Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cara Farid Hardja Bikin Lagu
GITARIS band Gigi Dewa Budjana punya kenangan pahit maupun manis dengan penyanyi legendaris Farid Hardja. Suatu kali, Budjana muda hendak mendatangi penyanyi unik yang dandanan sewaktu mudanya mirip Elton John itu. Berbekal sebuah surat, Budjana pun mendekat Denny Sabrie yang menjadi manager band Bani Adam yang didirikan Farid. “Farid lagi sibuk, jadi nggak bisa ketemu,” kata Denny Sabrie kepada Budjana, yang hanya bisa melihat Farid Hardja dari kejauhan, dikutip Adib Hidayat dalam Gigi: Peace, Love & Respect. Budjana pun pulang dengan kecewa. Bagi Budjana, itu adalah pengalaman pahit. Tak jadi bertemu bintang idola. Namun, Budjana tak pernah putus asa. Pada 1988, dirinya sudah berada di Jakarta jadi gitaris dan akrab dengan industri musik Indonesia. Pada tahun-tahun itu, laki-laki kelahiran Agustus 1963 itu jadi session player yang kerap mengiringi banyak penyanyi dalam rekaman. Termasuk Farid Hardja. Bedanya, kini Farid sudah paham kemampuan Budjana. Budjana pernah indekos di daerah Pondok Karya. Farid pernah menghampirinya di sana. Budjana semula tidak yakin bahwa Farid yang datang bertamu. Baru setelah melihat Farid keluar dari taksi, Budjana yakin itu adalah Farid. “Ayo rekaman, Budj,” kata Farid mengajak sang gitaris. Farid, yang kelahiran Sukabumi pada 7 September 1950, sudah jadi penyanyi sohor di awal era 1990-an itu. Lagu-lagunya seperti “Asmara”, “Karmila”, “Romantika Di Amor”, “Ini Rindu” kerap muncul di televisi dan mengalun radio hingga disukai banyak pendengar musik Indonesia. Musik pop Farid diperkaya dengan rap dan reggae. Capaian itu jelas tak setahun-dua diupayakan Farid. Setidaknya Farid sudah terjun ke dunia musik sejak usia belasan tahun, sekitar 1966. Dia terbiasa dengan lagu-lagu berbahasa Inggris macam karya-karya The Beatles maupun lagu-lagu pop Indonesia hasil karya Koes Bersaudara dan lain-lain. Waktu musik rock n’roll yang dicap Sukarno sebagai “Ngak Ngik Ngok” dilarang –termasuk oleh stasiun milik negara Radio Republik Indonesia (RRI), Farid malah menikmatinya. “Saya hanya bisa dengar dari Radio Malaya, waktu itu. Namanya memang Malaya, bukan Malaysia. Atau Radio Singapura, atau Radio Australia. Jam-jam tertentu, kapan ada jam acara musik saya tahu. Sehingga saya punya jadwal dengar lagu, seperti punya piringan hitam sendiri,” kenang Farid Hardja kepada Mutiara, 24-30 Januari 1995. Selain di radio, kala itu musik bisa didengarkan lewat kaset pita dan piringan hitam. “Saya bisa menghafal lewat radio-radio. Meskipun bahasanya kacau,” aku Farid. Meski begitu, teman-teman Farid terus mendorong Farid yang bersemangat. Mereka pun menasehati Farid. “Farid kamu kalau nyanyi lagu Inggris, di-inggris-kan lagi ya,” kata mereka. Entah kenapa, Farid belakangan justru lebih sering menyanyikan lagu-lagu berbahasa Indonesia. Mungkin dia insyaf pasarnya adalah orang Indonesia yang saat itu mayoritas masih belum “melek” Inggris. Meskipun begitu, Farid sadar akan penampilan. Setidaknya itu mungkin bisa dijual meskipun lagu-lagunya “melempem”, terbukti dari tidak berkibarnya nama Farid meski sudah bikin album berisi lagu-lagu berbahasa Indonesia di Bandung. Maka, dandanan Farid di era 1970-an sengaja dibuat mirip Elton John dan itu konsisten dia tampilkan. Keunikan itu agaknya