top of page

Hasil pencarian

Search this site

9978 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Untuk Golkar dari Eddy Sud

    NAMANYA sohor di dunia perfilman era 1970-an sebagai Eddy Sud. Padahal nama aslinya Eddy Sudihardjo. Dia pernah muncul bersama Ateng, Iskak, hingga Bing Slamet dan kerap tampil sebagai orang tua yang berwibawa dalam film-filmnya. Kariernya di dunia hiburan sebenarnya dimulai jauh sebelum 1970-an. Sebelum dikenal lewat Kwartet Jaya (bersama Ateng, Iskak, dan Bing Slamet), Eddy pernah tergabung dalam grup lawak SAE (bersama Bing Slamet dan Atmonadi). Lelaki kelahiran Klaten, 20 Agustus 1937 ini adalah lulusan SMA De Britto, Yogyakarta dan pernah kuliah ekonomi sebentar di Universitas Gadjah Mada. Sejak muda, dia bermain film. Buku Apa-Siapa Orang Film Indonesia, 1926-1978 menyebut, film pertama Eddy adalah Berabe (1960). Setahun berselang, ia main dalam Marina dan Kuntilanak. Namun film-film itu tak serta-merta membuatnya terkenal.

  • Oslo dan Perdamaian Israel-Palestina

    LANGIT cerah menaungi halaman Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, 13 September 1993. Dalam sebuah footage itu, tampak Presiden Amerika Bill Clinton tersenyum haru melihat dua pemimpin negeri yang bermusuhan, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan Ketua Palestine Liberation Organization (PLO) Yasser Arafat, berjabat tangan erat dalam suasana hangat. Rabin maupun Arafat sepakat berdamai dan menghakhiri 50 tahun konflik lewat peresmian Persetujuan Oslo. Footage yang disiarkan ke seluruh dunia itu jadi kabar gembira buat warga dunia. Namun hanya sedikit yang tahu bagaimana kesepakatan damai Israel-Palestina itu bisa terjadi setelah bertahun-tahun negosiasinya selalu membentur “tembok”. Footage itu merupakan bagian dari film bertajuk Oslo garapan sutradara Bartlett Sher. Film drama tersebut menggambarkan detail negosiasi-negosiasi alot delegasi kedua belah pihak sebelum sama-sama menyepakati Declaration of Principles (DOP) dari Persetujuan Oslo I yang berisi 17 pasal kesepakatan.

  • Upaya Jepang Menimba Pengetahuan Dunia

    DITERAPKANNYA aturan sakoku (politik isolasi dari bangsa asing) selama kurun 1639-1853 pada era Tokugawa (1603-1867) berdampak besar pada perkembangan ilmu pengatahuan dan kebudayaan di Jepang. Selama lebih dari 200 tahun, sangat sedikit informasi tentang dunia Barat yang bisa diterima publik Negeri Sakura. Segala akses diatur penguasa militer (shogun) Jepang yang begitu kuat bekuasa. Politik isolasi membuat Jepang tidak bisa sembarang dikunjungi bangsa asing. Pengajar Program Studi Jepang Universitas Indonesia Bambang Wibawarta dalam “Dejima: VOC dan Rangaku” dimuat Wacana Oktober 2008, mencatat hanya ada dua bangsa yang bisa menjalin hubungan dengan pemerintahan Tokugawa: Cina dan Belanda. Belanda diketahui masuk ke Jepang sekitar tahun 1600 –sebelum Tokugawa Ieyasu mendirikan dinasti Tokugawa dan sakoku diterapkan. Ketika itu, kapal Belanda De Liefde yang mengangkut 24 orang awaknya dihantam badai. Kapal terdampar di sekitar Teluk Usuki, Kyushu. Mereka lalu diselamatkan dan diterima oleh daimyo (tuan tanah) Kyushu Otomo Yoshimune. Sebagian dari mereka bahkan dijadikan penasihat perdagangan luar negeri, serta penasihat pembuatan peta dan kapal.

  • Uang Invasi Jepang

    KETIKA Jepang menduduki Indonesia pada Maret 1942, segala tatanan pemerintahan Belanda pun dilucuti. Di sektor perekonomian, secara bertahap Jepang membangun sistem keuangan, membubarkan bank-bank Belanda, hingga mencetak uang. Pada awalnya, Jepang tak mencetak uang sendiri. Mata uang lama dari pemerintahan sebelumnya masih berlaku, yakni gulden ("rupiah Belanda") dan uang militer (gunpyo) –dikenal juga dengan istilah uang invasi. Hal itu diatur dalam Undang-Undang (UU) No. 1 yang dikeluarkan Jepang pada 7 Maret 1942. Yang dimaksud uang militer adalah uang yang telah dipersiapkan Jepang untuk daerah-daerah pendudukan: gulden untuk Hindia Belanda, straits dollar untuk Semenanjung Malaya dan Kalimantan Utara, rupee untuk Burma, peso untuk Filipina, dan pound untuk Australia (Australia Trust Territories). Gulden Jepang kemudian juga dikenal sebagai "rupiah Jepang".

