top of page

Hasil pencarian

Search this site

9960 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kapten Satta dan Minimnya Uang Pensiunan Perwira Pribumi

    KEDATANGAN Herman Daendels di Jawa pada awal 1808 menjadi “berkah” buat Sersan Satta. Di tahun itu, pangkatnya naik jadi perwira. Satta merupakan tentara Belanda dari kalangan pribumi. Dia dilahirkan pada 1781 di Baukalang, kemungkinan ini kesalahan penyebutan terhadap Bangkalan. Menurut arsip Stamboeken Bronbeek, Den Haag, Archive 2.10.50, nomor inventaris 59, folio 96, Satta merupakan anak pasangan Sengakarsa dan perempuan bernama Semenit. Nama kedua orang tuanya lebih dekat dengan nama-nama Jawa atau Madura. François Vincent Henri Antoine Stuers dalam Gedenkschrift van den oorlog op Java menyebutkan Satta ketika sudah menjadi tentara sebagai letnan Ambon. Begitu remaja, Satta mendaftar jadi serdadu pada 1793 dan diterima dengan pangkat fuselier (prajurit infanteri rendahan) di Surabaya, ketika VOC masih ada. Pada 1800, pangkatnya naik menjadi kopral dan dua tahun kemudian naik lagi menjadi sersan. Pada 1805, Satta pernah bertugas di Cirebon.

  • Asal-Usul Takalar Basis Perjuangan RI di Sulawesi       

    SUATU kali, raja yang bertakhta di Kerajaan Sawitto, sekitar Kabupaten Pinrang sekarang, menyuruh putranya untuk pergi ke selatan. Untuk menuju daerah yang dimaksud, putra raja Sawitto yang bernama La Patiroi Petta Sompe terlebih dulu menghadap raja Gowa. Kala itu Gowa adalah kerajaan besar di Sulawesi Selatan bagian selatan. Letaknya agak jauh dari Sawitto. Raja Gowa pun lalu memberi restu kepada Petta Sompe untuk mencari tempat tinggal di selatan kerajaannya. “Berangkatlah anak raja beserta pengikutnya ke selatan, menelusuri Sungai Sanrobone. Setelah sampai di perkampungan Bontonompo, dekat Kampung Bontoramba, anak raja yang diusung oleh pengawalnya ini istirahat dan bermalam,” catat Hanabi Rizal dkk. dalam Profil Raja Dan Pejuang Sulawesi Selatan. Belakangan, tempat mereka menginap dinamai Bulekang.

  • Haji Hilal dan Para Pejuang Sulawesi Selatan

    REVOLUSI kemerdekaan Indonesia membuat makin banyak pemuda dari Sulawesi Selatan (Sulsel) yang berada di Yogyakarta. Andi Mo’mang salah satu yang ikut hijrah. Namun, tak seperti kawan-kawannya yang antusias menjaga revolusi, Andi Mo’mang kurang bergairah. Baru bebas dari tahanan tentara Sekutu salah satu penyebabnya. Kendati begitu, kawan-kawan sedaerahnya yang sedang dimabuk patriotisme tak mengacuhkannya. Kepedulian justru selalu mereka berikan padanya. “Kita kawinkan saja dengan salah satu putri terbaik yang ada di Yogyakarta ini. Putri itu anak dari Ibu Hilal. Ibu ini dianggap sakti dan sebagai penasehat Bapak Presiden Sukarno,” ucap Letnan Kolonel Kahar Muzakkar, panglima Divisi Seberang.

