Hasil pencarian
Search this site
9963 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sersan Zon Memburu Panglima Polim
SEKITAR akhir tahun 1902, sultan Aceh dan Panglima Polim sedang bersembunyi di daerah Gayo. Kala itu Aceh dan sekitarnya adalah Daerah Operasi Militer (DOM) daripada tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang ingin segera mengakhiri Perang Aceh (Atjeh Oorlog) nan berkepanjangan itu. Keinginan untuk segera mengakhiri itu membuat pasukan Marsose (pasukan anti-gerilya Belanda nan elit dan kejam) di bawah Pembantu Letnan Hans Christoffel sering dikerahkan ke Gayo untuk berpatroli. Selain pasukan Christoffel, pasukan dari Kapten Colijn juga diperintah berpatroli di sana. “Kapten Colijn dapat mengetahui dalam bulan Juni tempat persembunyian Panglima Polim. Maka dikejarnyalah panglima itu ke tempatnya itu,” kata L.F. van Gent dalam buku Nederland-Ambon.
- Cara Sersan Kunto Mengolah Uang Lotre
DENGAN sekolah di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), seharusnya Kunto bisa jadi pegawai negeri kolonial yang hidupnya nyaman. Namun hidup adalah pilihan. Kunto keluar setelah kelas dua. Di tahun 1925, Kunto sudah masuk militer. Setelah mendaftar, dia belajar di Kaderschool Magelang. Begitu lulus sekolah kader tentara itu dia menjadi sersan dan bertugas di luar Jawa. Sebagai anggota tentara kolonial Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL), dia pernah bertugas di Kutaraja, Tapak Tuan, Purworejo, Semarang, dan Magelang. Dia kembali lagi ke Magelang sekitar 1938.
- Sejumput Kisah Sersan Baidin
SEBUAH upacara militer diadakan di Salatiga pada 1937. Para serdadu aktif tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) dari perwira sampai tamtama dan dari berbagai kesatuan maupun para pensiunan KNIL pribumi yang tergabung dalam Bond van Inheemse Gepensioneerde Militairen (BIGM) hadir di sana. Sersan Baidin yang sudah sepuh kala itu –sudah berusia 78 tahun– menjadi bintangnya. Upacara itu diadakan untuknya. “Merupakan kehormatan bagi saya hari ini untuk dapat berbicara pada kesempatan ulang tahun ketiga puluh sebagai Ksatria Militaire Willemsorde,” kata pejabat militer Belanda di acara. Pejabat itu dan hadirin yang lain mengucapkan selamat kepada Baidin yang telah 30 tahun menjadi ksatria Ridder Militaire Willemorde kelas empat. Baidin mendapatkan bintang ksatria itu lantaran menjadi pahlawan KNIL. Sersan Baidin adalah serdadu KNIL dengan nomor stamboek 33738. Menurut De Locomotief, 30 Maret 1937, Baidin lahir di Bangkalan, Madura, pada 1859.
- Dulu Para Sersan Berserikat
UNDANG-undang Dasar 1945 menjamin adanya kebebasan berserikat dan berkumpul bagi para warga negara Indonesia. Tapi itu bukan hal baru. Di zaman Hindia Belanda, berserikat dan berkumpul diperbolehkan bahkan dalam ketentaraan. Para sersan atau bintara boleh berserikat dan berkumpul dalam sebuah wadah. Aturan itulah yang dijadikan bekal oleh beberapa bintara tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) asal Jawa, Minahasa, dan etnis-etnis lain di Nusantara mendirikan perkumpulan bernama Oentoek Keperloean Kita (Baca: Untuk Keperluan Kita. Singkatan: OKK). OKK diakui pemerintah kolonial berdasar Gouverment Besluit tanggal 17 Januari 1928 nomor 2X. Anggota OKK tersebar di banyak daerah. Tak hanya di beberapa kota tangsi di Jawa macam Ambarawa, Magelang, Meester Cornelis (Jakarta Timur) saja, tapi juga Lahat di Sumatra Selatan, Ambon, Balikpapan, Atambua dan lain-lain. Bahkan, OKK punya suratkabar berbahasa Melayu Pasar—yang mirip bahasa Indonesia saat ini—dengan nama Oentoek Keperloean Kita juga.
