top of page

Hasil pencarian

9810 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jenderal Reformis Agus Widjojo Telah Berpulang 

    KABAR duka datang dari Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo. Duta besar Indonesia untuk Filipina ini tutup usia pada 8 Februari 2026 karena sakit. Agus diangkat menempati posisi tersebut pada Januari 2022. Selain sebagai putra Pahlawan Revolusi Mayjen TNI Sutoyo Siswomihardjo, nama Agus dikenal sebagai jenderal intelek dan reformis-humanis. Menulis dan menjadi pembicara bermacam acara diskusi ilmiah terus aktif dilakoninya. Pria kelahiran Surakarta, 8 Juli 1947 itu di masa akhir Orde Baru pernah mengutarakan pemikirannya mengenai posisi ABRI yang mesti dikoreksi demi mengahadapi perang masa depan yang jauh berbeda dari perang Revolusi (masa lalu) yang selalu dijadikan dasar peran serta ABRI dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.

  • Ruhana Kudus Bukan Sekadar Wartawan Perempuan Pertama Indonesia

    NAMA Roehana Koeddoes (dibaca Ruhana Kudus) dikenal sebagai wartawan perempuan pertama Indonesia. Namun, sejarah mencatat, ia juga berkiprah sebagai pendidik dan penggerak kaum wanita di kampung kelahirannya, Koto Gadang. Salah satu peninggalannya ialah Yayasan Amai Setia, sekolah keterampilan yang didirikan pada 1911, yang masih bertahan hingga kini. “Gedung Kerajinan Amai Setia dibangun pada 1915, dan sampai sekarang tetap berdiri. Kami juga tetap menggunakan gedung ini untuk menjalankan mimpi dan visi dari Ibu Rohana Kudus,” kata Trini Tambu, ketua Yayasan Amai Setia, dalam diskusi “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia,” di IDN HQ, Jakarta (6/2). Siti Ruhana lahir di Koto Gadang pada 20 Desember 1884. Ayahnya seorang kepala jaksa bernama Moehammad Rasjad Maharadja Sutan. Ruhana saudari seayah lain ibu dengan Sutan Sjahrir yang kelak menjadi perdana menteri Indonesia pertama. Pada 1908, Ruhana menikah dengan Abdul Kudus, seorang notaris independen lulusan sekolah hukum Batavia dan aktivis pergerakan nasional. Sejak itu, Ruhana menyandang nama belakang suaminya dan dikenal sebagai Ruhana Kudus.

