Hasil pencarian
9862 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sudiro dalam Pergerakan
KONGRES peleburan organisasi-organisasi pemuda kedaerahan menjadi Indonesia Muda diselenggarakan di Surakarta pada 29 Desember 1930 sampai 2 Januari 1931. Sudiro hadir sebagai wakil dari Jong Java cabang Magelang. Pada malam pembukaan, dia terpikat oleh seorang peserta perempuan. Namanya Siti Djauhari, utusan dari Madiun. Sudiro terpilih menjadi ketua Indonesia Muda cabang Magelang. Kegiatannya merambah ke daerah lain. Dia dan teman-temannya mendirikan Indonesia Muda cabang Purworejo. Di situlah dia pertama kali bersikap dan bertindak sebagai propagandis dan orator, berpidato sampai satu setengah jam. Bersama Indonesia Muda cabang Yogyakarta dan Surakarta, Sudiro menerbitkan majalah Garuda Merapi. Selain itu, dia juga mengadakan kursus buta huruf dan klub debat di Magelang. “Meskipun Sudiro merasa puas, sudah dapat ikut serta menyumbangkan pikirannya dalam pembentukan organisasi Indonesia Muda, namun ingatannya tidak mau juga terlepas dari wajah anak gadis utusan dari Madiun itu,” tulis Soebagijo I.N. dalam Sudiro Pejuang Tanpa Henti.
- Kapten Marah, Komandan Hilang Kuping
AKHIR tahun 1963, Letnan Kahardiman ditugaskan oleh Deputi Menteri Panglima Angkatan Udara (DMPAU) Komodor Soeharnoko Harbini untuk pergi ke Salatiga, Jawa Tengah. Di sana Kahardiman akan mendampingi Fransiskus Xaverius Adisusanto alias Toto. Toto diseret ke pengadilan karena menyerempet perwira kavaleri Angkatan Darat ketika sedang belajar mengemudikan mobil. Ketika di Salatiga, Letnan Kahardiman mengunjungi salah satu orang berpengaruh di Salatiga, yakni Komandan KOREM 073/Makutarama Letnan Kolonel Roestamadji Wibowo. Kahardiman menyampaikan keperluannya di Salatiga. Komandan KOREM, meski sama-sama Angkatan Darat dengan perwira kavelari yang diserempet tadi, rupanya juga telah berhubungan baik dengan keluarga Toto. Bahkan KOREM rajin mengirimi beras kepada keluarga Rahayu, Ibu Toto.
- Api Abadi Pemimpin Revolusi
RASA lelah dan kantuk langsung lenyap saat saya melihat Che Guevara dari kejauhan. Dia berdiri gagah. Sorot matanya tajam. Raut mukanya, yang dihiasi alis tebal dan jambang lebat, mengguratkan keteguhan sikapnya. Ia mengenakan baret dan seragam militer. Tangan kanannya menggenggam senjata, sementara lengan kiri yang terbalut perban menekuk ke perut. Patung perunggu Che Guevara itu memiliki berat 20 ton dengan tinggi hampir tujuh meter. Sebuah monumen yang menjulang jadi pijakannya. Slogan Che yang terkenal terukir di bagian bawah monumen: Hasta La Victoria Siempre! (Sampai Menang untuk Selamanya!). Ketika saya mendekat, beberapa kuntum bunga segar dari pengunjung bergeletakkan di lantai. Patung Che dan lima monumen, yang dibuat Jose Delarra dengan ukuran dan bentuk berbeda, menjadi pemandangan paling menonjol saat saya memasuki kompleks Museum dan Mausoleum Che Guevara di Santa Clara, ibu kota Provinsi Villa Clara, Kuba.