yang menjadi nilai plus bagi Farid. Suatu kali di pertengahan 1970-an, Denny Sabrie sebagai salah seorang pencari bakat musik, bertemu dengannya. Farid kala itu sudah punya band bernama Bani Adam. Denny pun melihat keunikan Farid yang bisa “dijual”. “Waktu itu Denny Sabrie mengenalkan saya dengan Jackson Records,” aku Farid. Jackson Records merupakan label milik Jackson Arief (1949-1994) yang berada di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Senang membuat gebrakan dengan menawarkan hal baru, label yang awalnya produsen film tersebut melahirkan nama-nama beken seperti Vina Panduwinata, Franky and Jane, dan Ebiet G. Ade. Jackson Records yang senang menggebrak sesuatu yang konvensionil, kepincut pada Farid. Menawarkan hal baru pada pecinta musik tanah air saat itu yang masih didominasi lagu-lagu sendu kemungkinan jadi alasan di balik kerjasama Jackson Records dan Farid. “Buktinya, sesudah meninggalkan bisnis elektronika, Jackson (awal 1978) menggaet Farid Bani Adam (Farid Hardja) –penyanyi asal Sukabumi, bertubuh gempal dan botak – ke studio rekamanannya. Saat itu udara musik pop masih dikuasai warna sendu nyanyian Koes Ploes dan Kelompok Favourite,” kata buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984. Kerjasama Farid dan Jackson Records pun sukses melahirkan album Karmila. Dalam album itu, Farid diiringi rekan-rekannya di band bernama Bani Adam –dinamakan demikian karena Farid yakin kita semua adalah keturunan Nabi Adam. Album Karmila dengan hits berjudul sama, “Karmila”, menjadi album sukses pertama Farid. Lagu “Karmila” sendiri termasuk salah satu lagu Farid yang terkenal dan diingat banyak pendengarnya. Karmila melejitkan nama Farid. Meski kemudian dirinya berganti label, nama Farid sudah menjadi jaminan bagi album-albumnya berikutnya. Tak hanya menyanyi, Farid pernah jadi pemain bass ketika main band semasa muda. Farid juga pandai membuat lagu. Dalam mengarang lagu, biasanya setelah nada-nada tersusun di kepala, Farid akan mengeluarkannya dengan menyanyikannya dengan bantuan iringan gitar. Setelah itu, barulah lagu akan ditata dengan bantuan penata musik. Dia tidak tergantung pada alat musik tertentu untuk menuliskan lagu. “Saya nggak pernah terikat sebab saya jalan kaki juga terus mengarang di otak. Kepala saya terus membuat lagu. Apakah itu sedang di mobil, jalan kaki dan di mana saja. Saya tidak pernah terikat pada alat musik,” ujar Farid yang tutup usia di Jakarta pada 28 Desember 1998.*
- Debus dan Tarekat di Banten
TAJAMNYA golok tak mampu mengiris lidah pemain debus. Racun kalajengking tak mempan padanya. Linggis dari besi bengkok di tangannya. Kesaktian dan kekebalan pemain debus membuat beragam senjata tajam tak ada apa-apanya di tubuh mereka. Debus terkenal berasal dari Banten. Namun, atraksi ini juga dikenal di Cirebon, Maluku, Aceh, tersebar ke Perak, Semenanjung Melayu. Permainan ini berakar dari tarekat yang menyebar ketika Islam masuk ke Nusantara. “Itu semua tempat yang sering didatangi pedagang rempah. Debus ini menjadi indikasi pemakaian tarekat. Orang debus biasa membaca ratib dan sebagainya,” kata Martin van Bruinessen, ahli studi tentang Islam dari Utrecht University, Belanda, dalam diskusi daring bertema “Tradisi dan Jaringan Sufisme di Jalur Rempah: Mencari Akar Kosmopolitan Islam Nusantara”, Sabtu, 24 April 2021.