- Kecakapan Elie Ripon Sang Sersan Swiss di Banda
SWISS sejak lama dikenal sebagai negara netral. Negeri pegunungan bersalju ini pun tak punya tentara. Namun, bukan berarti bangsa Swiss tak punya orang yang suka berperang. Contoh paling legendaris dalam sejarah Indonesia adalah Hans Christoffel. Antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 dia telah berperang dengan keras di Aceh dan beberapa wilayah Indonesia lain. Jauh sebelum Hans Christoffel, tersebutlah Elie Ripon. Pria asal Laussane ini bergabung dalam pasukan militer maskapai dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Dia bergabung sekitar 1617 hingga 1626. Ketika baru direkrut sebagai tentara bayaran untuk VOC, Elie sudah ikut serta dalam sebuah ekspedisi militer berdarah. “Pada 21 September 1619, Jenderal Pieterzoon Coen meninggalkan Batavia menuju Pulau Banda. Dia merekrut semua pria berbadan sehat yang ada di kepulauan Maluku dan beberapa tempat lain untuk menyerbu Pulau Lontar,” catat Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Perancis.
- Martir Letnan Kadir dan Seloroh Kopral Panamo
BEBERAPA saat sebelum terjadi pertempuran di Desa Mardinding, Tanah Karo, Letnan Kadir Saragih menatap puncak bukit yang ada di desa tersebut. Cukup lama dia menatapi Bukit Mardinding itu. Dengan tatapan takjub, Kadir berujar dengan lepas kepada kawan sekompinya. “Alangkah indahnya puncak bukit itu. Suatu tempat perhentian yang menyenangkan,” ujar Kadir. Dia melanjutkan, “Kalau nanti ada diantara kita yang gugur ditembus peluru senjata Belanda, kita makamkan di atas bukit ini sebagai tugu kenang-kenangan, sebagai ‘benteng kemenangan'.” Ucapan Letnan Kadir tersebut tercatat dalam buku harian komandan resimennya, Letkol Djamin Gintings yang pada 1964 diterbitkan dalam memoar berjudul Bukit Kadir. Letnan Kadir adalah Komandan Seksi 2 Kompi 1 Batalion XV yang ditugaskan dalam operasi dadakan menggempur kubu pertahanan Belanda di Mardinding. Dalam kenangan Djamin Gintings, Letnan Kadir merupakan perwira muda berbadan tegap. Tingginya lebih kurang 160 cm. Menurut kawan-kawannya, Letnan Kadir memilki paras muka yang bisa menarik perhatian kaum Hawa.
- Kopral Anthony Menjebol Benteng Salubanga
PADA 11 Oktober 1674 Kerajaan Mandar menandatangani perjanjian pertama dengan VOC di benteng Rotterdam, Makassar. Perjanjian ini membuat Kerajaan Mandar mengakui kekuasaan Belanda. Belanda menggunakan perjanjian ini sebagai dasar untuk mengawasi Kerajaan Mandar. Campur tangan kekuasaan asing itu menyebabkan perlawanan rakyat Mandar. Di antaranya perlawanan yang dipimpin oleh Calo Ammana I Wewang dan adiknya, Karo Puang Ammana Pattolawali di Pitu Babana Binanga pada 1905 dan perlawanan di Pitu Ulunna Salu yang dipimpin Demmatande pada 1914. Kerajaan Mandar yang didirikan oleh Todilaling dibagi dua bagian, yaitu Pitu Babana Binanga (persekutuan tujuh kerajaan di pantai) dan Pitu Ulunna Salu (persekutuan tujuh kerajaan di pegunungan).
- Sejarah Pangkat Kopral
WAKTU T.B. Simatupang masih sekolah, ia sudah melihat dunia militer. Sim, sapaan akrabnya, sering mendengar nyanyian para serdadu KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger), sebuah lagu reveil tak resmi di tangsi. Kopi ketan enak rasanya, mati sersan kopral gantinya. Begitu potongan lirik yang diingat Sim dalam Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos. Sersan dan kopral memang bukan pangkat terendah dalam militer. Masih ada pangkat prajurit rendahan yang istilahnya macam-macam, baik karena senioritas maupun keahlian.
