waktu lalu, sejumlah aktivis dan sejarawan yang tergabung dalam Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia (AKSI) menyampaikan penolakannya dalam Rapat Dengar Pedapat Umum (RDPU) dengan Komisi X DPR RI pada Senin, 19 Mei 2025.
- Aktivis dan Sejarawan Menolak Penulisan Ulang Sejarah Indonesia oleh Pemerintah
KABAR penulisan ulang sejarah Indonesia oleh tim bentukan Kementerian Kebudayaan yang rencananya akan terbit pada hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 pada Agustus 2025 menuai pro dan kontra di masyarakat. Sejumlah sejarawan, aktivis, dan akademisi menganggap buku babon sejarah nasional itu berpotensi menjadi polemik karena rawan digunakan sebagai alat legitimasi penguasa dan dikhawatirkan meminggirkan beberapa peristiwa sensitif terkait perempuan dan kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia.
- Apa Saja Tema yang Dibahas dalam Penulisan Ulang Sejarah Indonesia?
PROYEK penulisan ulang sejarah Indonesia yang dilakukan oleh tim bentukan Kementerian Kebudayaan masih terus menjadi sorotan masyarakat. Kendati ditolak sejumlah aktivis dan sejarawan karena dianggap terburu-buru dan tidak transparan, proses pembuatan buku sejarah nasional yang direncanakan terbit sebagai hadiah ulang tahun ke-80 Republik Indonesia pada Agustus 2025 itu telah memasuki tahap penyusunan naskah.
- Siapa Penembak Sisingamangaraja XII?
SERSAN Jesajas Pongoh seolah dianggap satu-satunya orang yang paling berjasa dalam pengejaran dan pelumpuhan Pendeta Besar Batak Sisingamangaraja XII. Tentu saja Sersan Pongoh tak sendirian dalam mengejar Sisingamangaraja. Ada serdadu-serdadu lain yang juga setangguh dirinyanya di KNIL. “Di waktu saya berada di Pematang Siantar, ada seorang tua marga Siahaan yang datang mencari saya. Ia mengaku sahabat baik bekas kopral Souhoka, itu bekas anggota tentara Belanda yang turut menembak mati Sisingamangaraja di dalam gua dekat Aek Sibulbulon,” aku Augustin Sibarani yang menulis buku Perjuangan Pahlawan Nasional SisingamangarajaXII. Sulit menemukan data tentang Kopral Souhoka. Walter Bonar Sidjabat punya versi berbeda soal penembak tersebut setelah meneliti jauh sampai ke Halmahera dan Manado. Dalam Ahu Si Singamangaraja Arti Historis, Politis, Ekonomis, dan Religius Si Singamangaraja XII, Walter menyebut penembak Sisingamangaraja adalah Kopral Hamisi.
- Suami Mata Hari Lawan Sisingamangaraja XII
MARGARETHA Geertruida Zelle yang dikenal sebagai Mata Hari mencatatkan dirinya menjadi perempuan yang mempunyai pengaruh, khususnya di dunia intelijen. Perempuan yang pernah tinggal di Jawa dan punya skill menari Jawa itu ke Hindia Belanda berkat perkawinannya dengan serdadu Belanda bernama Rudolf John MacLeod.
- Suka Duka Juru Warta Istana Era Bung Karno
ADA kesepakatan tak tertulis di kalangan wartawan peliput di istana kepresidenan masa Sukarno. Para wartawan dilarang untuk memotret Sukarno dalam keadaan tanpa mengenakan kopiah. Kopiah hitam yang menjadi ciri khas tentu menambah gagah potret Sukarno. Tapi ketika dilepas, maka tampaklah rambut presiden RI pertama itu yang kian menipis. Namun, Alex Lumi, juru foto Mingguan Ujana, sekali waktu lalai pada kesepakatan tersebut. Pada 1963, di hari wafatnya Perdana Menteri Juanda, Alex datang ke kantor perdana menteri di Jalan Merdeka Selatan (kini menjadi Istana Wakil Presiden) untuk meliput. Di saat yang sama, Sukarno juga datang melayat. Ketika Sukarno menyalami Ny. Juanda, Alex dengan sigap membidikkan kamera dengan lampu kilat yang menyala. Celaka, saat itu Sukarno sedang tidak mengenakan kopiah. Sadarnya dirinya dipotret, Sukarno menoleh dan langsung memanggil Alex. “Ketika saya melangkah mendekati Bung Karno serasa saya berjalan melayang, tidak menapak di lantai,” ujar Alex seperti dituturkan J. Osdar dalam Bung Karno di Antara Saksi dan Peristiwa suntingan Farrel M. Rizky.
