Hasil pencarian
9727 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah di Balik Bandung Lautan Api
KAMIS, 21 Maret 1946. Sebuah Dakota milik RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) melayang-layang di atas Kota Bandung. Alih-alih melemparkan bom, justru pesawat angkut tersebut menurunkan ribuan lembar kertas. Isinya: Para ekstrimis Indonesia harus mengosongkan Bandung selambat-lambatnya pada 24 Maret 1946, jam 24.00 dan mundur sejauh 11 km dari tanda kilometer nol. Asikin Rachman sedang di wilayah Cicadas saat kertas-kertas itu berhamburan dari udara. Betapa terkejutnya pejuang dari Lasykar Hizboellah tersebut ketika membaca tulisan yang tertera di dalamnya. Giginya gemeretak, darahnya mendidih. “Kami ini dianggap apa sama Inggris? Tanah, tanah kami sendiri. Negeri, negeri kami sendiri. Mengapa harus ikut perintah mereka?” ujar lelaki yang kini berusia 93 tahun itu.
- Sebelum Bandung Jadi Lautan Api
AWAL 1946. Divisi ke-23 British Indian Army sudah nyaris menguasai setiap sudut Bandung. Namun demikian, nyatanya kekacauan masih meliputi kota tersebut. Bentrok antara tentara Inggris dengan kaum nasionalis Indonesia alih-alih melemah malah semakin sporadis di mana. Bahkan sudah melibatkan rakyat sipil. Sebagai respon terjadinya pembersihan-pembersihan yang dilakukan tentara Inggris, pada Februari 1946, para pejuang Bandung mengirimkan tembakan-tembakan mortir dari wilayah Bandung Selatan dan Lembang ke arah Bandung Utara. “Karena dilakukan secara serampangan tanpa alat pembidik, kompas dan peta yang mumpuni, peluru-peluru mortir itu malah mengena sasaran-sasaran sipil dan rumah orang-orang Belanda di kawasan Jaarbeurs dan kamp interniran di Jalan Riau hingga menimbulkan korban jiwa yang tak sedikit,” ungkap A.H. Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1: Kenangan Masa Muda .
- When the Bader Fish Eats Coconut Flowers
THE SCORCHING sun burned his nape as he walked along the rice fields towards a reservoir. With one hand carrying a hat, the man pointed to a side of the reservoir where his village, Guyuban, used to exist. Guyuban was one of the 37 hamlets that were flooded in order for the Kedung Ombo Reservoir mega project to succeed. "Here is all of the villages (used to be), but now it's all water," said Djaswadi, aged 80. Everyone in Kedungmulyo and Kedungrejo Hamlet in Kemusu District, Boyolali Regency knows who Djaswadi is, as the two hamlets came into existence because of his struggle 30 years ago. Djaswadi's fingers are always trembling, the Javanese call it buyuten . His steps are small and hesitant, his stammering voice is weak. When he talks about his resistance to the construction of the Kedung Ombo Reservoir in the 1980s, his voice turns fiery.
- Ketika Ikan Bader Memakan Bunga Kelapa
LAKI-LAKI yang tengkuknya terbakar terik matahari itu berjalan pada pematang sawah menuju ke pinggiran waduk. Sambil menenteng caping, ia menunjuk ke bagian waduk tempat dusunnya dulu berada, Guyuban. Satu dari 37 dusun yang ditenggelamkan untuk proyek raksasa Waduk Kedung Ombo. “Jadi ini (dulu) kampung-kampung semua, tempat air ini,” kata Jaswadi, laki-laki berusia 80 tahun itu. Jika kamu mengunjungi Dusun Kedungmulyo dan Kedungrejo di Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, tak ada orang yang tak mengenal Jaswadi. Dua dusun ini dibangun atas perjuangannya sekitar 30 tahun lalu. Jari Jaswadi selalu bergetar. Orang Jawa bilang buyuten . Langkahnya kecil dan tak pasti. Suaranya lemah terbata-bata. Tapi ketika bercerita tentang perlawanannya terhadap pembangunan Waduk Kedung Ombo pada dekade 1980, suaranya berubah.
