top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mengemas Sejarah Kulkas

    SEPANJANG tahun 1920-an, kulkas menjadi peralatan elektronik yang populer di masyarakat. Banyak orang membelinya sebagai teknologi revolusioner yang mengubah kebiasaan menyimpan dan mengonsumsi makanan. Upaya mengembangkan teknologi pendingin ini telah berlangsung sejak abad ke-19. Lydia Bjornlund dalam How the Refrigerator Changed History mengisahkan, seorang dokter yang menjadi penemu mendemonstrasikan mesin es yang tengah dia kembangkan kepada tamu undangan dalam suatu perayaan di Florida, Amerika Serikat, pada Juli 1847. Pria itu, John Gorrie mempresentasikan sampanye dingin yang disimpan di dalam es. “Gorrie tidak menciptakan mesin esnya untuk mendinginkan minuman bagi orang kaya. Sebaliknya, dia ingin menggunakannya untuk mencegah demam kuning, yang banyak melanda orang-orang Apalachicola [kota di Florida] pada 1841. Para dokter saat itu belum mengetahui bahwa demam kuning dan malaria, serta penyakit tropis lainnya, ditularkan oleh nyamuk. Mereka meyakini udara hangatlah yang menyebabkan penyakit-penyakit tersebut,” tulis Bjornlund.

  • Lagak Laskar Sumatra Timur

    Pematang Siantar merupakan ibu kota kawasan Sumatra Timur di masa revolusi. Sejak dulu kala kota ini termasyur makmur dan banyak penduduknya. Untuk menguasai Sumatra Timur, Belanda menduduki Pematang Siantar dengan menempatkan pasukannya. Maka tidak heran, keamanan di sana cukup rawan. Bentrokan kerap terjadi antara tentara Belanda dengan kelompok laskar pro republik. Keadaan itulah yang disaksikan Muhamad Radjab, wartawan Kantor Berita Antara yang ditugaskan Kementerian Penerangan untuk meliput suasana perjuangan revolusi di Sumatra. Pada Juni 1947, Radjab menyambangi beberapa kota di Sumatra Timur. Menurut Radjab, di sana partai-partai politik dan barisan laskar rakyat sangat subur. Ada sekira 20 macam perkumpulan, antara lain: Napindo, Naga Terbang, Barisan Harimau Liar (BHL), Halilintar, Ular Sendok, Pesindo, Angkatan Pemberontak Indonesia (API), Parkindo, Barisan Merah, Sabililah, Mujahidin, Marsose, disamping polisi militer dan tentara.

  • Pesawat Multifungsi Tulang Punggung Matra Udara Jerman

    SUPERIORITAS udara acapkali jadi kunci memenangi dominasi strategis akan suatu target militer. Superioritas itu bisa diraih lewat pesawat tempur multifungsi yang andal. Di era modern, pesawat tempur multifungsi senantiasa jadi tulang punggung matra udara suatu negara. Inggris punya pesawat De Havilland Mosquito pada 1940, Amerika baru memiliki F-4 Phantom II pada 1958, lalu diikuti sejumlah negara maju lain seperti Rusia dengan MiG-29 dan Sukhoi Su-30, dan Prancis dengan Dassault Rafale-nya –yang 18 unit di antaranya sedang dipesan Indonesia usai kesepakatan kontraknya rampung pada Agustus 2023. Namun, Jerman jadi yang terdepan dalam hal pesawat multifungsi ini –sebagaimana dalam teknologi militer lainnya– dengan pesawat Junkers Ju 88. Hari ini, 21 Desember, merupakan 87 tahun pesawat tersebut melakoni uji terbang perdananya.

  • Nama Lain Sumatra Tempo Dulu

    SABANG di ujung barat, yang menjadi titik nol republik ini, memang masih belum tampak di pelupuk mata. Namun upaya kapal latih TNI AL KRI Dewaruci untuk mencapainya saat ini tak pernah surut. Ke sanalah kapal layar itu akan menurunkan peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah yang berisikan para Laskar Rempah, peneliti, penulis, dan jurnalis beberapa puluh jam mendatang. Sudah lebih dari dua hari Dewaruci bersandar di Pelabuhan Dumai. Kapal ini berlayar dari Jakarta pada 7 Juni 2024 dan singgah beberapa hari di Belitung Timur. Sedari pagi 19 Juni 2024, awak kapalnya sudah bersiap untuk berlayar lagi. Sekitar pukul 08.53 WIB, Dewaruci lepas tali dari Pelabuhan Dumai. Setelahnya, Dewaruci menyusuri Selat Malaka. Pada sisi kanan kapal terlihat daerah industri Dumai yang terkenal minyaknya. Di sisi kiri kapal terlihat sekelumit pemandangan hijau dari Pulau Rupat.