- Che Guevara dan Perlawanan di Gaza
JALUR Gaza, sebuah wilayah sempit yang diapit wilayah Israel di timur dan Laut Mediterania di barat, disesaki pengungsi dan rumahsakit darurat pada 18 Juni 1959. Wajah-wajah prihatin yang didera kelaparan di kamp-kamp pengungsian, hari itu untuk sesaat berubah menggelora seiring kunjungan seorang tokoh revolusioner bernama Ernesto “Che” Guevara. Kunjungan Guevara itu punya makna besar bagi pengungsi untuk terus memberikan perlawanan terhadap zionis Israel. Kendati seruan pembebasan Palestina didengungkan Presiden Indonesia Sukarno di Konferensi Asia Afrika (KAA), menurut Salman Abu Sitta dalam Che Guevara in Gaza: Palestine Becomes a Global Cause, Guevaralah yang mengubah kolonisasi Zionis itu dari konflik kawasan menjadi isu global. “Pemicunya memang Konferensi Bandung (KAA, red.) pada 1955 dan menghasilkan Gerakan Non-Blok, di mana para anggotanya mengguncang dominasi asing (Blok Barat dan Blok Timur). Jalur Gaza menjadi simbol Palestina. Wilayah kecil satu-satunya yang masih mengibarkan bendera Palestina,” ungkap Abu Sitta.
- Kampanye Cinta Rupiah di Masa Lalu
MAKIN hari, rupiah kian kian melemah. Hingga awal pekan ini, Senin (8/6/2026), nilai tukar rupiah menukik lagi dengan level 1 dolar Amerika Serikat (AS) senilai Rp18.115. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun mendengungkan untuk lebih cinta menggunakan rupiah di masa seperti ini. Mengutip Kumparan, 6 Juni 2026, Menteri Purbaya menyampaikannya saat melakoni sidak ke Pelabuhan Tanjung Priok. Ia turut mendengarkan keluhan para pelaku usaha soal dolar AS yang digunakan di kawasan pelabuhan untuk beberapa transaksi tertentu. Menteri Purbaya pun menanggapi bahwa secara regulasi, transaksi di wilayah Indonesia mesti menggunakan rupiah. Ia mengaku akan menindak jika ada yang melapor dan kemudian terbukti menggunakan dolar AS. “Transaksi yang dilakukan adalah rupiah, memang. Kalau ada dolar, kita punya penyelewengan. Janganlah. Cinta rupiah. Kita cinta rupiah semua,” cetus Menteri Purbaya. Terlepas dari faktor eksternal, lemahnya rupiah juga terdampak oleh transaksi berjalan. Maka tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau Bank Indonesia saja untuk menguatkan kembali rupiah, melainkan juga dukungan elemen masyarakat secara menyeluruh. “Peristiwa naik turunnya nilai tukar Rupiah tidak dapat dilepaskan dari kinerja neraca transaksi berjalan (current account). Neraca transaksi berjalan yang defisit menimbulkan konsekuensi melemahnya Rupiah. Semakin tinggi permintaan dolar AS di dalam negeri untuk kepentingan impor barang dan jasa, pembayaran utang luar negeri, serta pembayaran imbal hasil investasi asing langsung dan portofolio maka semakin tinggi pula tekanan bagi rupiah untuk melemah,” terang Akhmad Akbar Susamto dkk. dalam Kemandirian Ekonomi Gerbang Kesejahteraan: Pemikiran 100 Ekonom Indonesia. Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa saat sidak ke Bea Cukai Tanjung Priok. (kemenkeu.go.id). Upaya Kuatkan Rupiah di Pengujung Rezim Soeharto “Aku cinta rupiah, biar dolar di mana-mana. Aku suka rupiah karena aku anak Indonesia. Aku cinta rupiah, biar dolar merajalela...” Begitulah penggalan lirik lagu rilisan Februari 1998 yang didendangkan penyanyi cilik Cindy Cenora. Kala itu, rezim Orde Baru Soeharto sedang di pengujung nafasnya. Situasi ekonomi dan moneter nasional masih kacau hebat akibat Krisis Moneter 1997., Nilai tukar rupiah sekitar Rp.2.400 per dolar AS di bulan Juli 1997 mendadak terjun sampai menembus Rp16.600 per dolar AS pada pertengahan 1998. Selain lagu “Aku Cinta Rupiah” di