- Batik Romusha dari Banten Selatan
KETIKA menduduki Indonesia, Jepang mengerahkan ribuan orang terutama dari Jawa untuk menjadi romusha atau pekerja paksa. Mereka membangun proyek-proyek militer Jepang untuk menunjang kepentingan perang, seperti lapangan terbang, jalan, rel kereta api, gudang persenjataan, dan kubu pertahanan. Romusha dikirim ke berbagai daerah bahkan luar negeri. Salah satunya ke Bayah, Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Mereka bekerja membangun rel kereta api Saketi–Bayah sepanjang 90 kilometer dan menggali batu bara. Tokoh revolusioner Tan Malaka pernah bekerja di Bayah. Pembangunan rel kereta api Saketi–Bayah menelan banyak korban romusha. Tan Malaka mendapat cerita tentang asal-usul Saketi. Kata Saketi berasal dari bahasa Sunda, yang artinya 100 ribu, mengacu pada ramalan korban pembuatan jalur kereta api Saketi–Bayah.
- Lapangan Banteng dari Hutan Jadi Taman
TERIK mentari, tiupan angin, dan tebaran debu tak menyurutkan semangat anak-anak berlatih sepakbola di Lapangan Banteng, Jakarta. Mereka menggiring bola melewati rintangan-rintangan sambil terus mendengarkan instruksi pelatih. “Sebenarnya pengen jamnya kita ubah, cuma masalahnya banyak tim lain yang sewa,” ujar Angela Handayani, sekretaris Sekolah Sepakbola Plus Football Academy. Sejak dijadikan taman kota oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1981, Lapangan Banteng menjadi area publik yang menarik buat warga kota. Nyaman untuk tempat bercengkerama, enak buat olahraga, bahkan aman untuk kencan ataupun transaksi prostitusi jalanan. Lapangan Banteng mulanya belantara dan rawa yang menjadi rumah bagi binatang buas, dari banteng hingga harimau. Konflik hewan-manusia kerap terjadi. Sampai-sampai Kongsi Dagang Belanda (VOC) pada 1762 memberi hadiah besar kepada seorang pemburu yang berhasil menaklukkan 27 ekor macan kumbang.
- Kedaulatan Ekonomi, Pesan Inti yang Terlupa dari KAA
KENDATI sudah 71 tahun berlalu, makna, pesan, hingga gaung Konferensi Asia-Afrika (KAA) belum usang untuk dibicarakan. Konflik yang terjadi di dunia selama tujuh dekade hingga kini adalah problem lama yang juga jadi perhatian di forum KAA di Bandung: neo-kolonialisme dan neo-imperialisme yang terus mencengkeram negara-negara dunia ketiga. Hal itu disampaikan sejarawan asal India Vijay Prashad dalam public lecture “The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis” di peringatan ke-71 KAA, Minggu (19/4/2026) siang di Gedung Merdeka, Bandung. Event tersebut disiarkan secara daring di akun Youtube Historia.ID. Hingga kini pun, menurut Vijay, kolonialisme dan imperialisme Barat terus berusaha membungkam mayoritas dunia. Kolonialisme tidak hanya mencuri kekayaan. Hal dramatis tentang kolonialisme dan imperialisme yang terjadi di abad ke-19 dan abad ke-20 adalah pembungkaman gagasan-gagasan dari masyarakat dunia ketiga dan negeri-negeri Selatan yang dianggap tidak penting. Negara-negara dunia ketiga dianggap tidak penting sebagai kontributor dari sejarah dunia. Dengan kata lain, mereka membuat sejarah dan negara-negara dunia ketiga hanya berpartisipasi di dalamnya.