  • Gerakan Anti-Gundul Pelajar Masa Jepang

    MATAHARI bersinar terik pagi itu. Wajah murid-murid Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Jakarta penuh peluh. Mereka masih senam pagi atau taiso bersama seorang guru di lapangan. Mereka kelihatan senang meski lelah. Ini kebiasaan baru murid sekolah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tujuannya agar murid lebih disiplin dan fisiknya kuat. Seorang pengawas sekolah (minami san) lalu memanggil guru di lapangan. Dia menyampaikan SMT Jakarta akan memberlakukan aturan kepala gundul untuk guru dan murid-murid lelaki. Guru meneruskan informasi itu ke para murid. Karuan wajah murid-murid lelaki berubah muram. Aturan menggunduli rambut berlaku umum di tiap jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah bala tentara Dai Nippon. Dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. “Kita harus gundul seperti keadaan mereka,” kata Daan Jahja, mantan murid sekolah umum, yang kelak menjadi Panglima Divisi Siliwangi dalam Di bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang mengalaminya.

  • Bung Hatta di Jepang

    PENGUJUNG Februari 1933. Mak Etek Ayub Rais, pengusaha asal Bukittinggi (Sumatera Barat) melawat ke Jepang. Perusahaan yang dia kelola bersama Djohan-Djohor bersaudara (Firma Djohan-Djohor) hendak melihat perkembangan industri Jepang yang kala itu tengah berkembang pesat, sekaligus membangun jaringan dagang dengan saudagar-saudagar di sana. Pengusaha Minang tersebut berencana memperluas jaringan impor mereka di Negeri Sakura. Dalam melakukan perjalan bisnis ke Jepang tersebut, Ayub Rais tidak sendiri. Dia mengajak serta seorang penasihat dan seorang pemilik perusahaan asal Jepang di Hindia Belanda bernama Ando. Kawannya itu akan membantu Ayub Rais mengurusi berbagai masalah dagang selama berada di Jepang. Sementara penasihat yang mendampingi Ayub Rais adalah Mohammad Hatta. “Aku diajaknya ikut sebagai penasihat. Aku berpikir-pikir apa yang akan kuperbuat. Apabila aku pergi aku akan meninggalkan Indonesia barang dua bulan,” kata Hatta seperti diceritakan dalam otobiografinya Memoir.

  • Riwayat Ayah dan Anak van Roijen

    JAN Herman van Roijen sama sekali tak memperlihatkan raut wajah semringah usai menandatangani penyerahan Papua kepada Indonesia. Tak seperti Soebandrio, pemimpin delegasi Indonesia, yang mengumbar senyum di sana-sini. Muka kecut van Roijen menggambarkan kekecewaan bahwa Belanda telah kehilangan Papua. Pada 15 Agustus 1962, wilayah Irian Barat yang telah lama disengketakan Belanda dan Indonesia berakhir dalam New York Agreement atau Persetujuan New York. Para mediator seperti diplomat Amerika Ellsworth Buker dan Sekjen PBB U Thant terlihat lega. Konflik yang memicu perang ini akhirnya selesai di meja perundingan. Tak perlu dibahas bagaimana bungahnya pihak Indonesia. Nasib pahit justru dialami van Roijen. Setelah berusaha sekuat tenaga di meja perundingan, alih-alih diapresiasi, dia malah menjadi bulan-bulanan. Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Luns bahkan melontarkan cemoohan soal latar belakang keluarga van Roijen.

  • Yang Terbuang Setelah Perang

    KEKALAHAN Jepang dalam Perang Dunia II menyisakan masalah baru dengan Indonesia, wilayah jajahan Belanda yang sempat diambil alih Jepang. Mahasiswa Indonesia yang studi di Jepang dalam program nantoku terlantar pasca kapitulasi. Mereka terpaksa tinggal di Jepang sampai kemerdekaan Indonesia diakui oleh dunia internasional. Di Indonesia, anak-anak yang lahir hasil kawin campur perempuan Indonesia dan laki-laki Jepang ikut jadi korban. Mereka tidak diperkenankan tinggal di Indonesia karena dianggap berkewarganegaraan Jepang. Korban perang dari arus bawah itulah yang diteliti sejarawan Jepang Aiko Kurawasawa dalam buku terbarunya Sisi Gelap Perang Asia. Buku ini merupakan cuplikan kisah-kisah human interest dari disertasi kedua Aiko di Universitas Tokyo berjudul “Sengo Nihon Indonesia kan Keishi” (Hubungan Indonesia-Jepang Pascaperang). Aiko mengatakan itu terjadi pada periode gelap hubungan Jepang dan Indonesia. “Antara 1945—1957 belum ada hubungan resmi antara Indonesia dan Jepang. Saya mengambil nasib orang-orang kecil; orang biasa yang hidup di dalam kedua negara tersebut dalam masa itu,” kata Aiko dalam peluncuran bukunya di ruang seminar Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah LIPI, Jakarta Jumat, 20 September 2019.

