Hasil pencarian
9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Komponis dari Betawi
JAUH sebelum daerah Kwitang di Jakarta sesak dengan bangunan rumah, toko, dan gedung perkantoran, di sana pada 1900-an tinggallah sebuah keluarga Betawi berada. Pemiliknya, Marzuki, memiliki bisnis bengkel mobil. Dia tinggal bersama seorang anak lelakinya, Ismail, yang lahir pada 11 Mei 1914 –kelak nama sang ayah melekat pada namanya, menjadi Ismail Marzuki. Istrinya meninggal dunia saat Ismail berusia tiga tahun. Kepiawaian Marzuki dalam urusan kunci inggris dan oli rupanya tak menurun pada anaknya. Sedari kecil, Ismail yang kerap disapa Maing justru menaruh hati pada musik. Dia gemar mendengar alunan merdu dari gramafon milik keluarganya. Saat itu, dia pun mencoba bermain rebana, ukulele, dan gitar seperti kegemaran ayahnya bermain rebana dan kecapi serta handal melantunkan lagu bersyair Islam. Ismail menjalani sekolah formal di HIS Idenburg Menteng, sementara untuk urusan agama di Madrasah Unwanul Wustha. Ismail kemudian melanjutkan pendidikan ke MULO di Jalan Menjangan, Jakarta. Setelah lulus, dia bekerja di Socony Service Station sebagai kasir dengan gaji 30 gulden sebulan.
- Biarkan Batin Melayang
SUATU sore, karena keasyikan bermain petak umpet, S.K. Trimurti kecil pulang begitu malam tiba. Dia berjalan sendirian melalui lorong-lorong kecil dengan pepohonan besar di kiri-kanan jalan. Tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh berdebam. Dia kira buah nangka. Ternyata, sosok hitam kecil yang makin lama makin besar hingga setinggi pohon nangka. Dia lari sekuat tenaga. Ketika membantu ibunya membatik, Trimurti menceritakan pengalaman aneh itu. Saparinten, sang ibu, menjawab: “Itu memang suatu kemampuan yang hanya dimiliki almarhum kakekmu. Ternyata, kemampuan melihat badan halus itu diturunkan kepadamu.” Sejak itu, Trimurti percaya akan kekuatan makhluk halus. Keyakinan itu mendorong minatnya pada soal-soal kebatinan. Minatnya mengendap lama karena kesibukannya dalam politik. Baru pada 1958, dia bisa meluangkan waktu untuk mendalami kebatinan. Dia mengikuti kursus tertulis di Akademi Metafisika Surakarta di bawah pimpinan Dr. R. Parjana Surjadiputra, seorang dokter dan direktur Rumah Sakit Umum Semarang yang juga tokoh aliran kebatinan.
- S.K. Trimurti Menyalakan Api Kartini
BANGUNAN di Jalan Kramat Raya itu tak seberapa besar. Ia terhimpit di antara bangunan lainnya. Pagar besi menjadi pembatas antara jalan dan halaman kecil yang dihiasi tanaman dalam pot. Suasananya cukup tenang, sekalipun terletak tak jauh dari jalan utama yang sibuk. Beberapa perempuan renta, penghuni Panti Jompo Waluya Sejati Abadi, lalu-lalang. Sebagian penghuni panti menyimpan masa lalu yang kelam. Lestari, berusia 78 tahun, berjalan membungkuk. Pada 1967, dia ditangkap tentara dan ditahan selama sebelas tahun karena keikutsertaannya dalam Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang dituding terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Dia masih bersemangat ketika berbicara mengenai Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) maupun Gerwani, nama yang kemudian dipakai. Lestari ikut kongres pertama Gerwis di Surabaya pada 1951, kala usianya masih sekira 21 tahun, dan diangkat menjadi ketua Gerwis cabang Bojonegoro, kota kelahirannya. “Salah satu isu yang diperjuangkan adalah pembatasan usia minimal perkawinan. Gerwis juga membuat TK Melati di tiap kecamatan yang berdiri anak cabangnya. Pemilihan simbol melati karena bunga ini harum namun berpenampilan sederhana dan bisa tumbuh di mana saja. Pembangunan TK ini dibiayai oleh kerelaan anggota dan dana sosial masyarakat,” ujarnya.