- Memantik Global Selatan Melawan Kolonialitas
KOLONIALISME memang sudah jadi kata usang karena sudah terkikis sedikit demi sedikit pasca-Perang Dunia II. Namun, mental kolonial dan kolonialitas itu sendiri dari para mantan penjajah tak serta-merta hilang. Begitu kata sejarawan dan anggota DPR RI Bonnie Triyana mengutip sosiolog Peru Aníbal Quijano dalam esainya, “Coloniality of Power, Eurocentrism, and Latin America” di Jurnal Nepantla tahun 2000. “Pertanyaannya, apakah dunia hari ini sudah berubah sejak berakhirnya Perang Dunia II? Kolonialisme mungkin sudah berakhir namun kolonialitas, seperti yang didefinisikan sosiolog Aníbal Quijano, terus eksis sampai hari ini. Dominasi imperialis terus berjalan dalam bentuk-bentuk baru melalui eksploitasi sumber daya alam, produksi pengetahuan yang Eurosentris, dan dikotomi-dikotomi Barat-Timur dan sekarang Utara-Selatan,” kata Bonnie dalam pengantar public lecture sejarawan India Vijay Prashad bertajuk “The Global South Today: Crisis, Resistance and New Possibilities” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Senin (20/4/2026) petang dan juga disiarkan secara daring melalui Youtube Historia.ID. Meski perang besar itu sudah lama berakhir dan ada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai “penjaga perdamaian”, ironisnya perjuangan untuk perdamaian masih jauh kata usai. Krisis dan konflik terus mendera dan hukum internasional kini sedang diterpa masalah besar oleh ulah Amerika Serikat (AS) dan Israel.
- Ngalap Berkah Kala Ziarah
HARI Raya Idul Fitri atau lebaran tak hanya kental dengan tradisi silaturahim dengan tetangga, keluarga, kerabat, dan sahabat. Di beberapa daerah, di masa lebaran juga kental dengan tradisi ziarah ke makam keluarga, leluhur, maupun makam orang-orang besar yang dikeramatkan demi minta berkah. Menurut sejarawan Johan Wahyudhi dalam program Dialog Sejarah bertajuk “Kisah di Balik Budaya Ziarah Makam Keramat di Jakarta” di kanal Youtube Historia.ID, 28 Februari 2026, tradisi itu sudah eksis di Nusantara sejak era pra-Hindu. Ziarah kubur sudah dipraktikkan masyarakat pra-Islam sejak zaman purba hingga masa Hindu-Buddha “Tradisi mengunjungi [makam] orang suci kalau kita runut sudah ada sejak zaman purbakala, di mana misalnya kita melihat peninggalan-peninggalan seperti punden berundak. Kemudian kenapa makam-makam atau tempat-tempat yang dikeramatkan selalu berhubungan dengan posisi yang ada di atas secara geografis, di gunung atau di lereng bukit dan lain-lain, karena memang ada semacam aura positif ketika seseorang itu dekat ke tempat-tempat yang di atas yang dianggap suci. Maka itu menentramkan batin. Kemudian menyambungkan secara spiritual dengan para leluhur,” ujarnya.
- Ali Moertopo Moncer di Banteng Raider
UNTUK ukuran pemuda di zamannya, Ali Moertopo tergolong orang beruntung. Pada 1941, ia lulus MULO (Meer Uitgebrid Lager Onderwijs), SMP kolonial yang tidak semua pemuda Indonesia pernah bersekolah di dalamnya. Sepanjang hidupnya ia dianggap orang pintar. Sebelum Indonesia merdeka, pemuda kelahiran Blora, 23 September 1924 ini tak pernah mendapat pelatihan sebagai perwira militer seperti kebanyakan jenderal di zamannya. Setelah 1945, dalam revolusi Indonesia, ia menjadi tentara rendahan, seperti kebanyakan orang yang pendidikan lebih rendah darinya. Selain itu, ia pernah jadi anggota laskar Hizbullah di Pekalongan. Ali Moertopo bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dalam Resimen ke-17 di Pekalongan. Setelah 1947, daerah Pekalongan tak bisa dipertahankan lagi oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hebatnya Ali tidak mundur dari Pekalongan.
