Hasil pencarian
Search this site
9997 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Just Mercy, Tiada Kata Terlambat untuk Keadilan
LANGIT mulai temaram saat Walter ‘Johnny D’ McMillian (diperankan Jamie Foxx) berkendara di sebuah jalan sepi di Monroeville, Alabama pada suatu petang di bulan Juni 1987. Perjalanan pulang itu dinikmatinya sambil menghayati lagu “Ode to Billie Joe” yang ditembangkan Martha Reeves & the Vandellas dari radio. Namun, tiba-tiba mobilnya dicegat aparat Kepolisian Monroe County. Johnny diciduk begitu saja tanpa dijelaskan kesalahannya, lalu dijebloskan ke penjara. Kenyataan pahit kemudian menghampiri pengusaha pengolahan kayu berkulit hitam itu. Ia didakwa membunuh gadis kulit putih berusia 18 tahun, Ronda Morrison, pada 1 November 1986. Pengadilan distrik memvonis Johnny bersalah walau tanpa bukti. Hakim menghukum mati Johnny sekadar berdasarkan kesaksian amat meragukan dari residivis Ralph Myers (Tim Blake Nelson). Johnny pun dijebloskan ke Lapas Holman dan masuk daftar “death row” alias menunggu waktu eksekusi yang belum ditentukan.
- Indonesia Belajar Pemilu ke Australia dan India
RENCANA menyelenggarakan pemilu nasional telah diumumkan pada 5 Oktober 1945, tak lama setelah Indonesia merdeka. Di tengah perang kemerdekaan, pemilu dalam lingkup daerah berhasil digelar di Keresidenan Kediri dan Surakarta pada 1946. Undang-undang pemilu pun telah disusun sejak tahun 1948. Namun, pemilu nasional belum kunjung dilaksanakan. Memasuki tahun 1950-an, menurut Herbert Feith dalam Pemilihan Umum 1955 di Indonesia, janji-janji penyelenggaraan pemilu nasional kerap digaungkan oleh berbagai kabinet. Sayangnya, langkah-langkah nyata untuk menyelenggarakan pemilu terhambat oleh sejumlah faktor, salah satunya gerakan menentang pemilu yang dilancarkan oleh sejumlah partai dan kelompok-kelompok anggota parlemen sementara. Kabinet Sukiman-Suwirjo kemudian menyelenggarakan pemilu lokal dengan sistem pemilihan berbeda-beda. Pemilu langsung di Sangir Talaud dan Minahasa pada Juni 1951, pemilu tidak langsung di Yogyakarta pada Agustus dan Oktober 1951, serta di Makassar pada Februari 1952.
- Harta Berdarah Indian Osage dalam Killers of the Flower Moon
KOTA kecil Fairfax, Pawhuska, Hominy, dan Gray Horse di Osage County, negara bagian Oklahoma tak seperti kota-kota Amerika Serikat pada umumnya. Di kota-kota ini, para penduduk etnis pribumi Osage menjadi tuan di tanah mereka sendiri yang kaya minyak. Pemandangan “orang-orang kulit merah” nan tajir itu sangat tak familiar di mata veteran Perang Dunia I, Ernest Burkhart (diperankan Leonardo DiCaprio), kala tiba di Fairfax pada 1919. Orang-orang etnis Osage menjadi kaya mendadak lantaran ladang minyak banyak ditemukan pada awal abad ke-20 dan tanah mereka banyak disewa perusahaan minyak. Sementara, orang kulit putih kebanyakan justru jadi pekerja kelas menengah seperti sopir, asisten rumah tangga, atau pekerja pengeboran minyak. Penggambaran itu begitu jelas tersaji di pembuka film drama kriminal Killers of the Flower Moon garapan sutradara kondang Martin Scorsese. Hanya beberapa keluarga kulit putih yang menjadi pengecualian. Salah satunya William “King” Hale (Robert De Niro), paman Ernest. King bukan hanya pemilik peternakan sapi tapi juga wakil sheriff wilayah Fairfax sekaligus tokoh yang dikenal baik oleh dewan suku Osage. King pula yang “menampung” Ernest untuk berbaur lagi dengan kehidupan sipil serta kakak Ernest, Byron Burkhart (Scott Shepherd).
