Hasil pencarian
9807 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Wanita Paling Mematikan di Italia
BANGUNAN di Italia itu tampak biasa jika dilihat secara kasat mata. Namun, bagi para perempuan muda yang menjadi korban kekerasan rumah tangga oleh suami mereka, atau orang-orang yang ingin menguasai harta kekayaan pasangannya, bangunan tersebut menjadi tujuan yang tepat untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Yakni, Aqua Tofana, sebuah racun yang dikemas seperti produk kecantikan yang memiliki efek mematikan pada abad ke-17. Menurut sejarawan Mike Dash dalam “Aqua Tofana”, termuat di Toxicology in the Middle Ages and Renaissance, Aqua Tofana adalah nama yang diberikan kepada racun yang, menurut catatan kontemporer, pertama kali diciptakan di Sisilia sekitar tahun 1630 dan digunakan secara luas di Roma pada pertengahan abad ke-17. “Racun ini dibuat dan didistribusikan oleh sekelompok ‘wanita bijak’ kepada klien yang hampir seluruhnya perempuan, dan digunakan terutama untuk membunuh suami yang kejam atau tidak diinginkan.... Racun Aqua Tofana merupakan larutan yang mengandung arsenik dan timbal, dan mungkin juga ditambahkan corrosive sublimate yang merupakan istilah kontemporer untuk klorida merkuri,” tulis Dash.
- Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda
MESKIPUN sudah memeluk Islam, Raja Gowa Sultan Alauddin menjaga hubungan baiknya dengan bangsa-bangsa lain, termasuk yang non-Islam, tetap terpelihara. Maka dirinya membiarkan orang-orang Eropa datang bersama agamanya. Termasuk orang Portugis yang bersekutu dengannya, bahkan Belanda yang ketika itu masih pendatang baru di Nusantara. Pelabuhan Gowa yang ramai terus dijaganya menjadi pelabuhan perdagangan rempah-rempah, komoditas yang amat dicari orang-orang Eropa untuk diperdagangkan. Tingginya nilai ekonomis rempah itu membuat Belanda tak ingin tertinggal menikmati “manisnya” laba jualan rempah. Maskapai dagang Hindia Timur Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pun mengirim kapal-kapalnya ke sana. “Pada waktu kapal De Eendrach sandar di Bandar niaga Somba Opu, juru mudi bersama 15 awaknya setelah turun dari tangga kapal memperlihatkan kecongkakannya, seakan-akan tidak menghargai petugas pelabuhan. Atas tindakan itu Sultan marah, ke-15 awak itu diserang dan semuanya terbunuh. Atas tindakan itu, Belanda marah. Sultan yang sudah lama siap mengantisipasi serangan balik itu menyebar pasukannya di lautan maupun di darat,” catat Hannabi Rizal dkk. dalam Profil Raja & Pejuang Sulawesi Selatan 1.
- Membuka Tirai Panggung Olimpiade Musim Dingin
GENAP tujuh dekade berlalu, Olimpiade Musim Dingin kembali dihelat di Cortina d’Ampezzo, Italia. Pegunungan indah di selatan Pegunungan Alpen itu pernah jadi host pada 1956. Pada edisi ke-25 yang digelar 6-22 Februari 2026 mendatang, akan banyak diramaikan partisipan debutan. Salah satunya negeri jiran, Singapura. Faiz Basha, atlet ski putra Singapura, mencetak sejarah dengan jadi wakil pertama “Negeri Singa” ke Olimpiade Musim Dingin 2026 di Cortina d’Ampezzo. Ia memastikan diri setelah lolos kualifikasi kategori slalom di cabang ski Alpen, cabang yang lazimnya didominasi atlet-atlet Eropa. “Dan di edisi olimpiade ini kualifikasinya paling sulit dalam sejarah. Maka keberhasilan pencapaian ini adalah hal yang sangat besar bagi saya. (Walaupun) Saya tidak terlalu merasakan tekanan karena saya menganggap (olimpiade) ini selayaknya kompetisi lain seperti yang saya ikuti di China, Turki, Swedia, dan Finlandia,” kata Faiz kepada CNA, 28 Januari 2026.
