top of page

Hasil pencarian

9868 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Literasi Orang Betawi

    BANYAK orang mengira masyarakat Nusantara, termasuk masyarakat Jakarta buta huruf sebelum kedatangan kolonial Belanda. Padahal, masyarakat Betawi telah memiliki tradisi literasi dalam penulisan dan pembacaan naskah aksara Arab-Jawi dengan bahasa Melayu. Ini menunjukkan masyarakat Betawi telah mengenal baca tulis dengan baik. Dengan demikian, mereka hanya buta huruf Latin yang diperkenalkan melalui pendidikan dan budaya kolonial. “Kebudayaan menulis dan membaca telah berkembang jauh sebelum kedatangan kolonial Belanda. Pada masa itu, masyarakat telah mengenal pendidikan agama Islam yang menjadi medium berkembangnya tradisi literasi. Melalui pendidikan tersebut, masyarakat terbiasa mencatat dan membaca menggunakan aksara Arab maupun Jawi. Sehingga mereka itu bukan buta huruf, tetapi buta huruf Latin,” kata Siswantari, sejarawan Universitas Indonesia, kepada Historia.ID. Bukti budaya literasi masyarakat Betawi dapat dilihat dari Pecenongan. Kawasan yang kini dikenal sebagai pusat kuliner, dahulu menjadi pusat kegiatan literasi masyarakat Betawi yang menyimpan banyak manuskrip penting. Pada abad ke-19, Pecenongan dikenal sebagai kawasan yang memiliki banyak skriptorium atau tempat penulisan dan penyalinan naskah.

  • Iswahjoedi dalam Angkatan Udara Belanda

    SEBELUM Perang Dunia II pecah, Raden Iswahjoedi adalah mahasiswa kedokteran di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya. Namun, dia gagal menjadi dokter karena perang merembet ke kawasan Asia Pasifik. Iswahjoedi lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 Juni 1918 dari pasangan Raden Wirjomiharjo dan Issumirah. Ayahnya bekerja pada kantor Sindikat Gula di Surabaya dan penghasilannya cukup besar. Iswahjoedi kemudian masuk Vrijwilligers Vliegers Corps (VVC) atau Korps Penerbang Sukarela di Kalijati, Subang. Peserta VVC biasanya harus punya ijazah SMA masa kolonial yang jumlahnya tidak banyak.

  • Sudiro dalam Pergerakan

    KONGRES peleburan organisasi-organisasi pemuda kedaerahan menjadi Indonesia Muda diselenggarakan di Surakarta pada 29 Desember 1930 sampai 2 Januari 1931. Sudiro hadir sebagai wakil dari Jong Java cabang Magelang. Pada malam pembukaan, dia terpikat oleh seorang peserta perempuan. Namanya Siti Djauhari, utusan dari Madiun. Sudiro terpilih menjadi ketua Indonesia Muda cabang Magelang. Kegiatannya merambah ke daerah lain. Dia dan teman-temannya mendirikan Indonesia Muda cabang Purworejo. Di situlah dia pertama kali bersikap dan bertindak sebagai propagandis dan orator, berpidato sampai satu setengah jam. Bersama Indonesia Muda cabang Yogyakarta dan Surakarta, Sudiro menerbitkan majalah Garuda Merapi. Selain itu, dia juga mengadakan kursus buta huruf dan klub debat di Magelang. “Meskipun Sudiro merasa puas, sudah dapat ikut serta menyumbangkan pikirannya dalam pembentukan organisasi Indonesia Muda, namun ingatannya tidak mau juga terlepas dari wajah anak gadis utusan dari Madiun itu,” tulis Soebagijo I.N. dalam Sudiro Pejuang Tanpa Henti.

  • Kapten Marah, Komandan Hilang Kuping

    AKHIR tahun 1963, Letnan Kahardiman ditugaskan oleh Deputi Menteri Panglima Angkatan Udara (DMPAU) Komodor Soeharnoko Harbini untuk pergi ke Salatiga, Jawa Tengah. Di sana Kahardiman akan mendampingi Fransiskus Xaverius Adisusanto alias Toto. Toto diseret ke pengadilan karena menyerempet perwira kavaleri Angkatan Darat ketika sedang belajar mengemudikan mobil. Ketika di Salatiga, Letnan Kahardiman mengunjungi salah satu orang berpengaruh di Salatiga, yakni Komandan KOREM 073/Makutarama Letnan Kolonel Roestamadji Wibowo. Kahardiman menyampaikan keperluannya di Salatiga. Komandan KOREM, meski sama-sama Angkatan Darat dengan perwira kavelari yang diserempet tadi, rupanya juga telah berhubungan baik dengan keluarga Toto. Bahkan KOREM rajin mengirimi beras kepada keluarga Rahayu, Ibu Toto.