  • Orang Jawa yang Bertakhta di Sumatra

    SEKIRA pertengahan abad 10, Dewapaladewa, Raja Benggala di India, menerbitkan Prasasti Nalanda. Isinya tentang permintaan Raja Sriwijaya Balaputradewa dari Suwarnadwipa, nama kuno Sumatra, kepada Dewapaladewa untuk mendirikan vihara di Nalanda. Menurut Prasasti Nalanda, ayah Balaputradewa adalah raja Jawa dari trah Sailendra bernama Samaragawira, putra dari tokoh yang berjuluk Wirawairimathana (Pembunuh Musuh Perwira). Ibunya adalah Putri Tara dari trah Somawangsa, putri Dharmasetu. “Soma ini wangsa di Sumatra, kalau di Jawa ada Sailendra,” kata Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Puslit Arkenas, kepada .

  • Pemberontakan Petani Banten dalam Ingatan Warga Cilegon

    BENAK Darwin Mahesa dirundung beragam pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di kampung halamannya pada 1888. Selintas lalu dia pernah mendengar tentang sekelompok petani yang melancarkan perlawanan pada pemerintah kolonial di Cilegon. Lantas dia mencari jawaban: bertanya kepada para tetua dan berselancar di dunia maya. Darwin mengaku tidak pernah tahu sejarah Geger Cilegon, karena pelajaran sejarah yang diterimanya saat masih sekolah menengah tak menyebutkan cerita tentang peristiwa itu. Pelajar seperti dia lebih banyak menerima pelajaran sejarah nasional: tentang apa yang terjadi di panggung kekuasaan, tentang tokoh-tokoh besar dan ihwal narasi sejarah nasional ketimbang apa yang terjadi di daerahnya sendiri. Ketika kuliah di jurusan ekonomi Universitas Tirtayasa, Serang, Darwin semakin tertarik untuk mendalami sendiri apa yang terjadi di kampungnya. Tak berhenti di situ, dia membagi pengetahuannya lewat sebuah film yang dibuatnya sendiri. Lewat film berjudul Ki Wasyid yang berdurasi 16 menit itu Darwin memperkenalkan sosok Haji Wasid dan peristiwa pemberontakan petani Banten kepada masyarakat.

  • Cilegon 127 Tahun Setelah Geger

    LIMA orang polisi pamong praja menyambut kami di depan rumah dinas wali kota Cilegon, Rabu dua pekan lalu. Satu di antaranya, bertubuh tambun dengan pakaian seragam ketat, membuat kancing-kancingnya hampir copot, melayani pertanyaan kami dengan baik hati. Tak semua tahu sejarah, tapi mereka semua bisa menjawab secara meyakinkan kalau rumah dinas pejabat tertinggi di kotanya itu adalah bangunan dari zaman Belanda. “Iya ini asli bangunan Belanda. Dulu rumahnya asisten residen, di sebelah sana kantornya,” ujar polisi pamong praja itu, sebut saja Samin, menunjuk ke sebelah kiri rumah dinas walikota. Rumah dinas bersejarah itu tampak sedang diperbaiki. Aroma cat terpapar menyengat hidung. Di beberapa sudut, tukang-tukang tekun mengerjakan tugasnya: memperbaiki atap, merapikan letak genteng, mengecat tembok, dan membersihkan beberapa bagian ruangan.

  • Haji-haji Revolusioner di Banten

    SEBAGAI seorang guru sekaligus pemuka tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, Haji Abdul Karim meninggalkan banyak muridnya di Banten. Dua di antaranya yang paling utama dan cukup disegani adalah Haji Tubagus Ismail dari Gulacir dan Haji Marjuki dari Tanara. Kedatangan Abdul Karim dari Makkah ke Banten menghidupkan kembali semangat perlawanan murid-muridnya. “Dengan kedatangan Kiai Haji Tubagus Ismail [dari Makkah], seorang anggota tarekat Qadiriah dan murid Haji Abdul Karim, gerakan pemberontakan memperoleh kembali sebagian kekuatannya yang lama,” tulis Sartono Kartodirjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888. Seperti terlihat dari namanya, Tubagus Ismail termasuk bangsawan Banten, yang telah kehilangan semua pengaruh politiknya, tetapi masih mempunyai prestise sosial di kalangan penduduk. Menurut C. Snouck Hurgronje, “Ulama Jawa yang Ada di Mekah pada Akhir Abad ke-19,” termuat dalam Islam di Asia Tenggara: Perspektif Sejarah, pertama-tama, Tubagus Ismail belajar kepada ayahnya, Haji Sadili, yang membawanya pergi naik haji bersamanya selagi dia masih kanak-kanak. Sekembalinya dari perjalanan haji, dia belajar kepada Haji Sahal di Banten, dan kepada Haji Yusuf di Purwakarta, Jawa Barat.

