Hasil pencarian
Search this site
10003 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Semaoen Anak Tukang Batu
SEMAOEN berasal dari keluarga pekerja kereta api. Dia sembilan bersaudara, lahir pada 1889 di Curahmalang, sebuah desa di Sumobito, Jombang, Jawa Timur. Di sini terdapat tempat pemberhentian kereta api, kendati namanya Stasiun Curahmalang, tetapi masuk Desa Budugsidorejo. Stasiun ini masih beroperasi hingga kini. Ada sumber lain yang menyebut Semaoen berasal dari Desa Gununggangsir, Beji, Pasuruan. Bahkan, ayahnya, Prawiroatmodjo, disebut sebagai kepala Stasiun Gununggangsir, yang kini sudah tidak berfungsi lagi. Namun, sumber yang umum menyebut Prawiroatmodjo adalah pegawai rendahan kereta api sebagai tukang batu. Meskipun hanya seorang tukang batu, dia ingin Semaoen dan anak-anaknya menjadi pintar dan maju.
- Masa Jaya Maskapai Kapal Hindia
LAMPU di rumah Jalan Pegangsaan Timur No. 56 menyala pada malam 2 Desember 1957. Ditingkahi kepulan asap rokok, para pemimpin Kelompok Fungsional beradu argumen tentang rencana aksi nasionalisasi semua kepentingan Belanda di Indonesia. Perintah untuk menyita Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran milik Belanda, siap ditandatangani semua yang hadir. Namun, pertemuan buntu. Bahkan, melalui wakilnya, kabinet tak mendukung langkah tersebut. A.M. Datuk Majid, pemimpin Kesatuan Buruh Kebangsaan Indonesia (KBKI) yang berafiliasi dengan Partai Nasional Indonesia, naik kursi. “Ini tanggung jawab saya. Kami tidak dikontrol kabinet. Para pekerja di galangan kapal punya perintah mereka; mereka hanya menunggu panggilan telepon dari saya,” ujarnya, dikutip dalam biografinya, Datuk: An Indonesian Odyssey yang ditulis Ora Jonasson. Karena pertemuan berakhir tanpa kesepakatan, Majid bergerak sendiri; memerintahkan para anggotanya memulai aksi. Pada 4 Desember, kaum buruh KBKI menggeruduk markas KPM: menyatakan pengambilalihan KPM, mengusir para manajer Belanda, dan mengganti bendera Belanda dengan bendera Indonesia. Aksi serupa terjadi di tempat lain dan menyasar semua perusahaan milik Belanda. Militer kemudian mengendalikan perusahaan-perusahaan itu. KPM harus menghentikan layanannya di Indonesia sebelum akhirnya dinasionalisasi.
- Kiprah Vladimir Putin di KGB
SEBAGAI imbas dari hampir tiga pekan operasi militer khusus Rusia ke Ukraina, linimasa media sosial bertebaran dengan video-video tentang Presiden Vladimir Putin. Selain unggahan video pidatonya yang disambut pasukannya dengan seruan “Ura!”, warganet juga menyoroti video cara berjalan Putin yang unik. Beberapa video menampilkan rekaman Putin berjalan dengan tangan kanannya diam di sisi tubuhnya, sementara tangan kirinya berayun selaras langkah kaki. Ciri khas itu sedianya pernah dikaji para pakar syaraf Eropa sejak 2015, yang melahirkan julukan “gunslinger’s gait”. Gestur Putin tersebut identik dengan Putin sejak dirinya jadi agen dinas intelijen Uni Soviet Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) yang bubar pada 1991. “Gunslinger’s gait” kemudian juga jadi ciri khas Dmitry Medvedev (perdana menteri Rusia), Anatoly Serdyukov (menteri pertahanan Rusia 2007-2012), dan Sergei Ivanov (menteri pertahanan Rusia 2001-2007, kini Kepala Staf Kepresidenan Rusia). Dalam kajian bertajuk “Gunslinger’s Gait: A New Cause of Unilaterally Reduced Arm Swing” karya Rui Araújo, Joaquim F. Ferreira, Angelo Antonini, dan Bastiaan R. Bloem yang dirilis The British Medical Journal, cara jalan itu terbentuk oleh keharusan setiap agen KGB siaga dengan senjatanya yang disarungkan di balik pakaian di sisi kanan tubuhnya.