- Ajian Rawarontek Golkar
SELAIN daun, ranting beringin juga rontok. Di tingkat organisasi massa pendukung Golkar terjadi perseteruan. Akbar Tanjung mencatat dua ormas yang bersitegang setelah Soeharto tak lagi berkuasa di Golkar, yaitu MKGR dan Kosgoro (Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong). MKGR berseteru sebagai buntut dari sikap Mien Sugandhi. Sebagian orang dalam MKGR menginginkan organisasi ini tetap menjadi ormas dan menyatakan tetap mendukung Golkar. Kelompok ini dipimpin Irsyad Sudiro, anggota dewan pembina MKGR. Dalam pemilu 1999, Partai MKGR tidak mendapatkan satupun kursi. Partai ini kemudian berubah menjadi Partai Gotong Royong pada 1 Juni 2002. Jika ormas MKGR masih eksis sampai sekarang, namun kedua partai bentukan Mien Sugandhi itu sudah tak ada lagi. Dalam musyawarah besar (mubes) ke VIII, Kosgoro pun pecah. Pangkal soalnya, para peserta mubes mentok dalam persyaratan kriteria calon ketua umum. Tak kunjung selesai, Kosgoro lalu terbagi menjadi dua: Kosgoro 1957 dipimpin Agung Laksono dan Kosgoro yang dipimpin Hayono Isman. Kembali ke partai. Pada 9 September 2002 lahir lagi partai dari rahim Golkar: Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang dipimpin Jenderal TNI (Purn.) R. Hartono dan Ary Mardjono, mantan sekretaris jenderal Golkar. PKPB mencalonkan Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, putri Soeharto, sebagai presiden. Pemilu 2009 menuntaskan riwayatnya. Untuk meneruskan semangat reformasi, pada 2004 Golkar mengadakan konvensi calon presiden yang diikuti Akbar Tanjung, Wiranto, Prabowo Subianto, Abu Rizal Bakrie, dan Surya Paloh. Konvensi ini dimenangkan Wiranto. Pada 2004, Golkar resmi mengusung Wiranto-Shalahudin Wahid sebagai calon presiden dan wakil presiden. Namun, pasangan ini hanya mengantongi 22,15% suara. “Menyalahkan kekalahannya karena kurangnya dukungan dari Golkar, Wiranto membangun sendiri partai pada 2006,” tulis Marcus Mietzner dalam Money, Power, and Ideology: Political Parties in Post-Authoritarhian Indonesia . Tepatnya, pada 13 November 2006 Wiranto mendeklarasikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Dua tahun kemudian, pada 6 Februari 2008, Prabowo Subianto yang pernah menjadi peserta konvensi calon presiden Golkar dan salah seorang anggota dewan penasihat Golkar mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada pemilu 2014, Gerindera mengusung Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa sebagai calon presiden dan wakil presiden. Setahun kemudian daun Golkar juga rontok ketika Surya Paloh kalah dari Abu Rizal Bakrie dalam pertarungan ketua umum Golkar dalam munas 2009. Surya yang semula mendirikan organisasi massa Nasional Demokrat akhirnya mengubahnya menjadi Partai NasDem pada 26 Januari 2013. Mendapatkan 6,72% suara nasional dalam pemilu 2014, NasDem melenggang ke Senayan dan ikut dalam barisan pengusung Jokowi-Jusuf Kalla. Ditotal jenderal, sampai sekarang ini ada tujuh partai dari rahim Golkar. Seumpama pendekar yang memiliki ajian rawarontek (ilmu yang membuat orang tak mati-mati), meski sudah rontok di mana-mana Golkar tetap masih menampakkan kekuatannya. Itu tampak