- Menara Sukarno di Pakistan
MONUMEN di kota Larkana, Sindh, Pakistan itu mudah dikenali. Selain bentuknya lebih tinggi dibanding bangunan lain, posisi monumen tersebut tepat berada di tengah jalan utama kota. Setiap waktu kendaraan lalu-lalang melewatinya. Memang monumen tampak tidak biasa: terdiri dari tiga buah balok yang ditopang oleh sebuah pilar besar, dengan masing-masing mendapat tambahan pilar lain. Tiap-tiap pilar balok memiliki tinggi yang berbeda-beda. Ketebalan pilar utama hampir dua meter, didominasi warna putih, dan kokoh menjulang setinggi lebih kurang 10 meter pada titik puncaknya. Itulah Sukarno Tower (Menara Sukarno). Dikutip laman resmi Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Karachi, Republik Islam Pakistan, pembangunan Sukarno Tower dilakukan setelah kunjungan Presiden pertama RI itu ke Pakistan pada 1963. Sementara peresmiannya sendiri dilakukan pada 1972 oleh Perdana Menteri Zulfikat Ali Bhutto.
- Petualangan Hiu Kencana di Pakistan
SURABAYA, JANUARI 1966. Letnan Satu Budi Handoko tetiba mendapat perintah untuk bersiap menyelam. Dikatakan kepada awak kapal selam Korps Hiu Kencana Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) itu bahwa dirinya akan bertugas selama 3 bulan. “Waktu itu belum dikasih tahu mau ditugaskan kemana, hanya diperintahkan untuk menyiapkan pakaian saja,” kenangnya. Dengan kapal selam RI Nagaransang yang dikomandani oleh Kapten (P) Basoeki, Budi kemudian bergerak menuju Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Bersama RI Nagaransang, ikut pula kapal selam RI Bramastra (dikomandani oleh Kapten Jasin Soedirdjo). Setelah mengisi logistik di lepas pantai Jakarta, dua kapal selam jenis Whiskey buatan Uni Sovyet itu meluncur ke arah Samudera Indonesia.
- Wisata Sejarah dan Berburu Benda Antik di Waterloo
KAWASAN Waterloo dekat Brussel, ibu kota Belgia, menjadi saksi fenomena mengunjungi tempat bersejarah dan antusiasme masyarakat berburu benda antik. Ribuan orang dari berbagai negara Eropa datang ke sana setiap tahun, untuk melihat langsung lokasi pertempuran yang berujung kekalahan Napoleon Bonaparte tahun 1815. Kesuksesan pasukan sekutu, gabungan berbagai prajurit dari Inggris, Belanda, Belgia, dan Jerman, dalam menundukkan Napoleon, segera disusul oleh wisatawan Inggris yang hendak melihat langsung lokasi pertempuran bersejarah tersebut. Kemenangan pasukan Inggris diabadikan menjadi mitos nasional, tak heran bila Waterloo menjadi tujuan wisata wajib paling populer sepanjang abad ke-19. Para pelancong berduyun-duyun, dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, menelusuri jejak-jejak yang ditinggalkan Napoleon di Eropa. “Kapal-kapal berlayar setiap hari, dipenuhi para pria dan wanita terkemuka dengan penampilan modis... yang pergi bukan sekadar ke medan perang, melainkan untuk melakukan perjalanan wisata yang trendi. Bahkan, bagi mereka yang tidak memiliki biaya untuk melakukan perjalanan itu, sejarah tetap dibawa ke hadapan mereka, di mana kereta kuda Napoleon dibawa berkeliling dari London ke Edinburgh,” tulis Amelia Soth dalam “Souvenir Hunting on the Battlefield of Waterloo,” termuat di JSTOR, 20 Januari 2026. Tokoh-tokoh seni dan sastra terkemuka paling antusias dalam mempopulerkan tren mengunjungi lokasi pertempuran Waterloo. Mereka mendatangi titik-titik yang menyimpan jejak peristiwa pertempuran bersejarah itu, dan mengabadikannya dalam puisi, prosa, dan lukisan. Di Waterloo, para wisatawan yang antusias berhadapan dengan sisa-sisa pertempuran yang mengerikan. Mereka mencari landmark yang menjadi saksi perjuangan pahlawan nasionalnya. Jolien Gijbels mencatat dalam “Tangible Memories: Waterloo Relics in the Nineteenth Century”, termuat di The Rijksmuseum