- Awal Mula Istilah Kuda Hitam
ISTILAH dark horse atau “kuda hitam” tentu sudah tak asing bagi kebanyakan orang. Alih-alih menggambarkan seekor kuda berwarna gelap, istilah ini justru marak digunakan dalam lingkup perlombaan –baik olahraga ataupun kontestasi politik– untuk menggambarkan sebuah kemenangan tidak terduga dari kandidat maupun peserta yang semula tak diunggulkan atau tidak banyak dikenal. Merunut sejarahnya, istilah yang muncul pada abad ke-19 ini memiliki kaitan erat dengan kebiasaan bertaruh dalam pacuan kuda. Para petaruh biasanya akan menjagokan kuda-kuda pacuan yang dianggap kuat atau telah memenangkan banyak pertandingan. Para petaruh itu yakin kuda pacuan yang mereka pilih akan kembali memenangkan perlombaan dan mereka berpeluang besar untuk memenangkan pertaruhan. Namun, semakin banyak orang yang bertaruh pada kuda pacuan yang populer, nominal uang yang mungkin dimenangkan oleh para petaruh itu pun semakin kecil. Oleh karena itu tak sedikit petaruh yang justru memilih untuk menjagokan kuda-kuda pacuan yang tidak banyak diketahui orang dengan harapan dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar. Kemenangan kuda-kuda pacuan yang tak banyak menarik perhatian inilah yang memicu lahirnya istilah kuda hitam.
- Kesederhanaan Pak Tile
K.H. Zainuddin MZ sekali waktu berdakwah di Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Di hadapan 50.000 umat, Zainuddin khotbah tentang kematian. Kata sang ulama, kematian bukan seperti buah kelapa, yang tua jatuh duluan sedangkan yang muda jatuh belakangan. “Nike Ardilla masih muda, cantik dan terkenal saja sudah mati duluan, sementara Pak Tile yang sudah tua tetap awet hidup,” tandas Zainuddin seperti dikutip Analisa, 17 Juli 1997. Nike Ardilla meninggal dunia karena kecelakaan tunggal pada 19 Maret 1995, saat namanya berada di puncak popularitas sebagai penyanyi muda berbakat. Sementara itu, Pak Tile merupakan pelawak dan aktor sinetron yang sudah gaek. Dia dikenal dengan karakternya sebagai Engkong Ali dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan (SDAS).
- Maria Ullfah’s Two Loves
SITI Soendari, Maria’s close friend since their youth, could never understand how Maria felt about men. When it came to her relationships with men, Maria preferred to keep her feelings deeply hidden. Unlike Soendari, who was often deeply moved by matters of the heart, Maria focused most of her attention on her studies. “I’ve never seen her cry. We’ve never shared personal stories with each other, as two young women who are so close usually do,” Soendari told Gadis Rasid, author of Maria Ulfah Subadio, Pembela Kaumnya (Maria Ulfah Subadio, Defender of Her People). As she admitted to Gadis Rasid, while studying in the Netherlands, Maria felt she wasn’t ready to deal with romantic relationships. “So, upon her return to Indonesia, she began to open up to men,” wrote Gadis Rasid. Among Maria Ullfah’s many fellow activists and admirers, there were three men who were closest to her and harbored feelings that went beyond mere camaraderie among fellow activists. They were Adnan Kapau Gani, Hindromartono, and Santoso Wirodihardjo. Regarding Adnan Kapau Gani, Maria said, “A handsome young man who had once been a movie star, was the most flamboyant of the three.” Speaking to Gadis Rasid, Maria continued her description of Gani: “His behavior was a bit reckless, and his manner was straightforward, without any beating around the bush.” He was so confident he would win Maria’s heart that one day he came to Kuningan to celebrate Eid with the family of Regent Mohammad Achmad, Maria's father. Maria tactfully explained to Gani that she felt nothing special toward him. During the revolution, Gani served as Military Governor of South Sumatra, Minister of Economy in the Sjahrir III Cabinet, and Deputy Prime Minister in the Amir Sjarifuddin Cabinet.
- Jalan Baru Musso dalam Peristiwa Madiun
PADA 11 Agustus 1948, Soeripno tiba di Yogyakarta untuk menyerahkan teks perjanjian dan menjelaskan tentang perjanjian yang dilakukannya dengan Uni Soviet seputar tukar-menukar konsul. Bersamanya seorang sekretaris bernama Soeparto, yang tak lain adalah tokoh gaek Partai Komunis Indonesia (PKI): Musso. Keduanya bertemu di Praha pada Maret 1948. Musso meminta bantuan kepada Soeripno agar bisa pulang ke Indonesia karena dia membawa misi baru dari Moskow. Soeripno dan Musso diterima Sukarno. Pertemuan sahabat lama yang mengharukan. Setelah cukup bersenda-gurau, Musso dan Soeripno minta diri. Sebelum berpisah, Sukarno minta supaya Musso membantu memperkuat negara dan melancarkan revolusi. Musso menjawab: “Itu memang kewajiban saya. Ik kom hier om orde te scheppen! (Saya datang di sini untuk menciptakan ketertiban).” Menurut Harry A. Poeze dalam buku jilid keempat dari seri Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia ini, “kalimat terakhir itu yang diucapkan dalam bahasa Belanda mengandung sasmita buruk.”
