top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cerita Tentang Hamka

    SUDAH banyak kita ketahui lakon sejarah yang pernah dia perankan semasa hidupnya: Hamka bukan ulama biasa, bukan pula pendakwah ala kadarnya. Dia penulis yang produktif. Puluhan karya telah lahir dari tangannya, merentang mulai sastra sampai sejarah. Sebagai aktor politik dalam gelanggang pertarungan kekuasaan, Hamka pengusung Islam yang kukuh dan teguh. Namun demikian, Hamka bukan seorang agamawan yang degil, yang serta merta melecehkan keberagaman yang melekat pada bangsa ini. Irfan, anaknya, menyaksikan bahwa ayahnya seorang yang toleran. Ali Audah, sastrawan yang pernah bersinggungan dengan Hamka semasa hidupnya, mengatakan kalau tokoh kelahiran Maninjau itu “pemikir Islam yang moderat”. Tentu Hamka pernah pula kesandung. Pada suatu waktu dia nyaris tenggelam bersama kapal Van Der Wicjk, roman karangannya yang terbit pada 1939. Tuduhan menjiplak karya Al Manfaluthi bak peluru meriam yang ditembakkan tepat mengenai lambung kapalnya. Hamka oleng. Serangan dan pembelaan terhadapnya sempat meramaikan jagat kesusasteraan. Kali ini kami memilih Hamka, untuk melihatnya sebagai manusia biasa yang pernah ikut mewarnai kanvas sejarah di Indonesia. Beragam cerita kami hadirkan untuk mengenali masa lalu Hamka dari masa kekinian. Berikut laporan khusus Hamka: Anak Nakal Menjelma Ulama Akar Ranting Keluarga Hamka Cara Belajar Si Bujang Jauh Berguru Kepada Guru Bangsa Berdakwah Sampai Jauh Buya Jadi Juru Warta Di Bawah Panji Muhammadiyah Hamka dalam Dua Zaman Penjajahan Menjajal Medan Konstituante Polemik Kapal Van Der Wijck Ketika Hamka Menggugat Imajinasi Membantah Kisah Tuanku Rao Bukan Sejarawan Sekolahan Sekolah Islam ala Hamka Di Balik Penjara Penguasa Meraih Makna Perintah Tuhan Kue Bika Bernama Majelis Ulama Bulan Terbenam di Tanah Kusir Abang Ulama, Adik Pendeta Ayah Ulama yang Toleran Hamka, Ekspresi Islam Estetik Jalan Baru Sufisme Hamka

  • Pemilihan Ratu Kebaya di Singapura

    SINGAPURA menominasikan kebaya untuk dimasukkan ke dalam Representative List of the Intangible UNESCO. Tiga negara lain, yakni Brunei, Malaysia, dan Thailand, juga bergabung dalam penominasian tersebut sehingga dikatakan nominasi multinasional. Ini merupakan hal pertama bagi Singapura untuk mengajukan nominasi multinasional ke UNESCO. Nominasi multinasional juga menyajikan kesempatan bagi negara-negara untuk mempromosikan dan merayakan warisan budaya yang ditemukan di kawasan bersama untuk saling pengertian, promosi, dan kerjasama internasional antarnegara. “Brunei, Malaysia, Singapura, dan Thailand sepakat untuk bekerja sama dalam hal ini nominasi multinasional karena kebaya mewakili dan merayakan sejarah bersama yang kaya di kawasan ini, mempromosikan pemahaman lintas budaya, terus hadir dan diproduksi secara aktif serta dikenakan oleh banyak komunitas di seluruh Asia Tenggara,” demikian bunyi siaran pers National Heritage Board (NHB) pada 23 November 2022. Gagasan pencalonan kebaya multinasional diusulkan dan dikoordinir oleh Malaysia dan dibahas sebagai bagian dari rangkaian rapat kerja antara beberapa negara pada tahun 2022. Keempat negara peserta nominasi multinasional ini menyambut negara lain untuk bergabung dengan pencalonan kebaya ke UNESCO. Akan tetapi, sampai saat ini belum ada tanda-tanda Indonesia akan bergabung.

  • Kebaya dalam Politik Identitas

    BELAKANGAN ini kebaya ramai diperbincangkan. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di kawasan regional. Salah satu negara yang aktif menyuarakan kebaya adalah Singapura. “[Kebaya] akan menjadi nominasi multinasional pertama Singapura untuk Daftar Perwakilan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, dan dijadwalkan untuk diserahkan pada Maret 2023,” kata National Heritage Board (NHB) Singapura sebagaimana diberitakan straitstimes.com (25/11). Dikatakan multinasional karena Singapura mengajukan usulan tersebut bersama dengan Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. “Kebaya telah, dan terus menjadi, aspek sentral dalam representasi dan tampilan warisan budaya dan identitas Melayu, Peranakan dan komunitas lainnya di Singapura, dan merupakan bagian integral dari warisan kami sebagai kota pelabuhan multikultural, dengan hubungan lintas Asia Tenggara dan dunia,” ujar CEO NHB Chang Hwee Nee.