  • Soebandrio Ujung Tombak Politik Luar Negeri Sukarno

    BELAKANGAN ini, keputusan Presiden RI Prabowo Subianto untuk ikut serta dalam Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuai banyak protes. Antara lain karena dewan itu tak mengikutsertakan Palestina. Demi merespon kemauan publik, Istana sampai memanggil banyak ormas keagamaan hingga para diplomat yang pernah menjabat menteri luar negeri (menlu) dan wakil menteri luar negeri (wamenlu). Di masa awal kemerdekaan, diplomasi khususnya di forum-forum PBB jadi ujung tombak perjuangan pengakuan kedaulatan di panggung internasional. Antara lain dilakukan delegasi RI di forum Dewan Keamanan PBB, medio 1947 dengan membongkar propaganda Belanda pasca-Agresi Militer I Belanda (21 Juli-4 Agustus 1947). Para tokoh di delegasi itu dikenal sebagai diplomat ulung: Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Soedjatmoko, Charles Tambu, dan Soemitro Djojojadikusumo sang ayah Presiden Prabowo. Namun, sejatinya ada satu nama lagi yang terlupakan dalam jajaran diplomat ulung yang pernah dimiliki Indonesia: dr. Soebandrio. Dia perintis jalan diplomasi sebagai duta besar pertama Indonesia untuk Inggris (1946-1954). Untuk mengingat kiprahnya sebagai ujung tombak politik luar negeri Indonesia di era 1960-an, Historia.ID menyuguhkan laporan khusus mengenai sosok Soebandrio. Masa itu, dunia “mendidih” akibat Perang Dingin yang diorkestrasi AS dan Soviet. Dalam mengerjakan laporan ini, Historia.ID menelusuri banyak arsip, catatan-catatan hingga suratkabar-suratkabar lawas selain wawancara dengan sejarawan Asvi Warman Adam dan analis politik luar negeri Sigit Aris Prasetyo. Soebandrio sendiri awalnya merupakan dokter ahli bedah lulusan Geneeskundige Hoogeschool (kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Perjalanan hidup membawanya dari meja bedah ke meja diplomasi internasional yang berperan penting bagi masuknya Irian Barat. “Dr. Soebandrio pelaku sejarah yang memiliki peran amat penting. Jika kita menyimak secara cermat dan seksama atas penuturan dr. Soebandrio, terbayang dan terasakan bagi kita semua: alot dan tidak mudahnya langkah-langkah diplomasi kita waktu itu. Ada pula pihak-pihak yang amat berpengaruh seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, dan PBB yang memerlukan pendekatan dan komunikasi politik yang tepat dan konstruktif,” terang Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya di peluncuran buku karya Soebandrio, Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat, pada 25 Januari 2001. Namun, sejarah kemudian membwa Soebandrio sebagai pesakitan. Dicap PKI pasca-Peristiwa 1965, dirinya divonis hukuman mati. Meski akhirnya lolos dari vonis hukuman mati –vonisnya diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup– rezim Orde Baru, nama Soebandrio yang telah dirusak tak pernah dirahabilitasi dan kiprahnya terlupakan. Berikut ini laporan khusus mengenai Soebandrio: Soebandrio, Dokter Bedah Asal Kepanjen Jadi Politikus Jejak Duta Besar Soebandrio dari London ke Moskow From West to East: Soebandrio’s Diplomatic Journey Soebandrio Politikus Pragmatis Soebandrio, Diplomat Ulung yang Perjuangkan Irian Barat Soebandrio, the Diplomat Who Fought for West Irian Soebandrio Diplomat yang Pimpin Lembaga Telik Sandi Akhir Riwayat Soebandrio Kumpulan tulisan tentang Soebandrio

  • Menggali Sumber Sejarah Aceh Semakin Mudah

    PERANG Aceh sepanjang paruh kedua abad ke-19 meninggalkan banyak artefak sejarah. Dari ribuan benda itu, sebagian tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Salah satunya panji bendera Kesultanan Aceh yang masih melekat bekas noda darahnya. Panji ini biasanya diusung para prajurit menjelang berperang. “Kita coba menggali narasi tersembunyi dari koleksi. Selama di Museum Nasional, saya secara tak langsung banyak melihat koleksi-koleksi yang belum bisa berbicara, termasuk koleksi Aceh,” kata Eko Septian Putra, kurator Museum Nasional Indonesia, dalam “Seminar Kuratorial dan Peluncuran Pameran Digital Keuneubah Aceh” di @america, Pacific Place, Jakarta (10/2). Sejak 2025, Museum Nasional Indonesia bersama Southeast Asia Museum Services (SEAMS) berkolaborasi dalam meriset dan mendigitalisasi koleksi Aceh, terutama yang berkaitan dengan Perang Aceh (1873–1912). Sebelum dikurasi, banyak dari benda-benda bersejarah ini deskripsinya tak lengkap. Mulai dari tempat asal, bagaimana benda-benda itu digunakan, dan kondisi ketika benda-benda itu dibawa ke museum, tidak selalu diketahui sepenuhnya.

  • Dari Kampung ke Kampung, “Tour of Duty” Westerling

    MEDAN adalah kota pertama yang dipijak Letnan Raymond Paul Piere Westerling (1919-1987) di bekas Hindia Belanda. Dengan terjun payung, dirinya mendarat di Bandar udara Polonia, Medan. Dari markasnya di pusat kota, Westerling lalu berkeliling ke daerah-daerah sekitar di provinsi itu. Antara lain Berastagi, yang dikenangnya sebagai daerah yang indah. Dari Medan, dirinya kemudian dipindahkan ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta pada 26 Juli 1946, Westerling ditugaskan untuk ikut membangun sebuah pasukan yang jumlah awalnya sekitar 100 orang dan dinamai Depot Special Troepen (DST). Pasukan itu ditempatkan di sebuah kamp yang namanya mirip dengan daerah tugas Westerling waktu di Medan: Polonia.

