top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Nusa Tionghoa Melintasi Masa

    MENGENAKAN congsan (baju kebesaran Tionghoa) warna merah menyala dengan motif kuning, Abdurrachman Wahid alias Gus Dur bak orang Tionghoa beneran. Peristiwa itu terjadi sembilan tahun silam di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, kawasan pecinan Semarang. Saat itu, oleh komunitas Tionghoa Semarang, Gus Dur dinobarkan sebagai Bapak Tionghoa Indonesia. Penganugerahan itu memang layak. Ketika menjabat presiden, Gus Dur mengambil langkah berani dengan menghapus larangan agama, budaya, dan adat-istiadat Tionghoa yang diterapkan di awal Orde Baru. Sejak itulah ke-bhinneka-tunggal-ika-an tak semata sebuah semboyan. Selama ratusan tahun, gelombang kedatangan orang Tionghoa tak pernah surut. Mereka datang, menetap, dan berbaur dengan penduduk Nusantara. Namun, beragam kebijakan dari masa VOC hingga Orde Baru meminggirkan dan mendiskriminasikan mereka. Padahal, mereka sudah lama menyatu dan menjadi bagian dari negeri ini.* Berikut ini laporan khusus sejarah Tionghoa di Nusantara: Dari Cincai Sampai Siomay Jejak Saudara dari Daratan Gurita Bisnis Tionghoa Bukan Sekadar Onderdaan Duka Warga Tionghoa Tionghoa dalam Api dan Bara Warga Tanpa Negara

  • Cerita di Balik Popularitas Sukarno

    BELAKANGAN ini sejarah Indonesia menarik perhatian banyak orang, khususnya generasi muda sebagai pengguna utama berbagai media sosial. Salah satu tokoh yang sering menjadi sorotan adalah Presiden Sukarno. Tak hanya tentang sosok Sukarno, pembahasan juga terkait perannya di masa pergerakan kemerdekaan hingga kiprahnya sebagai pemimpin pemerintahan. Banyak di antara anak muda penasaran mengapa di antara banyak tokoh pergerakan nasional, Sukarno yang terpilih menjadi presiden pertama Republik Indonesia?

  • Bung Karno dan Sepakbola Indonesia

    PRESIDEN Republik Indonesia pertama Sukarno punya pengalaman kurang menyenangkan dengan olahraga sepakbola. Semasa bocah di Mojokerto, Sukarno acap dirundung anak-anak Belanda di perkumpulan sepakbola. Mereka enggan bermain satu lapangan bersama anak-anak pribumi seperti Sukarno. Alih-alih main bersama, Sukarno malah jadi sasaran olok-olok bernada rasis dari anak-anak Belanda. “Anak-anak Belanda tidak pernah mau bermain dengan anak pribumi. Itu tidak mungkin dilakukan. Mereka adalah orang Barat yang putih seperti salju, yang murni, yang baik dan mereka memandang rendah kepadaku karena aku anak pribumi atau inlander. Bagiku klub sepakbola itu adalah pengalaman pahit yang tidak mungkin kulupakan,” tutur Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams. Kendati demikian, Sukarno bukan berarti presiden yang tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap pengembangan sepakbola nasional. Pundit sejarah sepakbola Indonesia Dimas Wahyu Indrajaya mengatakan Bung Karno juga peduli untuk memajukan olahraga di Indonesia, termasuk sepakbola. Salah satunya dibuktikan dengan pembangan Lapangan Ikatan Atletik Jakarta (Ikada).

  • Beberapa Kesaksian Tentang Kahar Muzakkar

    PADA sebuah siang di tahun 2008, Boet Philippe Manuel Romphas atau biasa disingkatnya B.Ph.M. Romphas, mengenang peristiwa bersejarahnya. Dia bertemu Kahar Muzakkar dalam sebuah perundingan bersama Panglima M. Jusuf secara langsung di sebuah pantai Bone Pute di Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, tahun 1962. Romphas yang diikutkan dalam tim delegasi bersama Panglima Jusuf, juga menggunakan pakaian tentara. “Saya ditugaskan mengabadikan pertemuan itu melalui foto,” kata Romphas yang saat itu menjabat kepala kantor IPPHOS (Indonesia Press Phote Service) di Makassar untuk Indonesia Timur, cikal bakal Antara. Namun, sebelum melakukan kunjungan, sebagai seorang Nasrani, Romphas belajar mengucapkan salam. Segala macam tetek bengek dan atribut mengenai profesi kewartawanannya ditutup. Namun, setelah pertemuan dan perbincangan antara Kahar dan Panglima Jusuf selesai, rombongan delegasi berjalan-jalan menyisir pantai. “Pak Jusuf, sudah ingatkan kalau jangan sampai ketahuan sebagai wartawan. Karena Kahar tidak suka wartawan,” kata Romphas.