  • Kebaya Encim, Busana Tradisional Betawi yang Melintasi Zaman

    SIAPA bilang busana tradisional ketinggalan zaman dan kaku? Dengan pemaknaan ulang dan kreativitas, busana tradisional selalu aktual dan luwes. Begitu menurut Dyah Wara, antropolog jebolan Universitas Indonesia, dan Intan Soekotjo, perempuan muda penyanyi keroncong, pada diskusi seputar “Sejarah Kebaya Encim” dalam Festival Betawi Hari Ini di Art:1 New Museum, Jakarta Pusat (11/08/2018). Dyah mengatakan busana tradisional tidak selalu ajeg. Ia mengalami ubah-suai motif dan penggunaan seiring kondisi zaman. Hal demikian terjadi pada perkembangan kebaya encim, busana tradisional Betawi.

  • Hamka, Ekspresi Islam Estetik

    TAK salah sebagian orang menjulukinya “kyai cinta”. Hamka sendiri dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, 11 Maret 1970, mengakui, “Dasar dari kepengarangan saya adalah cinta.” Cinta altruistik, yang memberi tenaga dan harapan bagi hidup. Seperti pesan Hayati kepada Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck, “Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sali sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan.” Cinta adalah kepribadiannya. Terbentuk oleh pengalaman masa kecil serta hambatan-hambatan budaya yang diseberangi atau dihindari sepanjang hidupnya. Hambatan yang menantangnya untuk melampaui atau menafsirkan kembali nilai dasar yang diwarisinya. Di sepanjang lintasan hambatan itu, Hamka bukan hanya saksi namun juga pelaku sejarah. Sebagai pelaku, menulis baginya lebih dari sekadar memenuhi gaya atau genre kesasteraan tertentu, melainkan selalu berusaha menancapkan posisinya. Seakan menggemakan kredo Milan Kundera, “For me being a novelist was more than just working in one ‘literary genre’ rather than another; it was an outlook, a wisdom, a position; a position that would rule out identification with any politics, any religion, any ideology, any moral doctrine, any group.”

  • Jalan Baru Sufisme Hamka

    PADA 2007, ketika mengunjungi Istanbul, saya mendapat buku Emerald Hills of the Heart: Key Concepts in the Practice of Sufism. Buku yang dikarang ulama besar Turki Fethullah Gülen itu, mengupas kata-kata kunci dalam tasawuf dan penjelasan yang cukup mudah dimengerti. Bagi saya, buku demikian segera mengingatkan pada karya klasik Hamka, Tasauf Modern (ejaan yang tetap dipertahankan dalam buku itu tasauf, bukan tasawuf). Sufisme, menurut Gülen, bermakna transformasi yang mengarahkan kehendak individu sesuai kehendak-Nya. Selain itu, sufisme merupakan upaya berkelanjutan membersihkan diri dari yang buruk dalam rangka memperoleh kebajikan. Karenanya, tasawuf merupakan jalan untuk memperoleh “kualitas malaikat dan bertabiat di jalan Tuhan”, hidup sesuai dengan persyaratan pengetahuan dan kasih Allah dan dalam kenikmatan spiritual yang dihasilkannya. Sebagaimana Hamka, bagi Gülen, sufisme tidak terpisahkan dari syariat.

  • Menjaga Muatan Kapal Tenggelam Tetap di Situsnya

    PENINGGALAN arkeologi bawah air menjadi perbincangan setelah pemerintah membuka investasi asing dalam bidang pengangkatan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT). Namun, sejauh ini pemerintah belum mendapatkan satu sudut pandang dalam strategi pengelolaan peninggalan arkeologi bawah air. Sementara itu, UNESCO sudah mempromosikan konvensi tahun 2001 tentang perlindungan cagar budaya bawah air. Salah satu prinsipnya adalah penerapan pelestarian in situ (in-situ preservation). Beberapa situs di Indonesia dan dunia sudah ada yang mengelola tinggalan bawah lautnya dengan metode itu.