  • Pusat Listrik Negara di Medan Merdeka

    BUKA setiap hari dengan menyajikan beragam minuman dan makanan masa kini, Stroom Coffee menyimpan sejarah proses penerangan jalan di Batavia. Stroom yang berarti arus atau setrum listrik, dulu berfungsi sebagai bangunan Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) atau Perusahaan Pusat Listrik Negara. Keberadaan bangunan ini tidak dapat dilepaskan dari kawasan Medan Merdeka yang sejak lama merekam dan menampilkan potret visual perjalanan sejarah. Meski tak banyak yang masih eksis hingga hari ini, setiap bangunan yang tersisa tetap menyimpan cerita dari masa kolonial hingga masa kini. Jalan ini dianggap penting karena di sekitarnya berdiri banyak bangunan cagar budaya khususnya era kolonial Belanda. “Hawa segar Medan Merdeka di pagi buta maupun petang hari menarik banyak pengunjung. Beberapa keluarga berjalan-jalan, pasangan muda asik mengobrol; dan ada yang berolahraga: lari, lompat, senam, bermain bola, saling berkejaran dengan sepeda atau sepatu roda,” catat Adolf Heuken SJ dalam Medan Merdeka-Jantung Ibukota RI.

  • Ujung Riwayat Kurt Cobain

    KURT Cobain bukan hanya rockstar. Pentolan band grunge Nirvana itu sudah jadi ikon Generasi X (Gen X). Walau kehidupannya ironis di mana dirinya mati muda pada 5 April 1994, Cobain bersama Nirvana turut memengaruhi para musisi alternative rock sekaligus memperluas cakrawala musik rock mainstream hingga jadi salah satu yang paling dikenang pemuda-pemuda yang tumbuh pada 1990-an. Jalan hidup Cobain memang penuh ironi. Suami musisi Courtney Love itu sudah lama bersentuhan dengan narkoba. Pada September 1991, tak lama setelah Nirvana mengeluarkan album keduanya yang meledak di pasaran, Nevermind, Cobain makin kecanduan heroin. Cobain mengaku menjadikan penggunaan heroin sebagai kebiasaan untuk “mengobati” perutnya yang sakit secara mandiri. “Itu memang pilihan saya. Inilah yang yang menyelamatkan saya dari kepala saya yang mau meledak. Saya harus melakukan sesuatu untuk menghentikan rasa sakit ini. Mulanya saya mencoba heroin selama tiga hari berturut-turut dan saya tak lagi merasakan nyeri pada perut saya,” kata Cobain, dikutip jurnalis musik Michael Azerrad dalam biografi Come As You Are: The Story of Nirvana.

  • Pesona Sadum Angkola

    ULOS tak hanya monopoli budaya Batak Toba di Tapanuli Utara. Saudaranya di sebelah selatan, juga punya kain tenun serupa yang punya ciri khas. Abit, demikian masyarakat Batak di Tapanuli Selatan menyebut wastranya. Salah satu abit yang paling ikonik adalah abit godang yang disebut juga Sadum Angkola. “Jadi, abit godang atau Sadum Angkola itu kita mau highlight karena orang sering melihat Sadum Angkola tapi mereka nggak tahu itu dari Batak Angkola. Jadi, orang kalau misalnya tahu ulos, dia sebenarnya identiknya melihat Sadum Angkola ini,” kata Kerri Na Basaria Panjaitan kepada Historia.ID, di sela-sela pertunjukan busana bertajuk “RAYA” di Tobatenun Studio & Gallery, Jakarta, (11/2). Dalam pertunjukan itu, keindahan abit godang ditampilkan dari beberapa karya desainer. Masyarakat Tapanuli Selatan sendiri mayoritas beragama Islam dengan subetnis Batak Angkola dan Batak Mandailing. Oleh karena itu, pertunjukan wastra ini, sambung Kerri, dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan dan ibadah puasa.

