top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kecapnya Orang Tangerang

    KEPULAN asap membias di langit-langit atap sebuah rumah tua di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang, Banten, berebut keluar dari cerobong. Beberapa karyawan sibuk mengaduk adonan yang kental dan pekat dengan gayung seng. Peluh mengucur di sekujur tubuh. Di depan pintu rumah, berkaca mata dan berkemeja kotak-kotak, Setyadi mengawasi kerja anak buahnya. Sesekali dia begitu ringan tangan membantu pekerjaan. “Ini usaha keluarga, jadi saya bukan pemiliknya. Saya hanya dipercaya oleh keluarga untuk mengurusi usaha ini,” kata Setyadi alias Teng Tek Yan. Setyadi adalah generasi keempat dalam garis keturunan Teng Hay Soey, pengusaha Tionghoa yang kemudian membangun usaha pembuatan kecap ini pada 1882. Setyadi dipercaya mengelola pabrik setelah ayahnya, Taufik atau Teng Tjiong Cwan, memutuskan pensiun.

  • Pejuang Batak Ganti Nama di Tengah Perang

    NAMA Washington Strouwsky tercatat sebagai tokoh pejuang kemerdekaan asal Sumatra Utara. Pada akhir 1948, Letnan Satu Strouwsky adalah komandan Kompi IV dari Batalion II di Tarutung yang tergabung dalam Sektor II. Kesatuan TNI Sektor II dipimpin oleh Mayor Liberty Malau dengan wilayah operasi meliputi Tapanuli Utara. Saat itu Belanda baru saja melancarkan agresi militer kedua. Informasi mengenai sosok Strouwsky terendus dalam pantauan intelijen Belanda. Nama Strouwsky menimbulkan tanda tanya bagi pihak Belanda. Kedengarannya seperti nama Rusia. Tentara Belanda sempat curiga apakah Rusia menempatkan perwiranya di ibukota Tapanuli Utara itu. Tapi, nama depannya justru Washington yang mengingatkan orang kepada presiden pertama Amerika Serikat sekaligus nama ibukota negara tersebut. Menurut Midian Sirait, eks tentara pelajar Tarutung, Strouwsky bermarga Sitorus. Karena dia seorang komandan kompi yang biasa diringkas “Ki”, maka dia sebut “Sitorus Ki”, artinya Sitorus yang komandan kompi. Penyingkatan panggilan marga sekaligus pangkatnya inilah yang kemudian menjelma menjadi nama “Strouwsky”.

  • Bandit Medan Berjuang dalam Perang Kemerdekaan

    JAUH sebelum begal berkeliaran seperti sekarang, Kota Medan pernah lebih mencekam dengan keberadaan gerombolan begundal. Sebermula ketika Belanda angkat kaki dan Jepang menguasai kota. Ada saja kelompok berandalan liar yang memanfaatkan masuknya serdadu Jepang untuk memperkaya diri lewat cara-cara kriminal. “Kelompok bandit ini melakukan penjarahan, perampokan dan mencuri harta benda, terutama milik Belanda si pecundang perang,” kenang Matiur Tambunan seperti ditulis Herry Gendut Janarto dalam biografi Matiur M. Panggabean, Bunga Pansur dari Balige: Pengabdian dan Keteguhan Iman Seorang Istri Prajurit. Matiur kelak lebih dikenal sebagai istri dari Jenderal Maraden Panggabean (Panglima ABRI 1973-1978). Di masa pendudukan Jepang, kehidupan sosial masyarakat sangat memprihatinkan. Disebutkan dalam Sejarah Daerah Sumatra Utara yang ditulis tim peneliti Depdikbud, masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sandang. Untuk itu, pemerintah pendudukan Jepang mengerahkan masyarakat untuk proyek kerja paksa (kinrohosi).

  • Berburu Binatang Berhadiah Uang

    GUBERNUR Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen membangun kota Batavia usai merebut wilayah itu dari Kesultanan Banten pada 1619.Sejumlah orang didatangkan untuk menjadi penghuni pertama kota tersebut. Selain serdadu VOC, Batavia juga dihuni warga Tionghoa yang didatangkan dari Banten dan tempat-tempat lain di sepanjang pantai utara Jawa. Arsiparis dan sejarawan Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menyebut kelompok lain yang termasuk penghuni pertama adalah para budak dari koloni-koloni VOC di Asia dan Indonesia timur. “Ada yang karena menjadi tawanan perang, ada yang memilih menjadi serdadu dan lalu dianggap sebagai orang merdeka, karena itu disebut mardijkers,” sebut Mona. Keberadaan penduduk Batavia mendorong pihak VOC memikirkan cara mengatur dan memerintah kota. Tak hanya mengurus hal-hal terkait pemerintahan sipil dan pengadilan, VOC juga mengatur perburuan binatang buas yang mengancam penduduk Batavia.