- S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno
LUKISAN itu berukuran 100 x 60 centimeter. Presiden Sukarno menyematkan penghargaan Bintang Mahaputra Tingkat III ke dada S.K. Trimurti. Wajahnya datar. Tak ada senyuman menghiasi bibirnya. Sementara Trimurti berusaha menahan diri agar mulut tak terbuka dan tertawa. Bagi Trimurti, kejadian ini lucu sekali. Kala itu hubungannya dengan Sukarno lagi renggang. Gara-garanya Trimurti mengkritik kebiasaan Sukarno yang doyan kawin. Dalam hati dia bertanya: “Bung Karno ini benci apa tidak kepada saya? Kok, selagi saya masih di-jothak (didiamkan), saya diberi bintang. Saya ini sebetulnya termasuk orang yang kurang ajar atau orang yang kelebihan ajar? Entahlah. Tapi ini pengalaman unik.” Hidupnya memang tak bisa lepas dari sosok Sukarno. Setelah melihat langsung pidato Sukarno dalam rapat umum Partindo di Purwokerto tahun 1932, Trimurti masuk Partindo dan sejak itu menjadi kader kesayangan Bung Karno. Hubungan guru-murid ini kemudian terputus ketika pemerintah kolonial menangkap dan membuang Sukarno ke Flores pada Agustus 1933, lalu dipindahkan ke Bengkulu pada 1938 hingga awal pendudukan Jepang. Sementara Trimurti pulang kampung dan melanjutkan perjuangan di Jawa Tengah.
- S.K. Trimurti di Tengah Tokoh Kiri
S.K. TRIMURTI kerap datang ke rumah Ahmad Subardjo, yang sudah jadi menteri luar negeri, di Jalan Cikini Raya untuk meminjam buku. Namun, dalam suatu kunjungan, Subardjo memperkenalkannya dengan seorang lelaki bernama Hussein, yang sejak berada di Jakarta melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh terkemuka Republik. Subardjo kemudian memberitahu nama sebenarnya pada bulan September. Kapan pertemuan pertama terjadi, Trimurti tak ingat. Dia hanya mengatakan, setelah perkenalan itu, dia sempat beberapa kali bertemu lagi dengan Hussein sebelum akhirnya tampil terbuka di muka umum dengan nama sebenarnya: Tan Malaka. Trimurti terkesan dengan kepribadian Tan Malaka. Menurutnya, Tan Malaka seorang manusia bersih, yang menyerahkan segala-galanya untuk cita-citanya, tanpa kepentingan pribadi, dan dengan tak kenal lelah bekerja untuk persatuan. Dia seorang yang jujur, tidak menjelek-jelekkan lawan-lawan politiknya dengan semena-mena melainkan selalu mendorong untuk memikirkan dan menganalisis masalah bersama-sama. Sebagaimana dikutip Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946, Trimurti menyebut, “Beliau seorang intelek, yang bukan termasuk ‘piringan hitam’ yang hanya mengulang-ulang. Dia berani mempertahankan pendapatnya dengan gigih, juga jika harus menghadapi oposisi berat.”
- 14 Februari 1946: Peristiwa Merah-Putih di Manado
DINI hari, 14 Februari 1946, kekuatan gabungan rakyat Manado menyerbu dan mengambil-alih tangsi militer Belanda yang berada di Teling, Manado. Mereka membebaskan pemimpin Republik dari tahanan, menawan perwira Belanda, dan mengibarkan bendera Merah-Putih. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Peristiwa Merah-Putih. Peristiwa Merah-Putih tak bisa dilepaskan dari berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang baru sampai ke telinga rakyat Sulawesi Utara empat hari kemudian. Meski sedikit terlambat, rakyat Sulawesi Utara menyambut dengan sukacita. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Pasukan Belanda atau Netherland Indies Civil Administration (NICA), dengan membonceng tentara Sekutu, tiba dan kembali menguasai Sulawesi Utara. Para pemuda-pejuang, termasuk anggota Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dari Minahasa, yang tergabung pada Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) bereaksi. Mereka menyusun rencana untuk menyerang dan mengambil-alih tangsi militer Belanda. Karena beberapa pemimpin pasukan ditangkap, termasuk Charles Choesj Taulu, rencana penyerangan dialihkan kepada Mambi Runtukahu.