  • Gowa Masuk Islam

    PERMUSUHAN antara Gowa dengan Bone sudah ada ketika Gowa dipimpin oleh Karaeng Tunipalangga dan Karaeng Tunibatta. Kedua raja Gowa itu bersaudara. Beberapa kali Tunipalangga menyerang Bone dan berkali-kali itu pula Bone gagal dihancurkan. Setelah gagal berperang di Bone, Tunipalangga pulang dan meninggal dunia. Saudaranya, Karaeng Tunibatta, lalu menggantikannya sebagai raja. Tunibatta, raja Gowa ke-11, namun hanya sekitar 40 hari berkuasa karena gugur dalam perang di Gowa. Kajao Laliddong, penasehat dari Raja Bone La Tenrirawe Bongkannge, menyarankan agar jenazah Raja Tunibatta dikembalikan ke ibukota Gowa dengan upacara penuh kebesaran. Raja Bone pun berkenan melaksanakan nasihat mulia itu. Maka diutusnya pembesar Bone macam Arung Teko, Arung Berru, Arung Lamoncong, dan Arung Sanrego untuk mengantar jenazah Karaeng Tunibatta ke Gowa.

  • Tragedi Jago Kuntau Tangerang di Masa Revolusi

    DI BILANGAN Kresek, Tangerang tempo dulu, hiduplah seorang ahli bela diri bernama Encek Oh Yan. Tak diketahui apa marga Encek Oh Yan, sebagaimana lazimnya orang Tionghoa. Yang terang, Encek Oh Yan begitu disegani di tengah masyarakat Tionghoa Tangerang semasa pendudukan Jepang. Encek Oh Yan merupakan seorang jago kuntau, yang memadukan kungfu dengan silat. Dalam Melacak Jejak Kungfu Tradisional Indonesia yang ditulis Alex Cheung, Charly Huang, dan Erwin Tan disebutkan, Encek Oh Yan memiliki keahlian bertarung yang luar biasa. Dari berbagai tuturan para sesepuh silat di daerah Kresek, kemahiran kuntau Encek Oh Yan mengutamakan kecepatan dan ilmu ringan tubuh. Dengan teknik itu, Encek Oh Yan tak kesulitan menghadapi lawannya meskipun mereka bersenjata. Begitulah tentara Jepang kerap kerepotan meringkus Encek Oh Yan. “Diketahui Encek Oh Yan juga pernah bekerjasama dengan beberapa warga pribumi yang ahli pencak silat tradisional dalam bergerilya melawan Jepang,” catat Alex Cheung, dkk.

  • Lika-liku Robert Duvall

    SUDAH aktif di dunia peran sejak 1950-an namun baru bersinar dua dekade kemudian, nama Robert Duvall melejit lewat film-film yang jadi magnum opus sineas legendaris Francis Ford Coppola seperti The Godfather (1972) dan Apocalypse Now (1979). Sang aktor baru saja berpulang di usia 95 tahun. Hingga berita ini dimuat, tak disebutkan penyebab kematian aktor kawakan kelahiran San Diego, California, Amerika Serikat (AS) pada 5 Januari 1931 itu. Istri keempatnya, Luciana Pedraza, mengumumkan Duvall wafat di kediamannya di Middleburg, Virginia, pada Minggu (15/2/2026). Coppola tentu jadi salah satu yang paling berduka. Melalui akun Instragram-nya, @francisfordcoppola, Coppola Senin (16/2/2026) lalu mengunggah sebuah foto dirinya dan Duvall dalam latar behind the scene film The Godfather dengan caption ucapan duka cita mendalam.

  • Sisi Lain Jeffrey Epstein

    ADA banyak nama besar yang “terseret” dalam jutaan lembar “Epstein Files” yang –diambil dari nama Jeffrey Edward Epstein– dirilis Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada 30 Januari 2026 lalu. Selain nama Presiden AS Donald Trump dan mantan Presiden Bill Clinton, ada pula nama Elon Musk, Bill Gates, Pangeran Andrew, (Inggris), eks-Perdana Menteri Israel Ehud Barak, hingga bankir Ariane de Rothschild. Epstein si predator seks mulanya seorang konsultan keuangan. Ia kemudian jadi investor dengan jejaring di mana-mana, mulai dari kalangan bos investasi hingga kontraktor pertahanan. Pada 2008, Epstein dipidana atas kasus prostitusi anak di bawah umur. Pun pada Juli 2019, ia didakwa kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, rudapaksa berantai, hingga perdagangan seks. Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Epstein yang beberapa kali lolos dari lubang jarum, akhirnya tumbang. Pasalnya dalam beberapa kasus keuangan ia juga berulang kali bermasalah.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page