pada pemilu demokratis pertama Indonesia, 2004. Saat itu, Golkar menjadi pemenang pemilu dengan menggembol 21,58%. Pada pemilu 2014 Golkar turun peringkat menjadi pemenang kedua dengan suara 14,74% dan mengantarkan 91 kadernya ke Senayan. Jumlah ini hanya selisih 18 kursi dari pemenang pemilu, Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP), yang mendapatkan 18,95% suara. Dengan angka ini Golkar masih menjadi pemain penentu, dengan mengantarkan kadernya Setya Novanto ke kursi ketua DPR; mempecundangi pemenang pemilu, PDIP. Apakah perebutan kursi ketua umum Golkar antara Agung Laksono dan Abu Rizal Bakrie ini akan segera reda atau justru melahirkan partai baru?*
- Dua Sisi Dampak Penjajahan Inggris
PERNAH mendengar anggapan bahwa negara-negara bekas jajahan Inggris lebih maju dibandingkan negara-negara jajahan bangsa Eropa lain seperti Belanda, Portugis, Prancis, dan Spanyol? Sebagian orang menyampaikan argumennya dengan mengacu pada negara-negara bekas koloni Inggris yang menjadi negara maju, seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Singapura.
- Srikandi Catur Itu Bernama Lindri Juni
DEBU-DEBU dari penghapus papan tulis yang dibersihkan Beth Harmon berterbangan memenuhi sebuah gudang rubanah. Tetapi kemudian fokus gadis sembilan tahun itu teralihkan dari aktivitas membosankannya itu setelah mencuri pandang ke celah sela rak-rak di gudang. Saking penasarannya saat melihat seorang tua sedang memainkan 32 bidak hitam-putih di atas sebuah papan kotak-kotak berwarna senada, ia pun mendekat. Adalah Tuan Shaibel, petugas kebersihan Panti Asuhan Putri Meuthen, orang tua tadi. Ia sedang berpikir keras saat memainkan permainan yang belum dimengerti Beth itu. Darinyalah Beth mengenal permainan yang dimaksud adalah catur. Bahkan, Shaibel pula yang mengajari Beth teknik dan strategi klasik permainan catur, seperti Pembukaan Italia, Pembukaan Sisilia, hingga Pembukaan dan Pertahanan Queen’s Gambit alias Gambit Menteri. Momen itu hanyalah permulaan kisah Beth (diperankan Anya Taylor-Joy) dalam miniseri Netflix bertajuk The Queen’s Gambit (2020), di mana Beth kelak jadi pecatur perempuan yang disegani dunia. Kendati karakter dan kisahnya fiktif, pengaruh The Queen’s Gambit dalam meroketkan lagi pamor catur di masa pandemi begitu nyata dan masif di dunia internasional, termasuk Indonesia. Terlebih di tanah air, pamor catur –lazimnya dimainkan beragam lapisan masyarakat, mulai dari kelas warung kopi hingga golongan pejabat– makin terdongkrak usai viralnya pecatur daring, Dewa Kipas alias Dadang Subur, yang dituding curang oleh pecatur daring lainnya, Gotham Chess alias Levy Rozman, di platform chess.com pada awal Maret 2021. Puncak dari kehebohan itu, Dadang Subur ditantang Woman Grandmaster (WGM) Irene Kharisma Sukandar dalam permainan on the board (OTB) yang ditayangkan kanal Youtube Deddy Corbuzier. Jumlah penontonnya memecahkan rekor, mencapai 1,25 juta viewers, dan jadi trending topic teratas mengalahkan kondangan selebriti Aurel Hermansyah dan Atta Halilintar yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta nasional. “Tahu-tahu heboh sekali, viral banget. Saya sebenarnya ya