- Eksperimen Penjara Berujung Malapetaka (Bagian I)
SIRINE mobil patroli kepolisian Palo Alto meraung ketika memasuki permukiman di kawasan California, Amerika Serikat, pada Agustus 1971. Sejumlah polisi masuk ke salah satu rumah untuk menangkap seorang pemuda yang dituding terlibat kasus perampokan bersenjata. Kejadian ini sangat mengejutkan, tidak hanya bagi warga, tetapi juga keluarga pemuda yang dikenal sebagai mahasiswa sebuah universitas itu. Pemuda itu tak mengira setelah mendaftarkan diri sebagai subjek penelitian ahli psikologi di Universitas Stanford, akan dimulai dengan proses penangkapan oleh petugas kepolisian. Kejadian ini belum seberapa buruk dibandingkan dengan yang akan dihadapinya ketika eksperimen di penjara. Apa yang terjadi pada pemuda itu juga dialami oleh sepuluh mahasiswa lain yang menjadi subjek penelitian psikolog Amerika Serikat, Philip G. Zimbardo, yang ingin meneliti dampak psikologis terhadap manusia di dalam penjara. Penelitian “Stanford Prison Experiment” itu merupakan salah satu eksperimen paling terkenal dan kontroversial pada 1970-an.
- Kiprah S.K. Trimutri Menteri Bersandal
SUATU malam, di rumahnya di Yogyakarta, S.K. Trimurti kedatangan seorang tamu. Namanya Setiadjit, ketua Partai Buruh Indonesia (PBI). Dia bilang Presiden Sukarno meminta dirinya, Adnan Kapau (AK) Gani, dan Amir Sjarifoeddin untuk menyusun kabinet baru dalam waktu 14 jam. Dan sebagai anggota formatur kabinet, mereka akan membentuk Kementerian Perburuhan. Dia menanyakan apakah Trimurti bersedia mengisi pos itu. Spontan Trimurti menolak. “Saya merasa tidak mampu. Saya belum pernah menjadi menteri.” “Bung Karno juga belum pernah menjadi presiden.” Setiadjit mengingatkan Trimurti soal disiplin partai dan memberikan waktu untuk berpikir semalaman. Rencana pembentukan kabinet tak lepas dari kisruh politik di seputar Persetujuan Linggarjati. Karena dianggap merugikan posisi Indonesia, Kabinet Sjahrir III menuai kecaman, termasuk dari anggota partainya di dalam Sayap Kiri. Sjahrir akhirnya mundur sebagai perdana menteri pada 27 Juni 1947. Awalnya Sukarno menunjuk Amir Sjarifoeddin, Sukiman Wirjosanjoyo, A.K. Gani, dan Setiadjit sebagai formatur untuk membentuk kabinet koalisi tapi gagal karena Masyumi meminta jatah kursi-kursi penting. Sukarno lalu menunjuk Amir Sjarifoeddin, A.K. Gani, dan Setiadjit untuk membentuk kabinet nasional.
- S.K. Trimurti di Tengah Perpecahan
RUMAH di Pakuningratan, Yogyakarta, ini cukup besar tapi masih kosong. Rumah ini pemberian Ny. Sri Mangunsarkoro, salah seorang pendiri dan ketua Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari). Tak kehilangan akal, S.K. Trimurti menyurati kawan-kawan seperjuangannya tentang niatnya membuat kursus kader. Isinya, minta bantuan. Respons pun berdatangan. Sumbangan berupa tikar, bantal, guling, alat dapur, hingga beras mengisi rumah itu. Bangku dan papan tulis dipinjam dari sana-sini. Trimurti pun siap menghelat kursus kader Barisan Buruh Wanita (BBW) seluruh Jawa. Jumlah peserta sekira 30 orang, dengan lama kursus sebulan. “Tentu saja mereka harus mau tidur di bawah, di atas tikar. Padahal, di antara para peserta ada yang datang dari kelompok ningrat, kaum terpelajar yang termasuk orang berada. Tetapi begitulah pejuang; tidak usah manja,” ujar Trimurti dalam biografinya yang ditulis Soebagijo I.N. Para peserta mendapat pelajaran tentang langkah perjuangan. Selain Trimurti, ada pengajar lain yang datang dan membantu tanpa pamrih. Trimurti sangat gembira. Setelah kursus kader berakhir, para siswa pulang, mengemban tugas untuk Republik yang masih muda.