  • Dilema Pengangkatan Muatan Kapal Tenggelam

    PERBINCANGAN tentang benda cagar budaya bawah air mencuat setelah Presiden Joko Widodo mengeluarkan Perpres No. 10 Tahun 2021 sebagai aturan pelaksana dari UU Cipta Kerja No. 11 Tahun 2020. Perpres ini memberikan kesempatan kepada investor termasuk asing untuk melakukan pengangkatan benda muatan kapal tenggelam (BMKT). Selain itu, bidang usaha lain di ranah kebudayaan dan sejarah yang masuk dalam daftar terbuka bagi investasi adalah penyelenggaraan museum pemerintah dan jasa pengoperasian wisata peninggalan sejarah dan purbakala, seperti candi, keraton, prasasti, petilasan, dan bangunan kuno. Semula ketiganya masuk dalam daftar 20 bidang usaha yang dilarang bagi investasi berdasarkan Perpres No. 44 Tahun 2016. Namun, Perpres No. 10 Tahun 2021 merevisinya sehingga hanya enam bidang usaha saja yang terlarang.

  • Syarat Pengangkatan Muatan Kapal Tenggelam

    PRESIDEN Joko Widodo mengeluarkan Perpres No. 10 Tahun 2021 yang membuka kesempatan bagi investor termasuk asing dalam pengangkatan benda muatan kapal tenggelam. Selain itu, bidang usaha lain di ranah kebudayaan dan sejarah yang masuk dalam daftar terbuka bagi investasi adalah penyelenggaraan museum pemerintah dan jasa pengoperasian wisata peninggalan sejarah dan purbakala, seperti candi, keraton, prasasti, petilasan, dan bangunan kuno. Sebelumnya, ketiga bidang itu masuk dalam daftar 20 bidang usaha yang dilarang bagi investasi berdasarkan Perpres No. 44 Tahun 2016. Namun, Perpres No. 10 Tahun 2021 merevisinya sehingga hanya enam bidang usaha yang terlarang. UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya memang memungkinkan pemanfaatan ekonomi warisan budaya dalam air. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi.

  • Investasi Asing dalam Pengangkatan Muatan Kapal Tenggelam

    BADAN Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan pada Selasa (2/3/2021) bahwa investor asing dapat menanamkan modal dalam kegiatan pengangkatan benda berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT). Kegiatan ini menjadi salah satu dari 14 bidang usaha yang dibuka bagi investasi. Selain pengangkatan BMKT yang sesungguhnya peninggalan arkeologi bawah air, bidang usaha di ranah kebudayaan dan sejarah yang masuk daftar terbuka bagi investasi adalah penyelenggaraan museum pemerintah dan jasa pengoperasian wisata peninggalan sejarah dan purbakala, seperti candi, keraton, prasasti, petilasan, dan bangunan kuno. Ketiga kegiatan itu awalnya masuk dalam daftar 20 bidang usaha yang dilarang bagi investasi berdasarkan Perpres No. 44 Tahun 2016. Namun, Perpres No. 10 Tahun 2021 merevisinya sehingga hanya enam bidang usaha saja yang terlarang.

  • Bukti Keberagaman dari Muatan Kapal Tenggelam

    PEMERINTAH membuka peluang investasi asing dalam pengangkatan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di perairan Indonesia. Namun, para ahli arkeologi mengkritik kebijakan itu. Selain terjegal aturan ketat dalam UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kapal tenggelam juga menjadi bukti keberagaman di Indonesia. “Jadi, bicara tentang temuan arkeologi bawah laut bukan cuma kapalnya, tapi kebudayaan yang dibawanya,” kata Widya Nayati, pengajar arkeologi maritim di Universitas Gadjah Mada, dalam forum konsultasi pengelolaan BMKT pasca terbitnya Perpres No. 11 Tahun 2021, yang diadakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) via daring, Kamis (18/03). Indonesia menjadi pusat pertemuan global pada 1480–1650, yang oleh Anthony Reid, sejarawan Australia National University, disebut sebagai age of commerce. Dengan lautnya yang luas dan posisinya yang strategis, banyak kapal bermuatan barang berharga melintasi kepulauan Nusantara.

  • Gudang Rempah Jadi Gudang Sejarah

    DENGAN wajah ceria, lima gadis cilik melihat satu per satu koleksi Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan No 1 Jakarta Utara, Selasa (24/2) siang. Mereka sering berkunjung ke sana. Alasannya, selain dekat rumah, mereka suka koleksi-koleksi museum. Museum Bahari memiliki ratusan koleksi yang berkaitan dengan dunia maritim Nusantara. Dari foto, lukisan, alat navigasi, hingga keramik. Semuanya didapatkan melalui perburuan maupun hibah. "Kami pernah mendapatkan 200 koleksi peninggalan kapal Tiongkok yang tenggelam di Belitung pada abad ke-11. Ada mangkok, piring; ada yang sudah berkerak seperti karang, ada yang masih dengan karang-karangnya," ujar Isa Ansyari, kepala koleksi dan perawatan Museum Bahari.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page