- Tugu Pak Sakerah dan Wali Kota Surabaya dari PKI
ALUN-ALUN contong berada tak jauh dari pertemuan Jalan Pahlawan dan Jalan Kramat Gantung, Surabaya, sekitar 600 meter dari Tugu Pahlawan. Kini, kawasan ini lebih dikenal dengan daerah Baliwerti. Alun-alun contong dibentuk pada abad ke-19, saat bangunan kampung dikorbankan untuk membangun terusan Jalan Gemblongan ke arah utara sebagai tembusan dengan ujung selatan Pasar Besar (kini Jalan Pahlawan). Nama contong diambil dari tugu berbentuk kerucut atau contong yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Namun, ada juga yang menyebut karena denah tanahnya berbentuk kerucut. Menurut Olivier Johannes Raap dalam Kota di Djawa Tempo Doeloe, pada 1889, lapangan ini diberi nama Von Bultzingslowenplein, diambil dari nama Gunther von Bultzingslowen (1839-1889), mantan konsul Jerman di Surabaya. Ia berjasa terhadap Palang Merah Belanda dalam Perang Aceh I (1878-1874).
- Busung Lapar di Tanah Subur
HINGGA pertengahan dekade 1950-an, wilayah Banyumas Selatan dikenal sebagai salah satu daerah lumbung padi yang menopang kebutuhan pangan bagi berbagai daerah di Jawa Tengah. Namun ironisnya, terdapat laporan yang menyebutkan ratusan orang kurang makan di Karesidenan Banyumas. Angka kematian bahkan lebih tinggi dibandingkan angka kelahiran. Beberapa surat kabar nasional pun memberitakan problema tersebut. Indonesia Raya edisi 14 Maret 1957 memberitakan, 600 orang di Karesidenan Banyumas kekurangan pangan. Dari angka tersebut terdapat 460 orang yang dirawat, sedangkan jumlah rumah sakit darurat di karesidenan hanya ada 19 buah. Harian Antara tanggal 10 Juli 1957 dan PIA Semarang tanggal 16 Juli 1957 pun memperingatkan mengenai bahaya kelaparan yang mengancam daerah Jawa Tengah, utamanya Karesidenan Banyumas. Hal tersebut menarik perhatian anggota DPR dari Fraksi Partai Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Muslich. Setelah membaca laporan Antara dan PIA Semarang , Muslich mempertanyakan permasalahan tersebut. Sebagai anggota DPR, Muslich memiliki hak interpelasi kepada pemerintah sesuai Pasal 69 Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS 1950).
- Murba Dukung Demokrasi Terpimpin, Tan Malaka Jadi Pahlawan Nasional
PRESIDEN Sukarno mengangkat dua tokoh kiri yang kontroversial tapi berseberangan ideologi, Tan Malaka dan Alimin Prawirodirdjo, sebagai Pahlawan Nasional. Kebijakan ini dianggap memenuhi penyatuan ideologi Nasakom sekalipun Sukarno melabrak prosedur. Pada 23 Maret 1963, Sukarno mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) No. 53/1963. Pengangkatan ini sesuai dengan tuntutan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), yang didirikan Tan Malaka, dalam dua kesempatan: peringatan hilangnya Tan Malaka ke-14 di Jakarta pada Februari 1963 dan konferensi Partai Murba di Balikpapan pada 15 Maret 1963.