- Habibie Kecil dan Soeharto Muda
BACHARUDDIN Jusuf Habibie tak dibiarkan menunggu terlampau lama di ruang tamu kediaman Soeharto, Jalan Cendana. Hanya berselang beberapa menit setelah tiba pada pukul 7 malam, 28 Januari 1974 itu, ia bersua (kembali) dengan sosok Bapak Pembangunan itu. Itu pertemuan ketiga dan paling dinanti. Pada Agustus 1973, saat masih di berkarier di Jerman, Habibie diminta pulang Soeharto lewat kakak iparnya, Brigjen Subono Mantofani. Namun baru di akhir Januari itulah ia bisa bertatap muka lagi dengan Soeharto. Ketika bersua, salam dan sikap hormat Habibie disambut jabat tangan hangat sang presiden. “Habibie saya tahu dan mengenal kamu, sekarang kamu harus membantu saya menyukseskan pembangunan. Yang penting bagi saya adalah teknologi. Coba kamu cari jalan,” kata Soeharto pada Habibie.
- Yok Koeswoyo Bicara Sukarno
LELAKI sepuh bertubuh ramping itu memasuki pintu sinema. Nyaris semua helai rambutnya telah memutih. Meski dibantu tongkat, jalannya agak tertatih hingga harus dipapah. Maklum, usianya sudah menginjak 81 tahun. Dengan susah payah dia berhasil menjejakkan diri ke atas kursi. “Duh begini nih kalau sudah tua,” celetuk Koesroyo “Yok” Koeswoyo, lelaki sepuh itu seraya ketawa. Hari itu, Yok tak sekadar jadi penonton. Sebagai satu-satunya personel band legendaris Koes Bersaudara dan Koes Plus yang tersisa itu, kisah hidupnya difilmkan dalam dokumenter bertajuk Koesroyo: The Last Man Standing karya Linda Ochy, yang premier-nya diputar di CGV FX Sudirman pada 25 November 2024 lalu. Selain menyaksikan kisah hidupnya, Yok juga berbagi cerita mengenang perjalanan kariernya di dunia musik.
- Yok Koeswoyo yang Tinggal dari Koes Plus
SESOSOK pria sepuh bertubuh ramping itu duduk di atas kursi. Penampilannya sederhana saja, mengenakan kemeja batik dengan peci yang melekat di kepala. Jauh dari kesan seorang rocker. Sejurus kemudian dia memperkenalkan diri. “Saya anggota Koes Bersaudara dan Koes Plus yang masih hidup sampai hari ini,” ujarnya. Adegan itu menjadi pembuka film dokumenter Koesroyo: The Man Last Standing karya sineas Linda Ochy. Di masa jayanya, Koesroyo “Yok” Koeswoyo itu adalah salah satu punggawa kelompok musik Koes Bersaudara yang kemudian bertransformasi jadi Koes Plus. Yok yang kini berusia 81 tahun menjadi satu-satunya personel yang tersisa dari band legendaris Indonesia itu. Film dokumenter ini mengisahkan perjalanan hidup Yok Koeswoyo, sebagai anggota Koes Bersaudara dan Koes Plus, termasuk kehidupan pribadinya.
- Porsche Punya Cerita
KEDIAMAN anggota DPR nonaktif dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (NasDem) Ahmad Sahroni di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara disatroni dan dijarah massa pada Sabtu (30/8/2025). Tak hanya isi rumah, beberapa koleksi mobil di garasi Sahroni yang berharga miliaran rupiah pun turut dirusak. Mobil replika Porsche 356 coupé berkelir merah milik “Crazy Rich Priok” itu jadi salah satu yang disasar. Mobil itu bahkan sampai diseret ke halaman parkir dan dibalikkan oleh massa sebelum banyak parts-nya diambil. Porsche 356 coupé itu memang merupakan unit replika. Unitnya dibangun oleh Tuksedo Studio Bali. Bodinya dibuat khusus menyamai Porsche 356 tipe coupé yang aslinya hanya diproduksi pabrikan Porsche kurun 1948-1965.
- Teror Terhadap Pemburu Koruptor
NOVEL Baswedan, penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), disiram air keras di bagian muka oleh dua orang yang mengendarai motor. Dia diserang setelah salat subuh dari masjid dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dia telah beberapa kali diteror, mulai dari ditabrak sampai dipidanakan, karena dia memimpin penyelidikan kasus-kasus korupsi besar di KPK. Sejarah mencatat, teror terhadap aparat penegak hukum yang menangani korupsi pernah beberapa kali terjadi. Yang umum diketahui adalah pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita para 2001 karena memvonis Tommy Soeharto bersalah dalam kasus tukar guling PT Goro Batara Sakti dan Bulog yang merugikan negara sebesar Rp95,6 miliar. Pelaku penembakan, Mulawarman dan Noval Hadad, mengaku menerima perintah pembunuhan dari Tommy. Tommy pun ditetapkan sebagai tersangka. Jauh sebelumnya, Jaksa Agung Mr. Gatot Tarunamihardja juga berusaha dihabisi karena bertekad memberantas korupsi. Gatot adalah jaksa agung pertama Republik Indonesia yang dilantik pada 2 September 1945, tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Lahir Kejaksaan RI.





