- Dari Banteng Raiders ke Baret Merah
SETELAH lebih dari satu dekade, pasukan Banteng Raiders di Jawa Tengah makin berpengalaman dalam banyak pertempuran. Baik melawan DI/TII di Jawa Tengah, PRRI di Sumatra Barat, maupun terlibat dalam perebutan Irian Barat. Jumlah personelnya semakin besar. Ketika Ahmad Yani, perintis Banteng Raiders menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Banteng Raiders sudah sebesar tiga batalyon. Batalyon Infanteri 436 menjadi Banteng Raiders I di Magelang, Batalyon Infanteri 454 sebagai Banteng Raiders II di Srondol, dan Batalyon Infanteri 441 sebagai Banteng Raiders III di Jatingaleh. Banyak anggota Banteng Raiders I kemudian masuk ke dalam Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno pada 1962. Termasuk Sersan Bungkus dan Kopral Ishak Bahar. Meski demikian batalyon Banteng Raiders I dan III tetap ada.
- Mengacau Banten, Kamid Tewas di Jakarta
SUATU hari di awal tahun 1955, rumah Jaksa Agung Raden Soeprapto di Jakarta kedatangan seseorang dari Banten. Orang itu bukan orang sembarangan di Banten. Dia seorang bendeleider alias pemimpin gerombolan yang mengacau di daerah Banten. Kamid namanya. “Kamid menyatakan bahwa ia bersama kelompoknya akan menyerah dan seterusnya setia kepada pemerintah RI. Sebagai bukti niat itu, ia menyerahkan sepucuk senjata api miliknya,” catat Iip D. Yahya dalam Mengadili Menteri Memeriksa Perwira: Jaksa Agung Soeprapto dan Penegakan Hukum di Indonesia Periode 1950-1959. Sebuah janji lanjutan diutarakan Kamid si pengacau keamanan yang terkenal kejam meski punya niat untuk menyerah kepada pemerintah itu. Penyerahan massal akan diadakan di Serang, katanya.
- Pawang Hujan dalam Pernikahan Anak Presiden Soeharto
AWALNYA Presiden Soeharto ingin pernikahan anak pertamanya, Siti Hardijanti dan Indra Rukmana, putra pengusaha Edi Kowara Adiwinata, diadakan sederhana di rumahnya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Namun, Ibu Tien tidak setuju karena menganggap kurang pantas seorang presiden menikahkan anaknya seperti itu. “Bagaimana rakyat kita nanti? Bagaimana kita bisa memberi tuntunan dalam membina budaya dan adat-istiadat kita kepada mereka di dalam upacara-upacara yang dianggap penting. Mantu itu ‘kan penting dan diharapkan hanya sekali,” kata Ibu Tien. Akhirnya, diputuskan upacara pernikahan diselenggarakan di Istana Bogor pada 29 Januari 1972. Ibu Tien seorang muslimah yang memegang teguh budaya Jawa. Sehingga, untuk kelancaran acara pernikahan, dia meminta kepada Sukamdani Sahid Gitosardjono untuk membuat sesajen. Sukamdani (1928–2017) adalah pengusaha hotel pendiri Grup Sahid dan ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) selama dua periode.
- Kala Prabowo Mempersunting Putri Soeharto
SUATU hari, Prabowo Subianto membuat ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, terkejut. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, dia minta izin hendak memperkenalkan pacarnya. Bowo, sapaan akrab Prabowo, akhirnya mendapat lampu hijau. Sumitro terkesan dengan kepribadian pacar anak ketiganya itu saat mereka bertemu kemudian. Pak Cum, sapaan akrab Sumitro, juga merasa mengenal perempuan itu. “Siapa wanita ini? She looks familiar,” ujar Sumitro membatin, tulis Hendra Esmara dan Heru Cahyono dalam biografi Sumitro Djojohadikusumo: Jejak Perlawanan Begawan Pejuang. Alih-alih menjelaskan lengkap, Bowo cuma memberitahu bahwa pacarnya itu termasuk salah satu murid Sumitro. Belakangan, Sumitro mengetahui bahwa pacar anaknya adalah Siti Hediyati, putri keempat Presiden Soeharto. Selain senang, Sumitro juga agak khawatir dengan keseriusan anaknya menjalin hubungan dengan Titiek, sapaan akrab Siti Hediyati.





