- Jejak Sejarah Mobil Mercy
KARL BENZ, seorang insinyur otomotif Jerman, merampungkan mobil roda tiga rancangannya. Pada 29 Januari 1886, Karl mengajukan permohonan hak paten atas mobil bernama Benz Patent-Motorwagen itu. Namun, Karl tak percaya kendaraannya siap untuk melaju jarak jauh di jalan raya. Hanya ada seorang wanita yang percaya padanya. Orang itu adalah Bertha, istri Karl Benz. Seperti suaminya, Bertha juga ahli mesin dan otomotif. Tanpa sepengetahuan Karl, pada Agustus 1888, Bertha suatu hari membawa kendaraan buatan suaminya Benz Patent-Motorwagen Number 3. Bertha membawa kedua anaknya, Eugene dan Richard sebagai penumpang. Saat itu tak ada orang yang percaya ada mobil bisa menempuh perjalanan di jalan raya. Begitu pula seorang wanita di balik kemudi. Di tengah jalan, mobil mogok. Katup tersumbat. Sistem pengapian gagal berfungsi. Namun, Bertha pantang menyerah. Di sebuah apotek di Wiesloch, Bertha membeli 10 liter minyak ligroin dan meraciknya menjadi bensin. Manjur. Mesin mobil kembali menyala. Bertha berhasil menyelesaikan perjalanan sejauh 106 kilo meter dari Mannheim ke rumah orang tuanya di Pforzheim. Itu adalah perjalanan jarak jauh dengan mobil yang pertama di dunia. Apotek tempat Bertha membeli ligroin menjadi stasiun pengisian bahan bakar pertama di dunia. Bertha kemudian memperkenalkan penemuan suaminya dan merevolusi industri otomotif di dunia.
- Kisah Pertemuan Pangeran Makassar dan Padri Spanyol
OKTOBER 1657, sebuah kapal dari Manila, Filipina tiba di Pelabuhan Makassar. Dari kapal itu turunlah seorang pendeta Katolik Spanyol bernama Domingo Navarrete. Seorang pangeran Makassar dari Kerajaan Tallo yang oleh bangsa latin Eropa dipanggil Carrin Carroro atau Carrin Cronron akan ditemui sang pendeta di sebuah rumah orang kaya terpandang di sana. Pangeran Carrin Cronron adalah putra dari Carrin Patin Galoa atau Carrin Patengaloan, yang dalam palafalan setempat dieja sebagai Karaeng Pattingngaloang. Sedangkan sang pangeran yang disapa Carrin Cronron adalah Karaeng Karunrung Abdul Hamid (1631-1685). Pendeta Domingo Navarrete, sebagaimana dikisahkan dalam “The Travel and Controversies of Frier Domingo Navarrete” yang tersua dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe, akhirnya bertemu pembesar Makassar itu pada siangnya. Hari berikutnya, Pendeta Domingo diantar oleh Kapten Francis Viera, yang orang Portugis pemeluk Katolik, mengunjungi istana Karaeng Karunrung.
- Milisi Lokal Belanda di Subang
UMUMNYA, pasukan artileri adalah satuan yang kini berkutat dengan meriam-meriam. Namun, Letnan Tivadar Emile Spier (1916-2010), salah satu perwira di Resimen Artileri Medan ke-6 Divisi 7e December Koninklijk Landmacht (Angkatan Darat Kerajaan Belanda) yang bertugas di sekitar Subang, Jawa Barat, malah tak berkutat dengan senjata berat macam meriam. Dia tugasnya mengejar musuh layaknya pasukan khusus infanteri. Pada 24 Agustus 1948, Spier memimpin sebuah peleton berisi sekitar 20-40 orang milisi. Mereka bergerak ke puncak Gunung Pogor, dekat Kampung Cisalak. Di gunung itu terdapat sekitar 60 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang –dilengkapi senapan, granat tangan, senapan mesin, dan pom-pom 2 cm– menjadi lawan mereka. Ketika itu pasukan TNI memiliki. “Pendakiannya sudah sulit; kami harus mendaki 400 meter di sepanjang lereng gunung yang curam,” aku Spier di koran De Telegraaf, 10 Juni 1955. “Kami mampu mencapai puncak secara mengejutkan,” sambung Spier yang membawa pasukannya bergerak dengan hati-hati.
- Jenderal Reformis Agus Widjojo Telah Berpulang
KABAR duka datang dari Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo. Duta besar Indonesia untuk Filipina ini tutup usia pada 8 Februari 2026 karena sakit. Agus diangkat menempati posisi tersebut pada Januari 2022. Selain sebagai putra Pahlawan Revolusi Mayjen TNI Sutoyo Siswomihardjo, nama Agus dikenal sebagai jenderal intelek dan reformis-humanis. Menulis dan menjadi pembicara bermacam acara diskusi ilmiah terus aktif dilakoninya. Pria kelahiran Surakarta, 8 Juli 1947 itu di masa akhir Orde Baru pernah mengutarakan pemikirannya mengenai posisi ABRI yang mesti dikoreksi demi mengahadapi perang masa depan yang jauh berbeda dari perang Revolusi (masa lalu) yang selalu dijadikan dasar peran serta ABRI dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.