  • Api Abadi Pemimpin Revolusi

    RASA lelah dan kantuk langsung lenyap saat saya melihat Che Guevara dari kejauhan. Dia berdiri gagah. Sorot matanya tajam. Raut mukanya, yang dihiasi alis tebal dan jambang lebat, mengguratkan keteguhan sikapnya. Ia mengenakan baret dan seragam militer. Tangan kanannya menggenggam senjata, sementara lengan kiri yang terbalut perban menekuk ke perut. Patung perunggu Che Guevara itu memiliki berat 20 ton dengan tinggi hampir tujuh meter. Sebuah monumen yang menjulang jadi pijakannya. Slogan Che yang terkenal terukir di bagian bawah monumen: Hasta La Victoria Siempre! (Sampai Menang untuk Selamanya!). Ketika saya mendekat, beberapa kuntum bunga segar dari pengunjung bergeletakkan di lantai. Patung Che dan lima monumen, yang dibuat Jose Delarra dengan ukuran dan bentuk berbeda, menjadi pemandangan paling menonjol saat saya memasuki kompleks Museum dan Mausoleum Che Guevara di Santa Clara, ibu kota Provinsi Villa Clara, Kuba.

  • Che Guevara dan Perlawanan di Gaza

    JALUR Gaza, sebuah wilayah sempit yang diapit wilayah Israel di timur dan Laut Mediterania di barat, disesaki pengungsi dan rumahsakit darurat pada 18 Juni 1959. Wajah-wajah prihatin yang didera kelaparan di kamp-kamp pengungsian, hari itu untuk sesaat berubah menggelora seiring kunjungan seorang tokoh revolusioner bernama Ernesto “Che” Guevara. Kunjungan Guevara itu punya makna besar bagi pengungsi untuk terus memberikan perlawanan terhadap zionis Israel. Kendati seruan pembebasan Palestina didengungkan Presiden Indonesia Sukarno di Konferensi Asia Afrika (KAA), menurut Salman Abu Sitta dalam Che Guevara in Gaza: Palestine Becomes a Global Cause, Guevaralah yang mengubah kolonisasi Zionis itu dari konflik kawasan menjadi isu global. “Pemicunya memang Konferensi Bandung (KAA, red.) pada 1955 dan menghasilkan Gerakan Non-Blok, di mana para anggotanya mengguncang dominasi asing (Blok Barat dan Blok Timur). Jalur Gaza menjadi simbol Palestina. Wilayah kecil satu-satunya yang masih mengibarkan bendera Palestina,” ungkap Abu Sitta.

  • Kampanye Cinta Rupiah di Masa Lalu

    MAKIN hari, rupiah kian kian melemah. Hingga awal pekan ini, Senin (8/6/2026), nilai tukar rupiah menukik lagi dengan level 1 dolar Amerika Serikat (AS) senilai Rp18.115. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun mendengungkan untuk lebih cinta menggunakan rupiah di masa seperti ini. Mengutip Kumparan, 6 Juni 2026, Menteri Purbaya menyampaikannya saat melakoni sidak ke Pelabuhan Tanjung Priok. Ia turut mendengarkan keluhan para pelaku usaha soal dolar AS yang digunakan di kawasan pelabuhan untuk beberapa transaksi tertentu. Menteri Purbaya pun menanggapi bahwa secara regulasi, transaksi di wilayah Indonesia mesti menggunakan rupiah. Ia mengaku akan menindak jika ada yang melapor dan kemudian terbukti menggunakan dolar AS. “Transaksi yang dilakukan adalah rupiah, memang. Kalau ada dolar, kita punya penyelewengan. Janganlah. Cinta rupiah. Kita cinta rupiah semua,” cetus Menteri Purbaya.

  • Mengatasi Tawuran dengan Operasi Khusus dan Pesantren Kilat

    TAWURAN pelajar kembali merenggut korban jiwa. Alawy Yusianto Putra (15), siswa SMAN 6 Jakarta, tewas setelah dia dan teman-temannya diserang siswa SMAN 70. Kabarnya, permusuhan kedua SMA yang bertetangga itu telah bebuyutan. Menurut sejarawan Universitas Leiden, Belanda, Kees van Dijk, perkelahian antarpelajar dapat berlangsung bertahun-tahun karena saat memulai tahun pertama bersekolah, para pelajar baru diberi tahu oleh anak-anak yang lebih senior mana saja sekolah yang merupakan musuh mereka. “Permusuhan ini menjadi dendam warisan; kadang-kadang mengakibatkan dua atau tiga perkelahian dalam satu minggu,” tulis Van Dijk dalam Orde Zonder Order. “Beberapa pelajar yang terlibat di dalam keributan seperti ini menganggapnya, semacam olahraga, suatu latihan fisik.”