- Mudahnya Kopral Dukun Mempecundangi PRRI
DARI Jawa Tengah, pasukan Banteng Raider (BR) dikirim jauh-jauh ke Sumatra untuk melawan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). BR yang berasal dari Komando Tentara dan Teritorium Diponegoro, Jawa Tengah –hingga akhir 1959, panglima Diponegoro adalah Kolonel Soeharto– punya reputasi yang mumpuni. Sebab, lawan yang dihadapi bukan “kaleng-kaleng”. “Ketika PRRI mengangkat senjata melawan pemerintah pusat, maka dukungan serta bantuan pihak Amerika Serikat dan sekutunya diwujudkan dalam bentuk yang lebih nyata. Bantuan itu antara lain terlihat dari suplai senjata,” catat Gusti Asnan dalam Memikir ulang Regionalisme: Sumatera Barat tahun 1950-an. Selain senjata, pelatihan pun diberikan kepada PRRI. “Kalau tentara rezim Sukarno berani menginjakkan kakinya di bumi PRRI, maka sejengkal tanah pun akan kami pertahankan sampai tetes darah yang penghabisan,” seru PRRI seperti dicatat Sersan Mayor Bandel dalam Madjalah Angkatan Darat, 6 Juni 1958. Cerita Sersan Mayor Bandel ini tentu berdasarkan sudut pandang Angkatan Darat sebagai lawan PRRI.
- Drama Kopral Soedarmo
SUATU hari di akhir dekade 1920-an. Sebuah rombongan pengangkut kiriman uang berjalan melintasi pesisir barat Sumatra. Mereka dikawal pasukan militer. Seorang prajurit bersenapan berjalan di depan, seorang kopral dan seorang prajurit lain mengikuti di belakangnya. Di dalam rombongan tersebut terdapat seorang tahanan Irlandia yang berbahaya. Ia berjalan di belakang rombongan tadi dengan tangan diborgol. Di belakangnya, terdapat prajurit-prajurit yang membawa kotak uang. Kendati jalur yang mereka lalui cukup berat, prajurit yang berada di belakang tak tertinggal. Namun hal itu membuat tahanan yang mereka bawa justru punya peluang untuk kabur. Maka begitu melihat adanya peluang, si tahanan langsung memukul keras-keras kepala prajurit di depannya menggunakan borgolnya. Dia pun kabur.
- Kopral Hargijono Tak Sengaja Menembak Ade
MISI penjemputan Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan (Menko Hankam) Jenderal TNI Abdul Haris Nasution dari rumahnya di Jalan Teuku Umar, Menteng, dipimpin oleh Pembantu Letnan Dua (Pelda) Djahurup. Ujung tombak pasukan penculik adalah anggota Batalyon Kawal Kehormatan I Resimen Tjakrabirawa. Mereka sempat terlibat kontak senjata dengan AIP Karel Satsuit Tubun, penjaga di rumah Waperdam J. Leimena yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Nasution, dan menewaskan KS Tubun. Begitu tiba di rumah Jenderal Nasution, mereka melucuti para penjaga di rumah itu. “Kemudian Pelda Djahurup, Kopda Hargiono dan Pratu Sulemi semuanya anggota Cakrabirawa membuka pintu depan ruang tamu yang rupa-rupanya malam itu tidak dikunci dan kemudian masuk,” catat buku Monumen Pancasila Çakti.
- Kopral Roeman Melawan Teungku Leman
NAMA Cot Cicem mungkin terdengar asing di telinga. Ia tak populer, sebab Aceh punya banyak pemimpin perang gerilya yang tersebar, baik sepanjang Perang Aceh maupun setelahnya. Setelah Perang Aceh berakhir tahun 1904 pun perlawanan-perlawanan kecil terus berlanjut. Panglima-panglima perang Aceh pun terus bermunculan. Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman (1836-1891) —yang diracun hingga meninggal dunia sekitar Januari 1891— ternyata juga punya pengikut yang enggan menyerah. Salah satunya Teungku Cot Cicém. Ia seorang ulama sekaligus sebagai pemimpin pasukan gerilya yang sempat memimpin 400 kombatan berbaju hitam dan cukup terlatih. “Pasukan Cot Cicem ini adalah contoh dalam usaha meniru teknologi kemiliteran Belanda. Berbaris dengan tatacara yang rapi, memakai aba-aba terompet, dan sebagainya, pasukan ini hampir-hampir tak berbeda dengan gaya pasukan marsose Belanda. Kesemuanya adalah hasil latihan yang diberikan oleh tentara Belanda yang membelot kepada pihak Aceh,” catat Ibrahim Alfian dalam Perang di Jalan Allah.





