  • Mencari Ruang Narasi Peran Etnik Tionghoa dalam Sejarah Bangsa

    DARI zaman ke zaman, masyarakat etnis Tionghoa senantiasa mengalami dilema. Dari zaman kolonial sampai era Reformasi, aneka stigma negatif masih mengikuti mereka. Oleh karenanya, menjadi penting untuk memulai mencari ruang yang setara untuk mengakui peran etnis Tionghoa dalam “Rumah Indonesia” lewat pendidikan. Menurut akademisi cum koordinator Program Studi S2 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr. Abrar, jika Indonesia ingin menyongsong masa depan sebagai bangsa yang modern, mestinya sudah bisa menempatkan setiap suku bangsa pada posisi yang sama tanpa perbedaan perlakuan. Utamanya dalam melihat konteks sejarah dengan narasi peran yang setara. “Kenyataannya masih tetap saja terjadi (ketidaksetaraan). Sudah menjadi tugas kita semua, terutama guru-guru yang menjadi ujung tombak, untuk meng-clear-kan persoalan (peran etnik) Tionghoa,” tutur Abrar saat membuka kuliah umum dan workshop bertajuk “Membangun Kesetaraan bagi Etnik Tionghoa melalui Pendidikan Sejarah”, di Gedung Pascasarjana UNJ, Jumat (13/10/2023).

  • Hotel Hilton Jakarta dan Keluarga Ibnu Sutowo

    NAMA Ibnu Sutowo mentereng sebagai “raja minyak” setelah menjabat direktur utama Pertamina pertama. Namun, dia juga seorang pebisnis ulung. Semasih menjadi bos Pertamina, dia merambah bisnis perhotelan. Lewat perusahaan pribadinya, PT. Indobuild.co., dia menggarap tanah milik negara di dalam kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Selatan. Lahan itu menjadi cikal bakal Hotel Hilton Jakarta, yang resmi beroperasi pada 1976. Hotel Hilton Jakarta merupakan hotel bintang lima bertaraf internasional kedua setelah Hotel Indonesia. Untuk meningkatkan reputasi hotelnya, Ibnu Sutowo menggandeng manajemen dari taipan raksasa perhotelan asal Amerika, Conrad Hilton. Pada awal berdiri, Hotel Hilton Jakarta terdiri dari satu bangunan 16 tingkat dengan kapasitas 400 kamar. Dengan fasilitas dan reputasi yang disandangnya, Hotel Hilton Jakarta menjadi simbol kemewahan dan masuk jajaran hotel elite Indonesia. Ia menjadi tempat orang-orang tajir menginap maupun beracara, perhelatan penting nasional, hingga pameran galeri seni dan busana.

  • Keffiyeh Simbol Pertama Perjuangan dan Solidaritas Palestina

    DARI supermodel Bella Hadid di New York hingga Zaskia Adya Mecca bersama mayoritas peserta aksi menuntut penghentian serangan Israel dan mendukung Palestina di Monas, Jakarta, semua kompak mengenakan keffiyeh atau kufiyah.Keffiyeh-nyakhas Palestina berwarna hitam-putih dengan motif jaring ikan. Keffiyeh sendiri mulanya merupakan penutup kepala hingga leher tradisional yang sudah lazim dikenakan masyarakat Arab, Kurdi, dan Turki di Asia Barat hingga Afrika Utara sejak peradaban kuno. Bahannya katun atau kadang sutera. Kata “Keffiyeh” berasal dari nama kota Kufa di Irak. Sejarah panjangnya bisa ditelusuri dari Peradaban Mesopotamia. Namun keffiyeh mulai punya makna politis, utamanya simbol perjuangan Palestina, setelah pendudukan militer Inggris atas beberapa wilayah Arab pasca-Perang Dunia I, utamanya di Palestina dan Yordania.

  • Berjuang Sambil Menjarah di Tengah Perang

    SEWAKTU terjadi pemberontakan PKI di Madiun, Herman Sarens Sudiro baru berusia 18 tahun. Dia tergabung dalam Tentara Pelajar Siliwangi sebagai komandan Kompi Banjar. Bersama pasukan kompinya, Herman Sarens turut hijrah dari Jawa Barat ke Yogyakarta pada 1948. Pada saat itulah, pasukan Divisi Siliwangi dikerahkan untuk menumpas orang-orang PKI pimpinan Musso. “Orang-orang PKI menggedor bank. Nah, ketika kita menyerbu orang-orang PKI itu, mereka pada mati, banyak yang membawa besek, bawa berlian, emas, ya kita rampas,” kenang Herman setelah purnawirawan dalam majalah Tiara, No. 63, 11-24 Oktober 1992. Menurut Herman, harta rampasan itu dipergunakan pasukannya sebagai bekal perjalanan pulang dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Kalau di tengah perjalanan mereka menemui penjual makanan, berlian, cincin, dan perhiasan yang dirampas dari orang-orang PKI itu dibarter dengan makanan.