- Penjaga Alexandria yang Menolak Tunduk pada Napoleon
SITUASI geopolitik di Eropa pada pengujung abad ke-18 turut berpengaruh ke Afrika Utara, bahkan Nusantara. Revolusi di Prancis yang berujung pada lahirnya Republik Prancis Pertama (1792), dimanfaatkan perwira militer jenius dan berdarah dingin Napoleon Bonaparte untuk memperluas ekspansi secara tidak langsung ke Jawa dan “menyenggol” wilayah Kekhalifahan Turki Utsmani di Mesir. Bergolaknya Eropa sejurus Napoleon melancarkan Perang Revolusi Prancis (1792-1802), berimbas ke Hindia Timur (kini Indonesia). Masa itu bertepatan dengan kondisi Kongsi Dagang Hindia Timur VOC berada di pengujung kebangkrutan akibat kekalahan Republik Belanda dari Inggris dalam Perang Inggris-Belanda Keempat (1780-1784). “Kerapuhan VOC sudah tampak nyata ketika terjadi Perang Inggris-Belanda Keempat. Upaya membendung Inggris dengan inisiatif-inisiatif baru dalam hal pertahanan VOC tak bisa diwujudkan akibat guncangan geopolitik seiring Revolusi Prancis 1798,” tulis Gerrit Knapp dalam Genesis and Nemesis of the First Dutch Colonial Empire in Asia and South Africa, 1596-1811. Kondisinya diperparah oleh Revolusi Batavia (1781-1795) di negeri Belanda yang menumbangkan Republik Belanda dan digantikan Republik Batavia yang pro-Prancis. Republik Batavia jadi salah satu negeri “satelit” Prancis yang praktis seluruh wilayahnya secara tidak langsung berada di bawah Napoleon. VOC sendiri dibubarkan pada 1799 dan wilayah Hindia Timur langsung dipegang “pusat” di negeri Belanda. “Lalu Traktat Campo Formio yang ditandatangani pada 1797 oleh Napoleon Bonaparte dan penguasa Austria (Dinasti Hapsburg, red. ) Pangeran Philip von Cobenzl, membuat Italia Utara dipecah-pecah jadi republik-republik (di bawah Prancis), sementara Belanda juga diserahkan ke tangan Prancis. Ini membuat Koalisi Pertama tumbang, menyisakan Inggris yang hanya sendirian melawan Republik Prancis,” ungkap Ali Humayun Akhtar dalam Italy and the Islamic World. Ilustrasi pendaratan armada Napoleon di Alexandria (Musée de la Révolution Française) Alexandria Pantang Mengibarkan Bendera Putih Sekitar 300 kapal angkut dan 13 kapal perang dikumpulkan Napoleon di Toulon menjelang ekspedisinya ke Mesir. Total ia menghimpun pasukan lebih dari 38 ribu prajurit, baik irfateri, kavaleri, para awak meriam, hingga seniman dan peneliti. Ia juga membawa 100 meriam artileri medan hingga artileri benteng. Untuk menghindari Inggris, armada Napoleon yang berangkat dari Toulon pada 19 Mei 1798, menyusuri rute Provence, Corsica, dan Genoa. Sempat transit dan menguasai Malta, pasukan Napoleon lalu berangkat lagi menuju Alexandria di akhir Juni setelah tahu armada Inggris pimpinan Laksamana Horatio Nelson sudah bertolak dari kota pelabuhan yang dijuluki “Mutiara Mediterania” itu. “Matahari bersinar cerah pada pagi 1 Juli namun awan gelap juga terlihat. Frigat Junon yang jadi pengintai memberi kabar bahwa 14 kapal Inggris sudah meninggalkan Alexandria. Meski diketahui pula Alexandria bersiap untuk memberi perlawanan,” tulis Jonathan North dalam Napoleon’s Invasion of Egypt: An Eyewitness Story. Namun, perlawanan baru ditemui Napoleon di darat, utamanya dari dalam tembok kota. Armada Napoleon mendarat pada 1-2 Juli 1798 dengan sebagian kecil pasukannya. Untuk merebut Alexandria, Napoleon mempercayakannya pada Jenderal Jean-Baptiste Kléber yang membawahi sekitar 5.000 serdadu. Sedangkan di Alexandria sendiri, hanya terdapat sekira 500 prajurit gabungan Mamluk dan Turki Utsmani yang dipimpin langsung gubernurnya, Muhammad Kurayyim (beberapa sumber menyebut Muhammad Karim atau Muhammad Elsayid Kuraim). “Pasukan Prancis memposisikan