Bulletin, Vol. 63, No. 3, 2015, terdapat perbedaan nasional yang mencolok dalam cara para wisatawan memaknai masa lalu. Politik peringatan di negara asal mereka, yang tercermin dalam berbagai gambaran yang diciptakan tentang peristiwa tersebut, memengaruhi sikap para wisatawan terhadap lokasi pertempuran. Menang Kalah ke Waterloo Meskipun Waterloo memainkan peran dalam kesadaran nasional semua negara yang terlibat dalam perang itu, intensitas peringatan dan pentingnya pertempuran bervariasi sesuai dengan situasi politik. Di Britania Raya dan Kerajaan Belanda, kenangan akan pertempuran berkontribusi terhadap pembentukan identitas nasional. Pada 1815, negara Britania Raya mulai membangun Kekaisaran Britania yang besar. Ambisi negara adidaya yang sedang naik daun itu tercermin dalam mitologisasi Waterloo dan kepahlawanan para komandan militer terkemuka seperti Wellington. Sedangkan bagi pihak Belanda, pertempuran Waterloo berfungsi sebagai mitos pendirian bagi negara yang baru saja terbentuk. Menariknya, para pelancong yang mengunjungi Waterloo tidak hanya dari pihak yang menang, tetapi juga orang Prancis sebagai pihak yang kalah. Dalam ingatan bangsa Prancis, pertempuran itu tercatat dalam sejarah sebagai kekalahan telak. Oleh sebab itu, orang Prancis memandang kunjungan ke Waterloo sebagai ziarah yang melankolis untuk mengakui masa lalu traumatis yang belum mereka terima sepenuhnya. “Pengalaman para wisatawan individu mencerminkan kesadaran nasional negara asal mereka. Orang-orang yang merasakan emosi paling intens berasal dari negara-negara di mana kenangan tentang Waterloo merupakan faktor penting dalam membentuk identitas nasional... Para wisatawan tidak hanya menafsirkan medan pertempuran dalam kerangka narasi nasional, tetapi juga bersikap layaknya patriot di medan pertempuran tersebut. Mereka meninggalkan tulisan pribadi di dinding-dinding objek wisata yang biasa dikunjungi,” tulis Gijbels. Ketika itu lokasi kuburan massal juga terlihat jelas. Mayat-mayat ditimbun dengan tanah secara tergesa-gesa sehingga terbentuk gundukan-gundukan kecil. Bertahun-tahun kemudian, kegiatan membajak tanah masih sering mengungkap kerangka manusia. Pada 1822, Willem Gerard de Bas tanpa sengaja menemukan jenazah tentara Prancis, lengkap dengan pakaian dan sepatu, yang telah digali oleh petani. Pertemuan dengan jejak kematian dan kehancuran di mana-mana memicu emosi hingga reaksi fisik di kalangan banyak orang. Minat terhadap peninggalan militer juga sangat besar. Ladang-ladang Waterloo dipenuhi bukti-bukti pertempuran. Pada beberapa bulan pertama, para pengunjung dapat mengambil berbagai macam barang milik para prajurit yang tewas. Para petani setempat juga kemudian menjual barang-barang tersebut. “Perdagangan peninggalan ini, ditambah dengan perkembangan lain seperti pendirian monumen, pembentukan ruang museum di bangunan-bangunan yang pernah memiliki fungsi penting selama pertempuran, serta kehadiran pemandu untuk menemani pengunjung, merupakan bukti komersialisasi awal medan pertempuran tersebut,” tulis Gijbels. Buah Tangan dari Waterloo Fenomena membawa kenang-kenangan dari lokasi pertempuran Waterloo juga terlihat di lokasi berdirinya “Pohon Wellington”. Penyebutan tersebut karena Duke of Wellington, yang memimpin pasukan gabungan tentara sekutu, berdiri di pohon itu ketika pertempuran Waterloo berlangsung. Peran Wellington yang patriotik menyebabkan para pelancong membawa pulang buah tangan dari pohon itu. Stuart Semmel mencatat dalam “Reading the Tangible Past: British Tourism, Collecting, and Memory after Waterloo”, termuat di Representations No. 69, Special Issue: Grounds for Remembering tahun 2000, ketika John Scott, editor majalah mingguan The Champion, mengunjungi