atas, pada Oktober 1998 penyanyi cilik yang sama juga merilis single “Krismon”. Kedua lagu itu diciptakan musisi dan produser Tonny Hawaii. Ada pula lagu “Menabung” ciptaan Titiek Puspa yang dinyanyikan duet penyanyi cilik Saskia dan Geofanny yang rilis pada 1997, untuk mengajak masyarakat Indonesia gemar menabung di masa krisis itu. Lagu-lagu itu jadi semacam “amunisi” terkait kampanye Gerakan Cinta Rupiah (Getar) yang didengungkan anggota MPR RI, direktur utama stasiun televisi TPI sekaligus putri Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut Soeharto. “Tutut menggelar Gerakan Cinta Rupiah (Getar), 10 Januari 1998. Putri sulung Soeharto dan salam satu bintang kemenangan Golkar pada Pemilu 1997 itu, memboyong anggota DPR/MPR dari Fraksi Karya ke dalam gerbong Getar. Tutut sendiri, sebagai pencetus, merupiahkan US$50 ribu guna memperkokoh otot rupiah,” ungkap Ishak Rafick dalam Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia Ekonomi dan Jalan Baru Membangun Indonesia. Sebagai kelanjutannya, lanjut Ishak, para anggota legislatif di gerbong Getar juga merupiahkan antara 1.000-5.000 dolar AS yang mereka miliki. Dari kalangan legislatif, kampanyenya kemudian juga disebarluaskan ke jajaran menteri, gubernur, pegawai negeri sipil dan pegawai BUMN, hingga para pengusaha dan rakyat jelata. Para pengusaha yang turut berpartisipasi merupiahkan dolar mereka antara lain Teddy P. Rahmat (10 ribu dolar AS), Bambang N. Rahmadi (10 ribu dolar AS), Burhan Uray (50 ribu dolar AS), Sukamdani S. Gitosardjono (50.100 dolar AS), Tommy Winata (500 ribu dolar AS), Eka Tjipta Widjaja (1 juta dolar AS), dan yang terbanyak adalah H. Murad Husain (10 juta dolar AS). “Menyusul kebangkrutan ekonomi terparah selama Orde Baru, sejak medio 1997 hingga sekarang, di tengah imbauan pemerintah dengan gerakan cinta rupiah (Getar), Murad pada Januari 1998 menukarkan dolarnya sampai lima juta. Pada minggu itu pula ia menjual lagi sejumlah lima juta dolar, berikut sumbangannya kepada negara Rp100 juta,” tulis Alif We Onggang dalam Tentang Sejumlah Orang Sulawesi Selatan, 1998. Namun, tak semua pengusaha berkenan menukarkan dolar mereka. Salah satu yang menolak adalah Sofjan Wanandi. “Sofyan Wanandi yang diminta untuk membantu perekonomian Indonesia dengan tegas menolak. Penolakan Sofyan langsung disebarkan oleh Panglima ABRI Jenderal TNI Faesal Tanjung. Sofyan sendiri akhirnya ngacir ke Australia di tengah aksi demonstrasi dan tuntutan untuk mengadili dirinya,” ungkap Artawijaya dalam Dilema Mayoritas: Pertarungan Ideologis Umat Islam Indonesia menghadapi Kelompok Sekular, Komunis, dan Kristen Radikal. Sofyan ke Australia bukan karena penolakan itu, namun karena diburu aparat militer. Dia dituduh terlibat mendanai kelompok pelaku peristiwa ledakan di Rumah Susun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Walaupun kampenyenya masif, Getar tetap tak mampu mendongkrak rupiah berdiri lebih tegak terhadap dolar. Selain karena para pejabat dan pengusaha itu dianggap belum terlalu signifikan menukarkan dolar mereka, pemerintahan Soeharto sendiri jatuh empat bulan setelah Getar dicanangkan. “Sebagai gerakan moral Getar cukup baik, tetapi dia tetap tidak akan mampu mendongkrak nilai rupiah. Sebab, perburuan dolar masih tetap berlangsung dengan intensitas yang terus meningkat,” kata ekonom Rizal Ramli, dikutip Ishak. Rupiah baru pulih kembali di masa kepresidenan Bacharuddin Jusuf Habibie. Dengan pendekatan stabilisasi ala aerodinamika, di antaranya dengan menjadikan Bank Indonesia independen sehingga bebas dari intervensi politik –sebelumnya, berada