  • Para Pejuang Bugis Makassar dalam Serangan Umum

    SEBAGAI anak raja Barru di Kabupaten Barru dekat Parepare, Sulawesi Selatan, dia mendapat pendidikan yang baik di zaman Hindia Belanda. Dia belajar di MULO dan Mosvia Makassar. Dari tempat pendidikan itu pula sejak muda dirinya dekat dengan pergerakan nasional. Dia kenal Paiso, tokoh pergerakan yang sampai dibuang ke Digul, dan mantunya yang bernama Manai Sophiaan. Sejak 1945 dia sudah mendukung kemerdekaan Indonesia. Hal itulah yang mendorong dirinya berangkat ke Jawa pada akhir 1945. Di Jawa, dirinya bertemu Kahar Muzakkar, yang pernah belajar di sekolah Muhamadiyah di Solo, dan menjadi dekat. Mereka bersiap membangun Tentara Rakyat Indonesia (TRI) di Sulawesi, kendati sebelumnya sudah ada orang-orang Sulawesi di beberapa kelaskaran seperti Kesatuan Rakjat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang lambangnya keris senjata khas bangsawan Bugis.

  • Raja Jacob Ponto Dibuang ke Cirebon

    KENDATI jarang dikenal orang, nama Siau lumayan sering muncul awal Mei lalu menyusul meletusnya Gunung Ruang. Pulau di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) itu memainkan peran penting buat penduduk yang mengungsi lantaran dipilih pemerintah kabupaten menjadi lokasi evakuasi. “Penjabat Bupati Sitaro, Joi Eltiano B Oroh, mengatakan jika seiring dengan meningkatnya aktivitas Gunung Ruang, ratusan warga harus dipindahkan secepatnya menggunakan kapal laut, dan Pulau Siau adalah daerah paling dekat dan cepat untuk dituju,” demikian diberitakan kumparan.com, 1 Mei 2024. Kendati nama Siau jauh dari populer, dahulu pulau yang berjarak 150 km dari Manado dan 366 km dari General Santos City, Filipina itu punya sebuah kerajaan Kristen. Namanya sama dengan nama pulaunya, Kerajaan Siau. Menurut Jessy Wenas dalam Sejarah dan Kebudayaan Minahasa, Kerajaan Siau sudah lebih dulu Kristen daripada masyarakat Minahasa di daratan Sulawesi Utara.

  • Kontroversi Nobel

    REPUTASI Peter Debye, orang Belanda peraih Hadiah Nobel di bidang Kimia tahun 1936, sempat tercoreng namanya karena dicurigai sebagai simpatisan Nazi. Bukti-bukti terbaru menunjukkan kemungkinan dia seorang informan anti-Nazi yang bekerja untuk Sekutu selama Perang Dunia II. Jurrie Reiding, pensiunan ahli kimia di Belanda, meneliti surat-surat pribadi Debye dan menyimpulkan bahwa dia kemungkinan besar menyediakan informasi bagi seorang mata-mata yang bekerja bagi agen intelijen Inggris, MI6, di Berlin. Temuan itu dipublikasikan Ambix, jurnal Society for the History of Alchemy and Chemistry di Belanda. Reiding mengatakan, Debye adalah teman dai Rosbaud, orang berkewarganegaraan Austria yang bekerja di Kaiser Wilhelm Institute for Physics di Berlin, tempat Debye menjabat direktur antara 1935 hingga 1939. Rosbaud, yang amat membenci Nazi, direkrut MI6 untuk menyediakan informasi ilmiah, termasuk detail pembuatan Roket V1 dan V2 serta upaya Jerman membuat bom atom. Dia tinggal di Berlin selama masa perang. Bahkan saat ini, informasi tentang kegiatan Rosbaud, yang bekerja dengan nama sandi Griffin, masih dirahasiakan.

  • Nobel, Hadiah Atas Rasa Kemanusiaan

    DALAM wasiatnya, Alfred Nobel, penemu dinamit dan pengembang bahan peledak asal Swedia, berpesan agar sebagian besar kekayaannya dikelola untuk acara penghargaan tahunan yang bermanfaat bagi kemajuan dan perdamaian manusia. “Harapan saya bahwa penghargaan diberikan dengan tidak mengindahkan kebangsaan para kandidat, tapi yang paling pantaslah yang berhak menerima penghargaan itu, terlepas dari apakah dia orang Skandinavia atau bukan,” tulis Nobel. Alfred Bernhard Nobel lahir di Stockholm, Swedia, 21 Oktober 1833. Empat tahun kemudian keluarganya pindah ke Rusia di mana ayahnya mengelola pabrik di bidang peledakan dan perangkat militer. Nobel merintis karier sebagai kimiawan dengan belajar di Rusia, Prancis, dan Amerika Serikat. Ketika aktivitas di pabrik ayahnya tersendat akibat Perang Krimea (1853-1856), dia kembali ke Swedia dan mengoperasikan laboratorium untuk eksperimen bahan peledak.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page