meriam-meriamnya di pesisir mengepung Alexandria. Pada pukul 3 dini hari (2 Juli), General Kléber, (Jenderal Louis André) Bon dan Jean Menou masing-masing membawahi 430 prajurit dalam tiap unit pendahulu menuju Alexandria. Bonaparte menyusul di belakang dengan pasukan penembak jitu. Sekitar satu setengah mil dari kota, sekira 300 kavaleri Arab Badui dari dataran tinggi menembak lebih dulu. Akan tetapi setelah melihat besarnya pasukan Prancis, pasukan Arab segera mundur,” ungkap Juan Cole dalam Napoleon’s Egypt: Invading the Middle East. Napoleon beserta pasukan utamanya tiba di gerbang kota Alexandria sekira pukul 8 pagi. Ia berharap kota berpenduduk 8.000 jiwa itu mau menyerah tanpa pertumpahan darah. Akan tetapi ia justru mendengar sorakan dan teriakan untuk melawan dari dalam tembok. Kurayyim sudah menyiagakan pasukannya mengawaki empat meriam. Namun sebelum menyerang, Napoleon mengirim pesan untuk Kurayyim. “Saya terkejut melihat Anda siap untuk menghadapi saya. Entah Anda benar-benar bodoh atau memang sangat nekat, untuk percaya bahwa Anda mampu melawan saya hanya dengan dua atau tiga meriam. Pasukan saya sudah menaklukkan kekuatan-kekuatan di Eropa. Jika dalam 10 menit saya tidak melihat bendera putih dikibarkan, Anda akan bertanggungjawab di hadapan Tuhan atas darah yang tertumpah dan Anda akan menangisi kepergian para korban yang telah Anda korbankan karena kebutaan Anda,” Napoleon berseru dalam pesannya, dikutip Cole. Karena tak mendapatkan jawaban, Napoleon memerintahkan meriam-meriamnya menembaki tembok kota tua Alexandria. Para serdadunya lantas menyerbu dan mendaki tembok untuk menghadapi pasukan Kurayyim yang notabene tak seimbang. “Pasukan kami menyerbu dan memanjat segala rintangan musuh. Banyak jenderal yang terluka, termasuk Kléber, dan kami kehilangan 150 prajurit, meski keberanian akhirnya mengatasi perlawanan orang-orang Turki dan kami memukul balik mereka. Mereka hanya bisa pasrah di tangan Tuhan dan nabi mereka saat mengungsi ke masjid-masjid. Pria, wanita, lansia, bayi yang sedang menyusui, semua dibantai,” kenang ajudan Napoleon, Jenderal Pierre Boyer, dalam suratnya kepada orangtuanya, dikutip North. Seiring matahari terbenam, Alexandria direbut pasukan Napoleon. Kurayyim ditangkap namun, menurut North, Napoleon mengampuninya. “Napoleon menjanjikan Koraim (Kurayyim) tetap menjabat gubernur dan setelah kota diserahkan, para penduduk diizinkan menguburkan para korban tewas,” lanjutnya. Namun beberapa sumber lain mengungkap, Kurayyim tetap ditahan dan baru dieksekusi pada September 1798 karena enggan bekerjasama. Napoleon sendiri lantas terus maju ke Kairo, sementara garnisun militer di Alexandria diserahkan kepada Kléber. Sumber lain lagi menyebut, ketika jabatannya dipertahankan, Kurayyim tetap memberontak. Karena dianggap ikut berkonspirasi dalam pemberontakan di Damanhur. Kléber menangkap Kurayyim lagi pada 20 Juli 1798. Kurayyim lantas dijebloskan ke penjara di Menara Pelabuhan Abu Qir. Setelah Napoleon menduduki Kairo pasca-Pertempuran Piramida (21 Juli 1789), Kurayyim dipindahkan ke Kairo sebelum dihadapkan ke regu tembak dan jadi martir pada 6 September 1798. “Di Kairo, Sayyid Karim sempat diadili oleh Napoleon yang lantas menuntut uang tebusan dengan jangka waktu 12 jam. Karena tidak dipenuhi, ia disiksa, dipermalukan, dan dieksekusi oleh regu tembak. Kepala Karim yang dipenggal, dipamerkan di sebuah tiang dengan kertas bertuliskan: ‘inilah nasib bagi siapapun yang menentang Prancis’. Hingga kini, orang-orang Mesir menganggapnya sebagai martir revolusioner dan pahlawan nasional pertama,” tandas Arthur Goldschmidt dalam Biographical Dictionary of Egypt.