  • Moestopo vs Hatta di Tengah Pertempuran Surabaya

    AKHIR Oktober 1945. Brigade Infanteri ke-49 Divisi India ke-23 pimpinan Brigadir A.W.S. Mallaby ada di ambang kehancuran. Menurut sejarawan militer Richard McMillan, para veteran Perang Dunia II itu seolah tak berkutik dalam kepungan arek-arek Suroboyo. Hingga hari ke-2 pertempuran), mereka telah membunuh ratusan serdadu Inggris, termasuk 16 perwira di dalamnya. “Karena suatu 'pamer kekuatan', 427 nyawa dari pasukan yang secara keseluruhan memiliki sekira 4.000 prajurit, melayang begitu saja,” ungkap McMillan dalam The British Occupation of Indonesia, 1945-1946. Para pejuang Surabaya itu dipimpin oleh seorang dokter gigi bernama Moestopo. Lelaki kelahiran Kediri pada 13 Juni 1913 itu bukanlah orang sembarangan. Selain pernah menjadi salah satu lulusan terbaik sekolah calon perwira PETA di Bogor, dia juga termasuk daidancho (komandan batalyon) kharismatik di Jawa Timur.

  • Ketika Brigadir Mallaby Bertemu dengan “Menteri Pertahanan RI”

    DUA hari setelah pembacaan Proklamasi, Presiden Sukarno mengumumkan kabinetnya yang pertama. Semua tokoh pejuang yang diangkat oleh presiden sebagai anggota kabinet mengonfirmasi kesediaan mereka kecuali Supriyadi, menteri keamanan rakyat. Hingga batas waktu yang ditetapkan, tokoh pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar itu tak memberikan kabar. Dia hilang bak ditelan bumi. “Banyak yang bilang saat itu Supriyadi sudah dibunuh tentara Jepang. Ya itu bisa saja,” kata sejarawan Rushdy Hoesein. Kekosongan itu diisi oleh pejabat sementara bernama Soeljadikoesoemo. Namun, karena komunikasi saat itu serba sulit, berita pengangkatan tersebut tak diketahui banyak orang. Termasuk oleh para pejuang yang tengah menghadapi pendaratan tentara Inggris di Surabaya.

  • Moestopo Usulkan Gelar Doktor Kehormatan untuk Soeharto

    MANTAN Presiden Republik Indonesia Megawati Sukarnoputri dianugerahi gelar profesor kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut. Gelar doktor kehormatan pernah pula hampir disandang oleh mantan Presiden Soeharto. Ceritanya, saat memperingati Hari Pahlawan yang ke-40, Mayor Jenderal TNI (Pun.) Prof. Dr. Moestopo mengusulkan kepada tiga universitas besar di Indonesia (Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Gajah Mada) untuk memberikan gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) kepada Presiden Soeharto. Pemimpin Pertempuran Surabaya itu menyatakan Soeharto sangat pantas untuk mendapat gelar tersebut mengingat jasa-jasanya di tingkat nasional maupun internasional. Secara nasional, kata Moestopo, Soeharto telah mampu mewujudkan pembangunan di bidang pertanian dan industri. Sedangkan di tingkat internasional, Soeharto merupakan inisiator penanggulangan bencana kelaparan di berbagai belahan dunia lewat Forum Roma yang berlangsung pada 14 November 1985.

  • Kisah Moestopo, Penyandang Gelar Terbanyak

    MEGAWATI Sukarnoputri dianugerahi gelar sebagai profesor kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut. Dengan pengukuhan itu, Megawati menjadi salah satu tokoh Indonesia yang menyandang gelar terbanyak. Namun jauh sebelumnya, ada seorang tokoh yang telah memiliki gelar lebih banyak yakni Moestopo. Dia tercatat setidaknya memiliki 18 gelar. “Kalau kita meminta dia menulis namanya secara lengkap maka tanpa ragu-ragu dia akan menulis: Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan), Profesor, Doktor, OS, ORTH, OPDENT, PROSTH, PEDO/DHE/BIOL./PANC., Bapak Publistik Ilmu Komunikasi, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapal Ilmu Bedah Rahang Indonesia, Penyandang Maha Putera Utama dan Pengawal Pancasila,” tulis Pikiran Rakyat, 20 Februari 1986.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page