juga sedikit, Astaghfirullahaladziim , itu Dewa Kipas kok bisa seperti itu? Jadi GM (Grandmaster) itu susahnya minta ampun tapi bisa-bisanya menantang Irene. Alhamdulillah sama Irene-nya dipukul benar, habis 3-0, kan? Wah, baru tahu rasa,” kata WIM Lindri Juni Wijayanti, pecatur putri era 1980-an bergelar Woman International Master (WIM), kepada Historia. Namun ingar-bingar tren itu hanya sesaat. Pamor catur di masyarakat berangsur balik lagi ke “setelan pabrik” atau datar-datar saja. Padahal, Indonesia punya banyak jago catur putri dari kalangan Gen-Z bergelar master internasional. Selain Irene Kharisma Sukandar, ada WGM Medina Warda Aulia, WGM Dewi Ardhiani Anastasia Citra, WIM Chelsie Monica Ignesias Sihite, dan Woman FIDE Master Samantha Edithso yang kini baru berusia 15 tahun. Tiga pecatur bergelar WGM, ki-ka: Irene Kharisma Sukandar, Medina Warda Aulia, dan Dewi Ardhiani Anastasia Citra. ( scua.id/pbpercasi.com ). Pionir Catur Putri Di salah satu sudut ruang tengah kediaman Lindri Juni Wijayanti di Depok, Jawa Barat yang bercat merah jambu, satu meja marmer yang di atasnya melekat papan catur menjadi penghuninya. Dua atau tiga foto menghiasi ruang yang sama. Hanya itulah kenang-kenangan dari masa ketika ia masih aktif bermain catur pada usia muda. Lindri bukanlah sembarang pecatur. Ia punya segudang prestasi meski ia tak pernah lagi memperlihatkan medali atau piala yang pernah ia raih di rumahnya. Lindri yang lahir di Kediri pada 16 Juni 1963 itu berkisah bahwa ia mengenal dan menekuni permainan catur secara otodidak dari ayahnya di usia sekolah dasar. Bakatnya di olahraga asah otak itu ternyata besar. Dalam waktu singkat, ia menembus turnamen antarkampung hingga kejuaraan daerah (kejurda). “Setelah diajarin ayah, saya kembangkan sendiri karena enggak ada yang melatih, enggak ada yang mengajarkan teori untuk ikut. Sampai saya SMP itu ada (pengurus pengda) yang melihat, namanya Bapak Tarkah. Dia heran ada pecatur cewek sendirian. Lalu saya diambil (pengda) dan baru diajarin teori sebentar sebelum ikut turnamen (kejurda) Jawa Timur. Juara I terus selama di Jawa Timur dulu,” kenang Lindri. Lindri kemudian diproyeksikan untuk jadi wakil pertama Jawa Timur di Kejurnas Wanita II 1979. Ia digabungkan dengan beberapa pecatur putra dalam training camp (TC) di Dukuh Kupang, Surabaya, di bawah naungan KONI Jawa Timur. “Mulai deh digembleng teori sama Pak Tarkah, sama Pak Abubakar Baswedan selama satu bulan. Diajarin opening , problim, mengarahkan semacam trik catur mematikan ini langkah-langkahnya yang simpel-simpel dulu. Jadi ada teori untuk opening , sambung lagi dengan middle -nya, terakhir dengan endgame -nya. Latihannya diadu sama cowok-cowok,” lanjutnya. Foto lawas selama Lindri berkarier sebagai pecatur sejak 1978-1996. (Randy Wirayudha/Historia.ID). Menurut Ketum Percasi periode 1955-1965 Frits Kilian Harahap dalam Sejarah Catur Indonesia , peserta Kejurnas Wanita II 1979 menyusut menjadi 10 pecatur jika dibandingkan 16 peserta di kejurnas pertama pada 1978. Meski begitu, pesertanya mendapat tambahan dua pengda, yakni Bali dan Jawa Timur yang diwakili Lindri. Nyali Lindri tak ciut meski