- Kisah Seniman Yahudi Pura-pura Mati demi Menghindari Nazi
DI MASA pemerintahan Adolf Hitler, tak hanya orang-orang Yahudi yang menjadi target Nazi, tetapi juga para penyuka sesama jenis. Nazi memandang mereka sebagai orang-orang dekaden yang dapat merusak kehidupan masyarakat ideal yakni kemurnian ras Arya. Naiknya Hitler ke tampuk kekuasaan diikuti dengan kampanye antihomoseksual. Menteri Dalam Negeri Hermann Goering memberlakukan tiga dekrit untuk memerangi ketidaksenonohan publik. Pertama terkait prostitusi dan penyakit kelamin; kedua menutup bar yang digunakan untuk tujuan tidak senonoh; dan ketiga melarang kios, toko buku, dan perpustakaan menjual maupun meminjamkan buku-buku atau apapun yang, “baik karena mengandung ilustrasi telanjang, atau karena judul atau isinya, dapat menimbulkan efek erotis bagi yang membacanya.” Mereka yang tertangkap akan dikenai denda, atau kehilangan lisensi maupun izin peminjaman.
- Kisah Musisi Belanda Menyamar Jadi Laki-laki Ketika Melawan Nazi
KARIER Frieda Belinfante dalam dunia orkestra tengah merangkak naik ketika Nazi Jerman menduduki Belanda tahun 1940. Musisi berbakat kelahiran Amsterdam tahun 1904 itu dikenal sebagai pemain selo dan seorang konduktor. Belinfante mulai bermain selo pada usia sepuluh tahun dan tahun 1937 dia diundang untuk memimpin Concertgebouw Amsterdam. Tak butuh waktu lama hingga namanya dikenang sebagai wanita pertama di Eropa yang menjadi konduktor orkestra profesional. Belinfante aktif memimpin orkestra profesional di Belanda hingga tahun 1941. Hidupnya berubah ketika Belanda dikuasai Nazi Jerman di masa Perang Dunia II. Sebabnya, dia memiliki darah Yahudi dari ayahnya. Selain itu, Belinfante yang mengetahui bahwa Nazi memiliki sentimen negatif terhadap kelompok homoseksual, memilih untuk merahasiakan orientasi seksualnya selama perang.
- Dari Kamp Nazi Lalu Desersi di Surabaya Dukung Kemerdekaan Indonesia
HARRY Hulskar dan Freddy Weerenstijn masih mendekam di kamp tawanan Jerman-Nazi pada 1944. Kala itu mayoritas Eropa Barat masih diduduki Jerman. Jangankan membayangkan negeri ataupun sekadar nama Indonesia, yang jelas belum eksis, menerka nasib mereka sendiri pun masih lebih sulit ketimbang mengatasi perut yang lapar. Namun, nasib orang siapa yang tahu. Bombardir artileri Prancis ikut mengubah nasib keduanya. Dari bombardir itu Harry dan Freddy lalu bisa mendapatkan kebebasan. Dengan kebebasan itu, keduanya bisa bertualang. Ketika artileri berat Perancis membombardir kamp mereka, Harry dan Freddy hanya bisa menanti sambil berharap akan ada kesempatan keluar. Benar saja. Setelah bersabar menanti bombardir reda, keduanya kabur ke Amsterdam, tempat asal keduanya.
- Dari Kamp Nazi ke TNI
SETELAH tentara Belanda memasuki Jawa Timur, sebuah pasukan ditempatkan di daerah Kraksaan, Probolinggo. Komandannya seorang perwira Koninklijk Landmacht (KL) atau Angkatan Darat Kerajaan Belanda. Perwira itu seorang berdarah Indonesia, Letnan Donald Willem Poetiray (1922–2005). Umurnya belum menginjak 30 tahun ketika bertugas di sana. Suatu kali, bagian intelijen keamanan menyampaikan pesan untuk Donald. Isinya seorang kerabat ingin bertemu. Kerabat itu tidak berada di pihak Belanda, tapi di pihak Republik Indonesia bernama Letnan TNI Kotis Anakotta. “Dia memeluk saya, tidak ada pembicaraan tentang nasionalisme, hanya ada banyak orang Ambon di sisinya, juga Poetiray lainnya. Jadi saya diingatkan oleh lawan saya tentang hubungan keluarga saya dengan Maluku,” kata Donald seperti dicatat Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900–1950 .





