  • Tersesat ke Tema yang Benar

    SUATU hari pada 1964, Sartono Kartodirdjo pergi mengunjungi kantor Arsip Umum Kerajaan (Algemeene Rijkarchief, ARA/kini Nationaal Archief) di Den Haag, Belanda. Mahasiswa doktoral di Universiteit van Amsterdam itu beriktikad mencari arsip Boedi Oetomo, organisasi pribumi modern pertama di Hindia Belanda. Dia memang kepincut pada tema nasionalisme, tren penulisan sejarah yang berkembang di Indonesia saat itu. Apalagi Sartono salah satu sejarawan yang aktif dalam Konferensi Sejarah pertama pada 1957, yang merumuskan peran orang-orang Indonesia sebagai aktor dalam sejarahnya sendiri. Namun, niat mencari arsip Boedi Oetomo tersebut mendadak berhenti ketika Sartono melihat bundelan arsip yang ditumpuk rapi. Arsip yang terdiri dari proces verbaal (berita acara pemeriksaan) dan beragam dokumen lainnya dalam peristiwa perlawanan petani di Cilegon 1888 itu sedang dalam proses invetarisasi. Tentu saja tak diperbolehan untuk dipinjam.

  • Pesan Jihad Nabi Muhammad

    HAJI Abdul Karim tidak ikut dalam pemberontakan karena kembali ke Makkah untuk menggantikan gurunya, Ahmad Khatib Sambas, sebagai pemimpin (khalifah) tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Namun, dia telah menanamkan doktrin-doktrin agama yang membakar rakyat Banten untuk memberontak. “Khotbah-khotbah, janji-janji, dan ramalan-ramalan Haji Abdul Karim tentang Hari Kiamat, kedatangan Mahdi, dan tentang jihad terus membakar semangat rakyat,” tulis Sartono Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888. Akan tetapi, menurut Sartono, Abdul Karim bukan seorang revolusioner yang radikal. Kegiatannya terbatas pada tuntutan agar menaati berbagai ketentuan agama seperti salat, puasa, zakat, dan zikir. Setelah dia meninggalkan Banten, gerakan itu mulai berpaling dari kegiatan yang semata-mata diarahkan untuk kebangkitan agama.

  • Budak Merdeka dari Hindia

    NAIKAI Florestan, demikian nama yang diberikan oleh sang penulis Joss Wibisono untuk karakter utama di dalam buku cerita pendeknya, Naikai, yang diluncurkan hari Minggu, 10 September lalu di Quaker Centrum, Amsterdam. Naikai, sebagaimana diceritakan oleh Joss, seorang budak yang berasal dari Flores dan diperdagangkan di Bali. Setelah dibeli oleh tuannya, dia dibawa ke Batavia. Kemudian si tuan beranjak tua dan semakin ringkih. Sebagai seorang trekker atau orang Belanda yang tak berniat menetap selamanya di Hindia Timur, dia harus pulang. Namun perjalanan pulang ke Eropa pada awal abad ke-19 memakan waktu berbulan-bulan. Sang tuan butuh pengawal sekaligus pelayan. Maka Naikai turut pergi dibawanya pulang ke negeri sang tuan. Menjelang ajal, sang tuan memberikan kemerdekaan padanya. Semenjak itu dia menjadi manusia bebas yang meniti karier sebagai penyanyi opera dan terkenal seantero Eropa. Tak seorang pun tahu ihwal muasal Naikai yang berasal dari Hindia. Namanya mengundang keheranan sebagian orang, karena tak satu pun orang Belanda memiliki nama sepertinya: Naikai Florestan. Bahkan ada yang mengira dia datang dari Friesland, wilayah utara Belanda tempat di sebagian warga berbahasa Belanda dengan dialek tersendiri.

  • Jalannya Pemberontakan Petani Banten 1888

    SENIN, 9 Juli 1888, pukul 02.00 dini hari. Sekitar 100 orang pemberontak bergerak dari tempat Haji Ishak di Saneja, menyerang rumah Henri Francois Dumas, juru tulis kantor asisten residen. Dumas melarikan diri dan bersembunyi di rumah jaksa. Istri Dumas terluka dengan dua anak berlindung di rumah ajun kolektor. Minah, pembantu Dumas berusaha melindungi anak bungsu majikannya. Pembagian Pasukan Para pemberontak yang berjumlah ratusan berkumpul di markas di Pasar Jombang Wetan. Haji Wasid, pemimpin utama pemberotak, membagi para pemberontak menjadi tiga pasukan. Pasukan pertama dipimpin Lurah Jasim, seorang jaro Kajuruan. Pasukan kedua dipimpin Haji Abdulgani dan Haji Usman. Pasukan ketiga dipimpin Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman. Sasaran serangan: Penjara untuk membebaskan tahanan, kepatihan, dan rumah asisten residen di alun-alun Cilegon.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page