- S.K. Trimurti Bukan Tokoh Kelas Berat
SETELAH beberapa hari menjalani tahanan rumah, S.K. Trimurti mendapat panggilan untuk datang ke penjara Jurnatan, Semarang. Seorang Kenpeitai Jepang bernama Nedaci menginterogasinya. Interogasi tak berjalan lancar karena perbedaan bahasa. “Pokoknya Trimurti mengerti bahwa Jepang mendakwa dia mau melawan Jepang,” tulis Soebagijo I.N dalam S.K. Trimurti, Wanita Pengabdi Bangsa. Trimurti menjawab bahwa dia tak memusuhi Jepang, Belanda, maupun bangsa lain. Yang dimusuhinya hanyalah sikap menjajah dari bangsa-bangsa itu. Jika Jepang datang untuk menjalin persaudaraan, dia akan menyambutnya dengan baik. Tapi kalau mereka datang untuk menjajah, dia akan melawan. Mendengar jawaban Trimurti, Nedaci memelototkan mata sembari menyemburkan sumpah serapah. Dia lalu berdiri dan duduk di bangku sebelah Trimurti. Trimurti melirik. Nedaci mengambil pentungan karet di meja dan memukul kepalanya berkali-kali. “Pada saat-saat tertentu dia sudah tidak merasakan sakit lagi,” tulis Soebagijo I.N.
- S.K. Trimurti Bergerak
DI TENGAH kuburan Cina di Wonodri, Semarang, di bawah terang bulan, mereka mengetik atau mencetak pamflet dengan menggunakan agar-agar, “karena tak ada percetakan yang mau mencetak,” ujar S.K. Trimurti kepada Erwiza Erman. Selesai, pamflet dibungkus kain lalu disimpan. Keesokan harinya, dua polisi rahasia Belanda (PID) datang dan menemukan pamflet itu. Trimurti dan Sutarni digelandang ke kantor polisi. Dalam pemeriksaan, Trimurti mengaku sebagai pembuat pamflet itu, sehingga Sutarni dibebaskan. Setelah menjalani persidangan, untuk kali pertama Trimurti merasakan dinginnya penjara. Pada 1936, dia ditahan sembilan bulan di penjara wanita di Bulu, Semarang. Sementara Sutarni tetap menjalankan Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI).
- Gadis Berlawan dari Sawahan
SEBAGAI perempuan, sedari kecil, Surastri Karma Trimurti mendapat petuah dari orangtuanya bahwa perempuan, mau tak mau, pada akhirnya akan menjadi seorang istri. Seorang istri harus setia dan patuh, apa pun yang dilakukan sang suami. Trimurti menerjemahkannya bahwa perempuan mesti pandai marak, macak, masak, dan manak. “Marak, artinya menghadap, mengabdi kepada suami. Macak, berarti menghias diri, masak, mengolah dan menyediakan makanan dengan baik, sedang manak adalah melahirkan anak. Ketika petuah-petuah semacam itu meluncur dengan derasnya ke telinga saya, saya masih terlalu kecil untuk membantah,” tulis Trimurti dalam memoarnya, “Dari Politik ke Kebatinan” yang dimuat majalah Tempo, 21 April 1990. Lahir dengan nama Surastri pada 11 Mei 1912 di Sawahan, Boyolali, Trimurti tumbuh di kala kesadaran perempuan mulai meningkat. Di Jakarta sudah berdiri organisasi perempuan pertama Poeteri Mardika yang bertujuan meningkatkan derajat perempuan, yang lalu diikuti perkumpulan serupa di sejumlah daerah. Gagasan kemajuan perempuan juga meluas. Namun, kungkungan adat dan pandangan kolot belum sepenuhnya hilang.





