kawasan tersebut pada Juli 1815, peluru meriam dan peluru senapan yang menancap di pohon telah dicabut sebagai kenang-kenangan. Tak sedikit juga yang mengambil cabang pohon itu untuk dibawa pulang. Apa yang terjadi pada “Pohon Wellington” menggambarkan keterkaitan antara tren mengunjungi tempat bersejarah dengan antusiasme para wisatawan untuk mengoleksi artefak dari Waterloo. Penyair Eaton Stannard Barrett mengaku mengenal seorang pria terhormat yang membawa pulang jempol asli beserta kukunya dari perjalanan wisata ke Waterloo. Buah tangan tersebut disimpan di dalam botol gin. John Scott sendiri menemukan peluru Inggris seberat dua belas pon di Waterloo dan membawanya berkeliling. Bahkan, Scott membawa pulang baju zirah dan rampasan perang lain dari lokasi pertempuran tersebut. Permintaan akan suvenir mengubah perekonomian di sekitar Waterloo. Menurut Soth, pada 1830-an beredar rumor mengenai produksi massal artefak terkait pertempuran Waterloo. Barang-barang itu dibawa ke Waterloo untuk ditanam, lalu digali kembali dan dijual dengan harga tinggi sebagai kenang-kenangan dari lokasi pertempuran bersejarah itu. “Dalam lingkungan seperti ini, keaslian medan pertempuran yang masih utuh, yang dulu membuat para pengunjung awal takjub, tidak bisa bertahan lama. Sebuah kapel di lokasi perang begitu sering dicoret-coret dengan nama-nama pengunjung sehingga harus dicat putih seluruhnya setiap lima tahun sekali. Pohon Elm Waterloo, di mana di bawah naungannya Duke of Wellington merencanakan strategi, lalu selamat dari pertempuran dan menjadi simbol harapan yang abadi, pada akhirnya ditebang pada 1830 dan diubah menjadi kotak tembakau serta kotak tusuk gigi,” tulis Soth.*
- Kisah Garda Bahari di Awal Revolusi
KETIKA berpidato menyambut HUT TNI AL ke-74 pada Selasa, 10 September 2019, KSAL Laksamana Siwi Adji menekankan fakta historis bahwa TNI AL berembrio dari kekuatan rakyat. “Bersama rakyat, TNI AL siap membangun SDM unggul, pondasi Indonesia Maju,” ujar Laksamana Adji di dermaga Koarmada I Pondok Dayung, Jakarta Utara. Eksisnya TNI AL, 10 September 1945, berangkat dari lahirnya Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut. Sejalan dengan pembentukan tentara resmi oleh pemerintah, nama itu pun selanjutnya berubah secara berurutan menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Laut, Tentara Republik Indonesia (TRI) Laut, Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dan terakhir TNI AL. Ia merupakan badan perjuangan yang diisi para pelaut yang digembleng sejak zaman Belanda, Jepang, ditambah para pemuda dan buruh pelabuhan di kota-kota pesisir. “Selama 74 tahun TNI Angkatan Laut menunjukkan jati dirinya sebagai komponen pertahanan negara yang tangguh di tengah perubahan lingkungan strategis yang kian dinamis,” lanjut Adji dalam amanatnya selaku inspektur upacara.
- Penyambung Lidah Sukarno dari UI
DI KALANGAN mahasiswa angkatan 1980-an, mempelajari pemikiran Bung Karno merupakan perbuatan tabu. Setidaknya hal itulah yang dialami Hilmar Farid yang kini menjabat Dirjen Kebudayaan. Pria yang akrab disapa Fay ini masuk Universitas Indonesia (UI) pada 1987 dan memilih jurusan Ilmu Sejarah. “Itu pada puncak-puncaknya kekuasaan Orde Baru yang tentu kita tahu dilakukan Desukarnoisasi secara TSM (terstruktur, sistematis, dan masif),” kata Hilmar saat membuka seminar mengenang Peter Kasenda bertajuk “Bung Karno Sebagai Pewaris Zamannya” di Galeri Museum, Menteng, Jakarta Pusat, 27 Juni 2019. Pun ketika di bangku SMA, lanjut Hilmar, dia tidak pernah mendengar soal ide kebangsaan Sukarno dan Marhanisme diajarkan. Apalagi mendengar soal gagasan Trisakti –yang dikemukakan Sukarno pada 1964- dijadikan sebagai suatu landasan pembangunan.