- Ruhana Kudus Bukan Sekadar Wartawan Perempuan Pertama Indonesia
NAMA Roehana Koeddoes (dibaca Ruhana Kudus) dikenal sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia. Namun, sejarah mencatat, ia juga berkiprah sebagai pendidik dan penggerak kaum wanita di kampung kelahirannya, Koto Gadang. Salah satu peninggalannya ialah Yayasan Amai Setia, sekolah keterampilan yang didirikan pada 1911, yang masih bertahan hingga kini. “Gedung Kerajinan Amai Setia dibangun pada 1915, dan sampai sekarang tetap berdiri. Kami juga tetap menggunakan gedung ini untuk menjalankan mimpi dan visi dari Ibu Rohana Kudus,” kata Trini Tambu, ketua Yayasan Amai Setia, dalam diskusi “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia,” di IDN HQ, Jakarta (6/2). Siti Ruhana lahir di Koto Gadang pada 20 Desember 1884. Ayahnya seorang kepala jaksa bernama Moehammad Rasjad Maharadja Sutan. Ruhana saudari seayah lain ibu dengan Sutan Sjahrir yang kelak menjadi perdana menteri Indonesia pertama. Pada 1908, Ruhana menikah dengan Abdul Kudus, seorang notaris independen lulusan sekolah hukum Batavia dan aktivis pergerakan nasional. Sejak itu, Ruhana menyandang nama belakang suaminya dan dikenal sebagai Ruhana Kudus.
- Soebandrio Ujung Tombak Politik Luar Negeri Sukarno
BELAKANGAN ini, keputusan Presiden RI Prabowo Subianto untuk ikut serta dalam Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuai banyak protes. Antara lain karena dewan itu tak mengikutsertakan Palestina. Demi merespon kemauan publik, Istana sampai memanggil banyak ormas keagamaan hingga para diplomat yang pernah menjabat menteri luar negeri (menlu) dan wakil menteri luar negeri (wamenlu). Di masa awal kemerdekaan, diplomasi khususnya di forum-forum PBB jadi ujung tombak perjuangan pengakuan kedaulatan di panggung internasional. Antara lain dilakukan delegasi RI di forum Dewan Keamanan PBB, medio 1947 dengan membongkar propaganda Belanda pasca-Agresi Militer I Belanda (21 Juli-4 Agustus 1947). Para tokoh di delegasi itu dikenal sebagai diplomat ulung: Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Soedjatmoko, Charles Tambu, dan Soemitro Djojojadikusumo sang ayah Presiden Prabowo. Namun, sejatinya ada satu nama lagi yang terlupakan dalam jajaran diplomat ulung yang pernah dimiliki Indonesia: dr. Soebandrio. Dia perintis jalan diplomasi sebagai duta besar pertama Indonesia untuk Inggris (1946-1954). Untuk mengingat kiprahnya sebagai ujung tombak politik luar negeri Indonesia di era 1960-an, Historia.ID menyuguhkan laporan khusus mengenai sosok Soebandrio. Masa itu, dunia “mendidih” akibat Perang Dingin yang diorkestrasi AS dan Soviet. Dalam mengerjakan laporan ini, Historia.ID menelusuri banyak arsip, catatan-catatan hingga suratkabar-suratkabar lawas selain wawancara dengan sejarawan Asvi Warman Adam dan analis politik luar negeri Sigit Aris Prasetyo. Soebandrio sendiri awalnya merupakan dokter ahli bedah lulusan Geneeskundige Hoogeschool (kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Perjalanan hidup membawanya dari meja bedah ke meja diplomasi internasional yang berperan penting bagi masuknya Irian Barat. “Dr. Soebandrio pelaku sejarah yang memiliki peran amat penting. Jika kita menyimak secara cermat dan seksama atas penuturan dr. Soebandrio, terbayang dan terasakan bagi kita semua: alot dan tidak mudahnya langkah-langkah diplomasi kita waktu itu. Ada pula pihak-pihak yang amat berpengaruh seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, dan PBB yang memerlukan pendekatan dan komunikasi politik yang tepat dan konstruktif,” terang Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya di peluncuran buku karya Soebandrio, Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat, pada 25 Januari 2001. Namun, sejarah kemudian membwa Soebandrio