  • Mata Uang dari Cangkang Kerang

    ADA masa di mana selembar uang kertas seratus ribuan rupiah bewarna pink tak lagi bisa dipakai untuk membayar belanjaan. Tak laku ia dipasaran karena yang berlaku waktu itu adalah uang dari kulit kerang yang kini dengan mudah bisa didapat di antara serakan kerang-kerang di pantai-pantai Indonesia. Ingrid Van Damme dari Museum Bank Nasional Belgia dalam laman Citéco menulis, kulit kerang pada masa lalu pernah digunakan sebagai alat pembayaran dan dianggap sebagai simbol kekayaan dan kekuasaan. "Penggunaan sistem moneter ini berlanjut hingga abad ke-20," tulisnya. Dua varietas kerang yang paling utama adalah Cypreae moneta dan Cypraea annulus, atau apa yang sering disebut kerang cowrie. Keduanya punya semua fitur yang dapat diharapkan dari mata uang, yaitu daya tahan, kenyamanan, dapat dibagi, serta mudah diidentifikasi.

  • Merentang Sejarah Uang

    MASIHKAH Anda membawa uang di dompet? Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan uang kartal (kertas dan logam) mengalami penurunan. Perkembangan teknologi mendorong masyarakat untuk memilih uang elektronik. Evolusi uang tengah berlangsung. Jauh sebelum mengenal uang, manusia melakukan barter atau pertukaran barang atau jasa untuk barang dan jasa yang diinginkan. Praktik barter telah dimulai sejak puluhan ribu tahun lalu. Namun, tak mudah untuk meraih kesepakatan mengenai nilai pertukarannya. Timbullah kebutuhan akan adanya suatu alat penukar. Selama berabad-abad berbagai benda dipakai sebagai alat pertukaran atau alat pembayaran seperti kulit kerang, batu permata, gading, telur, garam, beras, binatang ternak, atau benda-benda lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya masyarakat menggunakan benda-benda seperti logam dan kertas sebagai uang.

  • Kisah Leluhur Ahmad Subardjo

    BUNGA kamboja putih bersih bertaburan di atas makam Teuku Muhammad Usman di tepi sungai Cimanuk, dekat Penganjang, Jawa Barat. Di atas batu nisannya tertulis: “leluhur dan guru kami yang tercinta dari Aceh.” “Dia meninggal dalam usia lanjut pada 1895, setahun sebelum aku dilahirkan, dikuburkan oleh orang-orang sekampungnya dan murid-muridnya yang merasa berterima kasih kepadanya,” kata Ahmad Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional. Sekira 55 tahun lalu, sebuah kapal layar kandas di pantai utara Cirebon, dekat kota kecil Indramayu. Kapal layar itu terdampar setelah tak berdaya melawan topan yang menyerang. Layarnya terkoyak yang menyebabkan kapal terbalik.

  • Gamelan Rantang dari Pengasingan

    KAMP Tanah Merah terletak di pedalaman hutan kawasan atas aliran Sungai Digul yang penuh buaya. Jaraknya kira-kira 160 km dari Merauke, empat malam jika naik sampan. Pada Maret 1927, kapal dari Surabaya berlayar menuju tempat itu membawa rombongan besar pertama tahanan politik Belanda. Mereka yang dikirim ke kamp adalah orang-orang yang membangkang terhadap pemerintah kolonial Belanda. Salah satu dari para tahanan rombongan pertama itu adalah Pontjopangrawit. Seorang seniman sekaligus pejuang kemerdekaan dari Surakarta. Di Tanah Merah, Pontjopangrawit membuat seperangkat gamelan yang di kemudian hari dikenal sebagai Gamelan Digul.

  • Gas Pol Balapan F1 di Tengah Pandemi Virus

    AJANG Formula One (F1) Grand Prix Australia di Melbourne akhir pekan ini akhirnya dibatalkan. Dalam laman resminya, formula1.com, Jumat (13/3/2020), otoritas F1 meluluskan keputusan pembatalan itu setelah menggelar rapat terbatas bersama sembilan pimpinan tim peserta dan mayoritas menyatakan balapan lebih baik urung digelar gara-gara merebaknya COVID-19 atau virus corona. “Formula 1 dan FIA, dengan dukungan penuh Australian Grand Prix Corporation (AGPC) telah mengambil keputusan bahwa semua kegiatan Grand Prix Australia dibatalkan. Kami memahami ini kabar yang mengecewakan buat ribuan fans dan semua pemegang tiket akan menerima pengembalian pembayaran secara penuh,” demikian pernyataan otoritas FI. Sebelumnya, beberapa pembalap mengeluh dan khawatir mengingat wabah virus corona kian hari kian memuncak. Badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) pun sudah menyatakan COVID-19 bukan lagi wabah atau endemi, melainkan pandemi yang artinya sudah menyebar secara global dan di luar kendali.