  • Kisah Seorang Cucu Serdadu Desertir Jepang

    PRASETYO Nur Mujahid membuka koleksi album foto keluarganya. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari Satya –pangilan akrabnya– dengan orang-orang Indonesia kebanyakan. Namun, foto-foto sang kakek mengingatkan kembali Satya akan asal-usul dirinya. “Sejak kecil saya tahu, saya memiliki garis keturunan Jepang dari ayah. Kakek saya adalah bekas tentara Jepang yang kemudian beralih profesi menjadi seorang fotografer dan memiliki studio foto di Bengkulu,” kata Satya dalam dokumentaria Serdadu yang Tak Kembali: Kisah Sebuah Pilihan, kolaborasi antara Historia.ID dengan Yayasan Warga Persahabatan. Darah Jepang pada diri Satya berasal dari kakeknya, Masashi Hara. Sayangnya, Satya tidak tahu persis seperti apa kiprah sang kakek. Masashi Hara meninggal pada 1982, bahkan sebelum Supratman Hara dan Agustia Widiastuti –ayah dan ibu Satya– menikah. Jejak memori Satya dengan kakeknya makin terputus ketika Supratman Hara meninggal ketika Satya masih berusia sembilan tahun. Pengetahuan yang serba terbatas itulah yang menuntun Satya mencari tuturan sejarah tentang kakeknya.

  • Nasib Mahasiswa Indonesia di Jepang Pasca Perang

    PADA 19 Agustus 1945, kabar kemerdekaan Indonesia sampai juga di Jepang. Perasaan senang, sedih, bingung, bercampur di benak semua warga Indonesia di sana. Mereka cukup sulit merespon kabar tersebut. Salah-salah mereka akan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari warga Jepang. Sebagian kecil orang memilih diam. Seolah tidak pernah mendengar kabar tersebut. Kelompok itu umumnya hidup nyaman, dan telah membangun keluarga di Jepang. Seoarang alumni sekolah di Jepang, Sudibjo Tjokronolo, dimuat Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang, menyebut banyak mahasiswa yang terlanjur senang hidup di negeri para Samurai tersebut. Jepang yang berhasil memukul mundur Rusia dianggap sejajar dengan bangsa Eropa. Semangat nasionalisme mereka disebut menjadi contoh yang baik. Sementara bagi kelompok lain, Jepang tidak bisa begitu saja menggantikan Indonesia. Mereka tetap berhasrat untuk kembali ke keluarga di tanah air. Kelompok ini bersedia memakai segala cara untuk pulang. Meski harus dengan cara tercepat nan berbahaya: meminta bantuan pihak Sekutu. Sejarawan Aiko Kurasawa mencatat keberadaan mereka lebih besar dibanding kelompok yang ingin menetap.

  • Musisi Kulit Hitam Amerika Menyanyi Lagu Indonesia Raya

    DUKUNGAN dari berbagai negara bermunculan tak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Simpati terhadap perjuangan rakyat semakin besar ketika Belanda berupaya untuk kembali menguasai Indonesia. Di Amerika Serikat, orang Indonesia bersama orang Amerika yang progresif, mengadakan aksi solidaritas mendukung Republik Indonesia dan menuntut Belanda mengakhiri agresi serta mengakui kedaulatan Indonesia. Aksi solidaritas itu menarik perhatian Paul Robeson, penyanyi dan aktor yang dikenal sebagai aktivis kulit hitam berpengaruh di Negeri Paman Sam. Dukungan Robeson kepada Indonesia berkaitan dengan perjuangannya dalam mewujudkan kesetaraan bagi warga kulit hitam di Amerika yang telah lama menjadi sasaran diskriminasi. Masa muda pria kelahiran Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, 9 April 1898 itu diwarnai rasisme. Ketika menjadi pemain football All-American sebagai pemain kulit hitam pertama di tim Rutgers University, tim lawan menolak bertanding melawan atlet kulit hitam. Penolakan itu mengakibatkan Robeson ditarik dari lapangan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page