sebagai pesakitan. Dicap PKI pasca-Peristiwa 1965, dirinya divonis hukuman mati. Meski akhirnya lolos dari vonis hukuman mati –vonisnya diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup– rezim Orde Baru, nama Soebandrio yang telah dirusak tak pernah dirahabilitasi dan kiprahnya terlupakan. Berikut ini laporan khusus mengenai Soebandrio: Soebandrio, Dokter Bedah Asal Kepanjen Jadi Politikus Jejak Duta Besar Soebandrio dari London ke Moskow From West to East: Soebandrio’s Diplomatic Journey Soebandrio Politikus Pragmatis Soebandrio, Diplomat Ulung yang Perjuangkan Irian Barat Soebandrio, the Diplomat Who Fought for West Irian Soebandrio Diplomat yang Pimpin Lembaga Telik Sandi Akhir Riwayat Soebandrio Kumpulan tulisan tentang Soebandrio
- Menggali Sumber Sejarah Aceh Semakin Mudah
PERANG Aceh sepanjang paruh kedua abad ke-19 meninggalkan banyak artefak sejarah. Dari ribuan benda itu, sebagian tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Salah satunya panji bendera Kesultanan Aceh yang masih melekat bekas noda darahnya. Panji ini biasanya diusung para prajurit menjelang berperang. “Kita coba menggali narasi tersembunyi dari koleksi. Selama di Museum Nasional, saya secara tak langsung banyak melihat koleksi-koleksi yang belum bisa berbicara, termasuk koleksi Aceh,” kata Eko Septian Putra, kurator Museum Nasional Indonesia, dalam “Seminar Kuratorial dan Peluncuran Pameran Digital Keuneubah Aceh” di @america, Pacific Place, Jakarta (10/2). Sejak 2025, Museum Nasional Indonesia bersama Southeast Asia Museum Services (SEAMS) berkolaborasi dalam meriset dan mendigitalisasi koleksi Aceh, terutama yang berkaitan dengan Perang Aceh (1873–1912). Sebelum dikurasi, banyak dari benda-benda bersejarah ini deskripsinya tak lengkap. Mulai dari tempat asal, bagaimana benda-benda itu digunakan, dan kondisi ketika benda-benda itu dibawa ke museum, tidak selalu diketahui sepenuhnya.
- Dari Kampung ke Kampung, “Tour of Duty” Westerling
MEDAN adalah kota pertama yang dipijak Letnan Raymond Paul Piere Westerling (1919-1987) di bekas Hindia Belanda. Dengan terjun payung, dirinya mendarat di Bandar udara Polonia, Medan. Dari markasnya di pusat kota, Westerling lalu berkeliling ke daerah-daerah sekitar di provinsi itu. Antara lain Berastagi, yang dikenangnya sebagai daerah yang indah. Dari Medan, dirinya kemudian dipindahkan ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta pada 26 Juli 1946, Westerling ditugaskan untuk ikut membangun sebuah pasukan yang jumlah awalnya sekitar 100 orang dan dinamai Depot Special Troepen (DST). Pasukan itu ditempatkan di sebuah kamp yang namanya mirip dengan daerah tugas Westerling waktu di Medan: Polonia.
- Pusat Listrik Negara di Medan Merdeka
BUKA setiap hari dengan menyajikan beragam minuman dan makanan masa kini, Stroom Coffee menyimpan sejarah proses penerangan jalan di Batavia. Stroom yang berarti arus atau setrum listrik, dulu berfungsi sebagai bangunan Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) atau Perusahaan Pusat Listrik Negara. Keberadaan bangunan ini tidak dapat dilepaskan dari kawasan Medan Merdeka yang sejak lama merekam dan menampilkan potret visual perjalanan sejarah. Meski tak banyak yang masih eksis hingga hari ini, setiap bangunan yang tersisa tetap menyimpan cerita dari masa kolonial hingga masa kini. Jalan ini dianggap penting karena di sekitarnya berdiri banyak bangunan cagar budaya khususnya era kolonial Belanda. “Hawa segar Medan Merdeka di pagi buta maupun petang hari menarik banyak pengunjung. Beberapa keluarga berjalan-jalan, pasangan muda asik mengobrol; dan ada yang berolahraga: lari, lompat, senam, bermain bola, saling berkejaran dengan sepeda atau sepatu roda,” catat Adolf Heuken SJ dalam Medan Merdeka-Jantung Ibukota RI.





