- Perang Saudara di Tapanuli
SEPASUKAN tidak dikenal menyerang markas Batalion I TNI dari Brigade XI di Padang Sidempuan. Dalam penyergapan itu, pasukan Batalion I dilucuti. Komandan Batalion I Kapten Koima Hasibuan bersama ajudannya tewas terbunuh. “Sebuah ‘revolusi sosial’ telah pecah di Tapanuli akhir-akhir ini. Laskar rakyat memberontak melawan TNI dan pemerintah Republik pada tanggal 10 September,” demikian diberitakan koran berbahasa Belanda, Het Nieuwsblad voor Sumatra, 17 September 1948. Aksi penyergapan itu diikuti dengan penangkapan sejumlah petinggi Republik setempat. Baik tokoh sipil maupun militer yang berjumlah total 39 orang diangkut ke truk untuk dibawa ke tempat penahanan.
- Melawan Sumber Bermasalah
SEJARAH 1965 adalah sejarah yang masih bermasalah. Akibatnya kebanyakan orang hanya mengingat, bahkan hanya membesar-besarkan kematian para jenderal Angkatan Darat (AD) tanpa menghiraukan kematian atau penderitaan jutaan orang yang dikambinghitamkan tanpa pengadilan pasca-kematian para jenderal tersebut. Mereka yang dikambinghitamkan dituduh bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI), padahal mereka bukan anggotanya dan tak paham apa itu marxisme. Mereka dituduh G30S/PKI walau bukan anggota PKI dan tidak pernah terlibat dalam kematian para jenderal tersebut. Sepanjang masa kekuasaan Orde Baru, narasi tentang PKI sebagai pelaku G30S dan anti-Tuhan terus didengungkan. Fakta banyak anggota PKI yang shalat ataupun ke gereja dikubur dalam-dalam. Para pelaku penculikan yang kemudian berujung pada kematian para jenderal tersebut, mayoritas berasal dari Angkatan Darat. Perwira yang menjadi komandan G30S bahkan sama-sama pernah bertugas di Jawa Tengah seperti Letnan Jenderal Ahmad Yani dan ironisnya, di batalyon yang didirikan Yani yang menjadi korban gerakan tersebut. Narasi Orde Baru kerap menyebut para perwira yang menculik itu adalah bagian dari PKI yang disusupkan ke AD.
- Orang Wana Melawan Belanda
PAJAK merupakan isu penting dan sensitif. Sejak dulu, setiap isu kenaikan pajak berembus, selalu ada pihak yang menentangnya. Bahkan, pertumpahan darah kerap terjadi di masa lalu akibat perlawanan terhadap kenaikan atau penerapan pajak oleh pemerintah. Salah satu perlawanan terhadap pajak dilakukan oleh orang-orang etnis Wana. Suku Wana merupakan etnis yang menetap di sebuah distrik di Bungku Utara yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Bungku (kini termasuk Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah). “Mereka adalah etnis terasing atau Komunitas Adat Terpencil (KAT). Wana dapat diartikan hulu, udik, atau hutan. Cara hidup mereka masih sangat sederhana dan sebagian ada yang masih hidup mengembara di hutan-hutan tetapi sebagian dari mereka sudah bergaul dengan masyarakat pantai dan sudah memeluk agama Kristen dan atau agama Islam,” catat Syakir Mahid dkk. dalam Sejarah Kerajaan Bungku.
- Orang Toraja dan Luwu Melawan Belanda
SETELAH Pong Tiku dihabisi di tepi Sungai Saddang pada bulan Juni 1907, masih ada orang Toraja yang melawan Belanda. Pada 1915, orang-orang Toraja di bawah pimpinan Pong Simpi melawan Belanda lagi. Pong Simpi, disebut Koloniaal Verslag van 1916 I Nederlandsch Oost Indie, sebagai pemimpin komplotan atau pemimpin geng. Mendapati kondisi tersebut, patroli militer tentara Hindia Belanda Koninklijk Nederlandsch Indisch Lager (KNIL) beserta polisi bersenjata, yang dipimpin seorang sersan Eropa, lalu bergerak dari Palopo mengejar mereka. Para polisi itu berhasil menemukan anggota kelompok Pong Simpi awal Mei 1915 dan langsung menembaki. Pong Simpi berhasil lolos. Tak hanya Pong Simpi, Pong Timbang dan Pong Toddoe juga ikut melawan pemerintah kolonial. Api perlawanan itu sudah mencapai daerah Laromping dan Suli pada bulan Juni 1915.





