di bawah menteri keuangan, restrukturisasi perbankan, reformasi regulasi, hingga menaikkan suku bunga, Presiden Habibie bikin dolar yang tadinya di atas Rp16 ribu jadi sekitar Rp6.500 per dolar. “Habibie tidak percaya pada para ekonom anak buah Widjojo (Nitisastro); mereka dikenal sebagai tokoh-tokoh Mafia Berkeley. Dia mengangkat Bambang Subianto, sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung menjadi Menteri Keuangannya menggantikan Fuad Bawazir. Pasa masa BJ. Habibie pula diterbitkan undang-undang yang mengubah kedudukan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral pemegang Otoritas Moneter bebas dari kekuasaan pemerintah (UU No. 23 Tahun 1999, red). Pada kenyataannya, kebijakan Habibie ini mampu menurunkan kembali nilai Dollar yang sempat naik lima kali lipat pada Januari 1998 menjadi sekitar 6.500 Rupiah per Dollar pada September 1999,” tandas Sri Bintang Pamungkas dalam Ganti Rezim, Ganti Sistim: Pergulatan Menguasai Nusantara.*
- Mengatasi Tawuran dengan Operasi Khusus dan Pesantren Kilat
TAWURAN pelajar kembali merenggut korban jiwa. Alawy Yusianto Putra (15), siswa SMAN 6 Jakarta, tewas setelah dia dan teman-temannya diserang siswa SMAN 70. Kabarnya, permusuhan kedua SMA yang bertetangga itu telah bebuyutan. Menurut sejarawan Universitas Leiden, Belanda, Kees van Dijk, perkelahian antarpelajar dapat berlangsung bertahun-tahun karena saat memulai tahun pertama bersekolah, para pelajar baru diberi tahu oleh anak-anak yang lebih senior mana saja sekolah yang merupakan musuh mereka. “Permusuhan ini menjadi dendam warisan; kadang-kadang mengakibatkan dua atau tiga perkelahian dalam satu minggu,” tulis Van Dijk dalam Orde Zonder Order. “Beberapa pelajar yang terlibat di dalam keributan seperti ini menganggapnya, semacam olahraga, suatu latihan fisik.”
- Moestopo vs Hatta di Tengah Pertempuran Surabaya
AKHIR Oktober 1945. Brigade Infanteri ke-49 Divisi India ke-23 pimpinan Brigadir A.W.S. Mallaby ada di ambang kehancuran. Menurut sejarawan militer Richard McMillan, para veteran Perang Dunia II itu seolah tak berkutik dalam kepungan arek-arek Suroboyo. Hingga hari ke-2 pertempuran), mereka telah membunuh ratusan serdadu Inggris, termasuk 16 perwira di dalamnya. “Karena suatu 'pamer kekuatan', 427 nyawa dari pasukan yang secara keseluruhan memiliki sekira 4.000 prajurit, melayang begitu saja,” ungkap McMillan dalam The British Occupation of Indonesia, 1945-1946. Para pejuang Surabaya itu dipimpin oleh seorang dokter gigi bernama Moestopo. Lelaki kelahiran Kediri pada 13 Juni 1913 itu bukanlah orang sembarangan. Selain pernah menjadi salah satu lulusan terbaik sekolah calon perwira PETA di Bogor, dia juga termasuk daidancho (komandan batalyon) kharismatik di Jawa Timur.
- Ketika Brigadir Mallaby Bertemu dengan “Menteri Pertahanan RI”
DUA hari setelah pembacaan Proklamasi, Presiden Sukarno mengumumkan kabinetnya yang pertama. Semua tokoh pejuang yang diangkat oleh presiden sebagai anggota kabinet mengonfirmasi kesediaan mereka kecuali Supriyadi, menteri keamanan rakyat. Hingga batas waktu yang ditetapkan, tokoh pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar itu tak memberikan kabar. Dia hilang bak ditelan bumi. “Banyak yang bilang saat itu Supriyadi sudah dibunuh tentara Jepang. Ya itu bisa saja,” kata sejarawan Rushdy Hoesein. Kekosongan itu diisi oleh pejabat sementara bernama Soeljadikoesoemo. Namun, karena komunikasi saat itu serba sulit, berita pengangkatan tersebut tak diketahui banyak orang. Termasuk oleh para pejuang yang tengah menghadapi pendaratan tentara Inggris di Surabaya.