  • Behind the Sacred Veil of the Missionary

    INGWER Ludwig Nommensen was 27 years old when the ship Pertinax set sail from Amsterdam to Padang, Indonesia, on Christmas Eve, December 24, 1861. After 142 days on the ocean, Nommensen set foot in the colony of the Dutch East Indies on May 16, 1862. From Padang, Nommensen settled briefly in Barus, then continued his mission inland. He carried out a sacred task: preaching the gospel to the Land of Batak.

  • Kitab Sejarah dari Nagarakretagama hingga Sejarah Nasional Indonesia (Bagian II)

    SAAT rapat kerja dengan Komisi X DPR RI pada Senin (26/5/2025), Menteri Kebudayaan Fadli Zon berulang-kali menekankan bahwa 10 jilid buku yang akan dihasilkan dari proyek penulisan ulang sejarah adalah buku sejarah dengan perspektif Indonesia-sentris. Padahal perspektif itu sudah jadi prioritas sejak tujuh dekade silam.

  • Kitab Sejarah dari Nagarakretagama hingga Sejarah Nasional Indonesia (Bagian I)

    BUKAN rahasia umum bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Padahal, masyarakat Nusantara di zaman kuno bukan termasuk bangsa yang malas mencatat. Banyak kerajaan di Nusantara dulu punya kitab-kitab sejarah dari berbagai era.

  • Penangkapan Imam DI/TII S.M. Kartosoewirjo

    TIGA kali lolos dari penangkapan, akhirnya Sekarmaji Marijan Kartosoewirjo, imam DI/TII, ditangkap pasukan Siliwangi di Gunung Geber, Majalaya, Bandung, pada 4 Juni 1962. Dia ditangkap dalam operasi bersandi Brata Yudha. Operasi penentuan ini dilancarkan setelah pemerintah memerintahkan pemulihan keamanan di Jawa Barat harus dapat diselesaikan akhir tahun 1962. Untuk itu, Kodam Siliwangi mengadakan operasi Brata Yudha pada awal April 1962. Dalam operasi ini, Kodam Siliwangi dibantu pasukan Kodam VII/Diponegoro, Kodam VIII/Brawijaya, dan penduduk yang membentuk Pagar Betis. Pasukan inti dalam operasi ini adalah Batalion 328 Para Kujang II/Siliwangi. “Untuk mengakhiri operasi anti-Darul Islam di Jawa Barat untuk selama-lamanya, aksi-aksi militer Republik ditingkatkan, April 1962. Dalam gerakan Brata Yudha, Brawijaya dan Diponegoro sekali lagi ambil bagian,” tulis Cornelis van Dijk dalam Darul Islam Sebuah Pemberontakan.

  • Petaka Kapal-kapal Selam Rusia

    Sejak Perang Dingin, Rusia jamak meluncurkan dan membanggakan kapal selam nuklirnya. Ironisnya lebih dari dua lusin yang celaka berbalut kisah-kisah kontroversial yang tak sedikit menelan nyawa awaknya.

  • Gotong-Royong, DNA Orang Indonesia

    BERBAGI itu menyenangkan. Selama masa pandemi Covid-19 dan ekonomi sulit ini, orang menggelar banyak kegiatan untuk mengatasi kesukaran. Dari konser penggalangan dana sampai lelang barang. Semangat gotong royong muncul dari banyak kelompok masyarakat. Motivasinya beragam bisa karena alasan kemanusiaan atau keagamaan. Gotong royong telah menjadi adat resam bangsa Indonesia. Akarnya kuat tersua di seluruh kepulauan Melayu-Nusantara sejak masa pra-aksara. Bentuknya bisa berubah. Tapi semangatnya tetap tinggal. Gotong royong semula berwujud berbagi tenaga kasar. Biasanya gotong royong untuk membangun rumah atau membuka lahan pertanian dengan semangat menjaga hubungan komunal. Lazimnya seseorang yang dituakan (primus interpares) akan mengatur kerja masing-masing anggota kelompoknya untuk membangun sesuatu yang bersifat komunal.

  • Ketika Agen CIA Masuk Istana Negara

    BUKAN rahasia lagi, jika sosok Presiden Sukarno laiknya seorang Don Juan. Hidupnya kerap dikelilingi perempuan-perempuan cantik nan menawan. Hal itu terjadi selain memang tampan, Bung Karno juga merupakan pribadi yang hangat dan menarik. Tak aneh jika banyak perempuan dari berbagai negara berupaya menarik perhatiannya.

  • Propaganda Sekutu di Indonesia

    PELABUHAN Tanjung Priok, pertengahan September 1945. Laksamana Muda W. R. Patterson, panglima senior Sekutu di Indonesia, memimpin kedatangan pasukan Sekutu (Inggris dan Belanda). Tugasnya melucuti pasukan Jepang serta menegakkan hukum dan menjaga ketertiban.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page