  • Tionghoa dalam Api dan Bara

    TIAP zaman, golongan Tionghoa selalu “serba salah” dalam bersikap, ibarat buah simalakama. Seperti dilukiskan dengan bagus oleh Charles Coppel dalam Tionghoa Indonesia dalam Krisis: “Jika mereka terlibat dalam kalangan oposisi, mereka dicap subversif. Apabila mereka mendukung penguasa waktu itu, mereka dicap oportunis. Dan jika mereka menjauhi diri dari politik, mereka juga oportunis sebab mereka itu dikatakan hanya berminat mencari untung Pemuda Tionghoa dalam perang kemerdekaan.” Itulah yang membuat orientasi orang Tionghoa terbelah selama masa pendudukan Jepang dan revolusi, yang disebut Tjamboek Berdoeri alias Kwee Thiam Tjing sebagai masa “Indonesia dalem Api dan Bara” karena penuh pergolakan, kekerasan, dan ketakutan. Dalam makalah berjudul “Bystanders, Participants, Victims: The Chinese in Java and West Kalimantan, 1945-46”, Mary Somers-Heidhues menyebut tiga sikap yang diambil etnis Tionghoa selama masa revolusi tak berpihak atau netral, bersimpati dan berjuang di pihak Republik, serta berharap perlindungan dari Republik Tiongkok.

  • Mental Korupsi Pejabat Pribumi

    SALAH seorang menteri dalam Kabinet Indonesia Maju lagi-lagi tersandung kasus korupsi. Setelah sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, kali ini penyalahgunaan kekuasaan dilakukan Menteri Sosial Juliar Peter Batubara. Ia bersama empat lainnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi atas penyelewangan dana bantuan sosial penanganan Covid-19. Dugaan tindak korupsi itu terbongkar lewat Operasi Tangkap Tangan KPK pada Minggu (06/12/2020). Dilansir CNN Indonesia, para penyidik KPK berhasil mengamankan uang tunai sekitar 14,5 miliar rupiah dalam berbagai bentuk pecahan uang. Diketahui Juliar meminta jatah 10 ribu dari setiap paket bantuan senilai 300 ribu. “Itu uang rakyat, apalagi ini terkait dengan bansos, bantuas sosial dalam rangka penanganan covid dan pemulihan ekonomi nasional. Bansos itu sangat dibutuhkan untuk rakyat,” ujar Presiden Joko Widodo seperti dikutip laman resmi Sekertaris Negara RI.

  • Mengurai Akar Kejahatan Korupsi

    KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini tengah menjadi perhatian publik. Kendati menuai kontrovesi karena diduga hendak mendepak 75 pegawainya melalui Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), KPK justru memberhentikan 51 di antara pegawai itu mulai 1 November 2021. Hal ini bertentangan dengan amanat Presiden Joko Widodo bahwa TWK hendaknya tak jadi alasan pemecatan. Upaya pemberantas korupsi di Indonesia selalu mengahapi ujian. Beragam badan anti rasuah berdiri namun akhirnya runtuh juga. Korupsi menjadi momok yang terus menghantui sejak republik berdiri. Bagaimana korupsi bermula dan bagaimana pula upaya untuk memberantasnya? Pegiat anti-korupsi Sely Martini dalam Dialog Sejarah “Jatuh Bangun Pemberantasan Korupsi di Indonesia” di saluran Youtube dan Facebook Historia, Jumat, 28 Mei 2021, menyebut bahwa korupsi termasuk dalam tindak kejahatan purba, sama seperti mencuri. Setidaknya ada tiga penyebab seseorang melakukan tindak korupsi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page