- Moestopo Usulkan Gelar Doktor Kehormatan untuk Soeharto
MANTAN Presiden Republik Indonesia Megawati Sukarnoputri dianugerahi gelar profesor kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut. Gelar doktor kehormatan pernah pula hampir disandang oleh mantan Presiden Soeharto. Ceritanya, saat memperingati Hari Pahlawan yang ke-40, Mayor Jenderal TNI (Pun.) Prof. Dr. Moestopo mengusulkan kepada tiga universitas besar di Indonesia (Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Gajah Mada) untuk memberikan gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) kepada Presiden Soeharto. Pemimpin Pertempuran Surabaya itu menyatakan Soeharto sangat pantas untuk mendapat gelar tersebut mengingat jasa-jasanya di tingkat nasional maupun internasional. Secara nasional, kata Moestopo, Soeharto telah mampu mewujudkan pembangunan di bidang pertanian dan industri. Sedangkan di tingkat internasional, Soeharto merupakan inisiator penanggulangan bencana kelaparan di berbagai belahan dunia lewat Forum Roma yang berlangsung pada 14 November 1985.
- Kisah Moestopo, Penyandang Gelar Terbanyak
MEGAWATI Sukarnoputri dianugerahi gelar sebagai profesor kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut. Dengan pengukuhan itu, Megawati menjadi salah satu tokoh Indonesia yang menyandang gelar terbanyak. Namun jauh sebelumnya, ada seorang tokoh yang telah memiliki gelar lebih banyak yakni Moestopo. Dia tercatat setidaknya memiliki 18 gelar. “Kalau kita meminta dia menulis namanya secara lengkap maka tanpa ragu-ragu dia akan menulis: Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan), Profesor, Doktor, OS, ORTH, OPDENT, PROSTH, PEDO/DHE/BIOL./PANC., Bapak Publistik Ilmu Komunikasi, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapal Ilmu Bedah Rahang Indonesia, Penyandang Maha Putera Utama dan Pengawal Pancasila,” tulis Pikiran Rakyat, 20 Februari 1986.
- Moestopo Sang Jenderal Nyentrik
SATYA GRAHA Graha masing ingat pertemuan itu. Ketika mendaftar menjadi anggota Markas Besar Pertempuran Djawa Timoer di Madiun, dia diwawancarai langsung oleh pimpinan pasukan Mayjen TNI Moestopo. Saat wawancara berlangsung, pelayan datang menyuguhi secangkir kopi. Alih-alih dinikmatinya, Moestopo malah menggeser cangkir kopi itu ke hadapan Satya. “Nih kamu minum saja kopinya, soalnya hanya satu cangkir,” ujar sang jenderal. Moestopo dikenal sebagai sosok egaliter sekaligus nyeleneh. Ketika memimpin Divisi Mobil yang beroperasi menggunakan kereta api, dia kerap nekat menyerang militer Belanda dari atas kereta api yang dikendarai dengan kecepatan tinggi.
- Wasit Hindia di Olimpiade
RABU malam, 13 Juni 1928. Stadion Olimpiade di Amsterdam, Belanda, dipenuhi ribuan penonton. Mereka antusias untuk menyaksikan final ulangan cabang sepakbola Olimpiade yang mempertemukan dua kekuatan besar Amerika Selatan: Uruguay dan Argentina. Di tepi garis lapangan, berdiri seorang hakim garis dari negeri jauh di timur. Sosoknya mungkin tidak dikenal oleh publik Belanda. Namun, kehadirannya menjadi kebanggaan tersendiri bagi sepakbola Hindia Belanda. Dia adalah Max Foltynski. Foltynski tak sendirian. Di sisi lapangan lainnya terdapat H. Maeck dari Belgia. Sementara yang memimpin pertandingan adalah J. Mutters dari Belanda. Begitu peluit berbunyi, Uruguay langsung menekan. Kemelut terjadi di depan gawang Argentina. Penonton menahan napas. Permainan berkembang cepat. Bola bergerak dari sisi ke sisi. Dua tendangan sudut berganti diambil dan sorak seru protes terdengar bersahutan. Di tengah hiruk-pikuk itu, Foltynski selalu sigap. Benderanya terangkat setiap kali garis offside terlewati. Keputusannya tegas tanpa gentar di bawah tatapan ribuan pasang mata.




