harus meladeni para pecatur putri senior yang lahir dari Kejurnas Wanita I 1978 macam Imasniti, Hanik Maria, Mun’yati, Nanik Wijaya, atau Upi Damayanti Tamin. Hasilnya pun tak mengecewakan, Lindri keluar sebagai runner-up. “Nah tahun 1979 di Cipayung itu pertamakali terjun untuk kejurnas dan langsung runner-up . Sama poinnya sama master nasional Imasniti. Jadi dia 6 poin, saya juga 6 poin,” jelas Lindri. Usai Kejurnas Wanita II, Lindri pun dipanggil pelatnas Percasi untuk persiapan Olimpiade Catur 1982 di Lucerne, Swiss. Bersamanya ada tiga pecatur putri lain: Retnowati Hadian, Munyati, dan Darmayanti. Itu jadi momen pertama Indonesia bisa mengirim dua regu: putra dan putri. Sebagai persiapannya, mereka dikumpulkan dalam training camp di sebuah wilayah dingin untuk adaptasi suhu. Lantas dilanjutan beragam program sparring , teori, dan analisa yang tentu belum dibantu teknologi komputer seperti sakarang. “Kalau sparring kita didatangkan pemain dari klub-klub lain. Teori-teori ya kita buka-buka buku. Kalau untuk analisa, dulu setiap olimpiade itu ada notasi-notasi buletin dari turnamen itu sendiri. Kalau di olimpiade round pertama itu muncul. Kita akan belajar dari situ saja. Misalkan round pertama buletinnya udah keluar, jadi pairing -nya (lawan, red .) main seperti ini, seperti ini, jadi kita analisa sendiri,” terangnya. Sesekali Lindri gemar membuka lagi papan permainan caturnya. (Randy Wirayudha/Historia.ID). Sebagai debutan, tim putri Indonesia yang dipimpin ofisial Baris Hutagalung pulang dengan hasil lumayan. Indonesia menempati posisi ke-24 dari 44 tim peserta. Sepulangnya dari Swiss, Lindri pindah ke Pengda DKI dengan iming-iming bisa dikaryakan di Bank BNI 46. Karena sering latihan tarung dengan pecatur putra selama di Pengda Jakarta dan pelatnas, Lindri meraup empat kali juara kejurnas wanita (1984, 1988, 1990, dan 1991). Rekor empat kali juara nasional ini baru bisa disamakan Irene Kharisma Sukandar pada 2006-2010. Usai keikutsertaannya di Kejuaraan Interzonal 1993 di Jakarta dengan menempatkan diri di rangking 33, Lindri resmi mendapat gelar Woman International Master (WIM) dari FIDE. Prestasi tertinggi Lindri bersama tim putri Indonesia di Olimpiade Catur, diraih di Yerevan, Armenia pada 1996. Di sana Lindri cs. menempati rangking 11. “Kita di tahun 1996 10 besar (11 besar) dunia. Sampai sekarang belum ada lagi kan? Masih kita. Tapi itu saja kita pulang ke tanah air biasa saja. Enggak ada yang meriah sekali seperti zaman sekarang,” tambah Lindri. Usai olimpiade itu, Lindri memutuskan pensiun secara profesional tanpa menyebutkan alasannya. Mungkin karena Lindri dikaryakan oleh bank pelat merah. “Kita dulu yang penting bawa nama negara ke kancah internasional saja sudah bangga sekali. Enggak berpikiran cari duit. Pas olimpiade, satu babak kita menang regunya tentu ada bonus dari ofisial. Kalau saya pas juara Asia 1993 itu sekitar Rp3-5 juta bonusnya. Setelah olimpiade (1996) saya berhenti main catur, kepikiran lagi dari pemerintah itu memang tidak seperti sekarang penghargaannya: Rp1 miliar, Rp2 miliar kayak di tenis atau bulutangkis, jauh sekali,” tandas Lindri.





















